Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Curahan hati


__ADS_3

Khanza mengunyah suapan pertama yang masuk kedalam mulutnya. Ekspresi wajahnya biasa saja, tidak menunjukkan tanda-tanda aneh ataupun nikmat yang berlebihan.


"Gimana, Dek? Apakah tidak enak?" tanya Yusuf ,sedikit heran melihat ekspresi wajah sang istri hanya biasa saja.


"Enak banget, Mas. Kamu pinter masak, Mas?" tanya Khanza yang mengakui masakan suaminya enak.


"Pinter nggak, Dek, tapi bisa. Alhamdulillah jika kamu menyukainya."


Khanza tersenyum bahagia. Pria yang ada dihadapannya begitu sempurna, tidak salah apa yang disampaikan oleh Mama Niken, bahwa Mas Yusuf selalu bisa membahagiakan pasangannya.


Dengan sabar Yusuf menyuapi, walau tubuhnya lelah, dan duka masih menyelimuti hatinya. Tak bisa ditampik, bayangan istri pertamanya masih selalu ada dalam ingatan. Tetapi, Pria itu berusaha untuk tenang dan tegar, karena Khanza juga membutuhkan dirinya.


"Udah kenyang, Mas, Adek pengen makan rujak," ujar Khanza menahan sendok yang diarahkan ke mulutnya.


"Baiklah, minum dulu, Sayang." Yusuf menyodorkan gelas air, setelah itu menyerahkan piring yang berisikan bermacam potongan buah dibaluri oleh bumbu kacang.


"Bagaimana, Sayang? Enak?" Pria itu selalu ingin mendapat pengakuan dari sang istri, mau itu pujian ataupun kritik atas usahanya.


"Enak, Mas. Cobain deh." Khanza menusuk potongan buah itu, lalu menyuapi suaminya. "Enak 'kan?"


"Hmm, lumayan. Alhamdulillah hasilnya tidak mengecewakan," jelas Yusuf sembari mengunyah buah yang ada di mulutnya.


"Walaupun tidak enak, Adek pasti makan kok, Mas. Apapun yang kamu berikan aku pasti suka," sahut Khanza.


"Cinta buta dong, Adek. Hehe..." Pria itu menggoda sang istri.


"Kok gitu?" tanya Khanza tidak paham maksud ucapan suaminya.


"Iya, cinta itu kan memang buta, Dek. Bila seseorang begitu mencintai pasangannya, maka apapun akan dia lakukan, dan bahkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seperti yang Adek bilang, masakan tidak enakpun akan tetap adek makan asalkan Abang yang memberikan," jelas Yusuf, tersenyum sembari mengerlingkan matanya.

__ADS_1


"Ish, apaan sih kamu, Mas." Khanza tersenyum, wajahnya bersemu merah.


"Benar 'kan?"


"Enggak!"


"Benar!"


"Enggak, kamu..." Ucapan Khanza terhenti saat bibir Pria itu sudah menempel pada bibirnya.


Lidah Yusuf menyapu bagian bibir Khanza yang terkena bumbu rujak. Seketika mata wanita itu terbelalak saat mendapat perlakuan yang tak terduga seperti ini.


"Benar 'kan?" tanya Yusuf setelah melakukan pergumulan lidah dalam waktu singkat.


Khanza menatap sayu, wajahnya yang putih bersih, kini menjadi merah memanas. Pria itu selalu saja membuat jantungnya berdegup tak menentu.


"Ya, kamu benar, Mas. Aku selalu jatuh cinta padamu, sehingga diriku mendambakan segala yang ada padamu. Aku sangat mencintai kamu, Mas...," lirih Khanza, tangannya membelai rahang tegas itu.


"Jangan menatap sedih begitu, Dek, perasaan kita sama. Aku juga sangat mencintai kamu. Mungkin kamu memang bukan cinta pertamaku, tetapi kamu adalah cinta terakhirku."


"Terimakasih, Mas." Khanza melabuhkan kepalanya didada bidang Yusuf. Rasa bahagia begitu mendera saat mendengar pengakuan sang suami yang ternyata mempunyai perasaan yang sama.


Kini pasangan halal itu ngobrol sambil menikmati rujak yang dibuat oleh Yusuf. Setelah cukup lama, Khanza sudah mulai mengantuk. Mungkin efek samping obat yang disuntikkan oleh Yandra tadi.


