Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Memancing ikan


__ADS_3

Setelah mendapat petunjuk dari Vera, Arum dan Khen segera menuju lokasi pemancingan yang ada di daerah sana. Karena tak membawa peralatan pancing maka Khen menggunakan peralatan yang tersedia di kolam pancing dengan cara menyewa.


Pasangan itu memilih pondok yang berada diujung kolam, tempatnya cukup sejuk dan bersih dibawah pohon palem. Arumi tampak semangat dengan kawek baguluang dalam umpan itu.


"Setelah mengajarkan Arumi cara memancing, dari mulai memasang umpan hingga merentang benang kail itu kedalam kolam.


"Sayang, tunggu bentar ya, Mas pesan minum dulu di kantin. Adek mau apa?" tanya Khen terdengar begitu mesra dan lembut sehingga membuat jantung gadis itu berdebar tak karuan.


"Hei, kok bengong?" Khen melambaikan tangannya didepan wajah Arum.


"Ah, apa aja deh, Mas," jawab Arum berusaha menenangkan degup jantungnya.


"Baiklah, tunggu sebentar ya."


"Iya, tapi Mas, gimana kalau pancingnya ditarik ikan?" tanya wanita itu yang tidak tahu cara menggunakan reel pancing.


"Tinggal tarik saja, Dek, begini caranya." Khen mengajari Arumi cara menggunakan benda penggulung senar pancing. Arum memegang benda itu dan tangan Khen diatas tangannya dan perlahan Khen menggerakkan tangkai reel pancing untuk menggulung senar bila dimakan ikan.


Tubuh Pria itu begitu nempel dipunggung Arumi sehingga ia tak bisa fokus dalam belajar.


"Dek, tangannya jangan di keraskan, lemesin aja, terus tarik dengan tempo yang lebih cepat. Jadi ikannya dapat segera naik keatas," celoteh Khen mengajari dengan serius, namun wanita itu hanya diam membatu.


"Arum, kamu paham nggak?" tanya Khen menatap wajah kekasihnya dari samping kanan dengan tubuhnya yang masih menempel di punggungnya, membuat gadis itu tidak nyaman dan tidak fokus sama sekali dengan materi praktek yang diajari oleh sang guru.


"Nggak!" jawab Arum enteng dan menatap Khen dengan wajah gugup.


"Masya Allah, Dek, terus kamu mikirin apa saat aku menerangkan dan memperaktekkan cara kerja benda ini?" tanya Khen heran.


"Aku tidak bisa fokus jika kamu nempel begini, Mas. Bisa menjarak nggak? Aku tidak nyaman!" tutur Arumi merasa entah.


"Kenapa, apakah jantung kamu berdebar? Jika benar berarti pesona diriku membuatmu tidak tahan," ujar Khen tersenyum menggoda gadis itu.


"Apaan sih, Mas. Awas! Menjaraklah!" Arumi menyikut dada Pria itu sehingga membuatnya mengerang.


"Awh! Sakit, Dek. Kasar banget sih kamu? Ini namanya Kdrt!" seru Khen sembari mengusap dadanya yang masih ngilu terkena siku Arumi.


"Iya, salah sendiri Mas. Siapa suruh nggak juga menjarak."


"Aku pengen banget peluk kamu walau sesaat. Apakah kamu tidak merasakan rindu yang sama dalam hatimu?" tanya Khen menatap dalam manik mata gadis cantik yang ada dihadapannya.


Arum membalas tatapan itu, dia juga sangat merindukan Khen, namun sadar betul bahwa mereka belum halal. Maka gadis itu berusaha untuk menahan diri.


"Siapa bilang aku tidak merindukan kamu, Mas. Tetapi, kita belum halal," jawab Arumi tersenyum lembut.

__ADS_1


Khenzi menghela nafas lega mendengar pengakuan dari Arumi, ia sangat bahagia ternyata cinta gadis itu masih utuh untuknya. Perlahan tangannya terulur mengusap kepala Arum dengan lembut.


"Sayang, aku akan secepatnya menghalalkan kamu. Aku sungguh tak sanggup menahan rasa rindu ini. Aku ingin memiliki dirimu seutuhnya," ucap Khen membuat wajah Arum merah merekah.


"Wajah kamu semakin mempesona saat berubah menjadi putih kemerahan begitu," goda Khen.


"Ish, apaan sih, Mas. Udah sana, katanya mau pesan minum," ucap Arum mengalihkan pembicaraan mereka.


"Hahaha... Baiklah, Sayang, tunggu sebentar ya." Khenzi segera beranjak menuju pondok kantin yang ada diarea pemancingan itu.


Setelah memesan cemilan dan minuman, Khen kembali menghampiri Arum yang sedang serius memutar tangkai reel.


"Kenapa, Dek?" tanya Khen sedikit bergegas.


"Mas, ditarik ikan!" pekik Arum dengan kegirangan.


"Benaran? Dapat nggak?" Khen segera mengambil alih dari tangan Arum.


"Iya, terus tarik, Mas. lah, kok di ulur kembali?" tanya wanita itu heboh sendiri.


"Harus, Dek, sepertinya ikannya lumayan gede nih," jawab Khen masih fokus tarik ulur senar pancingnya.


"Yeee... Akhirnya dapat juga!" seru Arumi kesenangan melihat Khen menaikan seekor ikan kolam itu.


Arum segera mengambil tempat ikan itu dan menampungnya, Khen memasukkan ikan gurame berukuran cukup besar itu dalam tempatnya, lalu kembali memasang umpan untuk pancingan selanjutnya.


