
Selesai mandi pasangan itu ikut bergabung sarapan bersama dengan Kak Vera. Khen yang sudah mendapat energi dari sang istri terlihat senyum sumringah diwajahnya.
"Kamu sudah yakin untuk resign, Arum?" tanya Kak Vera setelah sarapan Arumi dan Khenzi bicara pada Kakaknya membahas keputusan Arumi yang akan kembali ke kota Padang untuk ikut dengan Khen.
"Insya Allah keputusan Arum sudah yakin, Kak. Arum minta maaf ya, pasti Kakak malu dengan semua ini," ucap wanita itu merasa sangat sungkan pada sang Kakak.
"Tidak apa-apa, Arum, Kakak mengerti. Sudah seharusnya kita ikut kemanapun suami bekerja, Kakak disini juga karena mengikuti Abangmu, kalau disuruh memilih lebih baik Kakak bertugas di RS Padang bisa dekat dengan keluarga. Tapi kembali lagi demi bakti pada suami, maka kita harus paham itu."
Arumi merasa lega karena sang Kakak tidak marah, tetapi memberinya wejangan yang membuat hatinya semakin mantap dengan keputusan untuk berhenti bekerja.
"Jadi hari ini juga kalian akan berangkat?" tanya Vera
"Iya, Kak. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku terlalu lama," jawab Khen.
"Baiklah, nanti biar Kakak yang urus semuanya di Puskesmas. Kalau begitu Kakak harus pergi dulu, maaf Kakak tidak bisa mengantarkan kalian ke Bandara. Kalian hati-hati saja ya. Kalau sudah sampai jangan lupa beri kabar," ujar Vera pada kedua adiknya, dan memberi pesan.
"Baik, Kak, tidak apa-apa." Khen dan Arum menyalami tangan wanita itu.
Setelah Vera berangkat kerja, Arum dan Khen segera bersiap untuk balik ke kota Padang. Khen begitu semangat membantu Arum mengemasi barang-barangnya.
"Tumben rajin dan perhatian banget, biasanya super cuek," sindir Arum pada sang suami, wanita itu memeluk dari belakang.
"Iyalah, mulai sekarang aku janji akan selalu membantu, aku akan menjadi suami siaga buat kamu. Semoga saja benih-benih cinta yang ada dirahim kamu segera tumbuh," ucap Khen memutar tubuh Arum menghadap padanya sembari mengusap perut datarnya.
"Kamu sudah siap Mas untuk punya anak?" tanya Arum.
"Siap banget malah, Dek," jawab Pria itu memeluk dengan erat.
"Kalau Arum hamil tentu Arum tidak bisa kuliah, Mas," rengek manja wanita itu.
"Kenapa tidak bisa, Sayang? banyak kok orang hamil sambil kuliah," ucap Khen segera membawa Arum duduk, dan memeluk dengan sayang.
"Iya, tapi kebanyakan tertunda, jadinya nggak kelar-kelar kuliahnya," balas Arum masih mode cemberut.
"Terus gimana? Apakah kita harus menunda dulu untuk punya anak?" tanya Khen memberi penawaran.
Arum menatap wajah suaminya, Pria itu tampak pasrah walau sebenarnya ia sangat ingin segera mempunyai anak dari sang istri.
"Mas, daftar kuliahnya tidak usah buru-buru. Tunggu beberapa bulan saja, seandainya Arum hamil, Arum tidak kuliah. Arum akan fokus dikamu dan anak kita," ujar mantan gadis itu pada suaminya.
__ADS_1
Khen tersenyum bahagia mendengar ucapan sang istri, segera meraih tubuh Arum masuk kedalam pelukannya. "Terimakasih ya Sayang, aku seneng banget dengernya.
"Yaudah, ayo sekarang kita berangkat. Oya, Ibu dan Bunda tahu kamu nyusulin aku kesini?" tanya Arum penasaran.
"Nggak, aku berangkat ke bandara jam setengah lima. Mereka masih pada tidur, tapi tadi sudah titip pesan sama Security," jawab Khen jujur.
