Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Titipan dari Khen


__ADS_3

"Arum, aku harap kamu bisa sedikit sabar menghadapi sikapku yang pastinya akan membuatmu sering kecewa. Tetapi, aku akan belajar untuk lebih baik lagi. Aku tahu ini tidak akan mudah, percayalah. Aku akan berusaha demi dirimu," ujar Khen yang membuat Arum terharu.


"Terimakasih ya, Mas. Arum akan berusaha untuk memahaminya. Semoga hubungan kita kedepannya akan lebih baik," balas Arum sembari tersenyum lembut.


"Sudah malam, istirahatlah." Khen beranjak dari tempat duduknya dan segera keluar. Arum hanya mengangguk patuh. Meskipun sikap Pria itu masih tampak kaku, setidaknya dia berjanji akan berusaha untuk merubahnya.


"Sayang, mana pakaianku?" tanya Yusuf yang bersiap untuk ke kantor. Ini adalah hari pertamanya apel pagi di Polres Medan.


"Bentar, Mas," sahut Khanza mengambilkan dalam lemari pakaian yang kemarin baru selesai mereka ambil di laundry.


"Adek ke RS hari ini?" tanya Yusuf sembari mencuri kecupan di pipi istrinya yang sedang fokus membantunya mengancingkan pakaian dinas yang dikenakan.


"Iya, Mas. Hari ini pasien aku penuh," jawab Khanza.


"Baiklah, nanti pulang tunggu aku yang jemput ya."


"Mas nggak sibuk?"


"Kalau untuk jemput kamu akan aku usahakan. Nanti aku akan balik lagi setelah antar kamu pulang."


"Nggak usah, Mas. Adek dijemput sama driver saja."


"Nggak, Dek!" ujar Pria itu tegas.


"Ya, baiklah suamiku Sayang, terimakasih ya atas waktu kamu yang selalu ada buat aku," ujar Khanza tersenyum bahagia sembari tangannya bergelayut manja dileher Yusuf.


"Untuk kamu akan selalu aku sisihkan waktu, Karena kamu adalah prioritasku."


"Ya ampun, manis banget sih kamu, Mas? Makin cinta deh sama kamu. Hehe..." Kekeh wanita itu menggoda suaminya.


"Baru nyadar bahwa suamimu ini selalu bersikap manis?" tanya Yusuf sembari berjongkok dihadapan Khanza sehingga wajahnya tepat dihadapan perut buncitnya. "Anak Papa jangan rewel ya, hari ini Papa dan Mama sama-sama sibuk. Jadi, anak Sholeh Papa harus baik Budi ya," ucap Yusuf membujuk bayi yang ada dalam rahim sang istri.


Pria itu sudah rapi dengan style dinas barunya yang menambah ketampanan ayah dari dua anak itu. Khanza begitu terpesona dengan penampilan suaminya yang selalu rupawan walau menggunakan pakaian apapun.

__ADS_1


Khanza mengurus segala keperluan suaminya terlebih dahulu. Wanita itu begitu menikmati momen sebagai seorang istri. Ia sangat bahagia karena dapat mengurus suaminya seutuhnya.


Setelah merasa sudah melakukan kewajibannya dalam mengurus keperluan suaminya, Khanza segera bergegas bersiap untuk dirinya sendiri.


Setelah sama-sama rapi, pasangan halal itu segera turun kebawah untuk sarapan bersama bergabung dengan keluarga yang lainnya.


Pagi ini Khenzi dan Arumi akan kembali ke kota Padang, mereka yang sama-sama sibuk tak bisa libur terlalu lama. Sementara itu Bunda dan Papa masih berada di kota Medan, karena mereka akan menemani Yanju ke Thailand untuk membawa Aisyah melakukan operasi mata.


"Bun, Pa, kami berangkat dulu ya." Pamit mereka pada kedua orangtuanya dan juga keluarganya yang lain.


"Baiklah, hati-hati ya. Kalau sudah sampai jangan lupa beri kabar Bunda," pesan Lyra pada anak dan calon menantunya.


"Baiklah, Bun." Khenzi dan Arumi menyalami semua keluarganya dengan takzim.


Pasangan itu sudah sampai di kota Padang. Khenzi dan Arumi sudah ditunggu di bandara oleh ADC yang sedang naik piket.


