
Cukup lama Khanza berada dalam dekapan Yusuf, Khanza begitu merasa nyaman sehingga dia tak ingin lepas dari pelukan suaminya. Begitu juga Yusuf dia sangat merindukan ibu dari anaknya itu, sehingga kedua insan itu saling melepaskan rindu.
"Dek, apakah kamu ingin pergi?" tanya Yusuf masih mengusap rambut Khanza.
"Iya, Mas, aku ingin ke Medan," jawab Khanza lirih, terdengar suara itu masih menyimpan kesedihan.
"Jangan pergi, Dek."
"Mas, ini akan lebih baik, biarkan aku pergi. Jadi, kamu bisa lebih fokus dengan pengobatan Mbak Tiara." Khanza merenggangkan pelukannya, kini tatapan mereka kembali bertemu.
"Tapi, kamu tidak bermaksud untuk meninggalkan aku 'kan?" tanya Yusuf begitu takut.
Khanza tersenyum lembut, tangannya memegang kedua pipi Yusuf. "Tidak, Mas, aku tidak akan meninggalkan kamu, tetapi aku ingin kamu lebih fokus pada Mbak Tiara disini. Sebenarnya aku ingin sekali menjenguknya, tetapi keadaanku yang seperti ini tidak memungkinkan."
"Apakah kamu yakin?" tanya Yusuf sekali lagi, sembari menatap manik mata indah dihadapannya saat ini.
"Iya, aku yakin, Mas, aku tidak akan mungkin salah paham lagi, karena kamu sudah jujur padaku. Sekarang fokuslah untuk kesembuhan Mbak Tiara, aku akan selalu menunggu kabar darimu. Semoga Mbak Tiara cepat sembuh."
Yusuf tak bisa bicara apa-apa, dia begitu terharu dengan sikap legowo istri keduanya, hatinya begitu tulus dan begitu pengertian.
"Terimakasih, Sayang, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku. Terimakasih sekali lagi atas segala pengertian kamu. Tunggu aku disana, aku akan menjemputmu setelah Tiara sembuh. Aku akan meresmikan pernikahan kita, meskipun aku harus berhenti dari anggota kepolisian. Aku tidak peduli, yang jelas kamu dan Tiara akan tetap aku pertahankan."
Khanza menatap suaminya begitu haru, dia tidak menyangka bahwa Yusuf benar-benar ingin memperjuangkan dirinya, tetapi dia belum tahu bagaimana hati Pria itu padanya.
"Mas, apakah yakin akan mengorbankan pekerjaanmu demi aku dan Mbak Tiara? Bukankah menjadi seorang polisi adalah impian terbesarmu, dan dengan susah payah kamu berhasil meraihnya. Tapi, kenapa sekarang kamu dengan mudah untuk mepertaruhkannya?"
__ADS_1
"Dek, aku memang sangat mencintai pekerjaanku, tetapi dirimu dan Tiara adalah prioritasku yang utama. Apalagi kalian sudah memberikan aku anak. Apapun itu, aku akan tetap memilih Keluarga daripada pekerjaan. Karena tanpa aku menjadi polisipun, aku masih bisa menafkahi kalian dengan hasil usaha yang lain, yang penting berkah dan halal untuk kalian istri-istriku dan juga anak-anakku."
Khanza tersenyum bahagia mendengar ucapan yang keluar dari bibir suaminya. Khanza kembali memeluk Yusuf dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.
"Mas, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Khanza mengangkat wajahnya saat berada dalam dekapan sang suami.
"Hmm, tentu saja, Dek, tanyakanlah." Yusuf mengecup bibir Khanza dengan lembut.
"Bagaimana dengan perasaan kamu padaku, Mas? Apakah kamu sudah bisa mencintai aku? Karena sampai sekarang kamu tidak pernah mengatakan hal itu, aku sebagai wanita ingin kejujuran darimu," ujar Khanza, dia begitu malu untuk melihat ekspresi wajah suaminya saat mendengar pertanyaan darinya.
Lama Khanza menyembunyikan wajahnya di dada bidang Yusuf, sembari menunggu jawaban dari Pria itu, tetapi Yusuf hanya diam tak mengeluarkan ucapannya sepatahpun.