Arum tersenyum geleng kepala. "Ternyata sedahsyat itu pesona diriku hingga kamu lupa segalanya. Bahkan mungkin kamu bisa lupa jalan pulang bila sudah tersesat dihatiku," ucap Arum menggoda suaminya.
"Ish, kamu kalo ngomong kenapa selalu benar. Membayangkan saja hidup tanpamu adalah sesuatu yang mustahil. Kamu membuat hidupku lengkap, dan aku ingin kamu tahu, Dek, bahwa kamu berarti segalanya bagiku," balas Khen yang membuat jantung Arumi cenat cenut mendengar kata-kata Pria kaku yang kini sedang dimabuk cinta.
"Oww... Co cweet banget suamiku ini sekarang." Arum bergelayut manja, tangannya mengalung di leher Khen. "Mas, biarkan Arum menjadi istri yang bisa kamu andalkan, karena sesungguhnya aku juga tidak bisa hidup tanpamu," balas Arum tersenyum membuat Khen bertambah gemas.
Cup
Khen mengecup bibir wanita itu. "Ternyata sekarang kamu juga sudah lebih lihai dariku mengeluarkan kata-kata manis itu."
"Hehe habisnya terpancing dari kamu. Yaudah ayo kita jalan sekarang."
"Oke, Sayang, let's go." Khen menggeret koper sang istri, dan mereka tak lupa pamit pada Art dan juga mengasuh kedua anak kakaknya.
Saat pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di Bandara, Khen segera mengambil mobilnya yang sengaja ia titip di Bandara. Khen tak segera membawa Arumi pulang ke rumah utama orangtuanya. Tetapi dia membawa Arum kesuatu tempat.
"Kamu tenang saja, Sayang, aku ingin hari ini kita menghabiskan waktu. Anggap saja kita sedang menikmati bulan madu sehari," jawab Khen sembari menggengam tangan Arum dan mengecupnya.
Mobil itu berhenti di sebuah villa yang letaknya tak jauh dari pantai Padang. Khen keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Arum.
"Ayo, Sayang." Khen mengulurkan tangannya untuk menjadi pegangan sang istri.
"Selamat datang Tuan, Nona," sambut pekerja di villa itu.
"Ya, terimakasih. Pulanglah, nanti saya kabari kembali," ujar Khen meminta para pekerja di villa itu pergi untuk memberinya waktu berdua saja dengan sang istri.
"Baik, Tuan." Dua orang perempuan yang bertugas merawat hunian yang biasa digunakan untuk persinggahan para wisatawan itu pergi sementara waktu.
Khen membawa Arumi naik kelantai dua Kamar utama khusus untuk dirinya. Kamar itu sengaja di privasi. Tidak ada orang yang berani menempati selain pemiliknya, petugas masuk hanya untuk membersihkan saja.
Arumi menatap sekeliling kamar yang bernuansa modern di desain bergaya Zen. Warnanya begitu lembut putih dipadu kreem. Ranjangnya yang berukuran king size menghadap ke jendela besar sehingga view lautan luas terpampang jelas begitu indah.
"Masya Allah, indah sekali, Mas. Ini kamar siapa?" tanya Arum masih terpesona indahnya pemandangan kamar itu.
__ADS_1
"Ini kamar aku, Dek. Gimana, apakah kamu menyukainya?" tanya Khen meraih pinggang wanita itu untuk merapat padanya.
"Beneran ini kamar kamu?" tanya Arum masih belum percaya.
"Benar, Sayang, masa iya aku bohong. Nggak mungkin juga aku pinjam kamar orang," jawab Khen jujur, Pria itu sudah tak bisa tenang. Tangannya sudah mulai rusuh.
"Nggak nyangka banget kamu punya villa sebagus ini, Mas, ya Allah, sekaya apakah dirimu," ucap Arum masih terkagum dengan villa milik suaminya.
