Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Pergi


__ADS_3

Setelah bicara pada Papa Arman dan Bunda Lyra, Arumi segera kembali ke kamarnya untuk mempacking semua barang-barangnya. Hati wanita itu sudah mantap untuk meninggalkan kediaman keluarga Jendral Arman Sanjaya.


Terlalu naif untuk hatinya bila tak merasakan sakit saat bertemu muka dengan Pria yang telah melambungkan angannya beberapa bulan ini. Kini ia harus merelakan dan mengikhlaskannya untuk wanita yang memang dia cintai. Berharap di tempat yang baru dapat segera menyembuhkan luka lara yang di torehkan oleh Pria kaku itu.


Khen masuk dengan air muka tak seperti biasanya. Pria itu menghampiri kedua orangtua yang sedang duduk diruang keluarga.


"Ada apa, Bang? Apakah ada masalah di perusahaan?" tanya Papa yang melihat penampilan putranya sangat kacau.


"Tidak ada masalah apa-apa di perusahaan, Pa, tetapi hatiku yang sedang bermasalah," jawab Khen dengan galau.


"Oya, apa masalahnya?" tanya Papa penasaran.


"Pa, aku ingin melamar Arum secepatnya, aku ingin menikah dengannya," ucap Khen penuh harap.


Papa dan Bunda saling pandang, Pria baya itu menghela nafas dalam. Sebenarnya ingin kesal pada putranya itu, tetapi tak ingin pula membuat putranya merasa dipojokkan.


"Kamu sudah terlambat, Nak. Arumi besok pagi akan pergi ke kota Jambi. Dia akan menetap dan bekerja disana," ujar Bunda menimpali.


"Apa! Arumi akan pergi?" tanya Khen sangat terkejut


"Ya, Papa sudah pernah bilang padamu, Bang. Perbaiki sebelum terlambat, tetapi kamu tak menghiraukan ucapan Papa, dan akhirnya kamu akan menyesal," tukas Papa.


"Tidak, Pa, Abang masih bisa memperbaikinya. Abang akan bicara pada Arumi, Abang akan minta maaf," ucap Khen penuh percaya diri.


"Kamu kira semudah itu, Bang? Tapi kami akan mendukung bila kamu memang ingin berusaha," ujar Papa kembali.


Khenzi segera berdiri dan menuju kamar Arumi, ia harus bisa mencegah gadis itu pergi. Dengan langkah pasti Khen mendekati daun pintu.


Tok! Tok!

__ADS_1


"Arum, ini aku, buka pintunya!" seru Pria itu dari luar.


Arumi yang sedang mempacking barang-barangnya sedikit terkejut mendengar seruan dari luar. Ada angin apa Pria kaku itu datang menemuinya. Tidak minat untuk menanggapi, namun suara ketukan semakin jadi, maka dengan terpaksa Arum membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Arum dingin, dan membuang muka.


"Arum, aku ingin bicara denganmu."


"Yaudah bicara saja."


"Arum, please jangan pergi. Aku minta maaf atas segala kesalahanku padamu. Tapi, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku ingin kita menjalin hubungan kembali," ungkap Khen memohon.


Arum merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, seorang Pria kaku seperti Khen bicara sedemikian. Namun hatinya sudah terlanjur terluka. Arumi tidak ingin luluh lagi dengan ucapan Khenzi. Dia harus bisa membentengi hatinya sendiri agar tak terluka ulang.


"Maaf Mas, Arum sudah tidak bisa, kisah kita sudah berakhir. Arum harus pergi untuk mengobati luka yang kamu berikan," ucap Arum dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Tidak, Mas, tidak akan semudah itu menyembuhkan luka, apalagi dengan orang yang sama. Siapa yang bisa menjamin bahwa kamu datang untuk mengobati setelah apa yang pernah kamu lakukan padaku. Kamu tahu, Mas? Duniaku sangat berantakan saat kamu tinggalkan. Aku sadar ternyata gubuk yang kubangun tidak cukup kokoh untuk kamu tempati, sehingga kamu lebih memilih menghuni istana yang megah," ucap Arum dengan deraian air mata.


