
Setelah menunaikan kewajiban, pasangan itu tertidur saling berpelukan. Khanza tidur begitu pulas dan nyaman dalam dekapan sang suami.
Yusuf terbangun di pertengahan malam, ia menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Dengan perlahan Pria itu memindahkan kepala Khanza diatas bantal, tangannya terasa kebas karena menumpu tubuh sang istri.
Yusuf turun dari ranjang dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai mandi, Yusuf menemui Khanza sudah duduk sembari mengikat rambutnya yang tadi berantakan.
"Eh, kok bangun, Dek?" tanya Yusuf menghampiri, lalu mengecup keningnya.
"Iya, tadi aku lihat kamu sudah tidak ada, Mas, aku kira kamu sudah pergi," ujar Khanza berjalan menuju lemari pakaian untuk menyediakan pakaian ganti buat suaminya.
"Ini pakaian ganti kamu, Mas." Khanza memberikan pada Yusuf yang masih mengenakan handuk.
"Terimakasih, ya, Dek."
Khanza hanya mengangguk, dan membantu Yusuf memasang kancing kemejanya. "Mas, kamu nggak balik lagi ke RS?" tanya Khanza masih fokus dengan aktivitas tangannya.
"Kamu tidak apa-apa aku tinggal?" tanya Yusuf yang memang tidak tenang meninggalkan Tiara.
"Tidak apa-apa, Mas. Sekarang kondisi Mbak Tiara sangat membutuhkan kamu," ujar Khanza sangat memahami.
"Terimakasih ya, Dek, sungguh aku merasa selalu mengecewakan dirimu, tetapi ini benar-benar pilihan sulit. Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia." Yusuf kembali memeluk Khanza dengan sayang.
"Aku tahu itu, Mas, kamu tidak perlu merasa bersalah, aku memahami posisi kamu. Aku tahu beban hidupmu tidak seberat beban hati dan pikiran yang kini sedang kamu tanggung. Tetaplah menjadi suami yang kuat untuk istri dan anak-anakmu. Aku hanya wanita biasa, terkadang aku juga bisa kecewa dan marah, tetapi aku akan berusaha untuk tetap sabar dan ikhlas," ujar Khanza, yang membuat hati Yusuf semakin merasa bersalah.
Yusuf tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya mendekap wanita itu dengan erat. Dia hanya berharap semoga cobaan ini cepat berlalu, berharap Tiara segera sembuh seperti sedia kala.
"Terimakasih sekali lagi atas pengertian kamu, Dek, semoga semua cepat berlalu. Aku berjanji akan membagi waktuku seadil-adilnya pada kalian berdua."
"Iya, Mas, aku selalu berdo'a semoga Mbak Tiara segera sembuh. Pergilah, nanti Mbak Tiara cariin kamu, aku juga mau pamit, besok aku berangkat ke Medan, jika kamu mempunyai waktu luang, berilah aku kabar, aku tidak meminta kamu selalu ada disampingku, aku hanya berharap kabar darimu, itu sudah cukup, Mas."
"Aku akan mengabarimu, Dek, tapi maaf sebelumnya jika nanti pesan atau panggilan darimu tidak sempat aku balas, terkadang posisiku sedang tak memungkinkan."
"Ya, aku mengerti, Mas, tidak pa-pa, yang jelas aku sudah tahu alasannya. Aku paham."
__ADS_1
Yusuf mengambil jaketnya yang tersampir di kursi didepan cermin hias, lalu segera mengenakannya.
"Jaga diri baik-baik disana. Aku akan selalu merindukan kamu," ujar Yusuf sebelum pergi dan kembali mencuri kecupan di kedua pipi Khanza dan berakhir dibibirnya.
"Iya, kamu juga begitu, selalu jaga kesehatan, kamu jangan terlalu banyak pikiran, ingat Mas, kamu harus tetap tegar dan kuat. Kamu tidak boleh lemah, karena Mbak Tiara sangat membutuhkan support dari kamu."
"Oke, Sayang, terimakasih sudah menyemangati aku, aku pergi ya. I Love you my wife."
"Love you too keep strong my husband."
***
Khanza melepaskan kepergian Yusuf hingga depan pintu kamarnya. Yusuf segera turun kebawah. Setibanya dilantai satu, dia melihat Papa Arman keluar dari lift.
