Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Bantuan Papa Arman


__ADS_3

Malam ini setelah pulang dari wisata dadakan, aku mengantarkan Khanza untuk pulang kekediamannya. Diperjalanan pulang senyum bahagia selalu terukir di bibir kami berdua.


Aku begitu bahagia, karena telah bisa memiliki Khanza seutuhnya, aku tidak akan membiarkan sedetikpun dia dapat melupakanku. Rasa sayangku semakin bertambah, aku tidak tahu apakah ini hanya sekedar sayang, atau sudah ada cinta untuknya.


Jika memang sudah ada cinta, aku sangat bersyukur, karena memang itu yang aku inginkan. Aku memang sangat mencintai Tiara, tetapi aku juga tidak ingin mengabaikan Khanza, dia juga berhak mendapatkan cinta dariku.


Kami banyak bercerita tentang perjalanan karir masing-masing, hubungan kami sudah mulai mencair tidak kaku lagi, khusus hari ini waktuku memang untuk dirinya, bukan aku tidak memikirkan Tiara, tapi apakah aku salah jika sehari saja aku fokus pada istri keduaku?


Sedikit membuat hatiku lega, saat Khanza mengatakan bahwa dia tak berminat untuk menerima Dr.Akmal. Ah syukurlah, memang itu yang aku harapkan.


***


Setibanya dirumah aku berpamitan pada Khanza, aku melihat dia begitu sedih saat berpisah dariku. Aku terpaksa harus meninggalkannya, aku tahu ini begitu berat.


"Mas, beri aku tempat dihatimu walau sedikit, agar aku juga ada dipikiranmu," ujarnya tampak begitu sendu.


"Jangan bicara seperti itu Dek, kamu akan selalu ada dalam pikiranku."


Tanpa meminta dia akan selalu ada dalam hati dan pikiranku. Aku tidak tahu perasaanku saat ini, yang jelas rasa sayang dan takut kehilangannya sudah begitu besar.


Kudekap tubuhnya begitu dalam. Terasa berat untuk berpisah dengannya, tetapi harus aku lakukan demi kesembuhan Tiara.


"Jangan sedih lagi ya, aku pasti akan mengabarimu selalu."


Dia mengangguk sembari menguatkan pelukannya. "Aku tunggu selalu kabar dari kamu, Mas."


Setelah berpamitan dengan Khanza, aku kembali meminta izin kepada Papa dan Bunda, aku meminta maaf kepada mereka jika nanti aku sulit untuk menghubungi Khanza.


"Pa, Bun, Aku minta maaf jika nanti Adek kembali kecewa, tetapi sungguh aku sangat menyayanginya. Aku harus fokus terlebih dahulu untuk pengobatan Tiara, tapi aku janji akan menebus semua waktuku setelah Tiara sembuh."

__ADS_1


"Papa dan Bunda mengerti, sekarang fokuslah dengan kesembuhan Tiara. Kami selalu mendoakan semoga cepat sembuh. Nanti kami akan mencoba memberi pengertian pada Khanza," ujar Papa Arman yang mengerti posisiku saat ini.


***


Pagi sebelum berangkat ke Singapore, aku mengurus segala keperluan untuk keberangkatan. Dan aku juga mengantarkan surat izin ke Polres, dengan bantuan Papa Arman aku diberikan kemudahan, karena aku izin cukup lama.


Selesai pengurusan di kantor, aku segera mengantarkan mobil satu-satunya yang aku punya untuk aku jual ke dealer, sebenarnya tabunganku masih lumayan cukup, tetapi aku tidak ingin kekurangan dana saat disana nanti. Bagiku apapun akan aku lakukan asalkan Tiara bisa segera sembuh.


Saat aku akan sampai kedealer, Papa Arman meneleponku. Aku diminta untuk datang ke kantor Polda sekarang untuk menghadap kepadanya. Aku tidak tahu ada apa.


Tanpa pikir panjang aku segera mengarahkan mobilku kesana. Setibanya di Polda, aku segera menemui Papa diruangannya.


"Permisi Jendral!" Aku memberi hormat seperti biasanya saat anggota bertemu dengan atasan.


"Ayo duduklah!"


Aku segera duduk, saat itu Papa sedang ada tamu, namun Papa segera meminta tamunya untuk keluar dari ruangannya.