Khenzi hanya terkekeh melihat kepolosan sang istri. Memang kehidupan mereka berbeda sedari kecil. Arumi dibesarkan dan disekolahkan dari gaji ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman Arman Sanjaya, yaitu dirumah orangtua suaminya. Sementara Khen sejak lahir sudah berkecukupan dengan segala kekayaan yang dimiliki orangtuanya.
Hingga akhirnya Pabrik besar yang dibangun oleh sang Papa diserahkan kepadanya. Dan disanalah Khenzi meniti karir untuk memperkembangkan usaha sang Papa hingga mearaup keuntungan yang begitu besar.
Dari usaha kerasnya itu, sudah banyak aset yang Khen miliki, seperti membangun perusahaan sendiri, mempunyai beberapa villa yang ada di kawasan pantai Padang. Dan Khen juga sudah memiliki rumah sendiri yang sudah di persiapkan jauh-jauh hari sebelum menemukan jodohnya.
"Sayang, aku tidak kaya. Semua yang aku punya hanya titipan dari Allah, selagi aku dititipkan harta oleh yang punya, maka aku harus mempergunakannya dengan baik, yang utama adalah untuk membahagiakan kamu dan juga anak-anak kita kelak. Jadi mulai sekarang apapun milikku juga milikmu. Kamu tidak perlu sungkan dan merasa tidak pantas, karena kamu sangat pantas bersanding denganku dan kamu juga pantas bahagia bersamaku."
Kata Khenzi benar-benar membuat hati Arumi meleleh dan juga tak kuasa menahan haru, setitik cairan menetes disudut mata. Arum menengadah menatap wajah Pria tampan yang ada dihadapannya.
"Terimakasih, banyak atas cinta dan ketulusan kamu, Mas. Arum hanya ingin bahagia selamanya bersamamu. Kamu mempunyai segalanya, Arum berharap dengan segala yang kamu punya tidak akan menjadi sombong, dan apalagi ada niat untuk menduakan Arum," ucap wanita itu masih dengan tangis haru.
"Hei, kenapa kamu sampai berpikir seperti itu? Bahkan untuk memikirkan saja aku tidak mau. Kamu tahu,sayang, aku sangat ingin kita menjadi pasangan seperti Papa dan Bunda. Sedari kecil hingga sekarang aku sudah menikah. Hampir tidak pernah mendengar Papa dan bunda bertengkar. Bahkan orangtua itu selalu mesra. Jikapun ada masalah mereka hanya diam, namun Papa selalu berusaha membujuk Bunda, dan mereka akan kembali mesra," jelas Khen mengambil contoh berharga dari kedua orangtuanya.
Arumi tersenyum mendengar penuturan dari sang suami. "Ya, Arum juga sangat ingin seperti itu, Mas. Tapi kamu harus lebih peka lagi seperti Papa. Ini aja, lihat bini keteteran sendiri dibiarin. Hah, gimana mau seperti Papa dan Bunda," celoteh wanita itu masih mengingat kejadian waktu di mall.
"Ya Allah, Sayang, masih di ingat aja yang begituan," balas Khen tak terima.
"Ya harus di ingatlah."
"Nggak boleh di ingat kelakuan jelek aku, kamu hanya boleh mencintai dan menyayangi aku, udah itu aja. Nggak ada tawar menawar lagi!" tekan Pria itu tersenyum bahagia sembari melu mat bibir Arumi.
"Ish, curang. Mas, nanti dulu, Arum masih ingin menatap indahnya pemandangan dari sini," tolak Arum menahan kegiatan tangan Khen yang sedang merusuh di tubuhnya.
"Nanti saja, Sayang, kita olahraga dulu satu ronde, nanti kita akan menikmati keindahan alam sekitarnya," ucap Pria itu masih berusaha membujuk sang istri.
Arumi hanya pasrah saat Khen sudah menjelajahi tubuhnya dengan bibirnya. Dan akhirnya mereka kembali mereguk madu cinta dengan tempat dan suasana yang berbeda.
Bersambung...
Happy reading 🥰
__ADS_1