
Diperjalanan pulang Khanza hanya diam sehingga membuat Yusuf tersenyum gemas melihat tingkah istrinya itu yang mengandung api cemburu. Pria itu menyadari bahwa Khanza cemburu dengan Dr Luna.
"Kamu kenapa sih, Sayang?" tanya Yusuf sembari mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Enggak, nggak kenapa-kenapa," jawab Khanza menutupi.
"Udah, tanyain aja apa yang ingin kamu tanyakan. Nanti jadi penyakit lho kalau disimpan. Hehehe..." Pria itu terkekeh sembari fokus mengemudi.
Khanza menatap suaminya dengan wajah cemberut. "Mas, sejak kapan kamu kenal dengan Dr Luna?" tanya Khanza pada akhirnya.
"Benar 'kan, kamu cemburu," ucap Yusuf belum menjawab pertanyaan sang istri.
"Jawab saja, Mas." Khanza kembali mendesak, wanita itu sudah tak sabar mendengarkan.
"Hahaha.... Baiklah, Sayang. Dia itu teman kuliah aku dulu," jawab Yusuf memberitahu.
"Hah? Kamu serius, Mas?" tanya Khanza tak percaya.
"Serius bangetlah, Dek, kami satu universitas di kota Padang," jelasnya kembali meyakinkan.
"Oh, pantes kamu kelihatan akrab banget dengannya. Tapi kalian tidak mantanan 'kan?" tanya Khanza meyakinkan, ia takut jika Yusuf dan Luna dulu ada hubungan. Bukan tak ada kemungkinan mereka akan CLBK.
"Ya enggaklah, Sayang, kami hanya teman biasa tak ada yang spesial, dulu dia pernah pacaran dengan teman se fakultasku. Ya namanya tidak jodoh akhirnya mereka putus dan mendapatkan jodoh masing-masing," jelas Yusuf kembali.
"Oh..." Wanita itu hanya ber oh ria saja mendengar penjelasan suaminya.
"Kok cuma gitu tanggapannya? udah percaya, belum?" tanya Pria itu merasa tidak puas dengan tanggapan sang istri.
"Udah, tapi besok-besok kalau nungguin Adek di mobil aja," jawab Khanza yang membuat Yusuf kembali terkekeh.
"Lucu banget sih kamu. Kenapa? Takut ya jika suami kamu yang Tampan ini di godain para wanita-wanita cantik yang ada disana. Hahaha.."
"Ih, Adek serius, Mas. Kamu seneng ya di lirik-lirik cewek cantik!" tuding Khanza dengan cemberut. Yusuf hanya tersenyum dan menepikan mobilnya sesaat, lalu menggengam tangan Khanza dengan lembut.
"Sayang, dengarkan aku. Secantik dan seseksi apapun wanita diluar sana, aku tidak akan tergoda, karena aku merasa puas pada istriku sendiri. Apa yang dimiliki oleh wanita itu, istriku juga memilikinya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dengan kesetiaanku, bila suatu saat aku tiba-tiba datang menginginkan yang ada pada dirimu, itu tandanya aku sedang mengalahkan hawa nafsuku. Kumohon padamu istriku, tolong jangan tolak aku, karena sesungguhnya aku sedang menghindari segala godaan syaitan dan aku harap kamu dapat melindungi syahwatku agar hubungan kita tetap bahagia hingga kita menua bersama."
Khanza terpaku mendengar ucapan suaminya, matanya berkaca-kaca, rasa haru mendera dalam hatinya. Dalam hati bergumam Do'a dan bersyukur kepada Allah karena telah menitipkan suami yang begitu sempurna akhlaknya.
"Mas, terimakasih atas kesetiaanmu. Aku berjanji akan berusaha menjadi istri dan ibu yang terbaik untuk kamu dan anak-anak kita. Aku ikhlas lahir dan batin melayanimu, aku tidak akan pernah menolak segala keinginanmu, akan kujaga dirimu dari syahwat jahatmu," ucap Khanza penuh pengertian.
__ADS_1
Yusuf tersenyum dan mengecup tangan halus sang istri. "Terimakasih, Sayang. Aku sangat mencintai kamu," ujar Pria itu menempelkan kedua telapak tangan wanita itu di pipinya dengan senyum lembut.
"Adek juga sangat mencintai kamu, Mas. Aku ingin hidup bahagia selamanya bersamamu. Bila suatu saat nanti aku melakukan kesalahan baik padamu maupun dalam mendidik anak-anak kita. Tolong tegur kesalahanku dengan lembut, aku akan mencoba untuk memperbaikinya," balas Khanza yang membuat Pria itu segera meraihnya masuk dalam dekapan.
"Tentu saja, Sayang, aku tidak mau menjadi lelaki yang akan menyesal seumur hidup karena tak bisa mendidik istri dan anakku dengan baik." Yusuf mengecup kening dan bibir Khanza dengan lembut.
Khanza menguatkan pelukannya, hati wanita itu benar-benar bahagia saat ini. Tak ada yang ia inginkan selain mensyukuri segala kebahagiaan yang Allah berikan untuk keluarga kecilnya.
***
Beberapa hari kepergian Arumi membuat hidup Khen tak bergairah, Pria itu terlihat selalu murung, Khen banyak menghabiskan waktunya di kantor hingga pulang larut malam, begitulah setiap hari.
Pria itu bingung harus berbuat apa, bahkan Arum sudah mengganti nomor ponselnya sehingga ia tak bisa menghubungi. Ternyata wanita itu benar-benar ingin melupakan dirinya.
"Bu, boleh Abang bicara sebentar?" tanya Khen menghampiri Bu Santi yang sedang menyiram bunga di sore hari.
