Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Kejutan again


__ADS_3

"Apa itu, Mas?" tanya Khanza dibawah kungkungan suaminya.


"Pokoknya ada deh, nanti kamu tahu sendiri. Sekarang ayo mandi, setelah itu kita turun. Atau kita olahraga dulu?" tawar Pria itu dengan senyum nakal.


"Mas!" Khanza mencubit pipi suaminya sangat gemas.


"Hahaha... Ayo mandi, Sayang." Yusuf membantu Khanza untuk duduk.


"Tapi malam ini kamu tidak akan balik ke kota Padang kan, Mas?" tanya Khanza masih cemas untuk ditinggalkan.


"Tidak, Sayang, aku akan selalu menemanimu disini," jawab Pria itu yakin.


Khanza sedikit mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan suaminya. "Selalu? Maksud kamu, Mas?"


"Sudah jangan banyak tanya, sekarang ayo Adek mandi. Ada yang ingin bertemu denganmu." Yusuf mengalihkan ucapnya.


Khanza tak ingin bertanya lagi karena suaminya masih penuh teka teki. Lebih baik dia mengikuti segala perintahnya. Perempuan itu segera mandi dengan cepat, rasa penasaran siapa yang ingin bertemu dengannya.


Selesai mandi, pasangan itu melaksanakan ibadah tiga rakaat. Setelah itu mereka segera turun untuk menemui tamunya.


"Mas, emang siapa sih yang ingin bertemu?" tanya Khanza sembari menapaki anak tangga untuk turun kebawah.


"Udah, nanti kamu juga tahu," jawab Yusuf masih abu-abu.


Saat Khanza akan menapaki anak tangga terakhir, langkahnya terhenti.


"Barakallah fii umrik anak cengeng Bunda dan Papa...!" Seru Bunda Lyra dan Papa Arman bersamaan.


"Papa! Bunda!" Pekik Khanza melihat kehadiran kedua orangtuanya. Senyum bahagia tampak menghiasi wajahnya.


Satu persatu keluarganya menghampiri dari, mulai Papa, Bunda, Ayah Yandra, Ibu Fatimah, Bang Yanju, dan Khenzi. Terlihat juga disana ada Arumi. Mereka mengucapkan Do'a kebaikan untuk Khanza atas keberkahan umurnya.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga sisa umurnya berkah, sehat selalu dan juga calon cucu kami. Tetap menjadi wanita baik, rendah hati, dan tentunya menjadi istri Sholeha untuk suamimu," ujar Papa Arman mendo'akan yang terbaik untuk anak perempuan satu-satunya.


"Aamiin... Terimakasih Papa, Bunda, Opa, Oma, dan semua keluarga yang sudah memberikan Do'a buat Adek. Adek sayang dan cinta kalian semuanya." Khanza menyalami satu persatu dan memeluk semua anggota keluarganya. Air mata bahagia kembali merembes di sudut matanya.


Khenzi menghampiri adik kembarnya, sudah tentu hari ulangtahun mereka sama. Pria dingin itu memberikan sebuah kado.


"Barakallah, Dek, semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Dihari spesial kita ini, Abang mau kasih ini buat kamu." Khenzi memberikan sebuah kotak kado kecil.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Abangku tersayang. Maaf ya, Adek belum sediain kado buat Abang, habisnya Adek benar-benar lupa, dan Adek juga tidak menyangka bahwa Abang akan datang," ujar Khanza pada Abangnya.


"Tenanglah, Abang masih dua hari disini. Jadi kamu masih bisa memberiku hadiah," balas Khen dengan senyum menggoda sang adik.


"Ish, nggak ikhlas, masa iya harus minta balasan," ujar Khanza mencibir.


"Hahaha... Iya dong. Aku juga ingin dikasih hadiah spesial dari adik kembaranku."


Semua keluarga yang hadir memberikan kado sehingga perempuan itu begitu bahagia, setelah seharian menangis, malam ini terbayar sudah dengan kebahagiaan yang tak terkira.


"Ayo kita makan bersama!" Ajak Opa Malik pada anak-anak dan cucu-cucunya.


Kini keluarga besar itu makan bersama untuk merayakan hari lahir anak pasangan Jendral bintang dua itu. Mereka makan dalam kekeluargaan dan Semua Art juga ikut makan bersama dengan mereka di meja besar yang ada di ruang makan.


