
"Tentu saja," jawab Akmal santai.
"Jadi benaran kamu ada hubungan? Kamu udah berkhianat dibelakang aku, iya?" tanya Akhifa mulai ngegas.
"Ish, santai dong, Sayang, nggak usah pakai urat begitu. Dengerin dulu penjelasan aku. Tentu saja aku dan Yuli ada hubungan, tapi sebatas Dokter dan perawat saja," jelas Akmal.
Akhifa masih menatap kesal lelaki itu. Dengan wajah cemberut ia memalingkan muka. Akmal hanya tersenyum menanggapi. Ternyata wanita cuek sepertinya masih bisa cemburu.
"Dek, apakah kamu mencintai aku?" tanya Akmal ingin tahu. Pria itu menepikan mobilnya demi meminta jawaban dari calon istri.
Akhifa menoleh menatap wajah tampan Pria yang ada disampingnya. Gadis itu juga tidak tahu dengan perasaannya saat ini. Apakah dia sudah mencintai calon suaminya? Karena kalau bukan cinta, kenapa dia cemburu seperti ini.
"Mas, aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini terhadapmu. Tetapi aku takut kehilanganmu, aku marah saat kamu dekat dengan wanita lain. Aku tidak ingin kamu dekat dengan wanita manapun selain aku," jawab Akhifa yang membuat Akmal tersenyum.
"Sudah cukup dengan pengakuan darimu, Sayang, aku tahu kamu cemburu, berarti kamu mencintai aku. Apakah kamu memenuhi permintaan aku?"
"Permintaan apa, Mas?"
"Tanggal pernikahan kita di percepat saja ya, Sayang?" ucap Pria itu masih sama dengan permintaan kemaren.
"Aku setuju tanggal pernikahan kita di percepat, tapi nanti setelah kita menikah, kamu harus tinggal disini. Aku tidak mau LDR-an," jawab wanita itu serius.
"Kamu serius, Dek?" tanya Akmal tersenyum sumringah.
"Iya, aku serius. Tapi kamu bisa nggak memenuhi permintaan aku?" tanya gadis itu kembali.
Pria itu sejenak berpikir. Bagaimana caranya mengambil jalan tengah, apakah dia perlu resign dari RS tempat dia bertugas di kota Padang. Atau Akhifa yang dia boyong kesana.
"Sayang, apakah kamu mau ikut denganku tinggal di kota Padang?" tanya Akmal mencoba menawarkan.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan aku disini, Mas. Kenapa tidak kamu saja yang resign dari RS sana, kamu bisa bekerja di RS Ayah," jelas wanita itu.
__ADS_1
"Dek, aku bukan tidak mau. Tetapi aku hanya tidak ingin bergantung dengan ayah mertua, aku ingin mengembangkan karirku berdiri tegak dari usahaku sendiri. Tentu saja ayah tidak akan pernah menolakku. Tapi aku merasa menjadi lelaki manja bila seperti ini," jelas Akmal.
Akhifa bingung harus bagaimana, dia juga harus menghargai keinginan calon suaminya yang tak ingin mendompleng karir dari keluarganya.
"Yaudah, nanti aku bicarakan dulu pada Ayah dan Ibu ya, Mas. Kita minta pendapat dari mereka juga," ujar Akhifa memberi jalan tengah, ia tak ingin membahas hanya berdua, tentu saja ingin pendapat dari kedua orangtuanya.
"Baiklah, Sayang, kalau begitu sekarang kita pulang ya, aku akan telpon Mama dan Papa agar besok berangkat kesini," ucap Akmal sudah tak sabar ingin menikahi wanita cantik itu.
"Hmm, baiklah." Akhifa hanya menurut apa yang di inginkan Akmal, sebenarnya ini terlalu cepat, entah kenapa hatinya mendadak takut bila Pria itu akan merasa jenuh dan pada akhirnya Akmal akan memilih wanita lain.
Akmal tersenyum sumringah, sepertinya rencananya berhasil membuat wanita itu cemburu dan takut kehilangannya. Karena itu terlihat dari sikap Akhifa tak lagi alot, bahkan dia ikut saja apa yang dia mau.
Setibanya dirumah, Akmal segera menemui kedua calon mertuanya, dan mengutamakan keinginannya yang ingin segera mempersunting putri mereka, tak perlu harus menunggu dua bulan akan datang.
"Kalian sudah sepakat dengan rencana ini?" tanya Ayah.
"Insya Allah sudah, Yah," jawab Akmal dan di ikuti anggukkan oleh Akhifa.
"Baiklah, Terimakasih Yah."
Setelah mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak, akhirnya pasangan itu akan melaksanakan pernikahan mereka Minggu depan. Tentunya Fatimah harus mempersiapkan segalanya dengan sedikit tergesa-gesa. Tetapi Yandra tak ingin repot. Pria itu meminta pada sang istri untuk menyerahkan semua persiapan pada pihak hotel yang mereka sewa untuk pelaksanaan resepsi pernikahan putri bungsu mereka.
