Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Ikut ke pabrik


__ADS_3

"Terimakasih ya,Sayang, tapi lebih cantik lagi jika mahkota kamu ini hanya aku yang melihat," ujar Yusuf masih mengelus rambut panjang sang istri.


"Maksud kamu, Mas? Aku menggunakan hijab?" tanya Khanza menebak dengan benar.


"Hmm, pintar banget kamu." Yusuf mengangguk dan mengecup pipinya.


Khanza menatap lama pada suaminya dari pantulan cermin. Yang ditatap hanya tersenyum.


"Kenapa? Adek keberatan? Mas tidak memaksa kok, Sayang. Coba-coba saja dulu mana tahu Adek nyaman. Tapi, jika kamu belum siap juga tidak apa-apa," ujar Yusuf begitu lembut membimbing sang istri melaksanakan kewajiban sebagai seorang wanita muslim untuk menutup auratnya.


"Insya Allah ya, Mas. Adek akan berusaha untuk mengenakan hijab. Aku tahu hijab itu hukumnya wajib untuk setiap wanita muslim. Tapi, aku tidak bisa secara langsung, aku akan berusaha untuk membiasakan hingga aku benar-benar nyaman dan istiqamah.


"Alhamdulillah... Terimakasih ya, Sayang. Aku akan selalu mendo'akan agar kamu tetap istiqamah dalam hijrah."


"Aamiin... Ya Allah."


"Yasudah, ayo kita jalan sekarang," ajak Yusuf, sembari membantu Khanza untuk berdiri. Pasangan halal itu segera keluar dan pamit pada Oma dan Opa.


***


Setelah selesai bertugas, Arumi duduk di lobby menunggu jemputan. Suara klakson mobil mencuri atensinya untuk melihat.


Wanita itu segera berdiri memastikan bahwa itu adalah mobil jemputannya. Saat masuk Arumi melihat Pria yang mengemudi bukan ADC yang tadi mengantarkannya. Tetapi Pria dingin bin kaku.


Pria itu hanya menoleh sebentar saat Arumi hendak masuk kedalam mobil. Suara dinginnya membuat wanita berusia dua puluh lima tahun itu menghentikan gerakannya saat hendak menduduki kabin belakang.


"Duduk di depan. Aku bukan ADC ataupun supir!"


Arumi hanya menghela nafas dalam, segera menempati bangku ACC. Khenzi segera melepas pedal kopling dan menginjak pedal gas. Kini mobil yang dikendarai oleh Pria itu sudah meninggalkan perkarangan RS.


Kedua insan itu hanya diam, tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian dan bergabung dengan pengendara lainnya.


Arumi hanya mengamati jalanan yang di lalui oleh kendaraan roda empat yang sedang ditumpanginya saat ini. Ia menoleh kesamping menatap Pria itu.

__ADS_1


"Mas, kita mau kemana? Kenapa tidak pulang?" tanya Arumi merasa heran karena kendaraan itu tidak menuju kediaman keluarga Arman Sanjaya.


"Aku mau ke pabrik sebentar. Temani aku," jawab Khenzi sekedarnya saja.


"Kenapa Arum harus ikut, Mas? Arum bisa naik taksi saja pulangnya," ujar wanita itu, tidak mengerti kenapa Pria itu membawanya ke pabrik.


"Kenapa? Apakah kamu takut? Bukankah Papa dan Bunda ingin kita lebih dekat 'kan? Jadi kamu harus membiasakan diri untuk pergi denganku." Pria itu bicara tanpa menoleh.


Ya ampun, jadi seperti ini cara dia mendekatkan diri? Benar-benar tak habis pikir


Gumam Arumi dalam hati. Bingung harus menyikapi Pria yang ada disampingnya itu. Kenapa sikapnya begitu kaku?


Setibanya di pabrik, Khenzi segera keluar dari mobil, meninggalkan Arumi begitu saja tanpa bicara apapun. Wanita itu bingung harus bagaimana, apakah mungkin dia hanya menunggu di parkiran. Ah, Pria itu benar-benar tidak jelas.


Dengan tergesa-gesa wanita itu mengikuti langkah lebar Khenzi. Seorang Manejer sudah menunggu untuk membawa Pria itu memeriksa unit mesin produksi pabrik karet yang rusak.


