Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Menjadi pasangan suami istri


__ADS_3

Arumi menitikkan air mata, dan segera berdiri hendak meninggalkan Pria itu. Entah kenapa hatinya tidak ikhlas bila diperlukan seperti itu meskipun mereka akan menikah, tetapi penilaian Arum terhadap Khen menjadi minus.


"Eh, jangan pergi dong, Sayang. Kok kamu nangis?" tanya Khen sembari menahan tangan gadis itu yang akan beranjak.


"Lepas, Mas! Arum benci sama kamu. Kenapa kamu tega sekali melakukan hal itu?"


Tanpa bicara apapun Khen segera meraih tubuh wanita itu masuk kedalam pelukannya. Tangannya mengusap puncak kepalanya untuk memberi ketenangan.


"Sayang, dengarkan aku! Mana mungkin aku melakukan hal tercela seperti itu, apalagi kamu adalah wanita yang sangat aku cintai, tentu saja aku sangat menjaga kehormatan kamu," terang Khen pada gadis itu yang sudah bersedih hati.


Arumi melerai pelukannya, dan menatap mata Khen untuk mencari kebenaran ucapannya. Tidak ada kebohongan, tetapi sebaliknya hanya kejujuran yang tertanam.


"Kamu serius, Mas?" tanya Arum masih terisak.


"Serius dong, Sayang."


"Tapi, tadi kamu mengambil ciuman pertamaku?" tanya Arum masih ingin memastikan.


"Kalau itu aku mengakui. Tetapi, saat itu aku terpaksa melakukan untuk memberimu nafas buatan," jelas Khenzi jujur.


Wajah Arum terlihat merah bersemu sembari membuang tatapan dari Pria itu. Khen hanya tersenyum melihat tingkah malu calon istrinya.


"Udah nggak usah malu, besok kalau udah nikah aku ajari kamu cara yang lebih menantang," ucap Pria itu yang membuat Arumi semakin malu.


"Ihh, apaan sih kamu, Mas!" Arum memukul bahu Khen dengan geram.


"Hahaha... Ampun, Sayang. Iya, aku minta maaf." Pria itu masih terkekeh mendapat serangan dari wanitanya yang tampak sedang kesal dan malu.


"Makanya jangan keterlaluan!" sentak gadis itu segera beranjak meninggalkan Khen yang masih tertawa.


"Sayang, tunggu dong!" seru Khen mengejar Arumi menyusuri pinggiran pantai.


"Udah dong ngambeknya, Sayang," ujar Khen mensejajarkan langkahnya dengan Arumi. Tangan Pria itu merangkul bahunya.


"Awas, Mas!" Arum menurunkan tangan Khen.


"Nggak mau!" bantah Khen.


"Kamu mau apa sih?"


"Aku mau kamu tersenyum. Nggak boleh marah lagi, kalau kamu marah aku akan bertingkah yang lebih aneh lagi," ucap Khen membuat Arum menatap tak percaya.


"Kamu mau bertingkah apa?" tanya Arum menantang.


"Aku akan membawamu berguling bebas diatas pasir ini," jawab Khen membuat bulu kuduk wanita itu meremang.


""Eh, nggak usah macam-macam kamu ya, Mas!" ancam Arum garang.


"Hahaha... Kalau begitu senyum dong. Aku hanya ingin satu macam sama kamu. Nanti kalau sudah halal baru deh, aku minta beberapa macam," jawab Pria itu sembari tertawa lucu.


Arumi hanya menggeleng tak percaya, ia segera berjalan menuju parkiran mobil.


"Udah nih ngepantainya, Sayang?" tanya Khen masih mengekori calon istrinya.


"Udah, nggak mood. Kamu jahil banget," rutu Arum.


"Ayo jalan, Mas!" titah Arum, karena melihat Pria itu tak jua menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Nggak mau!" jawab Khen membuat mode merajuk.


"Ish, kenapa kamu yang ikutan ngambek?" tanya Arum gemas.


"Iyalah, dari tadi aku cuekin."


"Baiklah, ayo jalan calon imamku yang baik dan Sholeh," tutur Arum membujuk Pria itu.


"Ah, tidak mempan," sahut Khen masih mode ngambek.


"Ihh, jadi gimana dong?" tanya Arum tidak mengerti cara membujuk.


"Harus usaha dong!"


"Ada gitu orang ngambek pake nawar cara membujuk?"


"Adalah, contohnya aku," jawab Khen enteng.


"Oya? Terus, gimana caranya membujuk kamu, Mas?"


"Sebenarnya mudah sih. Aku itu kalau udah dipeluk pasti hilang ngambeknya, apalagi Kiss me," ucap Khen yang mendapat tatapan amarah dari Arumi.


"Mas, kamu? Iihhh...! Arumi kembali memberi cubitan yang benar-benar berasa di permukaan kulit rusuk Pria.


"Hahaha... Iya, ampun, Dek!" seru Khen memekik menahan sakit dan ngilu.


"Sebel sama kamu Mas."


"Hahaha... Iya, udah dong Sayang marahnya."


Arumi terpana menatap Khenzi, tanpa sadar sedari tadi dirinya sudah membuat Pria itu tertawa lepas berulang kali.


"Oke, Sayang, kita pulang sekarang ya. Udah nggak marah 'kan?" tanya Khen ingin memastikan.


"Nggak, Mas, mana mungkin aku marah. Malahan aku bersyukur bisa membuat kamu selalu tertawa. Kemaren-kemaren aku sempat ragu, bagaimana bila nanti aku tidak bisa membuatmu tersenyum dan tertawa. Karena aku tahu kamu Pria yang sangat sulit untuk disentuh hatinya," jelas Arum dengan wajah sendu.


