
Opa masih menenangkan Yusuf, Pria itu berusaha untuk tetap tegar. Apa yang dikatakan oleh Opa memang benar. Dirinya harus kuat demi Rizqi dan juga Khanza.
Yusuf menghela nafas berat, tatapannya lurus kedepan. Berharap hujan berhenti agar dia segera pulang untuk bertemu dengan jasad sang istri.
Sementara itu Opa Malik menghubungi Yandra dan Yanju, dia meminta pada anak dan cucunya itu membantu Yusuf agar segera sampai ke kota Padang. Opa meminta Yandra menghubungi pilot pribadi keluarga Malik itu, dan memantau cuaca, apakah aman untuk berangkat untuk beberapa jam kedepan.
Yandra, maupun Yanju segera bergerak setelah mendapat kabar duka dan perintah dari Opa Malik. Yanju yang masih bertugas, dia segera izin untuk pulang cepat.
"Tenanglah, Nak, semoga beberapa jam lagi cuaca sudah membaik. Opa sudah telpon Om Yandra, dan juga Yanju Abang iparmu. semoga mereka bisa membantu," jelas Opa, Pria tua itu duduk disamping Yusuf. Dia berusaha untuk membawa cucunya untuk bicara agar sedikit mengalihkan pikiran Yusuf tentang Tiara.
"Terimakasih banyak, Opa. Maaf jika aku sudah banyak merepotkan," lirih Yusuf sembari memegang tangan Opa.
"Jangan bicara seperti itu Nak. Kamu itu sudah menjadi keluarga Malik Saputra. Apapun akan Opa lakukan untuk membantumu."
Yusuf tidak tahu harus bicara apa, dia benar-benar bersyukur berada di tengah-tengah
keluarga istrinya yang begitu memahami keadaan dirinya. Keluarga itu sangat berjiwa lapang. Rasa peduli mereka begitu besar.
"Ayo kita turun, sebentar lagi Om kamu, dan Abang iparmu datang. Kita tunggu mereka dibawah." Opa membawa Yusuf untuk turun, hujan juga sudah mulai reda.
Yusuf hanya mengangguk patuh mengikuti langkah Pria tua itu. Dia berharap segera bisa sampai di kota Padang secepatnya, sebelum jenazah sang istri di kebumikan.
Khanza hanya menatap sedih pada suaminya. Entah kenapa dia tidak berani terlalu banyak bicara. Takut jika nanti dirinya membuat mood Yusuf semakin rusak.
Yusuf yang merasa bahwa Khanza sedang takut untuk mendekatinya. Dia segera duduk disamping wanita hamil itu. Tangannya merangkul bahunya.
"Maafkan aku, Dek, maaf jika kamu kecewa dengan sikapku," ujar Yusuf menatap Khanza dengan sendu. Wanita itu segera memeluk sang suami. Dia bukan kecewa, tetapi hanya tidak berani mengusik suaminya yang ingin menepi untuk sesaat. Khanza tahu Tiara adalah wanita yang paling dicintai oleh Yusuf, tentu saja Pria itu begitu terpukul dan merasa kehilangan yang mendalam. Khanza juga tidak ingin dianggap mencari kesempatan dalam kesempitan.
__ADS_1
"Demi Allah, aku tidak kecewa ataupun marah, Mas, aku hanya tidak ingin mengusik dirimu. Aku tahu kamu sedang berduka," jelas Khanza menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Yusuf mengusap rambut Khanza dan mengecup keningnya. Pasangan itu ngobrol ringan untuk memecahkan suasana. Khanza hanya bisa menyemangati suaminya.
Saat mereka sedang ngobrol. Yandra dan Fatimah datang dan di ikuti oleh Yanju di belakang. Yusuf segera menyalami keluarga dari istrinya itu.
"Sabar ya, kami turut berdukacita. Semoga ALMH di terima disisi Allah." Yandra memeluk menantunya itu.
"Terimakasih banyak atas do'anya, Om," lirih Yusuf berusaha menahan air mata yang ingin jatuh.
Yusuf juga menyalami Abang tertua dari sang istri. Yanju juga mengucapkan rasa duka atas meninggalnya istri pertama dari adik iparnya itu.
"Sabar ya, ikhlaskan semoga Allah berikan tempat terbaik," ujar Yanju.
"insyaAllah aku sudah ikhlas, Bang. Terimakasih atas Do'a dan dukungan dari keluarga semuanya."
"Ayo kita duduk dulu." Ajak Yandra pada anggota keluarganya.
