Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Berakhir


__ADS_3

Arumi menepi kembali ke lobby RS, ia memesan taksi online dan duduk disana menunggu. Wanita itu berusaha untuk menahan air matanya agar tak kembali jatuh.


Apa yang pernah ia takutkan kini menjadi kenyataan. Arumi harus menelan rasa kekecewaan hatinya. Rasa tak percaya Pria itu mengatakan bahwa dirinya belum bisa melupakan mantan kekasihnya dan bahkan secara gamblang dia ingin kembali lagi.


Arum berusaha menekan perasaannya agar tak larut memikirkan hal itu. Mungkin sudah begini akhirnya kisah singkat yang belum bertemu ujung. Lagipula Khen memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya, maka Arumi menyimpulkan bahwa Pria itu masih sangat mencintai Rayola. Akan lebih baik dia mengiklhaskannya.


Tak berselang lama taksi online sudah datang menjemput, Arumi segera pulang menuju kediaman keluarga Arman Sanjaya. Diperjalanan pulang, rentetan pertikaian singkat itu kembali dalam otaknya. Dadanya terasa sesak saat mengingat ucapan Khen yang menyakitkan.


Arumi menyusut air matanya, ia berusaha untuk tetap tegar, mungkin sudah begini takdir yang harus ia diterima. Tak ada yang perlu disesali.


Setibanya dirumah, Arum berpapasan dengan Bunda Lyra. Perempuan baya itu menatapnya dengan heran.


"Baru pulang, Nak?" tanya Bunda.


"Iya, Bun." Arum menyalami tangan Ibu dan Bunda.


"Arum, mana cincin kamu, Nak?" tanya Bunda melihat jari manis gadis itu sudah tak ada lagi cincin melingkar.


"Ah, cincinnya itu, Bun, Arum..."


"Cincinnya dia lepas, Bun!" sahut Khen yang baru saja masuk. Pria itu menunjukkan cincin tunangan yang tadi dikembalikan oleh Arum.


Bunda Lyra dan Ibu Santi menatap pasangan itu yang sepertinya sedang ada masalah. Terlihat dari mata Arumi masih menyisakan air mata dan juga sembab.


"Ada apa ini, Bang?" tanya Bunda ingin tahu yang sebenarnya, karena sepertinya masalah mereka cukup besar sehingga Arumi harus melepaskan cincin tunangannya.


"Tanya saja dengan dia, Bun. Sepertinya ini adalah keputusan yang terbaik karena aku juga tidak ingin memaksa seseorang yang hatinya milik orang lain," jelas Pria itu segera berlalu dari hadapan mereka.

__ADS_1


"Ayo sekarang istirahat, Nak. Bunda yakin kalian hanya salah paham. Tolong maklumi sikap Khen ya, Nak," ucap Bunda mengusap bahu Arum dengan lembut.


Arumi hanya mengangguk meninggalkan ibu dan Bunda yang masih berdiri disana. Arum masih tak abis pikir, kenapa Pria itu menimpakan segala masalah padanya.


Setelah makan malam, Arum dan Khenzi dipanggil oleh Papa Arman untuk menanyakan perihal masalah mereka yang sepertinya sedang memburuk.


"Khen, coba jelaskan pada Papa, apa masalah kalian sebenarnya?" tanya Papa dengan tenang ingin mendamaikan anak-anaknya.


Khenzi maupun Arumi masih diam, masih enggan untuk membuka pembicaraan. Entah siapa yang salah sebenarnya. Khen masih tampak begitu menyimpan kekecewaan di wajahnya.


"Sudahlah, Pa. Ini sudah keputusan Arumi untuk memutuskan pertunangan. Abang juga tidak ingin meneruskan hubungan ini bila seseorang merasa terpaksa," ucap Khen yang membuat Arum menyorot dengan tajam.


Pria itu benar-benar menimpakan segala masalah padanya. Bukan tak ada sebab kenapa dirinya melepas cincin tunangan itu.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Mas? Bukan tak ada sebab Arum memutuskan tunangan ini. Bukankah kamu sendiri yang ingin kembali lagi dengan Rayola? Apakah kamu pernah memikirkan perasaan Arum, Mas? Jadi untuk apa Arum harus mempertahankannya!" Sahut Arum dengan mata yang sudah berembun.


