Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Harus sabar


__ADS_3

"Aisyah, percayalah padaku bahwa apa yang aku katakan adalah benar adanya. Tak ada lagi yang aku tutupi darimu. Kita akan melaksanakan resepsi nanti setelah kamu selesai operasi." Yanju masih berusaha meyakinkan istrinya.


"Soal perasaan juga benar 'kan?" tanya Aisyah kembali.


"Aku sangat mencintai kamu, Dek, jangan pernah meragukan perasaanku. Malah sebaliknya, aku yang harus tahu tentang perasaanmu yang sebenarnya. Apakah kamu juga mencintai aku?" tanya Yanju penuh harap.


"Ais juga mencintai kamu, Mas." Wanita itu juga mengungkapkan perasaannya.


"Benarkah? Jika kamu benar-benar mencintai aku, apakah kamu mau menghapus nomor Pria itu dari ponselmu?" tanya Yanju menguji sebesar apa rasa cinta sang istri.


"Ya, Ais tidak keberatan sama sekali, Mas, memang seharusnya nomor itu sudah disingkirkan. Tetapi, Ais melihat kamu tidak pernah merasa cemburu," ungkapnya.


"Eh, enak aja bilang aku tidak pernah cemburu. Aku sangat cemburu dan sakit bila melihat istriku menerima telpon dari Pria lain, namun aku tidak punya keberanian untuk melarang, karena selama ini kamu tidak merasa bahagia berada disampingku," jelas Yanju.


"Semula Ais mengetahui bahwa Mas Yanju adalah seorang polisi, dan Mas tidak pernah memberitahu, maka Ais merasa Mas itu malu mempunyai istri yang buta. Ais berusaha untuk menepi agar kamu tidak malu saat bersamaku. Itu juga alasan kenapa Ais selalu menolak ajakan kamu. Ais hanya tidak ingin kamu malu, Mas," ucap wanita itu dengan raut wajah sedih.


"Berarti kita hanya salah paham. Sekarang kita sudah tahu satu sama lain tentang perasaan masing-masing. Jadi mulai sekarang kita akan memulainya dari awal. Aku ingin menjadi suami kamu seutuhnya," ucap Yanju kembali membawa Aisyah dalam pelukannya.


Aisyah hanya mengangguk dan membalas pelukan suaminya dengan erat. Yanju yang merasa istrinya memeluk dengan erat ia tersenyum bahagia.


"Jangan terlalu erat pelukannya, Sayang, aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu," ucapnya menggoda sang istri.


"Kamu panggil Ais sayang, Mas?" tanya wanita itu begitu bahagia mendengar panggilan baru untuknya.


"Ya, apakah kamu keberatan?"


"Ah, tidak, tentu saja Ais bahagia."


"Alhamdulillah... Semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kita." Yanju memberi tanda sayang di kening istrinya.


Seketika wajah Aisyah merah dan terasa panas. Ini kali pertama ia mendapat sentuhan dari sang suami, rasanya benar-benar membuat jantungnya berdegup tak menentu.


"Jangan tegang begitu, Sayang, mulai sekarang kamu harus terbiasa menerima segala sentuhan dariku," ucap Yanju mengusap kepala istrinya.


Aisyah hanya tersenyum malu mendengar ucapan suaminya yang menyadari apa yang sedang ia rasakan.


"Sayang, kita pulang sekarang yuk," ajak Yanju pada sang istri.


"Nanti Mas, Ais masih ingin menikmati suasana pantai."


"Tapi, Dek, aku sudah tidak tahan," bisik Yanju membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.

__ADS_1


"Tidak tahan, maksud kamu apa, Mas? Kamu ingin buang air?" tanya Ais pura-pura tidak tahu, sebenarnya dari nada rengek Pria itu dia sudah dapat memahami.


"Ish, bukan itu, Dek."


"Terus, apa dong?"


"Dek, kita kan sudah berkomitmen untuk memulainya dari awal. Apakah kamu tidak ingin memberikan hakku?" tanya Yanju berterus-terang. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya sudah sangat lama menginginkan hal itu.


Aisyah terpaku mendengar pertanyaan sang suami. Apakah ini saatnya menjadi istri seutuhnya untuk Yanju. Sudah sepatutnya ia berbakti pada suaminya, ia harus melayani lahir dan batin. Aisyah juga ingin memiliki sang suami sepenuhnya.


"Baiklah, kita pulang sekarang. Tapi besok sebelum kita balik ke Medan, Mas harus bawa Ais kesini lagi ya," pinta wanita itu pada suaminya.


"Siap, laksanakan Ibu Kapolda!" jawab Pria itu yang di ikuti dengan tawa renyah oleh sang istri.


