
Setelah cukup lama ngobrol bersama keluarga, sore hari Khanza pulang ke kediaman Oma dan Opanya. Diperjalanan pulang ia baru ingat, ternyata belum memberi kabar pada Yusuf bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat.
Khanza memeriksa ponselnya, ia begitu terkejut saat melihat begitu banyak panggilan dari Yusuf. Khanza benar-benar lupa bahwa dia punya janji untuk memberi kabar, saking takutnya untuk mengganggu sang suami.
Sedangkan Papa dan Bunda sudah berkabar tadi di ponsel Bang Yanju, mereka juga sudah video call dengan orangtuanya saat ngobrol di ruang keluarga.
Khanza membaca pesan Yusuf, Pria itu tampak begitu cemas, terlihat dari pesannya. Khanza merasa bersalah, dia ingin telpon balik, takutnya waktunya tidak tepat.
Maka wanita itu mencoba membalas dengan memberi kode dengan huruf P, Khanza tersenyum getir, kenapa dirinya merasa sebagai seorang pelakor yang sedang mengganggu suami orang.
Ya Allah, kenapa nasibku semiris ini? Ah, tidak, aku tidak boleh mengeluh. Maafkan aku ya Rabb, berikan keikhlasan dalam hatiku menerima takdir ini, dan tambahlah rasa sabar yang tak berbatas dalam diriku.
Batin wanita itu sembari menatap layar tipis yang ada ditangannya begitu lekat, berharap ada balasan dari sang suami. Sembari menunggu, Khanza mencoba untuk ngobrol santai dengan Oma.
Khanza begitu manja selalu bersandar pada wanita tua itu. Sesekali Oma mengusap perutnya, bergumam Do'a agar cicitnya sehat selalu.
"Sudah beberapa bulan kandungan kamu, Nak?" tanya Oma
"Jalan empat bulan, Oma. Nanti tujuh bulanannya disini saja," jawab Khanza sembari menyandarkan kepalanya pada bahu sang Oma.
"Bagus kalau begitu. Oma sudah tidak sabar menunggu kelahiran cicit Oma ini."
"Sabar ya, eyang buyut, Do'ain dia tetap sehat."
"Tentu, Sayang, Do'a Oma selalu menyertai kalian."
"Terimakasih ya Omaku tersayang. Muuuaachh." Khanza mengecup pipi wanita itu dengan gemas, sehingga membuat Oma terkekeh.
Saat mereka sedang asyik ngobrol, terdengar ponselnya berdering. Khanza segera menatap layar tipis yang masih ada di genggamannya. Ternyata yang dinanti akhirnya menghubunginya, tentu saja membuat senyumnya merekah.
"Assalamualaikum, Mas."
"Wa'alaikumsalam, Adek sudah sampai?"
"Alhamdulillah sudah, Mas, maaf ya, Adek benar-benar lupa, kasih kabar kamu, Mas."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa Sayang, Adek lagi dimobil?"
Tanya Yusuf, memperhatikan tempat dimana istrinya duduk. Khanza mengangguk dan mengarahkan Camera ponselnya pada Oma Anggi.
"Iya, Mas, aku mau kerumah Oma, tadi kami ngumpul dirumah Ayah dan Ibu. Ini ada Oma sama Opa," ujar Khanza pada suaminya.
"Assalamualaikum, Oma,dan Opa apa kabar?" Yusuf menyapa nenek dari istrinya itu.
"Wa'alaikumsalam, Nak, Alhamdulillah Oma dan Opa baik-baik saja. Kamu sendiri apa kabar? Kapan main kesini tempat Oma?"
"Alhamdulillah aku juga sehat, insyaAllah nanti ada waktu, aku akan berkunjung kesana. Yang penting Oma dan Opa sehat-sehat ya."
"Aamiin, insyaAllah, semoga kita sehat selalu."
"Oma, aku titip Adek ya, maaf jika aku belum bisa membahagiakannya. Yusuf menatap Oma begitu sendu, wajahnya tertunduk menahan sesuatu dalam hatinya.
"Nak, Oma dan Opa tahu kamu mempunyai tanggung jawab yang besar untuk kedua istrimu. Jangan merasa bersalah, berjuanglah untuk kesembuhan istri pertamamu, biar Khanza Oma yang menjaga. Kamu tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja bersama kami."
"Terimakasih, Oma. Aku tidak tahu harus bicara apa, sungguh kalian keluarga yang begitu baik dan berjiwa besar. Semoga Oma dan Opa panjang umur, disehatkan jasmani dan rohani."
