
Setibanya di Singapore, aku segera mencari penginapan untuk menampung selama kami berada disini. Setelahnya aku mengurus prosedur pengobatan dengan RS yang telah di tentukan.
Setelah memeriksa serangkaian penyakit yang di derita oleh Tiara, Dokter memberi kami saran agar melakukan Radioterapi, tujuan Radioterapi untuk membunuh dan menghentikan penyebaran sel sel kanker.
"Begini, Pak Yusuf, sebaiknya Ibu Tiara menjalani Radioterapi."
"Apakah Radioterapi dapat menyembuhkan penyakit istri saya, Dok?" tanyaku ingin memastikan.
"Sejauh ini sudah banyak yang berhasil dengan metode Radioterapi."
"Radioterapi dilakukan lima kali dalam seminggu, metode ini menggunakan radiasi berenergi tinggi, efek sampingnya akan membuat rambut menjadi rontok bagian yang terkena radiasi," ujar Dr.Liem menerangkan, Dr.Liem juga memberitahu efek samping dari pengobatan yang akan dilakukan
Sebenarnya itulah yang ditakutkan oleh Tiara, tetapi aku selalu memberinya dukungan.
Aku selalu berusaha membuat dia percaya akan sembuh, akhirnya Tiara pasrah mengikuti segala arahan dari dokter yang menanganinya. Setelah disepakati, maka Dokter yang bernama Liem itu membuatkan jadwal khusus untuk Tiara.
***
Seminggu pertama pengobatan masih lancar, dan memberikan hasil yang cukup bagus. Namun, efek sampingnya sudah mulai terlihat, yaitu rambut Tiara sudah mulai rontok.
"Mas, rambut aku sudah mulai rontok," ujarnya saat duduk didepan cermin sembari menyisir rambutnya.
"Tidak pa-pa Sayang, setelah kamu sembuh, maka semua akan kembali normal." Aku berusaha untuk membesarkan hatinya dan memberi semangat.
"Emang berapa lama kita disini, Mas?"
"Sampai dokter memastikan bahwa penyakit kamu sudah sembuh."
"Aku kangen sama Rizqi Mas," ujarnya yang tampak sedih
"Aku juga kangen, Sayang, tapi kita harus fokus dengan pengobatan ini. Percayalah! Anak kita akan baik-baik saja dalam penjagaan Mama."
Tiara hanya mengangguk paham, mungkin awal-awal dia memang belum terbiasa, namun, seiring berjalan waktu dia sudah bisa lebih tenang dan rileks menjalani pengobatannya.
__ADS_1
Aku dan Mama mertua selalu setia mendampinginya dalam menjalani pengobatan. Tak bisa ditampik bahwa aku selalu merindukan Khanza, tetapi aku terpaksa untuk tetap fokus dalam mendampingi Tiara, jika aku mempunyai waktu cukup luang maka aku akan mengabarinya.
Aku selalu merasa bersalah karena selalu membohonginya. Tetapi, aku tidak ingin kehilangannya jika aku berusaha untuk jujur, semoga saja Tiara cepat sembuh agar aku bisa segera jujur pada kedua istriku.
***
Lima minggu berlalu, bertepatan dengan hari terakhir Tiara menjalani Radioterapi. Dokter Liem juga menyatakan bahwa sel kanker sudah dinyatakan mati. Dan delapan puluh persen Tiara dinyatakan sudah sembuh. Maka, kami diminta untuk kontrol di RS yang menangani khusus untuk pasien pengidap kanker yang ada di Indonesia.
Bersyukurnya kami tidak perlu harus ke luar negeri lagi untuk kontrol. Aku sangat bersyukur dengan hasil yang cukup memuaskan. Ada binar bahagia yang begitu besar dalam hatiku.
Tak terasa sudah sebulan lebih kami meninggalkan alfarizqi, sungguh kami begitu merindukan bayi mungil itu.
"Alhamdulillah, kami sangat senang dan bahagia mendengar kabar ini, Nak. Semoga kamu cepat pulih seutuhnya."
Mama dan Papa, juga keluarga yang lainnya mengucapkan syukur atas kesembuhan Tiara.
"Alhamdulillah, terimakasih ya, Ma, atas do'anya dan keluarga yang selalu memberiku dukungan," ujar Tiara kepada Mama dan keluarga yang lainnya.
