Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Operasi


__ADS_3

Dua hari di RS Khanza sudah di perbolehkan untuk pulang. Sementara Yusuf harus kembali ke kota Medan karena ada tugas penting yang harus ditangani.


Mau tidak mau Pria itu harus meninggalkan istri dan anaknya yang baru lahir. Yusuf berangkat bersama rombongan keluarga yang di Medan.


Pagi ini keluarga sudah bersiap untuk berangkat, begitu juga Yusuf. Pria itu masih berat harus pergi. Sedang sayang-sayangnya pada bayi merah itu.


"Maafkan Papa ya, Nak, Nanti kalau Mama sudah kuat, Papa akan jemput sekalian dengan Abang Rizqi," ucap Pria itu pada putri kecilnya.


Yusuf masih menimang bayi yang diberi nama Yuza Dwi Putri. Walau berat hati harus meninggalkan mereka demi tugas negara.


"Sayang, aku pergi dulu ya, kamu dan Yuza baik-baik ya, jangan lupa selalu beri kabar bila terkadang aku lupa," pesan Pria itu pada istri.


"Iya, kamu hati-hati dalam bertugas ya, Mas. Kalau sudah sampai beri aku kabar. Kami pasti akan selalu merindukan kamu." Khanza membalas pelukan suaminya.


"Tentu, Sayang, aku akan selalu mengabarimu. Aku pamit ya, jangan telat makan dan minum vitamin." Yusuf meninggalkan jejak sayang diwajah istri dan anaknya sebelum beranjak meninggalkan mereka.


Semua keluarga dari Medan yang hendak balik mereka berpamitan pada Bunda dan Papa. Begitu juga dengan Yanju dan Aisyah, karena minggu depan mereka akan berangkat keluar negeri untuk Ais menjalani operasi.


"Aisyah, Bunda minta maaf ya, Nak, mungkin Bunda tidak bisa ikut menemani kamu. Karena kamu tahu sendiri adikmu baru saja melahirkan, tidak mungkin Bunda tinggalkan," ujar Bunda minta maaf pada anak menantunya karena tidak bisa menepati janjinya.


"Iya tidak apa-apa, Bun, Adek memang tidak bisa ditinggalkan, Ais sangat paham," balas Aisyah dengan ramah.


"Tidak apa-apa, Kak, nanti mereka biar aku dan Bang Yandra yang menemani," timpal Fatimah.


"Makasih ya, Dek. Kalian hati-hati dijalan ya. Kalau sudah sampai jangan lupa kabari Kakak." Lyra dan Fatimah saling berpelukan.


Setelah berpamitan keluarga itu undur diri untuk kembali ke kota Medan. Setibanya di Medan. Mereka kembali beraktivitas masing-masing seperti semula.


Yusuf kembali tugaskan di Polres Medan dua minggu ia diutus ke luar kota. Sementara Yanju kembali bertugas di Polda Medan sembari mengurus cuti besar yang belum ia ambil untuk tahun ini. Kesempatan karena Aisyah akan melakukan operasi keluar negeri.


Tidak terasa satu minggu berlalu, kini tiba waktunya pasangan itu berangkat ke Thailand untuk melakukan tindakan operasi yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari yang akan ditangani oleh dokter ahli mata yang ada di negara itu.


Yanju dan Aisyah berangkat ditemani oleh kedua belah pihak dari keluarganya. Yaitu kedua orangtua Aisyah dan orangtua Yanju.


Setibanya di Thailand Aisyah segera melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum operasi dilakukan. Setelah mendapat hasil pemeriksaan yang menyatakan kondisi Aisyah baik tak ada penyakit lain yang menghalangi, maka besok pagi operasi yang memakan waktu selama satu jam itu akan dilaksanakan.

__ADS_1


Malam ini Asiyah sudah menginap di RS di temani oleh Yanju. Sementara orangtua mereka istirahat di hotel tempat mereka menginap.


Aisyah tak bisa tidur, terlihat ia masih gelisah. Walau sudah berusaha untuk menghilangkan rasa cemas dan mencoba untuk memejamkan mata agar segera menemui kantuknya.


"Sayang, istirahatlah. Kamu harus tidur," ucap Yanju membawa wanitanya dalam pelukan.


"Mas, Ais tidak bisa tidur. Ais takut, Mas. Bagaimana jika operasinya gagal?"


"Jangan bicara begitu, Dek, kamu harus yakin dan tetap tenang."


"Mas, boleh Ais tanya sesuatu?" tanya wanita itu dengan lirih.


"Tentu, Sayang, tanyalah."


"Andai operasinya gagal, dan aku akan buta seumur hidup, apakah kamu masih mau menerimaku?" tanya wanita itu sedih.