"Udah, Dek, kamu tidak perlu parno begitu. Kita serahkan semuanya pada pihak hotel, biar mereka yang menghandle, kita tinggal request temannya seperti apa. Jangan dibikin pusing," ujar Pria itu saat melihat istrinya ilir mudik dalam kebingungan.
"Tapi biayanya kan sangat besar harus kita gelontorkan, Bang, sayangkan, uang segitu banyak harus diberikan pada mereka," jawab Fatimah yang membuat Yandra terkekeh.
"Terus, gimana? Apa perlu dananya Abang berikan buat Adek?" tanya Yandra sembari memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Kalau itu Adek setuju,tuh. Hehe..." Wanita itu juga ikut terkekeh.
"Bisa aja kamu ini. Emang uang yang Abang berikan masih kurang, hmm?" tanya Pria itu dengan gemas sembari mengecup tengkuk sang istri.
__ADS_1
"Ish, awas Bang. Geli tau. Manusia itu mana ada puasnya, sebelum tubuh tertutup tanah," jawab wanita baya yang masih sangat terlihat cantik dengan kedua lesung pipinya masih memperlihatkan kecantikan yang hakiki.
"Kamu bisa aja. Udah, jangan dipikirkan lagi masalah uang, yang penting kita puas dengan hasilnya, kebahagiaan anak-anak itu yang utama. Kalau bukan mereka yang akan menghabiskan uang ayah dan ibu, lalu siapa lagi, nggak mungkin kan, istri kedua? Pasti kamu nggak ngizinin," seloroh Pria itu yang mendapat tatapan tajam dari Fatimah.
"Coba aja kalau berani! Aku pastikan hilang malam benda pusaka kamu itu, Bang!" Ancam Fatimah, membuat seluruh remang Pria itu berdiri tegak.
"Horor banget, Dek. Jangan dong, nanti kamu sendiri yang rugi," ujarnya masih dengan senyuman.
"Ngapain Adek rugi, masih banyak diluar sana yang nganggur. Hahaha.... Kidding my bojo, please nggak boleh marah!" ucapnya sembari mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.
Yandra menyorot tajam sembari mendekat mengikis jarak sehingga Fatimah mundur santai kebelakang mentok diranjang. Nafas wanita itu tersengal naik turun.
"Kamu sekarang udah nakal ya, udah berani membayangkan punya orang diluar sana, biar nggak muncul lagi bayangan itu, maka sekarang kamu harus dihukum," ucap Pria itu sembari memberi serangan pada isterinya yang sudah jatuh terjerembab diatas ranjang empuk mereka.
"Eh, nggak boleh begini, Bang. Ini curang namanya. Mana ada aku mikirin punya orang lain, otakku hanya terkontaminasi oleh punya kamu seorang," sangkal Fatimah sembari menahan wajah sang suami yang hendak menerkam dirinya.
"Benarkah?" tanya Pria itu tersenyum senang.
"Ya, iyalah. Emang aku istri apaan."
"Kalau begitu, bagaimana jika kita ikhtiar untuk mencari adik buat Akhifa, kan sebentar lagi dia akan menikah, tentu saja kita akan sepi tanpa anak-anak disini," mendadak sang ayah jadi melow saat mengingat putri bungsunya akan menikah dan meninggalkan mereka.
"Ish, jangan aneh-aneh deh, Bang. Mana mungkin aku bisa hamil lagi. Orang udah tua begini, bukankah dari dulu kita selalu ikhtiar untuk menambah momongan, tetapi memang Allah hanya menitipkan satu pada kita, ya harus disyukuri," ujar Fatimah yang sebenarnya juga sangat sedih.
"Ya, kamu benar Sayang, kita harus mensyukuri segala ketentuan dari Allah, padahal aku ingin mempunyai anak yang banyak darimu, tetapi kita tak bisa berbuat apa-apa."
Fatimah memeluk erat tubuh sang suami, hatinya mendadak sedih saat mengingat sebentar lagi Putri semata wayangnya harus melepas masa lajangnya dan meninggalkan mereka.
"Jangan sedih, Sayang, kita akan selalu bersama. Aku akan menemanimu hingga nanti nafasku terpisah dari raga, aku berharap jika boleh meminta kepada Allah, maka aku terlebih dahulu pergi darimu, karena aku tidak sanggup ditinggalkan kamu," ujar Yandra membuat tangis wanita itu semakin jadi.
"Jangan bicara seperti itu, Bang, siapapun yang pergi terlebih dahulu diantara kita, maka harus janji untuk menunggu di pintu surga. Sungguh aku bahagia menjadi istrimu, jika Allah mengizinkan di kehidupan yang akan datang, aku masih ingin menjadi pasanganmu," ucap wanita itu sembari membenamkan wajahnya di dada suaminya.
__ADS_1
Ekstra part 11