Yusuf memperbaiki posisi tidur sang istri, lalu menyelimuti agar tidur dengan nyaman. Yusuf meninggalkan jejak sayang di kening Khanza, setelah itu ia beranjak turun ranjang.


Karena belum menemukan kantuk, Yusuf membuka pintu balkon. Dengan pandangan lurus kedepan menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang yang ada disana.


Pria itu menatap cahaya rembulan yang sudah mulai menghilang di tutup awan. Sekelabat kenangan bersama Tiara masih indah terpatri dalam hatinya. Kedua telapak tangannya mengusap wajah dengan lembut, lalu tangan itu menjadi tupangan dagunya.

__ADS_1


Seketika Yusuf mengingat sebuah surat dari Tiara yang belum sempat ia dibaca. Yusuf mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil surat yang diselipkan disana.


Jantungnya berdegup kencang saat membuka surat itu. Sebenarnya ia belum siap untuk membaca setiap kalimat yang tertuang di kertas putih itu. Tetapi, rasa penasarannya begitu besar. Maka saat sunyi beginilah waktu yang tepat untuk membacanya.


***Assalamualaikum, Imamku, suamiku tersayang, sandaran hatiku.


Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku telah tiada, Mas. Walau ragaku tak bersamamu lagi, tetapi hatiku akan selalu ada bersemayam dijiwamu. Kamu tahu Mas? Aku sangat bahagia menjadi istri dan ibu dari anakmu. Kamu itu adalah lelaki kesayangku. Enam tahun selama aku menjadi istrimu, aku tidak pernah menangis karena ulahmu, bahkan aku sering menangis karena terharu dengan segala perlakuanmu. Kamu itu lelaki yang nyaris sempurna. Kamu. Tampan, baik, penyayang, penuh kelembutan, dan juga cintamu begitu tulus.


Mas, jangan bersedih. Aku sengaja memintamu untuk pergi disaat ajalku menjemput, karena aku tahu jika kamu berada disampingku, maka kamu tidak akan mungkin merelakan kepergianku...


Mas Yusuf, jangan menyalahkan dirimu dengan apa yang telah terjadi. Aku sangat tahu bahwa kamu adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab dan tulus mencintai aku. Mungkin Tuhan sudah menentukan segalanya, Mas. Sehingga kamu dititipkan seorang wanita cantik dan berhati tulus untuk pengganti diriku.


Mas, berbahagialah bersama Dek Khanza, tolong jaga anak kita dengan baik, saayangi dia segenap jiwamu, jangan membedakan kasih sayangmu pada anak-anakmu kelak yang akan hadir.


Selamat tinggal, Mas.... Semoga Allah akan mempertemukan kita kembali disyurga-Nya***.


Yusuf menghapus air matanya yang jatuh menimpa kertas putih yang berisi coretan tinta dalam rangkai kalimat begitu menyedihkan hatinya.


Perlahan Pria itu menghirup udara sepenuh dada. Nafasnya terasa sesak menahan tangis saat membac curahan hati sang istri sebelum ajal menjemputnya.


"Kamu jangan khawatir, Sayang, aku akan menjaga Putra kita dengan baik. Tenanglah di alam sana. Tunggu aku disyurga-Nya."


Yusuf melipat surat itu, dan menyimpannya kembali di dalam dompetnya. Lama Pria itu duduk dalam keseorangan, terpaan angin malam membuat tubuhnya sedikit dingin.


Yusuf beranjak masuk, dan kembali menutup pintu balkon itu. Dengan perlahan ia naik diatas tempat tidur dan masuk dalam selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh Khanza.


Sebelum tidur Yusuf kembali mengecup wajah cantik Khanza yang tidur dengan damai. Nafasnya terasa sesak saat menatapnya, rasa iba melipir dalam hati. "Maafkan, aku Dek, maaf jika selama menjadi istriku kamu selalu mengalami penderitaan, kamu adalah wanita yang penuh dengan rasa sabar. Aku berjanji mulai saat ini akan selalu membuatmu bahagia. Terimakasih kamu sudah mencintai diriku yang banyak kekurangan ini."


Yusuf segera berbaring dan mengelus perut Khanza dengan lembut, sehingga membuat wanita itu semakin lelap menemui mimpinya.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2