
Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam. Pria tampan itu sudah berada di RS. Ya, seusai pertemuan dengan klien, Khenzi tidak langsung pulang. Pria itu kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda beberapa hari yang lalu, sepulang dari kantor Khen segera menuju RS untuk menjemput tunangannya.
Walaupun harus menunggu satu jam lagi. Tetapi bagi Pria itu tidak masalah, hitung-hitung untuk melatih kesabarannya yang selama ini sangat minim, entah kenapa demi gadis cantik itu Khen menikmati dalam penantiannya.
Saat Khen hendak turun dari mobil, netranya melihat seorang anak kecil bersama ayahnya, yaitu Dr Radit dan Rafif. Seketika perasaan Khen terusik melihat kehadiran lelaki itu.
Untuk apa Dr Radit datang jam segini? Bukankah jam praktek Dokter itu sudah usai dari jam satu siang tadi. Apakah mereka sengaja ingin menemui Arumi?
Khenzi segera bergegas mengikuti langkah Ayah dan anak itu. Sengaja memberi jarak agar tak kentara. Netra Pria itu masih mengamati dengan seksama kemana arah dan tujuan mereka.
Arumi baru keluar dari ruang rawat inap pasien yang dijaganya. Suara panggilan anak kecil membuat atensinya teralihkan mencari sosok itu.
"Tante Arumi...!" Panggil bocah itu berlari menyongsong Arum.
"Rafif!" Arumi merentangkan kedua tangannya untuk membawa Rafif masuk dalam dekapannya. "Kok tumben kamu datang malam-malam kesini?" tanya Arum mengusap kepala anak itu dengan lembut.
"Aku kangen sama Tante. Mana oleh-oleh buat aku,Tan?" tanya bocah itu menuntut janji Arum.
"Ada, Sayang, tapi Tante tidak bawa karena Tante tidak tahu kamu akan kesini. Tapi besok Ante bawain ya," ujar Arumi meyakinkan bocah kecil itu.
"Baiklah, Tan. Tapi malam ini Tante bisa 'kan, pergi bareng kita. Seperti janji Tante kemarin. Papa sudah beliin tiket nonton buat kita," jelas Rafif menatap dengan wajah berharap.
Arumi terdiam mendengar ucapan bocah itu yang menuntut. Wajahnya tampak berharap, ada rasa tidak tega untuk menolak, tetapi Arum juga tidak mau jika nanti Khenzi salah paham dan berpikir yang bukan-bukan.
"Sayang, ini kan sudah malam. Bagaimana besok kita cari waktu luang. Kita bisa pergi nontonnya siang, gimana?" tanya Arum mencoba bernegosiasi, berharap bocah kecil itu mengerti dan dia juga ingin meminta izin terlebih dahulu pada Khen agar tunangannya itu tidak salah paham.
"Tapi aku maunya sekarang, Tan. Besok-besok Papa dan Tante pasti sibuk. Dan film kartunnya juga seru malam ini," ucap Rafif berwajah sendu.
Arumi merasa tidak tega, tidak masalah rasanya dia menghubungi Khen meminta izin untuk kali ini saja demi memenuhi janjinya pada anak kecil itu. Setelah itu dia akan menjaga jarak pada mereka demi kebaikan hubungannya dan Khen.
"Baiklah, tapi Ante minta izin sebentar ya," ujar Arum pada bocah itu. Sementara Dr Radit hanya diam. Pria itu sengaja memberi waktu untuk anaknya berinteraksi dengan suster pendampingnya.
__ADS_1
Arumi berjalan agak menjauh dari mereka untuk menghubungi Khenzi. Namun langkahnya terhenti saat melihat Pria itu sudah berada disana.
"Ada apa, Dek?" tanya Khen bernada manis dan mesra saat menyapa Arumi.
"Ah, Mas... Arum baru saja ingin menghubungi kamu," jelas wanita itu sedikit ragu.
"Oya, mau ngapain? Sekarang aku sudah disini. Ayo katakan," ucap Khen berusaha untuk tetap tenang dan santai. Meskipun hatinya sudah merasa cemburu.
"Mas, Arum ingin minta izin menemani Rafif untuk nonton malam ini. Apakah boleh?" tanya Arum wajahnya tampak berharap.
"Baiklah, aku akan mengizinkan. Tetapi aku juga akan ikut menemani. Aku rasa tidak ada masalah bila kita nonton bareng. Benarkah 'kan Dokter Radit?" tanya Khen pada Pria itu tersenyum penuh arti.
"Ah, maaf jika kalian tidak punya waktu. Lain kali saja, Arum. Maaf jika permintaan Rafif merepotkan," jawab Dr Radit merasa tidak enak.
"Ow, tidak, tidak. Jika ini semua memang semata untuk Rafif, maka aku rasa tidak ada salahnya jika kita nonton bareng. Benar 'kan bocah Tampan?" tanya Khen pada bocah kecil itu sembari berjongkok mensejajarkan tubuhnya, tangan Khen mencolek hidung mancung bocah kecil itu.
