
Setelah tiga puluh menit Aisyah sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Aisyah akan menjalani rawat inap selama satu minggu untuk pemulihan pasca operasi hingga perban dibuka.
"Mas," panggil Aisyah saat baru sadar dari obat bius.
"Ya, Sayang, adakah yang sakit?" tanya Yanju pada sang istri.
"Tidak, Mas."
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak," ucap Ibu Fatimah.
"Bagaimana dengan operasinya, Bu? Apakah berhasil?" tanya Aisyah penasaran.
"Alhamdulillah berjalan dengan baik dan berhasil. Semoga setelah pembukaan perban kamu bisa melihat kembali," jelas Ibu.
Aisyah sangat bersyukur dan bahagia mendengar kabar baik itu. Rasanya sudah tak sabar ingin melihat indahnya dunia ini kembali.
Karena pembukaan perban masih satu minggu lagi, maka Ayah Yandra dan Ibu Fatimah harus pulang ke indo terlebih dahulu, karena Ayah tak bisa meninggalkan RS terlalu lama. Sementara Yanju dan kedua mertuanya masih mendampingi Aisyah.
***
Jika Yanju sedang menunggu sang istri untuk pembukaan perban. Lain halnya dengan Khenzi sejak ditinggal Arum ke kota Jambi hidupnya berasa tak menentu. Sang istri tak bisa mengabaikan pekerjaannya terlalu lama, karena ia pegawai baru tak ingin dikatakan tidak konsisten.
Dari semalam Khen tak bisa memejamkan matanya, Khen benar-benar tak mampu harus berpisah, Pria itu berasa sedang sayang-sayangnya ditinggal pergi.
Padahal mereka baru saja selesai telponan, tetapi tak jua dapat mengobati rasa rindu yang mendera.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Khen tak bisa menemui mimpinya. Pada akhirnya Pria itu kembali menghubungi Arumi. Entah berapa banyak panggilan tak terjawab dan juga pesan yang belum dibaca.
Pagi Arumi terbangun segera bersih-bersih dan melaksanakan sholat subuh. Setelah itu ia mengambil ponsel untuk menghubungi sang suami agar tak terlambat beribadah.
Arum terjingkat melihat puluhan panggilan yang tak terjawab. Ia segera membuka beberapa pesan yang dikirim oleh sang suami. Seketika perasaannya menjadi cemas. ada apa gerangan, tumben sekali Pria itu menghubunginya begitu banyak.
Arumi segera menghubungi nomor Khen tetapi tidak aktif. Hatinya semakin menjadi melow dan gelisah. Untuk menghilangkan sedikit rasa cemasnya Arum mencoba menyibukkan diri, ia berusaha untuk berpikiran positif, mungkin saja Pria itu lupa mencharge ponselnya.
Arumi mengambil alih pekerjaan sang Kakak untuk membuat sarapan pagi sebelum berangkat bekerja. Sembari mengerjakan tugas dapur, Arum masih mengintip layar ponselnya berharap ada pesan atau panggilan dari sang suami.
__ADS_1
Arum semakin tidak fokus. Rasa cemas semakin jadi. Wanita itu berjalan mondar mandir di dapur sehingga menarik perhatian kakaknya saat baru saja ikut bergabung di dapur.
"Kamu kenapa Arum?" tanya Kak Vera heran
"Kak, semalam saat Arum sudah tidur Mas Khen berulang kali menghubungi, tetapi Arum tidak tahu, dan pagi ini nomornya tidak aktif. Arum takut terjadi sesuatu," ucap wanita itu pada sang Kakak, wajahnya tampak begitu cemas.
"Emang pesannya apa?" tanya Vera.
"Dia hanya ingin bicara, minta agar Arum menjawab telepon darinya. Padahal Arum sama sekali tidak tahu."
"Sudahlah, kamu jangan terlalu cemas. Mungkin Khen hanya sedang merindukan kamu," balas Vera berusaha untuk menenangkan adiknya.
Arum tidak menyahut lagi. Ia berusaha agar tetap tenang. Aneh rasanya bila Khen memang se agresif itu saat rindu, bukankah sebelum tidur mereka sudah saling berkabar bahkan sudah panggilan video.
Selesai menyediakan sarapan, Arumi segera menuju kamarnya untuk bersiap berangkat kerja. Saat Arum baru selesai mandi, terdengar suara ketukan pintu kamar dari luar.
"Iya, bentar, Kak!" sahut Arum masih fokus mengenakan pakaian.
"Dek, buka pintunya, ini aku!" seru suara yang sudah familiar di telinganya.
Arum segera menghentikan aktivitasnya dan segera membuka pintu kamarnya. Seketika wanita itu terkejut saat melihat kehadiran suaminya yang datang secara mendadak.
Khenzi tak menjawab, ia segera menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Tanpa aba-aba Khen segera menabrak tubuh Arum sehingga terjerembab diatas ranjang.
Pria itu segera melu mat bibir Arum penuh dengan rasa rindu yang menggebu. Arum masih berpikir aneh tapi nyata.