Tak berselang lama, Opa dan Oma keluar dari kamar. Pasangan lansia itu ikut duduk bersama anak dan cucu-cucunya.
"Aku sudah menghubungi pilot, Pa, mereka sedang menunggu kabar dari pihak Flight operation officer, di bandara x. Kita tunggu beberapa menit lagi, Pa," jelas Yandra pada orangtuanya.
"Ya, semoga saja tidak ada kandala," sahut Opa Malik.
Yusuf tak banyak bicara, ia hanya menjawab pertanyaan keluarga istrinya itu seadanya. Perasaan Pria itu masih tidak tenang, raganya saja yang masih berada di kota Medan, tetapi hati dan pikirannya sudah berada dikediamannya yang ada di kota Padang.
Tak berselang lama, sebuah panggilan masuk di ponsel Yandra, ternyata dari pilot pribadi keluarga itu. Mereka mengatakan penerbangan bisa dilakukan, cuaca sudah membaik, karena hujan turun hanya berada di atmosfer yang lebih rendah.
__ADS_1
Keluarga itu mengucapkan syukur. Yusuf dan Khanza segera bersiap untuk menuju bandara dimana pesawat pribadi keluarga Malik itu berada. Sebenarnya keluarga itu jarang sekali menggunakan Kendaraan udara itu, mereka akan menggunakan apabila keadaan mendesak seperti saat ini.
Yusuf dan Khanza berpamitan dengan keluarga itu, sebelumnya Khanza sudah menghubungi Papa Arman dan Bundanya. Tetapi, Yanju dan Yandra tetap ikut mendampingi mereka.
***
Alhamdulillah perjalanan aman, sehingga mereka tiba di kota Padang dengan selamat tanpa kendala apapun. Setibanya di Bandara, mereka sudah ditunggu oleh supir yang diutus oleh Papa Arman.
Kini mereka semua segera menuju kediaman Yusuf, tempat jenazah di semayamkan. Beberapa menit yang lalu sang Mama menelpon bahwa jenazah sudah selesai di mandikan, dan akan segera di kebumikan.
Mobil melaju sedikit cepat, karena permintaan Yusuf. Pria itu tidak ingin terlambat, dia harus bertemu dengan sang istri untuk yang terakhir kalinya. Sementara Khanza dan keluarganya yang ikut, mereka hanya diam memahami atas segala kecemasan Yusuf.
Tidak berapa lama mobil yang dikendarai oleh supir, telah menepi di depan rumahnya. Yusuf segera turun, Pria itu melupakan orang-orang yang membersamainya sejak di Medan. Terlihat para keluarga dan kerabat sudah memenuhi kediamannya.
Yusuf masuk, Pria itu segera menghampiri jasad sang istri yang baru saja selesai di kafankan. Yusuf berdiri terdiam sepi. Air matanya kembali jatuh tanpa diminta.
Perlahan Yusuf mendekati jenazah, dan terduduk bersimpuh disampingnya. Yusuf menengadahkan wajahnya untuk menahan gejolak hatinya. Bibirnya bergetar.
"Assalamualaikum, Sayang..." Suara Pria itu tercekat, untuk menelan air liur saja sangat susah. "Sayang, maafkan aku, maaf jika aku sudah mengecewakan dirimu. Maaf jika aku sudah membohongi dirimu, tolong jangan marah padaku. Pergilah dengan tenang, Dek, sampai kapanpun namamu akan selalu ada dalam hatiku. Terimakasih sudah menjadi istri yang sabar dan penuh perjuangan dalam memberiku keturunan. Maaf bila aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk dirimu. Pergilah dengan tenang Dek, jika Allah masih berkenan mempertemukan kita, maka tunggulah aku di syurgaNya."
Yusuf mengecup kening sang istri untuk terakhir kalinya. Kecupan itu begitu lama. Setelah itu dia bergumam Do'a dalam hati.
Setelah cukup untuk menyampaikan sesuatu pada sang istri. Yusuf sedikit menjarak memberikan tempat untuk Khanza, wanita itu mendekat lalu mengucapkan salam pada kakak madunya.
"Assalamualaikum, Mbak Tiara, semoga Allah menempatkan Mbak diantara orang beriman. Mbak Tiara, aku berjanji akan merawat dan membesarkan Rizqi dengan segenap jiwa dan ragaku. Mbak jangan khawatir ya, selamat jalan, Mbak Tiara." Khanza juga mengecup kening Tiara untuk yang terakhir kalinya.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