
Yusuf keluar dari ruangan Dokter, langkah Pria itu begitu gontai, hidupnya terasa tak bergairah lagi. Dalam hati selalu bergumam Do'a pada yang Maha Kuasa. Berharap masih ada keajaiban dan pertolongan Allah untuk sang istri tercinta.
Yusuf menatap wanita baya yang masih menangis dalam tangkupan kedua telapak tangan diwajahnya. Hatinya begitu perih dan pilu.
Yusuf mencoba menghela nafas dalam, dia mencoba untuk tetap tenang, agar Mama mertuanya tidak semakin cemas dan takut.
"Yusuf, apa kata dokter? Bagaimana keadaan Tiara? Apakah Tiara baik-baik saja?" tanya Mama memberondong dan tidak sabar ingin tahu.
"Ah, Dokter bilang Tiara baik-baik saja,Ma." Yusuf berusaha menutupi dari sang Mama, dia benar-benar tidak tega melihat kesedihannya.
Wanita baya itu hanya terdiam, ekspresi wajahnya tak dapat ditebak, entah apa yang ada dalam pikirannya.
Setelah beberapa jam didalam ruangan ICU, Tiara membuka kelopak matanya dengan perlahan, seketika tatapannya terbentur dengan sosok Pria Tampan yang selalu setia mendampinginya.
"Mas..." Panggil wanita itu dengan lirih.
"Iya, Sayang, mana yang sakit?" Yusuf mengecup kening dan tangan Tiara, Pria itu tak sanggup menahan air matanya.
Tiara hanya tersenyum, Yusuf yang melihat hal itu membuat hatinya semakin sedih, dia mendekap tubuh sang istri begitu erat.
"Mas, jangan bersedih," ujar Tiara sembari mengusap rambut hitam legam itu yang sedang bertumpu pada dadanya.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu, Dek? Aku menjadi takut. Katakan apa yang sakit?" Yusuf sedikit mengangkat kepala, bibirnya mengecup seluruh wajah Tiara."
"Mas, aku ingin bertemu dengan Dek Khanza."
Seketika tubuh Yusuf membantu saat mendengar ucapan yang baru saja keluar dari bibir Tiara.
"Maksud kamu?"
"Mas, boleh aku bertemu dengannya?"
"A-apa maksud kamu, Sayang?" tanya Yusuf semakin tidak mengerti dan was-was.
"Mas, tolong bawa Adek Khanza kesini. Aku ingin bertemu sebentar saja."
"I-iya, te-tetapi Khanza sedang di Medan, Sayang," jelas Yusuf semakin gugup.
__ADS_1
"Jemput dia, Mas." Kembali wanita itu memohon wajahnya begitu berharap. Yusuf dibuat semakin tidak mengerti.
"Baiklah, aku akan telpon Khanza sekarang." Yusuf hendak beranjak untuk menelpon.
"Mas... Jangan di telpon. Jemput dia, aku ingin kamu yang menjemput kesana."
"Sayang, kamu ini bicara apa? Mana mungkin aku meninggalkan kamu. Biar aku yang meminta tolong padanya agar bersedia untuk datang." Yusuf melepaskan tangan Tiara dengan pelan. Tetapi, wanita itu semakin erat pegangannya.
"Mas, Please... Aku ingin kamu yang menjemputnya kesana." wanita itu masih keukuh dengan pendiriannya.
"Tapi, Dek?"
"Mas, aku mohon untuk kali ini saja. Tolong penuhi permintaan aku," lirih wanita itu memohon.
Yusuf menghela nafas berat. Dia tidak tahu apa maksud dari semua keinginan sang istri. Apa sebenarnya yang di inginkan oleh Tiara. Apakah dia sudah mengetahui yang sebenarnya? Entahlah, Yusuf tidak ingin membahasnya sekarang. Dia masih berpikiran positif dengan apa yang di inginan sang istri.
"Baiklah, aku akan menjemputnya sekarang. Tapi kamu harus janji dulu sama aku!"
"Janji apa, Mas?" tanya Tiara masih menyimpan senyum di bibirnya.
"Hmm, baiklah. Yasudah kamu pergilah Mas. Biarkan Mama yang akan menunggui aku disini."
Dengan berat hati Yusuf menuruti keinginan Tiara, Pria itu berusaha untuk tegar, sebenarnya ia ingin sekali menangis dan mengucapkan ribuan permintaan maaf pada sang istri.