"Yusuf, Papa dengar kamu ingin menjual mobilmu, untuk apa?" tanya Papa yang membuat aku terkejut, padahal aku tidak memberitahu pada siapapun selain dengan Tiara.


"Ah, hanya untuk jaga-jaga saja, Pa. Sebenarnya uangku masih cukup, aku hanya takut bila nanti kami membutuhkan dana lebih disana." Akhirnya aku terpaksa jujur, aku tidak bisa membohongi beliau.


"Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini pada Papa? Apakah kamu tidak menganggapku sebagai mertuamu?"


"Ah, bu-bukan begitu maksud aku, Pa. Sungguh aku tidak ingin merepotkan Papa, karena ini adalah tanggung jawabku sebagai seorang suami, harta masih bisa kucari asalkan istriku segera sembuh."


Aku mencoba untuk menjelaskan pada Papa, aku tidak ingin Papa menjadi salah paham padaku. Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain atas apa yang harus menjadi tanggung jawabku.


"Jika kamu memang tidak menganggap kami sebagai orang lain. Maka, terima bantuan Papa kali ini. Jangan dijual mobilmu, karena kamu pasti membutuhkannya untuk transportasi kamu dalam bertugas dan membawa Tiara berobat ke RS. Sudah! sekarang persiapkan segala keperluan untuk keberangkatan kamu, nanti akan Papa transfer ke rekening kamu."

__ADS_1


Aku benar-benar tidak bisa bicara, Bapak Jendral ini begitu baik, padahal aku belum bisa membahagiakan putrinya, tetapi mereka begitu pengertian. Aku semakin merasa bersalah.


"Pa, aku tidak bisa bicara selain mengucapkan terimakasih banyak atas segala bantuan dan juga pengertian Papa padaku. Maafkan aku jika belum bisa membalasnya, dan aku juga minta maaf karena belum bisa membuat Adek bahagia, aku selalu membuatnya bersedih dan kecewa."


Aku tertunduk merasa sangat malu dengan segala kebaikan Papa Arman. Sungguh Jendral yang berhati kesatria.


"Yusuf, jangan bicara seperti itu. Papa tahu kamu lelaki yang bertanggung jawab, tetapi kami harus bisa memahami posisimu saat ini, karena Papa tahu bahwa itu tidaklah mudah. Tapi kamu memang harus memilih untuk menyelamatkan nyawa terlebih dahulu. Kecewa dan luka yang dirasakan oleh Khanza bisa diobati dengan seiring berjalannya waktu."


"Sekali lagi terimakasih,Pa, atas segala kebaikan Papa dan keluarga, kalau begitu aku permisi untuk pulang. Sekalian aku pamit nanti sore. Sampaikan salam pamitku pada Bunda."


Aku menyalami tangan Papa dan segera pamit dari hadapannya. Aku segera pulang karena masih ada beberapa hal yang harus aku selesaikan sebelum keberangkatan.


Atas bantuan Papa Arman, aku tidak jadi menjual mobilku, sebenarnya aku sangat sungkan, tetapi aku memang butuh hanya untuk jaga-jaga, karena biaya pengobatan diluar negri tidaklah murah.


Setibanya diruamah, aku melihat Tiara sedang berberes, aku menatap putraku yang terpaksa akan kami tinggalkan dengan kedua orangtuaku, karena orangtua Tiara akan ikut bersama kami.


Hatiku sedih harus berpisah dengannya, tetapi ini semua demi kebaikan dan kesembuhan Mamanya, aku tidak ingin Anakku kehilangan sosok ibu karena dia sangat membutuhkan kasih sayang ibunya.


"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Tiara menghentikan aktivitasnya.


"Iya, Sayang, kamu sudah membereskan semuanya?"


"Sudah Mas. Tapi, apakah kita memang harus meninggalkan Rizqi ya, Mas?" tanya Tiara tampak sedih.


"Iya, Sayang, karena dia terlalu kecil untuk dibawa. Aku juga takut pertukaran udara disana tidak cocok dengannya. Biarlah dia tinggal bersama Mama. Percayalah, ini hanya sementara."


"Tapi aku sedih harus berpisah dengannya, Mas." Tiara menangis sembari memeluk putra kesayangan kami.


Aku hanya bisa memeluk mereka, aku berusaha untuk menenangkannya, ini memang keputusan yang berat, tapi semua demi kebaikan bersama.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2