"Sudah, sudah! Kenapa kalian tidak ada yang mau mengalah? Papa tidak ingin seperti ini. Kalian bisa membicarakannya dengan baik-baik, tidak harus mengeluarkan emosi dan urat seperti ini!" tekan Papa Arman yang sedari tadi hanya menjadi pendengar tetapi tak bisa mengadili karena tak ada yang mengalah diantara keduanya mereka mencari pembenaran masing-masing.


"Sudahlah, Pa. Biarkan hubungan singkat ini berakhir. Abang sudah menerimanya dan tidak keberatan sama sekali!"


Kembali kata-kata Khen membuat hati Arum perih. Mungkin benar Pria itu tak ada perasaan apapun sehingga dia begitu mudah mengucapkan tanpa penyesalan sama sekali.


Arumi segera beranjak masuk kedalam kamarnya. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit saat Khenzi memang menginginkan perpisahan ini. Berharap sekali Pria kaku itu akan meminta penjelasan darinya dan memperbaiki hubungan mereka. Tetapi nyatanya tidak seperti itu. Khenzi menyetujui dengan senang hati.


"Kenapa sakit sekali ya Allah, apakah aku sudah mencintainya sedalam ini? Aku mohon segera hapus rasa yang tak pantas ini dalam qalbuku ya Rabb."


Gadis itu bergumam dan berdo'a. Entah berapa lama ia menangis, ingin marah, kesal, dan protes, tetapi tak mempunyai hak maka dengan berat hati ia harus menerima.

__ADS_1


Sementara itu Papa Arman dan Bunda, juga Ibu Santi masih duduk di ruang keluarga setelah kedua anak mereka beranjak.


"Mbak minta maaf atas semua ini," ucap Bu Santi pada pasangan itu dengan wajah menunduk


"Mbak, jangan merasa bersalah. Kita tidak menyalahkan Arumi, kita yakin mereka hanya salah paham," balas Arman mencoba untuk memahami situasi anak-anak mereka saat ini.


"Iya, Mbak. Jangan merasa bersalah. Apapun keputusan mereka jika itu yang terbaik, maka kita hanya bisa mengaminkan saja," sahut Bunda Lyra menimpali.


Sejak mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka, Arum masih tinggal dikediaman keluarga Arman Sanjaya. Sebenarnya ia ingin keluar dari rumah itu, tetapi atas permintaan Papa Arman dan Bunda Lyra, maka Arum tetap tinggal disana demi menghargai mereka.


Seperti biasa pulang dan pergi Arum diantar oleh driver yang disediakan Papa Arman untuknya.


"Sarapan dulu, Nak," ajak Bunda pada Arumi yang tampak sudah bersiap akan berangkat.


"Ah, Arum sarapan di RS saja, Bun. Karena pagi ini Arum harus menyerahkan hasil pemeriksaan tadi malam yang belum sempat Arum serahkan," ucap wanita itu beralasan. Sebenarnya ia menghindari untuk bertemu muka dengan Khen. Perasaannya masih entah bila menatap wajah Pria yang kemaren-kemaren sudah mulai mengisi hari-harinya.


Arumi menyalami tangan orangtua yang ada di ruang makan itu. sesaat tatapannya bertemu dengan Pria yang ingin ia hindari. Khen baru saja menduduki kursinya.


Entah apa yang ada dalam hati mereka masing-masing. Khen segera memutus tatapan dan fokus dengan sarapannya. Arumi segera beranjak menuju RS, dimana tempat itu mampu sedikit mengalihkan pikirannya dari Pria itu.


Di RS Arumi tetap fokus dengan pekerjaannya. Namun, tiba waktu istirahat, maka ia kembali dengan wajah murung. Sungguh tak mudah untuknya bisa melepaskan Pria itu begitu saja, apalagi Khen sempat melambungkan angannya dengan mengatakan ingin memperistrikan dirinya.


Arumi melamun sendiri duduk di balkon RS menatap kebawah bagian parkiran, terlihat sosok yang sedang ia pikirkan keluar dari mobil. Seketika senyum wanita itu mengembang, tetapi dengan sesaat pula senyum itu lenyap dan digantikan dengan tetesan air mata. Pria itu tidak sendirian tetapi berdua dengan wanita yang sudah ia kenal.


Bersambung...


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2