Dua hari pasca pulang dari luar negeri, aku melihat Tiara baik-baik saja, dan sudah tampak lebih segar, walau sekarang Tiara sudah mengenakan hijab, aku juga bersyukur hikmah dibalik ujian penyakit itu, Tiara juga berusaha untuk tetap istiqamah dalam mengenakan jilbab. Walaupun dia sudah sembuh total, dia akan tetap menggunakan hijab.
"Aamiin, insyaallah ya, Mas."
"Yasudah, sekarang kamu istirahat, ya. Aku akan kekantor dulu, ada yang ingin aku urus tentang pekerjaan." Aku izin pada Tiara ke polres untuk mengurus izin dinas Kembali. Dan rencananya sepulang dari kantor, aku akan segera menemui Khanza. Aku sangat merindukannya.
Semoga saja dia mengerti dengan apa yang terjadi, aku akan berkata jujur padanya bila dia menginginkan kejujuran itu. Namun, lagi-lagi aku harus dikejutkan Kembali dengan kenyataan yang terasa menghempaskanku.
Saat aku masih di kantor, aku mendapat telpon dari art, bahwa Tiara mendadak pingsan dan mengeluarkan darah kembali dari hidungnya, juga terdapat beberapa memar di tubuhnya.
Tentu saja kabar ini membuatku berada dalam titik kecemasan yang begitu dalam. Padahal Tadi aku dan Tiara baru saja dari RS untuk kontrol pertamanya. Tapi ini apa?
Aku memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Pikiranku benar-benar tak menentu, rasa takut dan cemas kembali menjalar dihatiku.
"Ya Allah, kenapa ini? Berikan umur panjang untuk istriku, biarkan kami bahagia ya Rabb."
__ADS_1
Aku bergumam sendiri sembari selalu memanjatkan Do'a untuk istriku. Setibanya di kediamanku, segera aku masuk untuk melihat kondisinya. Aku melihat Mama mertuaku tampak bersedih dan menangis.
"Apa yang terjadi,Ma?" tanyaku begitu cemas.
"Mama tidak tahu, Yusuf, saat bibik mengabari, Mama segera kemari dan melihat Tiara masih pingsan. Hiks..."
"Mama tenang ya, ayo kita bawa Tiara ke RS sekarang."
Aku duduk di bibir ranjang dan meraba pipi dan dahinya, terasa suhu tubuhnya naik. "Sayang, bangun, ayo bangun Dek." Aku mencoba untuk membangunkannya, namun tak ada respon apapun. Aku segera melarikannya ke RS.
Setibanya di RS, dokter segera melakukan tindakan, dan memasang segala alat medis ditubuh Tiara. Aku benar-benar tidak menyangka dengan kenyataan buruk ini.
"Mari Pak Yusuf, ikut keruangan saya," ujar dokter menatapku dengan datar.
Sementara Mama mertuaku menatap begitu sedih, terlihat tatapan seorang ibu yang menginginkan kesembuhan untuk anaknya, bahkan dari tatapan itu andai bisa ditukar maka dia yang menggantikan rasa sakit yang kini sedang dialami oleh Putri satu-satunya.
"Baiklah, Dok." Aku berjalan mengikuti langkah sang Dokter sebelum akhirnya Mama mertua meraih tanganku.
"Yusuf, Mama ikut ya. Mama ingin tahu apa yang terjadi pada Tiara," ujar Mama berurai air mata.
"Ma, tunggulah disini. Dokter hanya ingin bicara padaku, percayalah, Ma! Tiara akan baik-baik saja." Aku mencoba untuk meyakinkan Mama mertuaku, walau sebenarnya aku sendiri dilanda rasa takut dan cemas.
Akhirnya Mama mengalah, aku segera menemui dokter diruangannya. Dokter itu mempersilahkan aku untuk duduk.
"Apa yang terjadi pada istri saya, Dok?" tanyaku ingin mengetahui dengan rasa tidak sabar.
"Ibu Tiara mengalami, Hipermetabolisme sumsum tulang. Maka dari itu Ibu Tiara harus menjalani transplantasi sumsum tulang, agar lebih cepat prosesnya, yaitu dari ayah kandung atau saudara laki-laki yang kandung."
Seketika duniaku berhenti berputar. Nafasku terasa sesak bagaikan benda puluhan kilo yang menghimpit dadaku. Bagaimana ini terjadi? Tiara adalah anak tunggal dan ayahnya sudah lama meninggal dunia.
"Tapi Tiara adalah anak tunggal, Dok. Apakah orang lain tidak bisa?" tanyaku ingin memastikan.
"Bisa, tetapi kita membutuhkan waktu lama, karena kita harus mencari pendonor yang cocok dengan Ibu Tiara."
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