Selesai makan, keluarga itu ngobrol di ruang keluarga. Bermacam topik yang mereka bahas, tak ada acara potong kue atau tumpeng, karena sang jendral maupun Opa Malik tidak mengizinkan. Bagi mereka cukup Do'a dan memberikan santunan untuk anak yatim itu sudah lebih dari cukup.


Khanza dan Yusuf berniat besok akan mendatangi panti asuhan untuk memberikan sedikit rezeki yang mereka peroleh dan meminta Do'a agar saat melahirkan nanti diberikan kemudahan dan keselamatan.


"Kok Bunda dan Papa datang nggak beri Adek kabar?" tanya Khanza.


"Namanya juga kejutan, Dek. Kalau kasih tahu nggak kejutan dong!" sahut Bunda.


"Emang jam berapa Bunda sampainya?"


"Jadi tadi Mas Yusuf cuma pergi jemput Bunda dan Papa?" tanya Khanza cemberut.


"Hmm, ya. Kenapa? Dia tidak bilang sama Adek?" tanya Bunda.


"Tidak, Bun, Mas Yusuf bilang dia ingin kembali ke kota Padang," jelas Khanza.


"Terus, Adek ngambek ya?"


"Hah? Enggak," jawab Khanza mengelak.


Bunda hanya tersenyum dan meraih putrinya untuk masuk kedalam pelukan.


"Jangan ngambek begitu, Sayang. Kamu harus membiasakan diri untuk berpisah, karena suamimu seorang abdi negara, kapanpun dia harus siap ditugaskan dimanapun. Dulu Bunda juga begitu. Malahan waktu Bunda hamil kalian, Bunda dan Papa tinggal terpisah. Bunda tinggal disini sama Oma," jelas Bunda berbagi pengalaman pada anaknya agar tak terlalu manja.


"Kok kisah kita hampir sama ya, Bun?" tanya Khanza yang merasa perjalanan hidupnya hampir mirip dengan sang Bunda.

__ADS_1


"Ya, karena kamu anak Bunda, maka dari itu kisah kita hampir sama. Bunda selalu berdo'a agar akhir dari perjalanan kisah kalian bahagia seperti Bunda dan Papa."


"Aamiin ya Allah. Aku sangat berharap bisa bahagia seperti Bunda dan Papa. Saling setia hingga menua bersama."


"Insyaallah jika niat kita baik dan lurus, maka Allah akan memudahkan segalanya." Bunda mengecup pipi putrinya dengan sayang.


Setelah Bunda dan Khanza ngobrol mereka ikut bergabung dengan perempuan lainnya yang sedang bercerita dan tertawa bersama di taman belakang. Sementara itu Yusuf, Papa, dan Yanju sedang bicara serius di ruang tamu. Khanza sedikit penasaran dengan obrolan para lelaki itu.


Khenzi baru selesai membuat kopi dan melintasi ruang keluarga yang terlihat hanya Arumi sendiri duduk disana. Wanita itu tampak antusias menerima panggilan video dari seseorang.


"Tante Arumi lama ya disana?" tanya sikecil Rafif.


"Enggak kok, Sayang. Tante hanya dua hari disini," jawab Arum tersenyum menatap layar ponselnya.


"Nanti kalau Tante pulang, kita nonton bareng ya, Tan, di bioskop ada film animasi terbaru," celoteh bocah kecil itu menuntut janji Arum waktu itu.


"Hmm, gimana ya?"


"Ayolah Tante, please..." Rafif masih berusaha membujuk.


"Ya, baiklah." Akhirnya Arumi menyetujui permintaan sang bocah.


"Horee... makasih ya, Tante Arum yang cantik," ujar Rafif dengan senyum manisnya menghadap ke Camera.


Arumi hanya mengangguk dan terkekeh kecil melihat tingkah bocah kecil itu. Setelah cukup puas bicara dengan Rafif, terlihat wajah di Camera sudah berganti dengan seorang Pria dewasa.


"Hai, apa kabar?" Dr Radit menyapa Arumi dengan senyum malu.


"Alhamdulillah baik, Dok." Arum menjawab sekenanya saja.


"Lagi sibuk ya?"


"Nggak, lagi santai kok," balas Arum.


"Kok sendiri? Mana yang lainnya?" tanya Radit kembali.


"Ada, Arum berdua dengan aku." Tiba-tiba Khenzi ikut duduk disamping gadis itu.


"Hai, Dok, udah minum?" tanya Khen menawarkan minum sembari mengarahkan cangkir kopinya pada Radit.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2