"Dimakan, Dek, jangan dilihatin aja," ucap Khen yang melihat wanitanya tak bersemangat makan kwetiau goreng yang tadi dipesan olehnya.


"Arum masih kenyang, Mas."


"Enak lho, Dek, cobain deh. Aaa... Buka mulutnya." Khen mengarahkan sendok yang berisi makanannya.


"Enggak, Mas, Arum beneran masih kenyang," tolak wanita itu.


"Terus kamu mau apa?" tanya Khen penuh perhatian.


"Ya nggak pengen apa-apa."


"Yaudah, nanti kalau udah lapar bilang ya, biar Mas pesen kembali, yang ini biar Mas yang makan semuanya."


Arum terpana melihat porsi makan Pria itu.Tetapi juga salut dengan tubuhnya yang tidak melar dan gemoy, tetap bagus dada berotot, lengan kekar. Perut tidak buncit. Bibirnya yang seksi, tatapan matanya yang teduh, benar-benar membuat hati wanita akan mudah meleleh. Namun sayang karena sikapnya yang dingin dan kaku, maka para wanita akan waspada mendekatinya.


"Kenapa menatapku begitu Dek?" tanya Khen disela makan.

__ADS_1


"Mas Khen, tidak takut gemuk makan segitu banyak?" tanya Arum.


"Nggaklah. Contohnya berat badan aku segitu aja. Tapi kata orang-orang berat tubuh lelaki akan naik bila nanti setelah menikah. Benar nggak sih?" tanya Khen minta pendapat.


"Fakta mengatakan memang begitu, Mas. Heran juga sih, tapi itu berlaku dengan perempuan juga," jawab Arumi membenarkan karena fakta rata-rata teman-temannya yang sudah menikah pasti mengalami kenaikan berat badan, mau itu laki-laki ataupun perempuan.


"Nah itu dia, sebelum kita menikah lebih baik dipuasin dulu makan apapun yang kita mau. Besok kalau udah nikah harus lebih pintar mengatur porsi makan," tutur Khen.


Arumi hanya tersenyum saat Khen membahas tentang nikah, masih meragu dalam hatinya. Benarkah dia dan Khen akan menjadi pasangan halal, apakah benar Pria itu bersungguh-sungguh mencintainya, entah kenapa ia masih saja belum percaya sepenuhnya.


Kini sore sudah beranjak akan berganti senja. Khen dan Arumi meninggalkan tempat dimana mereka saling bahagia dan tersenyum cukup membuat hatinya merasa nyaman dalam kebersamaan setengah hari ini.


Sebelum pulang Khen meminta driver mengantarkannya ke hotel dimana ia menginap. Tentu saja membuat gadis disampingnya keberatan.


"Mas, kenapa kamu bawa Arum kesini? Kita mau ngapain?" tanya Arum menyorot curiga.


"Nggak ngapa-ngapain, Dek, kok kamu curiga begitu?" tutur Khen tersenyum gemas.


"Ya curigalah! ngapain juga kita ke hotel. Ini sudah hampir sore, Mas. Arum ingin pulang!" seru wanita itu dalam kecemasan saat Khen membimbingnya masuk kedalam kamar hotel.


"Iya, Sayang, kita akan pulang. Aku ingin mandi bersih-bersih dulu, habis itu baru aku antar kamu pulang. Udah kamu jangan pernah meragukan aku, kalaupun terjadi sesuatu, kita juga akan segera menikah," ucap Khen mengedipkan matanya.


"Eh, nggak usah macam-macam ya, Mas!" kata Arumi garang.


"Hahaha... Iya, Sayang, aku tidak akan melakukan apapun. Benaran tungguin aku mandi sebentar ya. Habis itu kita pulang," ucap Khen serius, daripada wanitanya memasang taring.


Dengan perasaan was-was Arumi mengikuti langkah Pria itu memasuki kamar hotel. Arum merasa benar-benar canggung dalam suasana berdua saja di kamar itu.


"Kenapa tegang begitu, Dek, rileks dong. Tenanglah, aku tidak akan memangsamu. Kecuali kamu izinkan aku hanya sekedar ingin peluk saja," ujar Khen tersenyum ingin menggoda kekasih yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"Hiss, apaan sih kamu Mas! Udah sana mandi!" titah Arumi merasa tidak tenang.


"Hahaha... Baiklah Sayang, tunggu bentar ya." Khenzi segera beranjak menuju kamar mandi.


Sementara itu Arumi duduk di sofa sembari menukar channel TV untuk menghilangkan rasa cemasnya. Cukup lama menunggu Khen selesai mandi sehingga membuat mata gadis itu menemui kantuknya, hingga tanpa sadar Arum terlelap di Sofa yang ada di kamar.


Saat Khen selesai mandi dan berpakaian rapi, ia keluar menemui sang kekasih untuk mengantarkan pulang. Namun, ia menemui gadis itu sudah tertidur pulas diatas Sofa.


Khen mendekati dan berjongkok disamping kepala Arumi, senyum membingkai di bibir tipisnya saat menatap wajah damai gadis cantik yang sedikit galak saat digoda olehnya.


"Maafkan aku bila curang, Dek, aku hanya ingin menyayangi kamu." Khen mendaratkan sebuah kecupan di kening Arumi. Perasaannya sungguh tak menentu saat Kembali dapat menyentuh wanita kesayangannya itu.


Khenzi duduk dibawah kaki Arumi menunggui gadis itu untuk bangun, ia tak tega mengganggu tidur lenanya.

__ADS_1


Bersambung...


Happy reading 🥰


__ADS_2