"Mas, kenapa kamu diam saja?" tanya Khanza yang ingin meminta jawaban, wajahnya sendu, dia merasa Yusuf tidak memiliki perasaan yang spesial selain bentuk pertanggungjawaban.
Tangan Pria itu bergerak, perlahan Yusuf membaringkan tubuh Khanza diatas Sofa, kini dia berada diatas tubuh wanita itu dengan tangannya menopang di sisi kanan dan kiri Khanza.
"Dek, aku nyaman bersamamu, kenyamanan ini kurasakan lebih dari rasa cinta. Jika aku tidak mencintaimu, maka aku tidak mungkin bisa melakukan hal ini berulang kali, dan aku selalu merindukan kamu saat kita tak bersama. Kamu selalu ada dalam hati dan pikiranku." Yusuf mengecup bibir Khanza sangat lembut.
"Khanza Almira, aku mencintaimu..."
Seketika buliran bening menetes disudut mata Khanza, saat mendengar ungkapan perasaan sang suami. Khanza mengalungkan tangannya dileher Yusuf.
"Aku ingin mendengarkannya lagi, Mas, katakan lagi!" Pinta wanita itu dengan tangis bahagia.
Ya, sebenarnya tanpa diucapkan, seorang wanita sudah bisa mengetahui cara seorang lelaki memperlakukan dirinya, dari setiap perhatian dan kasih sayang yang selalu ia rasakan. Namun, wanita sangat butuh pengakuan, maka disitulah hatinya menjadi yakin dan percaya.
__ADS_1
Yusuf tersenyum gemas melihat tingkah istrinya. "Aku mencintaimu, Dek, aku sangat mencintaimu!"
Khanza tersenyum bahagia sembari memeluk Yusuf begitu erat. "Aku juga sangat mencintai kamu, Mas Yusuf!"
"Sudah tahu Dek, sejak lama aku sudah tahu bahwa kamu mencintaiku," ujar Yusuf menggoda istrinya.
"Ish, kamu nyebelin banget sih, Mas? Kenapa kamu bisa seyakin itu bahwa aku mencintaimu?"
"Awalnya aku memang belum begitu yakin, tetapi setelah aku melihat namaku dikontakmu yang menyatakan bahwa aku adalah hatimu, maka aku percaya cintamu begitu tulus untukku, dan aku sangat bersyukur, kamu bisa mencintai Pria yang pernah menyakitimu dan Pria itu pula yang telah mengambil kebahagiaanmu."
"Mas, aku sudah ikhlas menerima takdir ini, apapun yang terjadi, sudah pasti ada campur tangan Tuhan. Kita pasti pernah mendengar kalimat ini. "Allah tidak akan mengambil sesuatu darimu jika tidak mengganti dengan yang lebih baik" Dan sekarang aku meyakini, bahwa yang terbaik itu adalah dirimu. Kita memang dipersatukan dari sebuah kesalahan. Tetapi, semakin kita ikhlas menjalaninya, maka tidak akan pernah ada sabar yang berakhir sia-sia."
Yusuf menghujani wajah Khanza dengan kecupan, hatinya begitu lega. "Terimakasih, istriku, atas segala pengertian dan keikhlasan kamu. Kamu bukan saja cantik, tetapi kamu juga seorang wanita yang berhati lembut dan juga berpikiran dewasa, hanya saja ada satu yang minus pada dirimu..."
"Apa, Mas?" tanya Khanza sangat penasaran.
"Cengeng, kamu wanita yang paling cengeng yang pernah aku temui, kamu bahkan tidak bisa bicara lancar sebelum menangis terlebih dahulu. Tapi, jujur aku sangat menyukainya. Itu membuatku selalu gemas," ujar Yusuf membuat Khanza mencubit bahu suaminya.
Kini tak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir mereka masing-masing, suara nafas mereka sudah mulai terasa berat. Yusuf kembali melu mat bibir Khanza penuh dengan gairah.
Khanza menerima dan membalas segala sentuhan dari sang suami, tak bisa ditampik bahwa dirinya juga sangat merindukan ayah dari anaknya itu.
"Dek, kita pindah diranjang ya, biar kamu lebih nyaman," ujar Yusuf meminta izin pada istrinya.
Khanza hanya mengangguk, dan Yusuf segera membopong tubuhnya untuk pindah keatas ranjang.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