"Om, temannya Tante Arum ya?" tanya Rafif sedikit bingung melihat kedekatan Pria itu dengan wanita yang disayanginya.
"Hmm, ya. Lebih tepatnya calon suaminya," jawab Khen jujur sekali sehingga membuat bocah itu maupun Dokter Radit terjingkat.
"Ya, benar sekali, Sayang. Kamu pasti sangat bahagia kan mendengarnya?" ucap Khen, matanya juga memperhatikan raut wajah dokter Radit yang menatap Arum dengan rasa tak percaya.
"Tidak! Aku tidak bahagia mendengarnya. Kenapa harus Oom yang menikah dengan Tante Arumi? Aku ingin Tante Arumi menikah dengan Papa, aku ingin Tante Arumi menjadi Mama aku. Oom jahat! Oom sudah mengambil Tante Arum dari kami!" Pekik bocah itu dengan tangis sudah pecah.
"Rafif! Tunggu, Nak! Rafif...!" Dokter Radit mengejar putranya yang berlari begitu saja.
Setelah ayah dan anak itu pergi. Kini tinggal Arumi dan Khenzi disana. Khenzi menaikan kedua bahunya, merasa tidak bersalah apapun karena sudah mengatakan yang sejujurnya pada bocah kecil itu.
"Mas, kenapa kamu bicarakan hal itu pada Rafif?" tanya Arum merasa bahwa Khen tidak seharusnya mengatakan hal itu pada anak kecil yang belum mengetahui apa-apa.
"Terus? Aku harus membiarkan kamu pergi dengan mereka untuk memberi mereka harapan yang lebih besar lagi. Begitu?" tanya Khen dingin dan menyorot tajam.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu maksud Arum, Mas. Tapi aku..."
"Apa? Kamu ingin aku mengatakan bahwa kita hanya berteman, dan membiarkan mereka menyimpan harapan. Bukankah tadi kamu dengar sendiri bahwa Rafif menginginkan kamu menjadi ibunya! Seharusnya dari awal kamu sudah menyadari hal itu Arum!" suara Pria itu sedikit meninggi.
"Mas Khen, bisa turunkan nada bicara kamu, Mas. Kita jadi sorotan orang-orang," ucap Arum merasa malu menjadi pusat perhatian bagi orang yang lalu lalang, dan ada juga teman sejawatnya ikut mendengarkan.
"Aku tunggu kamu di mobil!" Khenzi segera beranjak dengan wajah tegang.
Arum menghela nafas berat. Hatinya merasa entah. Wanita itu kembali ke ruang jaga untuk melakukan timbang terima shift jaga pada perawat yang akan menggantikannya.
Arum segera turun untuk menemui Pria itu. Hatinya masih tak menentu. Ada rasa was-was menghadapi Khenzi. Disisi lain dia merasa sedih karena sudah membuat Rafif kecewa. Arum juga tidak menyangka, ternyata apa yang dikatakan Khenzi waktu itu memang benar bahwa Rafif menaruh harapan lebih padanya.
Apakah mungkin Dokter Radit juga seperti itu? Apakah benar jika sang Dokter mempunyai perasaan padanya?
Banyak pertanyaan dalam hati wanita itu. Setibanya di parkiran Arum menghampiri mobil yang sudah dikenalinya.
Dengan perasaan was-was wanita itu menduduki kursi ACC. Sekilas ia menatap wajah Pria yang ada disampingnya. Tampak wajah Pria itu masih di tekuk.
Khenzi menjalankan mobilnya. Hening tanpa percakapan. Pria itu menatap kesamping.
"Gunakan seatbeltnya, Arum!" titah Pria itu, tatapannya masih lurus kedepan.
Wanita itu tak mengindahkan ucapan Khen, Arum merasa sedikit kecewa dengan sikap Khenzi yang tak bisa memahami dirinya. Ditambah lagi Pria itu sudah meninggikan suaranya di depan orang. Seharusnya mereka bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik.
Khenzi gemas sendiri karena tak mendapat tanggapan dari wanita itu. Khenzi menginjak pedal rem dengan kuat sehingga ban mobil itu berdecit di aspal. Seketika Arum merasa kaget alang kepalang.
Tanpa bicara Khen menarik tali sabuk pengaman dan melingkarkan di tubuh wanita itu. Wajah mereka begitu dekat. Khen menatap mata teduh yang ada dihadapannya. Begitu juga Arumi yang merasa jantungnya ingin lompat. Saat nafas hangat pria itu menyapu permukaan kulit wajahnya.
"Jangan menatapku begitu. Aku takut khilaf!" seru Khen masih nada datar.
"Kalau takut khilaf segera beranjak dari tubuhku, Mas. Kamu menindihku," balas Arum dengan wajah bersemu.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