Setibanya diruamah. Arum segera menghampiri ibunya dan menyalami dengan takzim.


"Sudah pulang kamu, Nak? Bunda Lyra nggak ikut pulang, kalian cuma berdua saja?" tanya Ibu Santi pada Arum dan Khenzi.


"Oh, begitu. Yasudah, kalian sana bersih-bersih dulu. Ibu siapin makan siang dulu," ujar ibu menyuruh anaknya untuk ke kamar.


Arum setelah membersihkan diri, dan menukar pakaiannya. Dia segera menuju dapur untuk membantu sang ibu.


"Nak, kamu beli cincin dimana?" tanya Ibu saat melihat sebuah cincin melingkar di jari manis sang putri.


"Ah, ini..."


"Maaf, Bu. Itu cincin pemberian Abang buat Arum, Abang sudah memberi arum pengikat. Setelah Papa dan Bunda pulang, mereka akan bicara pada Ibu. Sekali lagi Abang minta maaf karena meminang Arum tidak menyertakan Ibu. Abang akan mengikuti arahan dari ibu, apakah kita perlu mengulangnya kembali, agar orang tahu bahwa kami sudah bertunangan," ujar Khen meminta maaf dan menjelaskan pada ibu Santi.


Wanita baya itu sedikit terkejut, dan menatap kedua pasangan itu dengan seksama.


"Tidak perlu, Nak. Ibu sudah menyetujuinya. Ibu akan selalu berdo'a agar kedepannya hubungan kalian lebih baik hingga sampai ke pelaminan," ujar wanita itu.

__ADS_1


"Aamiin... Terimakasih ya, Bu." Khenzi mencium tangan wanita yang sedari kecil ikut mengurusinya. Tak pernah menyangka bahwa Pria itu akan menjadi menantunya. Hanya Do'a dan harapan ia rapalkan pada sang Khaliq agar mereka bahagia.


Arum sangat kagum melihat sikap sopan santun Pria itu pada orangtua. Dia sangat menghargai orang yang lebih tua. Benar yang dikatakan oleh Bunda Lyra, bahwa sebenarnya hati Pria itu baik. Dia hanya butuh waktu untuk merubah kekakuan dalam dirinya pada lawan jenisnya.


Kini mereka makan siang bersama. Setelah makan, Khen berangkat ke pabrik untuk meninjau bahan baku yang masuk. Sementara Arum sore harinya dinas menggantikan sif temannya yang masuk malam.


"Arum, besok pagi pulang jam berapa?" tanya Khen diperjalanan mengantarkan tunangannya itu ke RS terlebih dulu sebelum dia ke pabrik.


"Jam tujuh, Mas."


"Baiklah, besok aku jemput ya."


"Hmm, baiklah."


Setelah mengantarkan Arum ke RS, Khen segera menuju pabrik. Arum mulai bertugas di bagian penyakit dalam.


Malam sekitar jam sembilan, Arum sedang mengganti tabung infus pasien rawat inap.


"Arum, ada titipan dari seseorang," ujar teman yang sama jaga malam dengannya. Wanita itu menyerahkan dua kotak makanan.


"Dari siapa?" tanya Arum heran. Wanita itu menilik isi paper bag yang bertuliskan makanan siap saji itu.


"Cowok keren. Tapi kamu tahu, nggak, Pria itu tampan tapi kaku banget banget. Tidak ada senyumnya, mahal banget kayaknya tuh senyum. Siapa sih? Pacar kamu?" tanya temannya yang bernama Rara itu.


Seketika Arum teringat pada Khenzi saat menyinggung Pria kaku, siapa lagi kalau bukan dia. Arum segera merogoh kantong depan baju dinasnya untuk mengambil ponselnya.


Benar saja, ada pesan dari Pria itu. Yang membuat Arum tersenyum simpul saat membaca pesan dari Khenzi.


Jangan lupa dimakan ya. Tadi Mas tidak sengaja lewat daerah sini. Dan sekalian beliin buat kamu. Jangan lupa istirahat, jangan terlalu capek. Besok pagi aku tunggu di lobby.


Ada binar kebahagiaan dihati wanita itu saat membaca pesan dari Khen, sumpah demi apa hatinya sungguh bahagia.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2