"Sejak kapan mesin ini berhenti beroperasi?" tanya Khenzi pada Pria yang diperkirakan sebaya dengannya.


"Dua jam yang lalu, Pak."


"Besok pagi akan saya panggil menkanik, sepertinya terjadi human error," jelas sang manejer.


"Segera tangani. Jangan biarkan mesin ini berhenti beroperasi selama satu hari dua puluh empat jam. Itu akan berdampak produksi menurun secara drastis. Pokoknya saya tidak mau tahu. Besok mesin produksi ini sudah kembali beroperasional!" Tegas Pria itu pada manejer pabrik.


"Baik, Pak, saya paham."


"Bagus. Kalau begitu saya pulang dulu."


Khenzi kembali melangkah keluar dari pabrik. Arumi sedari tadi hanya mengekori dirinya. Entahlah, Pria itu tidak bicara apapun. Berasa tak dilihat kehadirannya.


"Saat mereka hendak masuk kedalam mobil, terdengar suara seseorang memanggil Khenzi. Seketika kedua insan itu menoleh mencari asal suara.


"Mas Khen!" Panggil seorang wanita cantik sembari melenggok menghampiri pasangan itu.

__ADS_1


"Ngapain kamu kesini? Kita tidak ada urusan lagi!" Tegas Khenzi pada wanita yang sudah menjadi mantannya itu. Wanita yang sudah membuat hatinya berantakan.


"Mas, aku ingin bicara denganmu."


"Aku sudah tak punya waktu!"


"Mas Khen, please... Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya," ujar wanita itu dengan wajah memelas.


Khenzi tidak menghiraukan dia segera membuka pintu, tetapi tangannya diraih oleh Rayola.


"Mas, aku mohon tolong beri aku kesempatan untuk kali ini saja!" Rayola memegang kedua tangan Pria itu. "Tatap aku, Mas. Aku tahu kamu masih sangat mencintai aku 'kan? Aku tahu bahwa aku salah. Tetapi aku janji akan memperbaiki segalanya," mohon wanita itu memasang wajah sedih dan mata berkaca-kaca.


Khenzi menatap Rayola begitu dalam, tak bisa ditampik bahwa hatinya masih menyimpan rasa. Namun, kembali bayangan pengkhianatan Rayola membuat batinnya sakit.


"Lepas! Kita sudah tak mempunyai hubungan lagi. Bukankah kamu sudah bahagia dengan lelaki yang penuh kemesraan itu? Jadi jangan harap lagi aku akan kembali padamu!" Khenzi menghempaskan tangan Rayola.


"Arumi, ayo masuk!" titah Pria itu.


Arumi bergegas membuka pintu mobil dan segera masuk. Sedari tadi ia hanya menjadi penonton drama cinta pasangan itu.


"Mas Khenzi, tunggu dulu! Aku belum selesai bicara, Mas!" Rayola berlari kecil mengejar mobil yang sudah bergerak meninggalkan pekarangan pabrik.


Diperjalanan pulang, Pria itu hanya diam dan menatap lurus kedepan. Sorot matanya tampak menyala, tanpa sadar dia menginjak pedal gas lebih dalam sehingga mobil itu melaju diatas rata-rata.


"Mas Khen, pelan, Mas! Kita bisa celaka!" pekik Arumi begitu takut membuat Pria itu menepikan mobilnya sehingga turun aspal.


Khenzi terdiam sejenak, berusaha menetralkan perasaan dan deru nafasnya. Netranya menatap wanita cantik yang ada disampingnya.


"Arum, apakah kita bisa dekat? Aku ini seorang lelaki yang sangat kaku. Aku tidak pandai bersikap manis dan romantis. Lebih baik kamu berpikir dua kali untuk itu. Aku tidak mau terluka kedua kalinya. Kamu boleh mencari lelaki lain yang sesuai dengan kriteriamu," ujar Pria itu dingin.


Arumi terdiam mendengar ucapan Pria itu. Entahlah ia masih ragu. Sebenarnya belum yakin dengan hatinya sendiri. Arum masih melihat cinta yang begitu besar dimata Khenzi untuk Rayola.


Apakah ini cara Khenzi untuk menolak dirinya agar dia bisa memberikan Rayola kesempatan? Wanita itu hanya diam tak bisa memberi jawaban dari ucapan lelaki dingin itu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2