
Diperjalanan pulang, Khanza tak berhenti berceloteh, sehingga membuat Yanju harus sabar menjawab semua pertanyaan sang adik.
"Abang dan kakak ipar tinggal dimana? Jauh sama Ayah dan Ibu?" tanya Khanza ingin tahu kehidupan Abangnya.
"Nggak, Dek, Abang beli rumah di kompleks jalan xx. Agak dekatan dengan mertua Abang," jelas Yanju sembari fokus mengemudi.
"Oh, gimana pengobatan mata kakak ipar? Apakah sudah mendapatkan donor mata?"
"Sudah, tetapi adanya di RS Thailand. Dan rencananya setelah Abang cuti nanti, kami akan segera melakukan operasi untuk Aisyah."
"Alhamdulillah, semoga operasinya lancar ya, Bang, semoga kakak ipar segera bisa melihat kembali seperti semula."
"Aamiin... Oya, kamu dan Yusuf bagaimana?" Kini giliran Yanju yang menanyakan perihal rumah tangga adiknya, walaupun dia sudah tahu tentang pernikahan yang dikarenakan insiden itu.
"Alhamdulillah baik-baik saja, Bang, Mas Yusuf masih fokus dengan pengobatan istri pertamanya yang kini sedang sakit keras," ujar wanita itu dengan wajah sendu.
"Iya, Abang sudah tahu dari Bunda dan Papa. Kamu sabar ya, semoga semuanya diberikan kemudahan oleh Allah SWT. Kita sama-sama berdo'a agar istri pertamanya cepat sembuh."
"Aamiin... Terimakasih Do'anya ya, Bang. Oya, Abang dan kak Aisyah gimana?" tanya Khanza penuh selidik.
"Gimana apanya?"
"Kan, Abang nikah karena terpaksa. Jadi suami pengganti. Hehe... Udah cinta belum? Aku lihat fotonya di ponsel Bunda, kak Aisyah itu cantik banget. Hahaha..."
Khanza tak bisa menahan tawa saat menggoda sang Abang, terlihat wajah Pria yang berumur dua puluh delapan tahun itu murung saat mendengar pertanyaan sang adik.
"Ck, apaan sih kamu. Seneng banget ngeledek Abang sendiri."
"Bukan ngeledek lho, tapi aku pengen tahu perasaan Abang."
"Eh, anak kecil kepo banget. Nggak, Abang nggak mau kasih tahu, weeekk." Yanju mencubit pipi Khanza sembari mencibir.
"Ish, gitu banget. Palingan Abang udah cinta, tapi pura-pura jaim, iya 'kan?" tebak Khanza.
"Hah? E-enggak. Sok tahu banget."
"Tuh, wajahnya kelihatan merah. Pasti bener, iya, kan? Ayo ngaku!"
"Eh, Dek jangan gitu dong. Geli tahu! Nggak aci main paksa-paksa. Hahaha..." Yanju tak bisa menahan tawa karena di gelitik oleh sang adik.
Setibanya dikediaman orangtuanya, Khanza segera disambut oleh Oma dan Opa.
__ADS_1
"Oma, Opa!"
"Khanza, Sayang, cucu Oma. Muach, Muuach." wanita renta itu mengecup kedua pipi cucunya.
"Aku kangen banget sama, Oma dan Opa." Khanza membalas pelukan dan kecupan di kedua pipi Oma dan Opanya.
"Khanza!" Ujar Fatimah dari dalam menyongsong keponakannya.
"Ibu! Aku kangen banget."
"Ibu juga kangen, Nak. Kamu tambah cantik sekarang," puji Fatimah memeluk Khanza.
"Ih, ibu bisa aja, Oya, Ayah dan Adek Akhifa mana, Bu?" tanya Khanza melerai pelukannya.
"Ayahmu ada di kamar, lagi mandi karena baru pulang dari RS. Kalau Akhifa sedang mengikuti pelatihan desainer fashion, untuk mengikuti lomba bulan depan," jelas Fatimah pada keponakan suaminya itu.
"Ayo, kita masuk Sayang," ajak Opa Malik membawa sang cucu untuk masuk.
"Iya, ayo kita masuk. Ibu sudah masak spesial buat kamu."
Karena hari sudah siang, maka keluarga itu segera menuju meja makan untuk makan bersama. Khanza di layani begitu spesial oleh keluarga Papanya. Apalagi Oma Anggi yang begitu memanjakannya.
"Ayah!" Khanza segera berdiri, menyalami dan memeluk saudara kandung sang Papa.