"Mas, ini kamu benaran? Ada apa kamu datang sepagi ini?" tanya Arum sembari merangkum kedua pipi Khen.
"Ya, aku sengaja datang kesini karena aku sangat merindukan kamu, aku tidak enak makan, tidak nyenyak tidur, pokoknya semua tidak enak, Dek!" adu Pria itu pada sang istri dengan raut wajah menghiba.
Khen berguling disamping Arumi sehingga mereka saling bertatap muka.
"Dek, aku mohon, ayo pulanglah ke kota Padang, sungguh aku tidak mampu harus berpisah denganmu walau dalam waktu singkat. Aku ingin saat pulang kerumah ada kamu obat pelipur hati disaat aku lelah seharian menghadapi segala carut marut rumitnya pekerjaan di kantor, aku ingin hadirmu dapat menjadi obat segala kegundahan jiwaku. Aku benar-benar tidak bisa jauh darimu, Dek."
Khenzi mencurahkan isi hatinya pada sang istri bahwa dirinya tidak sanggup berhubungan LDR-an. Khen ingin Arum tetap bersamanya. Meskipun Arum harus mengorbankan pekerjaannya kembali.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak ingin memenuhi keinginanku? Aku mohon, Dek, tolong ikut bersamaku." Khenzi kembali mendekap tubuh wanita itu dengan posesif. Khen sungguh sedang candu pada tubuh sang istri yang baru beberapa kali di gau linya setelah puasa satu minggu, dan setelah itu pula mereka harus berpisah.
Pria itu bisa gila bila sang istri tak berada disampingnya. Rasa cinta dan sayang sudah tumbuh begitu dalam direlung hati.
Arumi masih bingung harus berbuat apa. Sebenarnya ia berat harus kembali resign, padahal ia masih ingin meniti karir, tetapi ia juga tak ingin membantah keinginan Khen, Arum menyadari seteguh apapun hatinya untuk mempertahankan pekerjaannya bila suami tak ridho maka tidak akan berkah dan tenang dalam hidupnya.
"Dek, aku tidak akan melarangmu untuk berkarir asalkan kita tinggal bersama. Yang penting aku selalu menemuimu saat pulang kerja. Dan aku juga tak ingin lagi tidur sendiri tanpa dirimu disampingku."
"Atau kamu kuliah lagi ambil jurusan kedokteran, gimana, Sayang?" tanya Khen memberi solusi.
"Kuliah?" tanya Arum sedikit tertarik dengan ucapan suaminya.
"Iya, Dek, jadi kamu tidak perlu bekerja tetapi fokus dengan kuliahmu saja," jelas Khen tanpa ragu.
"Kuliah jurusan kedokteran sangat besar biayanya, Mas. Apakah Arum nanti tidak merepotkan kamu dan membebani," jelas wanita itu ragu.
Khenzi terkekeh mendengar ucapan Istrinya. Bagaimana mungkin wanita itu berpikir sedemikian. Tentu saja itu hanyalah persoalan kecil bagi Khen.
"Sayang, dengarkan aku. Untuk membiayai kuliahmu tidak akan berpengaruh dengan keuanganku. Maaf bukan aku sombong, tetapi sungguh apa yang aku miliki sekarang sudah lebih cukup dari segalanya. Jadi aku harap kamu tidak perlu memikirkannya, bahkan aku sanggup untuk membiayai pendidikanmu hingga ke jenjang lebih tinggi lagi jika kamu mau. Asalkan kita tidak berpisah."
Arum terdiam sejenak untuk memahami segala penjelasan suaminya yang memang terkenal sebagai pengusaha muda. Khen yang sudah banyak memiliki aset berharga selama mengelola pabrik sang Papa hingga kini sudah mempunyai perusahaan sendiri.
"Baiklah, Mas. Arum akan resign dari pekerjaan. Arum akan kuliah kembali." Akhirnya wanita itu memberi keputusan.
"Alhamdulillah, terimakasih, sayangku." Khen Kembali menyerang Arumi dengan kecupan dan sentuhan di ditubuh Arum yang memang masih menggunakan handuk setengah badan.
"Mas..," desis Arum menahan geli saat bibir Khen mengabsen di lehernya yang putih bersih. pria itu meninggalkan jejak kepemilikan disana.
"Sayang, boleh ya? Aku udah kangen banget," ucap Pria itu menatap sayu penuh kabut gairah.
Arumi hanya bisa mengangguk pasrah. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga terbuai dengan sentuhan dari Khen. Mereka yang memang pengantin baru tentu saja gairah bercinta sedang menyala.
Akhirnya pagi ini mereka kembali mereguk kenikmatan surgawi yang sangat memabukkan bagi kedua insan halal itu. Khen tersenyum bahagia sembari mengucapkan terimakasih dan memberi kecupan sayang di bibir sang istri.
Pasangan itu segera mandi bersama. Dan tentu saja di kamar mandi Kembali terjadi pertukaran peluh. Pasangan itu sama-sama menikmati seakan berasa dunia hanya milik mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