"Dek, aku mohon jangan bicara seperti itu. Sungguh aku merasa bersalah. Aku sadar akan segala kesalahanku. Berilah aku kesempatan sekali lagi maka aku berjanji akan memperbaiki segalanya," mohon Khen dengan wajah sedih.


"Maaf Mas, Arum tidak bisa. Sampai kapanpun Arum tidak akan bisa menggapai hatimu, biarkan hubungan singkat yang pernah kita bina akan menjadi pembelajaran dalam hidupku." Arumi segera menutup pintu kamar itu kembali dan merosot bersandar di daun pintu.


Rasanya begitu perih saat mengingat semua yang telah ia jalani dan pada akhirnya hubungan itu kandas, dan saat ini pun lelaki itu kembali datang untuk memintanya memberikan kesempatan sekali lagi. Hatinya tidak sekokoh itu untuk mencoba kembali. Luka ini saja sudah cukup menjungkirbalikkan perasaannya.


Tok! Tok!


"Arum, buka pintunya, aku belum selesai bicara Arum!" seru Khen masih berdiri didepan pintu kamar. Namun wanita itu tak lagi menyahut, ia masih larut dalam tangisnya membiarkan saja Pria itu lelah sendiri dalam usahanya.


Merasa sudah tak ditanggapi, Khen beranjak ia berjalan dengan lesu tak bersemangat. Khen duduk di teras belakang menyendiri sembari menyesali segala kesalahan yang pernah ia lakukan hingga perasaan gadis itu sangat terluka.

__ADS_1


Khen sadar bahwa ternyata Arumi memang tak mempunyai hubungan apa-apa dengan Dr Radit, itu terlihat setelah beberapa minggu hubungan mereka kandas, Arum dan Dr Radit tak menampakkan ada hubungan yang spesial diantara mereka.


"Kenapa aku bodoh sekali. Apa yang harus aku lakukan ya Allah." Pria itu bergumam sendiri sembari mengusap wajahnya dengan lembut, rasa keputusasaan menyelubungi hati.


"Jangan mudah menyerah, biarkan Arum pergi untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Papa percaya kamu pasti bisa meluluhkan hatinya kembali." Terdengar suara pahlawan yang selalu menyemangati dirinya disaat akan menyerah dengan keadaan.


"Papa, aku tidak yakin dengan hatiku sendiri, Pa. Arum sudah sangat kecewa dan terluka," ucap Khen menengadah menahan sesak di dadanya.


"Jangan menyimpulkan terlebih dahulu sebelum kamu berusaha lebih keras lagi. Percayalah kamu pasti bisa, luruskan niatmu untuk ibadah dan benar-benar ingin membahagiakannya tanpa niat untuk menyakiti walau sedikitpun. Kamu tahu, Nak, itulah niat yang pernah Papa utarakan saat Papa memperjuangkan Bundamu," ujar Papa Arman memberi semangat kepada putranya.


Khenzi merasa lega saat mendengar ucapan sang Papa, berasa mendapat semangat yang luar biasa untuk memperjuangkan gadis itu. Ya, Khen harus bisa mendapatkan hati wanita itu kembali, tak peduli apapun rintangannya.


"Pa, terimakasih ya, Abang berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan bila kesempatan itu Abang dapatkan. Abang janji akan membahagiakannya sepenuh hati," ucap Khen penuh semangat.


Arman tersenyum memeluk Putaranya. "Good job, Nak, Do'a kami selalu menyertai kalian."


Pagi-pagi sekali Arumi sudah bersiap akan berangkat ke Bandara, ia sengaja mengambil penerbangan pagi karena setibanya di kota Jambi Arumi akan segera mengikuti pelatihan selama tiga hari.


Setelah berpamitan kepada ibunya, Arum juga pamit pada Bunda Lyra dan Papa Arman. Mereka semua memberikan Do'a untuknya.


"Hati-hati ya, Nak. Kalau sudah sampai beri kabar Ibu," pesan Bu Santi melepaskan Putri bungsunya pergi.


"Baiklah, Bu. Arum berangkat dulu." Wanita itu menyalami tangan mereka secara takzim, segera masuk kedalam mobil yang akan mengantarkannya ke Bandara.


Arum terpaku saat menyadari pengemudinya bukan orang yang biasa mengantarnya, melainkan Pria yang memang sengaja ia hindari.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2