"Sudah datang kamu, Nak? Bagaimana perjalanan kamu? Aman?" tanya Yandra membalas pelukan Putri cengengnya itu, sembari mengecup keningnya.
"Alhamdulillah, aman, Yah."
"Syukurlah, ayo kita makan sekarang." Yandra membawa Khanza untuk duduk kembali.
Kini mereka makan bersama dalam kekeluargaan yang begitu hangat, Khanza tidak merasa sendiri, dia selalu di kelilingi keluarga yang begitu menyayanginya. Walaupun berpisah dari kedua orangtuanya dan juga suami, tetapi dia tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun.
Memang keluarga Malik Saputra itu penuh dengan kasih sayang, maka sifat mereka menurun pada kedua anak laki-lakinya, hingga ke cucu-cucunya. Mereka begitu pandai menghargai sesama, meskipun mereka mempunyai titel dan pangkat sendiri-sendiri, mereka tidak pernah merendahkan siapapun.
"Kamu tinggal disini saja sama Ayah dan Ibu ya, Dek," ujar Yandra di sela-sela makan.
"Eh, nggak bisa! Kamu ini gimana sih? Kan dari awal Khanza sudah bilang mau tinggal sama Mama," potong Mama Anggi menyela ucapan anaknya.
"Yah, Mama, nanti kalau Khanza mau tidur dirumah Mama juga nggak dilarang. Lagian disini dia ada temannya Akhifa."
"Enggak, Khanza tetap sama Mama, nanti Akhifa saja yang kerumah Mama, jadi biar tambah rame cucu-cucuku disana," ujar Mama Anggi masih ngotot.
__ADS_1
"Sudah-sudah, kenapa jadi ribut. Sekarang tanya sama orangnya. Khanza mau tinggal sama Oma dan Opa atau disini sama Ayah dan Ibu?" tanya Papa Malik menengahi Ibu dan anak itu.
Khanza tersenyum lucu menatap Ayah dan Oma cekcok. "Hehe... Adek tinggal sama Oma dan Opa saja deh, Yah. Kasihan mereka sepi tidak ada teman," jawab Khanza memberi putusan, karena dari awal niatnya memang akan tinggal bersama Oma dan Opa.
"Tuh kan, dengar sendiri. Kasihan deh kamu." Mama Anggi tersenyum puas melihat kekalahan putranya.
"Iya deh, aku ngalah. Mama dari dulu kan, memang selalu menang. Ibu negara maha benar. Hahaha..."
Mereka tertawa bersama menanggapi ucapan Yandra, karena memang begitu adanya, jika Mama Anggi yang bicara, maka tak ada yang berani membantah.
"Sudah, ayo makan. Jangan bicara lagi." Papa Malik kembali memperingati keluarganya agar makan tetap tenang.
Selesai makan, mereka ngobrol diruang keluarga. Khanza juga ingin membicarakan sesuatu pada ayahnya, yaitu tentang donor sumsum tulang belakang untuk Tiara.
"Apa rencana kamu sekarang, Dek?" tanya Yandra.
"Aku ingin bekerja di RS Ayah."
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin, Yah. Boleh 'kan?" tanya Khanza berharap.
"Tentu saja boleh, Nanti kamu bisa aplusan dengan jadwal praktek Ayah."
Khanza tersenyum senang. Dengan bekerja, sedikit bisa mengalihkan pikirannya dari sang suami yang kini sedang fokus dengan pengobatan istri pertamanya. Khanza sudah berjanji tidak akan mengganggu konsentrasi Yusuf.
Dia hanya akan menunggu kabar dari suaminya dengan sabar. Tak ingin menambah beban pikirannya.
"Ayah, apakah Papa sudah telpon dan memberitahu sesuatu?" tanya Khanza ingin memastikan agar dirinya tidak sulit untuk menjelaskan kembali.
"Ya, Papa kamu sudah telpon Ayah, dan sekarang RS juga sedang berusaha mencari donor untuk kakak madumu. Berdo'a lah agar kita segera mendapatkannya."
"Terimakasih ya, Yah. Aku selalu berdo'a agar Mbak Tiara segera sembuh. Aku sangat kasihan dengan bayinya yang masih sangat membutuhkan dirinya."
"Ya, mari kita sama-sama berdo'a untuk kesembuhannya," sambung Papa Malik.
"Aamiin...," Semua keluarga mengaminkan.
Bersambung...
Happy reading 🥰
__ADS_1