"Dengar, Sayang, apapun kondisi kamu, aku akan tetap menerimamu apa adanya. Tidak akan pernah niatan untuk meninggalkan kamu."


"Tapi bagaimana dengan teman-teman kamu. Apakah kamu tidak malu seorang polisi yang sebentar lagi akan menjadi perwira, Namun, mempunyai istri tunanetra," jelas Aisyah merasa minder sendiri.


"Terimakasih ya, Mas." Aisyah membalas pelukan Yanju, perasaannya cukup lega hingga akhirnya ia dapat menemui mimpi dalam pelukan suami tercinta.


Pagi hari suster sudah memeriksa kondisi Aisyah, dan sudah memasangkan infus, karena Aisyah akan menjalani operasi pagi jam sembilan waktu setempat.


"Apakah Ibu Asiyah sudah puasa tadi malam?" tanya suster yang sedang memasang infus dan memeriksa tensi.


"Sudah,Sus," jawab Yanju menggantikan sang istri menjawab pertanyaan suster dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Oke, Ibu Aisyah bersiap nanti jam sembilan operasi akan dilaksanakan."


"Baik, terimakasih,Sus."


Kini waktu yang ditunggu sudah tiba, Aisyah akan dibawa masuk kedalam ruang operasi. Aisyah memohon maaf kepada seluruh keluarganya, baik pada kedua orangtuanya dan juga kedua orangtua suaminya.


"Buk, Pak. Ais minta maaf bila pernah berbuat salah. Mohon Do'a Ibuk dan Bapak." Wanita itu menyalami tangan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Bapak dan ibukmu sudah memaafkan, Nak. Kamu tidak mempunyai dosa apapun. Semoga Allah beri kemudahan segalanya." Bapak dan Ibuk mencium kepala putri mereka.


"Ayah, Ibu, Ais minta maaf jika selama ini Ais banyak berbuat salah, dan belum bisa menjadi menantu yang baik, maafkan Ais menantu yang banyak kekurangan ini," lirih wanita itu meminta maaf pada kedua mertuanya sembari menyalami.


"Kamu tidak pernah berbuat salah, Nak, Ibu dan Ayah sudah memaafkan. Semoga operasinya berjalan lancar ya. Kamu harus semangat." Ibu Fatimah memeluk menantunya.


"Harus yakin dan semangat ya. Ayah dan semuanya selalu berdo'a untuk kebaikan dirimu." Ayah Yandra juga mengusap kepala Aisyah dengan lembut memberi semangat.


"Mas, Do'ain semua berjalan lancar. Maafkan segala kesalahan Ais yang belum bisa menjadi istri sempurna untuk kamu," ucap wanita itu pada sang suami dan memeluk dengan erat.


"Do'aku selalu menyertai kamu, Dek. Kamu harus semangat ya. Ingat tujuanmu ingin melihat wajah suamimu yang jelek ini," ucap Yanju memberi semangat dan menggurauwi istrinya.


Aisyah tertawa kecil mendengar ucapan suaminya, ia mengangguk yakin dan penuh semangat. Aisyah segera dibawa oleh suster masuk kedalam ruang operasi.


Kini Keluarga itu menunggu dengan tenang meskipun dihati tetap merasa cemas. Yanju selalu menatap lampu emergency ruang operasi itu. Dalam hati selalu bergumam Do'a untuk keselamatan sang istri.


Tidak sampai satu jam, hanya memakan waktu 45 menit lampu operasi itu sudah padam, itu menandakan bahwa operasi sudah selesai. Yanju dan orangtuanya berdiri dari tempat duduk dan menghadang di depan pintu menunggu Dokter yang menangani keluar membawa kabar baik.


Cukup lama juga sang Dokter belum kunjung keluar, setelah lima belas menit pintu ruangan terbuka. Dua orang Dokter keluar.


Yanju dan keluarga segera menghampiri sang Dokter untuk menanyakan perihal tindakan yang baru saja mereka lakukan.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Apakah operasinya berjalan lancar?" tanya Yanju tidak sabar.


"Ya, puji Tuhan operasi berjalan lancar. Dua puluh menit lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat," jelas Dokter ahli mata itu.


"Alhamdulillah ya Allah."


Mereka semua mengucapkan syukur kepada Allah yang sudah memberi kemudahan dalam semua ikhtiar yang mereka lakukan. Yanju sangat bahagia mendengar penjelasan dari Dokter mata itu.


"Terimakasih, Dok, terimakasih sekali!" Yanju menyalami tangan sang Dokter yang sudah berjasa membantu sang istri agar dapat melihat kembali. Walaupun biaya yang mereka keluarkan tidaklah sedikit. Tetapi itu tidak penting bagi keluarga Malik Saputra asalkan menantu mereka bisa melihat kembali seperti sediakala.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2