Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Ekstra part 10


__ADS_3

Setelah menemui calon Ayah mertuanya, Akmal sudah bisa bertugas di RS itu. Saat jam praktek usai, Akmal segera meninggalkan RS dengan membawa seorang perawat cantik yang diminta tolong olehnya.


"Selamat siang calon bini...," seru Pria itu saat masuk keruang kerja Akhifa.


"Mas, kamu udah pulang? Itu, siapa?" tanya Akhifa saat melihat seorang wanita cantik yang masih menggunakan pakaian serba putih khas seorang perawat berada dibelakang Pria itu.


"Oh, ini Yuli, dia perawat pendamping aku. Tadi dia lama nungguin jemputan pulang, ya sekalian aku anterin dia pulang. Kebetulan kita satu arah," jelas Pria itu pada Akhifa.


"Oh, kenapa kamu tidak anterin aja Mbak Yuli pulang terlebih dahulu?" tanya gadis itu masih fokus dengan pekerjaannya.


"Aku sengaja mampir kesini ingin ngajakin kamu makan siang, dan sekalian nonton. Aku sudah beli tiket nontonnya. Kamu mau 'kan?" tanya Pria itu memastikan.


"Hah? Tapi pekerjaan aku masih banyak, Mas," jawab Akhifa tampak ragu.


"Oh, yaudah. Kalau begitu aku pamit dulu ya, kebetulan kamu sedang sibuk, jadi aku pergi sama Yuli saja. Kebetulan Yuli juga tidak ada kegiatan siang ini. Benar kan, Yul?" tanya Akmal pada perawat itu.


"Ah, iya Mas, kebetulan aku tidak ada kegiatan apapun siang ini. Apakah Mbak Akhifa tidak apa-apa aku pergi dengan Mas Akmal?" tanya gadis cantik itu seperti minta izin.


Akhifa segera menghentikan aktivitasnya, perempuan itu menatap Yuli dan Akmal silih berganti. Akhifa sedikit terganggu saat mendengar Yuli memanggil Akmal dengan panggilan yang sama dengannya, apakah sedekat itu mereka, padahal Akmal baru saja tugas di RS sang Ayah.


"Udahlah, nggak perlu merasa tidak enak begitu, tentu saja dia tidak akan keberatan. Ayo kita berangkat sekarang," celetuk Akmal memberi keputusan sendiri dan ingin segera beranjak.


"Eh, eh. Tunggu! Aku ikut," seru Akhifa segera berdiri dan meraih tasnya.


"Benar kamu mau ikut, terus pekerjaan kamu gimana?" tanya Akmal sedikit berbasa basi.


"Tidak apa-apa, bisa aku pending dulu. Lagipula tidak buru-buru untuk diselesaikan," jawab Akhifa santai.

__ADS_1


"Hmm, baiklah." Akmal tersenyum, segera berjalan mendahului kedua wanita yang sedang saling pandang itu.


Akmal segera menempati bangku kemudi, Yuli ingin duduk disamping Akmal,namun segera di tahan oleh Akhifa.


"Maaf, Mbak Yuli. Saya yang akan duduk didepan, karena saya adalah calon istrinya, jadi rasanya cukup senjang bila saya yang duduk dibelakang," ucap gadis itu mendadak sensi.


"Ah, baiklah." Yuli membalas dengan senyuman dan segera menempati bangku belakang.


Di perjalanan mendadak semua bisu. Akmal menoleh kesamping, sesaat tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang ingin di tanyakan oleh Akhifa, tetapi karena ada Yuli, dia menahannya.


"Yul, kamu ikut kami nonton aja ya, nanti aku beliin kamu tiket," ucap Akmal membuka percakapan.


"Aku sih mau saja, Mas. Tapi..."


"Yaudah, kalian saja yang pergi, biar aku pulang," sahut Akhifa tiba-tiba naik spaning.


"Ya, jika kamu masih ingin pergi dengan Yuli, yaudah kamu pergi saja. Tidak perlu tadi kamu jemput aku!" sentak wanita itu mulai panas.


"Tidak usah Mas Akmal, aku langsung pulang saja," ucap Yuli menimpali, wanita itu merasa suasana mulai tegang, rasanya ingin segera menghindar dari dalam kendaraan itu.


"Baiklah, kalau begitu aku antar kamu pulang dulu," jawab Akmal masih santai.


Akhifa tak bicara apapun lagi, gadis itu hanya diam menahan segala rasa entah dalam hatinya. Tak berselang lama mobil sudah berhenti di depan gang rumah Yuli.


"Yakin kamu turun disini?" tanya Akmal pada wanita itu.


"Iya Mas, turun disini saja, soalnya masuk kedalam gangnya sempit," Yuli ingin segera turun.

__ADS_1


"Yaudah kamu hati-hati ya, atau perlu aku anterin sampai rumah nggak?" tawar Pria itu kembali.


"Ah, tidak perlu Mas. Terimakasih ya. Mari Mbak Akhifa," ucap Yuli pamit pada pasangan itu. Akhifa hanya mengangguk sedikit mengukir senyum terpaksa.


Setelah Yuli turun, Akmal kembali menjalankan kendaraannya. Suasana masih hening, tak ada percakapan diantara mereka.


"Kita langsung pulang?" tanya Akmal membuka percakapan.


"Kok pulang, bukankah tadi kamu bilang mau makan dan nonton, Mas? Kenapa? kamu tidak minat pergi sama aku?" todong Akhifa tidak senang.


"Minat banget malah. Tapi aku tidak mau saja bila kamu pergi dalam keadaan terpaksa," jawab Akmal tenang.


"Siapa bilang aku terpaksa?"


"Aku yang bilang, karena pasti sekarang kamu masih memikirkan pekerjaan."


"Jangan sok tahu kamu, Mas. Aku tuh bukan mikirin kerjaan. Tapi lagi mikir sepertinya kamu nyaman dan perhatian banget sama perawat kamu itu," ucap Akhifa dengan mode cemburu.


"Kamu cemburu, Dek?" tanya Akmal dengan nada sedikit terkejut.


"Iyalah, aku cemburu. Perhatian banget sama dia. Padahal aku ada disini, bagaimana jika aku tidak ada. Atau jangan-jangan tadi kamu..."


"Apa? Ayo mikirin apa kamu?"


"Kamu dan dia ada hubungan, Mas?" tanya Akhifa masih ingin tahu.


Ekstra part 10

__ADS_1


Happy reading🄰


__ADS_2