"Dan aku juga bersyukur hanya kamulah wanita yang mampu membuatku bahagia. Aku juga berharap akulah Pria yang bisa membuatmu nyaman dan bahagia hidup bersamaku," balas Khen dengan senyum tenang.


"Insya Allah ya, Mas. Mari kita niatkan segala yang akan kita jalani sebagai ibadah."


"Aamiin ya Rabb," Khen mengaminkan Do'a calon istrinya.


Pasangan itu segera kembali kekediaman utama. Setibanya dirumah Arum segera istirahat sejenak sebelum acara akad dimulai sudah pasti akan membuatnya lelah, karena masih banyak Pr yang harus dikerjakan hingga waktu itu tiba.


***


Dua hari menunggu tidaklah hal yang lama. Seperti saat ini, dimana pagi ini adalah hari yang dinanti oleh pasangan itu untuk mengucap janji suci menjadi pasangan halal.


Khen sudah terlebih dahulu duduk dihadapan Pak penghulu dan seluruh keluarga yang akan ikut menyaksikan ijab Kabul.


Tak berselang lama Arumi keluar digandeng oleh Kakak perempuannya dan juga Khanza. Wanita itu terlihat sangat cantik dan anggun dalam balutan gaun akad yang di couple pakaian Khen dengan warna senada.


Pria kaku itu tampak begitu terpesona dengan kecantikan wanita yang beberapa menit lagi akan menjadi istrinya. Khen sungguh merasa gugup sekali.


"Tidak usah gugup. Rileks my brother," bisik Yanju yang duduk disampingnya.


"Gugup aku, Bang."

__ADS_1


"Iya, dibawa santai aja. Kalau kamu tidak bisa mengucapkannya, biar aku yang gantiin," ucap Yanju kembali.


"Woii, cari gara-gara kamu Bang?" ujar Khen menyorot garang.


"Hahaha... Santai Bro. Makanya fokus dong."


"Ah, dasar Abang tak berakhlak! Bukan nenangin malah buat aku tambah nervous aja," balas Khen menatap malas.


"Hahaha... Ayo tarik nafas dalam, lalu buang perlahan, dan fokus bahwa kamu pasti bisa."


"Kalau itu baru menenangkan hatiku Abangku yang Sholeh. Eh tapi, ngomong-ngomong kamu dan Kakak ipar udah pernah unboxing, belum sih?" tanya Khen penasaran dengan menggoda sang Kakak, sedikit membuatnya lebih rileks.


"Huuss! Apaan sih kamu nanyain itu. Udah fokus, geser sini dikit Arumi mau duduk," sanggah Yanju pada adiknya.


Khen memberi ruang untuk Arumi duduk disampingnya. Sesaat tatapan mereka bertemu dan saling mengukir senyum malu.


"Bagaimana mempelai Pria, sudah siap?" tanya penghulu yang akan menjadi wali nikah untuk Arumi.


"Siap Pak!" jawab Khen mantap.


Dengan satu kali sentak Khenzi mengucapkan kalimat sakral itu dengan lancar tanpa hambatan.


"Bagaimana saksi?"


"Sah!"


"Sah!"


"Alhamdulillah..." Semua keluarga mengucapkan syukur atas segala kemudahan yang Allah berikan dalam acara ijab qobul mereka.


Setelah acara ijab qobul selesai, mereka makan bersama dengan hidangan ala Prancis, yang mana setiap tamu dipersilahkan mengambil sendiri di meja yang sudah tersusun bermacam menu makanan.


Kali ini Yanju melayani sang istri mengambilkan makanan. Biasanya Asyiah akan menolak untuk diajak berpergian kemana saja. Tetapi entah kenapa kali ini wanita itu tidak menolak sama sekali.


"Makan Syah," ucap Yanju meletakkan piring yang berisi makanan itu di tangan Aisyah. Gadis itu harus bersabar satu bulan lagi untuk melakukan operasi penggantian kornea mata.


"Makasih, Mas," ucapnya datar dan sedikit senyum.


Sementara Khen dan Arumi mengamati Yanju dan Aisyah dengan kekakuan hubungan pasangan itu. Padahal mereka sudah cukup lama menikah, tetapi sikap Aisyah tetap dingin.


Siang hari acara sudah selesai, Arumi masuk kamar untuk mengganti gaun akad dengan pakaian santai. Terasa aneh karena sekarang ia harus menempati kamar Khen.


Entah kenapa jantung wanita itu jedag jedug saat melihat ranjang pengantin yang dihiasi se apik mungkin dan ditaburi kelopak bunga mawar. Saat Arumi masih larut dalam lamunan, pintu kamar terbuka.


"Mas!" ucap Arum sedikit kaget dengan kehadiran Pria itu secara tiba-tiba.


"Kok belum ganti pakaian? Nungguin Mas yang bukain ya?" tanya Khen membuat tubuh wanita itu meremang.


"Hah? Eng-enggak," jawab Arum gugup. Ini benar-benar berasa aneh dalam hidupnya, Arum masih belum percaya bahwa sekarang dirinya sudah menjadi seorang istri.


"Terus kenapa diam begitu menatap ranjang? Atau lagi bayangin kira-kira kita harus menggunakan gaya apa nantinya," kembali ucapan Pria itu membuat wajah Arumi merah padam, dan jantungnya sungguh tidak tenang.


"Ihh, Mas kenapa dari tadi ngomongnya begitu. Udah, ah. Arum mau ganti pakaian dulu!" seru gadis itu beranjak karena tak tahan digoda selalu oleh suaminya yang sudah mulai mesum.


"Hahaha... Oke, Sayang, aku tunggu." Khenzi terkekeh gemas melihat sang istri begitu tampak malu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2