"Apaan Ibu Kapolda, Bunda tuh Ibu Kapolda," sanggah Aisyah.


"Kalau Bunda istri Kapolda. Kamu langsung menjabat jadi Kapolda. (kepala dapur) Hehe..."


"Ish, berarti semua istri Kapolda dong."


"Iyalah, lebih tinggi jabatan kamu daripada aku."


"Hahaha... Udah ah, ayo kita pulang sekarang," ajak Aisyah menyudahi candaan mereka.


Tubuh wanita itu sudah panas dingin membayangkan dirinya akan segera digarap oleh Pria dewasa yang kini sangat menginginkan haknya.


"Nggak usah aneh-aneh deh, Mas. Emang kamu setega itu dengan aku," balas Aisyah sedikit cemberut.


"Hahaha... Ya nggaklah, Sayang. Bagaimanapu kenyamanan kamu yang utama." Yanju merangkul bahu sang istri untuk membawa masuk kedalam mobil.


Sepanjang perjalanan Pria itu selalu mengukir senyum. Tetiba ia mengingat sang adik yang gagal unboxing, malah kebalikan dirinyalah yang mendapatkan keberuntungan itu. Yang nikah siapa, dan yang malam pertama juga siapa.


Setibanya, Yanju membimbing Aisyah masuk kedalam rumah. Namun, mereka berpapasan dengan keluarga yang sedang ngobrol diruang keluarga.


"Kalian sudah pulang?" tanya Papa.


"Darimana, Bang?" tanya Ayah Yandra.


"Dari pantai Yah, udah lama tidak menyapa suasana laut," jawab Yanju.


"Ayo duduklah, Nak," ucap Ibu Fatimah meminta Putra dan menantunya untuk duduk.

__ADS_1


Yanju menghela nafas dalam. Niatnya yang segera ingin membawa Aisyah masuk kamar harus ditunda dan memasok rasa sabar sedikit lagi.


Diruang keluarga itu ternyata mereka sedang membahas tentang resepsi pernikahan anak-anak mereka yang akan digelar setelah Khanza melahirkan, karena saat ini Khanza sudah menunggu hari.


Para orangtua itu meminta pada anak-anak untuk membantu mempersiapkan diri mereka, yaitu seperti pakaian. Dan dalam rundingan ini ialah resepsi pernikahan Yanju akan digabung dengan kedua adiknya. Jadi ini benar-benar pesta yang cukup besar, karena tiga pasang pengantin akan duduk bersama dalam satu pelaminan.


"Bang, tanggal operasi Aisyah kapan?" tanya Bunda.


"Akhir bulan ini, Bun, minggu depan kami sudah berada Thailand," jawab Yanju menjelaskan keberangkatannya.


"Kalau begitu Papa mungkin tidak bisa ikut, karena Papa sedang menangani kasus diluar kota," jelas Papa Arman.


"Iya, tidak apa-apa,Pa. Abang mengerti."


"Tapi nanti Bunda yang akan menemani," ucap Bunda menimpali.


"Terimakasih, Bun."


Cukup lama mereka membahas rencana resepsi pernikahan anak-anaknya hingga tak terasa waktu sudah hampir magrib. Satu persatu mereka masuk kedalam kamar untuk bersiap bersih-bersih dan melaksanakan ibadah.


"Mandi, Dek," ucap Yanju yang sudah menyediakan air mandi untuk sang istri.


"Iya bentar, Mas." Aisyah masih fokus mengambil ganti di lemari.


"Dek, kita mandi berdua saja ya, biar cepat, kan bentar lagi magrib," usul Yanju pada sang istri, ia juga ikut masuk ke kamar mandi.


"Enggak mau, Mas. Yang ada malah semakin lama, Ais tidak percaya," tolak Aisyah yang merasa hanya alibi Pria itu saja.


"Keluar, Mas!" Aisyah mendorong tubuh Yanju untuk keluar.


"Eh, serius nggak bakalan lama, Sayang, janji nggak akan macam-macam."


"Ais tidak mau, Mas, Ais malu," rengek wanita itu masih keukuh meminta Yanju untuk keluar.


"Tidak apa-apa aku lihat, Dek, biar kenalan dulu. Biar makin jinak punya aku. Hehe..."


"Mas Yanju, ihh, keluar! Kenapa kamu mesum sekali." Wajah Aisyah semakin merah padam.


"Hahaha... Baiklah, Sayang. Mandilah, aku keluar sekarang." Akhirnya Pria itu mengalah membiarkan sang istri untuk mandi terlebih dahulu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading πŸ₯°


Nb. Mohon Maaf bila author salah-salah sebut nama para tokohnya yaπŸ˜… dikomen saja di paragraf mana, biar aku perbaiki lagiπŸ™πŸ™πŸ˜


__ADS_2