"Ya tentu saja, Nak, kamu mau bicara apa?" tanya wanita baya itu menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Bu, boleh Abang minta nomor Arum? Bu, Abang tahu sudah menyakiti perasaan Arum, tolong maafkan, tetapi Abang ingin memperbaiki segalanya, Abang janji tidak akan pernah menyakitinya lagi," jelas Khenzi memohon maaf pada Bu Santi. Hanya Bu Santi harapan untuk bisa berkomunikasi kembali dengan gadis yang amat dirindukannya.
Bu Santi hanya diam, wanita baya itu bingung harus bagaimana, putrinya pernah berpesan agar sang ibu tak memberikan nomor ponselnya yang baru pada Khen.
"Baiklah." Akhirnya wanita itu tidak tega melihat raut wajah sedih lelaki itu, berharap Khen dan Arum bisa memperbaiki hubungan mereka. Sebenarnya Bu Santi sangat tahu bagaimana sifat Khenzi dari kecil. Pria itu memang terkesan kaku dan dingin, tetapi dia sangat menghormatinya, dan tak pernah menganggapnya sebagai pembantu, Khen sudah menganggapnya sebagai Ibu sendiri.
"Catatlah." Bu Santi menyerahkan ponselnya menunjukkan nomor Arumi yang baru.
"Ah, terimakasih, Bu." Khen tersenyum bahagia, dan segera menyimpan nomor gadis yang dicintainya itu.
Malam hari Khen menempati ranjangnya dengan tubuh lelah. Saat hendak memejamkan mata, ia kembali mengingat bayangan wanita itu. Khen segera merogoh kantong celana mengambil benda pipih dan mencari kontak Arum yang tadi dimintanya pada Bu Santi.
Sebenarnya sedari tadi Khen ingin menghubungi Arum, tetapi ia tidak punya cukup keberanian untuk sekedar menyapanya lewat chat saja, ia takut akan menggangu ketenangannya. Namun, jika diabaikan maka hatinyalah yang tak tenang.
Khenzi segera mengirim pesan untuk sekedar mengetahui kabar gadis cantik itu yang selalu memenuhi pikirannya.
"Assalamualaikum, Dek, apa kabar? Apakah kamu baik-baik saja?"
Khen menunggu dengan gelisah sembari selalu mengamati layar ponsel yang selalu ada dalam genggamannya. Tak berapa pesan dibuka tetapi hanya di read aja membuat hati Pria itu semakin tak tenang.
"Arum, kenapa kamu diam saja? Balas dong pesan aku."
__ADS_1
Kembali Khen mengirim pesan, namun dengan hal yang sama, gadis itu sama sekali tak minat untuk membalas hingga akhirnya Khen memutuskan untuk menelpon.
Lagi-lagi Arumi tak mengangkat telepon darinya. Berulang kali pula Pria itu mengirimkan pesan, tetapi tambah parahnya Arum tak lagi membuka pesan darinya.
Malam ini Khenzi dirundung resah gelisah, merana. Sudah beberapa hari membuatnya tidur tak nyenyak makanpun tak enak.
"Tidak, aku tidak bisa terus begini. Aku harus bertemu dengan Arumi. Jika seperti ini aku tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Bisa-bisa wanita itu segera melupakan aku."
Khen bergumam sendiri sembari otaknya berpikir, langkah apa yang harus ia lakukan. Tak berselang lama Khenzi meraih kembali ponselnya dan segera melakukan pemesanan tiket penerbangan besok pagi jam lima subuh.
"Ya, aku harus menemui Arum besok pagi. Aku tidak bisa hanya menjadi lelaki pecundang yang tak melakukan apapun untuk memperjuangkan wanita itu. Kali ini usahaku harus berhasil membuat Arum kembali memaafkan aku."
Tekat Pria itu sudah bulat untuk mendatangi Arumi di kota Jambi. Khen segera mengemas beberapa helai saja pakaian gantinya untuk disana. Khen tahu akan membutuhkan waktu sedikit lama untuk membujuk Arumi agar mau menerimanya kembali.
Setelah bersiap, ia segera menghubungi asistennya di kantor agar menghandle pekerjaannya. Dan mengirimkan tugas penting ke emailnya.
Pagi ini Arumi sedang sibuk membantu sang kakak di dapur untuk membuat sarapan, ia mengingat pesan sang Ibu agar tak merepotkan, karena kakaknya itu juga wanita sibuk. Sementara dua orang anaknya di asuh oleh pengasuh yang datang setiap pagi, dan pengasuh itu pulang setelah Vera selesai dinas.
"Kak, Bang Heru kapan pulang?" tanya Arum disela kesibukan mereka.
"Lima belas hari sekali. Kan, schedule nya Lima belas tujuh," jelas Vera mengenai pekerjaan suaminya sebagai karyawan pengeboran minyak yang ada di Jambi.
Tok! Tok!
"Assalamualaikum...!"
"Wa'alaikumsalam..." Arumi dan Vera serentak menjawab pesan dari tamu yang datang pagi-pagi kekediaman mereka.
"Siapa itu Kak, yang datang pagi-pagi begini?" tanya Arum pada kakaknya.
"Nggak tahu, biar Kakak yang bukain," ucap Vera segera berjalan keluar dapur untuk membukakan pintu.
Vera segera membuka pintu, dan seketika ia terkejut melihat siapa tamunya yang ada dihadapannya.
"Khenzi! Kok kamu tahu Kakak ada disini?" tanya Vera menatap heran, untuk apa lelaki yang sudah dianggap adiknya sendiri datang sepagi ini. Dan ada urusan apa dia?
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1