Yusuf memeluk tubuh Tiara yang masih terlentang, lalu menghujani wajahnya dengan kecupan.
"Mas pergi sekarang ya, Mas janji tidak akan lama. Nanti malam sudah sampai kembali disini," janji Yusuf ingin beranjak sembari meninggalkan jejak sayang di kening Tiara cukup lama. Entah kenapa hatinya begitu takut dan tidak rela harus meninggalkan sang istri.
Tiara mengangguk, dia juga membalas kecupan di kedua pipi suaminya. "Hati-hati dijalan ya, Mas. Aku sangat mencintai kamu."
"Aku juga sangat mencintai kamu, Sayang."
Yusuf segera keluar dan menyampaikan pesan Tiara pada Mama mertuanya, dan dia juga mengatakan bahwa Tiara ingin bertemu dengan Khanza.
Seketika wanita itu menangis tersedu-sedu. Wajahnya tampak begitu sedih. "Tidak, ini tidak mungkin! Hiks..." Wanita itu segera masuk kedalam ruang steril itu.
Yusuf hanya terpaku, dia tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Mama mertuanya itu. Dengan berat hati dia meninggalkan RS.
__ADS_1
Yusuf segera pulang untuk menukar pakaian dinas yang masih dikenakannya. Hati Pria sedang dirundung gelisah. Rasa takut selalu membayangi otaknya.
Setibanya di rumah, ia segera menunju kamarnya, dan membuka lemari untuk mengambil pakaian yang akan di kenakan. Namun, saat Yusuf memilih salah satu kemeja, suara vibrasi ponsel mengalihkan perhatiannya.
Yusuf mengambil ponselnya yang ada diatas ranjang. Ia membaca pesan yang masuk.
"Mas, ini aku Tiara, ada surat dalam laci kecil yang ada di lemari. Berikan surat itu pada Dek Khanza. Jangan dibaca, itu untuknya."
Pesan dari Tiara, tetapi menggunakan ponsel Mamanya. Memang sejak Tiara dirawat, ponselnya tak pernah ia gunakan, sehingga Yusuf menyimpan ponsel itu dirumah.
Yusuf segera membuka laci yang ada di dalam lemari pakaian mereka. Dia mendapati sebuah surat yang terbungkus oleh amplop putih. Tetapi surat itu terasa cukup tebal.
Yusuf semakin tidak mengerti. Hatinya semakin diliputi perasaan yang tak menentu. Yang pastinya sangat penasaran dan selalu bertanya-tanya. Rasanya ia ingin sekali untuk membuka surat itu dan membacanya. Tetapi, ia tidak ingin menjadi orang yang tidak amanah.
Yusuf menekankan rasa sabar dan penasarannya. Biarlah, dia akan mengikuti segala keinginan Tiara. Dia tidak tahu entah sejak kapan Tiara mempunyai Care pada Khanza. Kenapa harus Khanza?
Yusuf mengambil surat itu, lalu memasukkan kedalam saku kemejanya. Pria itu segera bergegas menuju Bandara. Sebelumnya ia telah pesan tiket pesawat.
***
Hari ini Khanza masih sibuk dengan aktivitas barunya di RS. Dalam kesibukan, ia selalu menatap layar tipis yang ada diatas meja kerjanya, berharap sang suami akan membalas pesan darinya. Karena sedari pagi hingga sekarang, Yusuf belum membalas ataupun membuka pesan yang ia kirimkan.
Khanza melihat waktu terakhir dilihat, padahal dua puluh menit yang lalu, tetapi Pria itu tidak membuka pesan darinya. Namun, Khanza berusaha untuk tetap berpikiran positif. Mungkin suaminya memang sedang sibuk.
Khanza kembali fokus pada pasien yang harus dia tangani. Wanita itu dengan sabar mendengarkan penjelasan dan keluhan yang di kemukakan oleh para pasiennya.
Tak terasa waktu berjalan. Khanza sudah menyelesaikan tugasnya untuk hari ini. Khanza segera bersiap untuk pulang. Saat Khanza sudah tiba di lobby RS.
"Dek!"
Panggil seorang, dan suara itu sangat familiar di telinganya. Khanza mencari asal suara itu.
"Mas Yusuf!"
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1