"Ah, Papa!"
"Yusuf! Kapan kamu datang?" Papa Arman berlagak tidak tahu, sebenarnya dia tahu Yusuf datang dari jam sepuluh malam tadi. Tetapi dia sengaja memberikan waktu kepada menantunya untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang putri.
"Tidak apa-apa, ayo kita duduk sebentar. Papa hanya ingin tahu bagaimana keadaan Tiara."
Papa Arman membawa Yusuf duduk sebentar diruang keluarga, tentu saja Yusuf tidak akan menolak. Menantu dan mertua itu ngobrol diruang tamu.
"Bagaimana Yusuf? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Papa yang ingin tahu, Pria itu berharap mendapatkan kabar baik tentang kondisi Tiara.
Yusuf menghela nafas berat, lalu dia menceritakan tentang kondisi Tiara sekarang, dan Yusuf juga mengatakan bahwa sekarang dia dan pihak RS sedang mencari donor untuk Tiara.
"Papa benar-benar prihatin tentang kondisi Tiara, semoga Allah memudahkan segalanya dan semoga Tiara segera sembuh," ujar Papa Arman sedih mendengar kabar Tiara.
"Aamiin, Terimakasih Do'anya, Pa."
"Ya, pergilah, kamu harus kuat dan tegar. Jangan lemah dan ikut menyerah, support dari pasangan itu sangat penting untuk menunjang imun dalam tubuh seseorang saat dia hendak menyerah melawan penyakitnya. Karena Papa sudah pernah mengalaminya, tetapi Bundamu selalu ada disamping Papa, dia selalu yakin bahwa Papa pasti sembuh."
Papa Arman menceritakan pengalamannya dulu saat mengidap kanker otak. Pria itu ingin memberi semangat kepada menantunya agar tak mudah berputus asa.
__ADS_1
"Baik Pa, insyaallah aku akan selalu kuat."
"Bagus, apakah urusan kamu dan Khanza sudah selesai?"
"Sudah, Pa, Alhamdulillah Adek bisa memahami."
"Syukurlah kalau begitu. Apakah dia sudah meminta izin padamu?"
"Sudah, Pa, aku tidak bisa menolak keinginan Adek untuk pergi."
"Iya tidak apa-apa, biarlah dia tinggal di Medan untuk sementara waktu, kamu fokuslah pada Tiara terlebih dahulu, karena disini kamu pasti tahu, ruang geraknya begitu sempit. Biarkan dia disana untuk menenangkan diri. Yang penting hubungan kalian sudah baik-baik saja, kamu pasti sudah mengatakan sejujurnya 'kan?"
"Iya, Pa, aku tidak bisa lagi membohongi Adek, dan Alhamdulillah dia sangat mengerti, aku sedikit lebih lega."
"Ya, itu karena dia sudah mencintai kamu. Papa berharap kamu akan selalu menjadi suami yang amanah dan adil pada kedua Istri-istrimu, jangan sakiti anak Papa, bersikap bijaksanalah sebagai suami, agar tak ada diantara mereka yang merasa tersisihkan."
"Baik, Pa, insyaallah pesan Papa akan selalu aku tanamkan dalam hati."
"Yasudah, ayo Papa antar kamu keluar agar ADC yang lainnya tidak merasa curiga saat kamu keluar dijam segini."
Yusuf mengangguk patuh, segera mengikuti langkah Papa mertuanya. Setibanya diluar dia melihat hanya Security yang berjaga, mungkin para ADC sudah tidur.
Yusuf segera pamit dan meninggalkan kediaman sang jendral, yaitu Papa mertuanya.
Setibanya di RS, Yusuf segera menuju kamar rawat Tiara, perlahan dia membuka pintu kamar itu. Yusuf melihat Tiara masih terjaga, Pria itu heran entah apa yang membuat sang istri dijam segini belum tidur.
"Mas Yusuf! Kok kamu kembali lagi? Kamu kenapa tidak tidur saja dirumah temani Rizqi?" tanya Tiara dengan suara lirih.
Yusuf menjadi merasa bersalah karena telah membohongi istri pertamanya. Sungguh Pria itu merasa hidupnya menjadi serba salah.
Bersambung....
Happy readingš„°
__ADS_1