Setelah selesai ngobrol dengan cucu menantunya, Oma memberikan ponsel itu pada Khanza. Mereka masih saling menatap dilayar tipis itu.
"Adek jaga diri ya, berikan kabar, aku pasti akan balas tapi mohon dimaklumi jika balasan lambat."
Khanza tersenyum bahagia mendengar permintaan suaminya. "Baiklah, Mas, Adek akan selalu mengabarimu, tidak peduli cepat atau lambat, yang penting kamu balas pesan aku."
"Yasudah, Mas tutup telponnya ya, baik-baik disana, Sayang, Miss you."
"Kamu juga baik-baik ya, Mas. Semoga Mbak Tiara dan dedek bayi sehat selalu. Miss you too."
Selesai berkomunikasi dengan sang suami, Khanza merasa lebih tenang dan lega. Wanita itu kembali bersandar pada Omanya dan memejamkan mata untuk mencari kenyamanan. Oma hanya tersenyum gemas melihat tingkah cucu kecilnya yang manja itu.
***
Yusuf menjalankan mobilnya, ia pulang sebentar untuk bertemu dengan sang putra, karena sudah seharian tidak melihat bayi mungil itu.
__ADS_1
Setibanya dirumah, Pria itu segera menghampiri bayi mungilnya yang sedang digendong sang nenek.
"Bagaimana Rizqi Ma? Apakah dia rewel?" tanya Yusuf mengambil bayi dari gendongan sang nenek.
"Alhamdulillah, dia tidak rewel sama sekali, Nak. Bagaimana keadaan Tiara?"
"Masih seperti itu,Ma, belum ada perubahan. Dokter bilang kita harus secepatnya mendapatkan donor untuk Tiara," jelas Yusuf sembari menyayangi sang bayi.
"Kasihan sekali, semoga secepatnya ada kabar baik dari RS. Oya, bagaimana Khanza? Apakah dia sudah sampai di Medan?" tanya Mama yang juga tak melupakan menantu keduanya itu.
"Alhamdulillah sudah,Ma. Khanza sekarang tinggal bersama Oma dan Opanya."
"Apakah disana dia mendapatkan penjagaan yang ketat juga? Takutnya masih ada orang-orang jahat yang ingin mencelakainya," ujar Mama mencemaskan Khanza.
"Iya, Papa dan Bang Yanju meminta dua orang polisi untuk melakukan penjagaan di kediaman Khanza di Medan."
"Ah, syukurlah."
Yusuf membawa Rizqi masuk kedalam dan meletakkan di kamarnya, Pria itu bermain dengan sang bayi sehingga rasa kantuk menyerang, bayi itu tertidur setelah menghabiskan sebotol sufor.
Yusuf mengamati wajah tampan bayi mungil itu. Rasa sedih kembali menyerang hatinya. Terkadang pikiran buruk dan rasa takut hadir dibenaknya.
Bagaimana jika Tiara meninggalkan mereka, apa yang terjadi padanya dan sang bayi. Ah, sungguh dia harus membuang semua pikiran buruk itu. Yusuf menanamkan rasa keyakinan bahwa sang istri pasti sembuh.
"Kamu pasti sembuh, Sayang, aku akan berjuang demi kesembuhanmu." Pria itu Bergumam sendiri sembari memandangi foto pernikahannya dan Tiara. Hatinya terasa pilu. Dia benar-benar tidak tahu dengan jalan yang telah digariskan oleh Allah.
Tak pernah terpikirkan olehnya untuk menduakan sang istri. Tetapi dengan kejadian itu, maka dia tak bisa lari dari takdir. Dia harus menikahi istri dari seorang jendral, yaitu atasannya sendiri. Dan tak dapat pula dipungkiri dengan seiring waktu berjalan, rasa cinta juga tumbuh untuk wanita itu.
"Maafkan aku, Sayang, aku benar-benar tidak berniat untuk menduakanmu. Jangan membenci diriku setelah nanti kamu tahu yang sebenarnya." Yusuf mengusap gambar Tiara mengecup dan mendekap di dada.
Pria itu benar-benar berada dalam rasa bersalah kepada kedua istrinya. Tetapi, dia tidak boleh menyerah dengan keadaan. Harus bisa melewati ini semua. Dia harus menjadi kekuatan untuk kedua istri dan anak-anaknya.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1