
Setelah sarapan, Yandra dan Yanju bersiap untuk berangkat, Kebetulan hari ini Khenzi libur, maka dialah yang mengantarkan Oom dan Abangnya ke Bandara, walau tetap di jaga oleh ajudan.
Sementara itu Yusuf berpamitan pada keluarga istrinya untuk pulang kekediamannya. Tentu saja mereka memahami keadaan Yusuf, terlebih lagi ada seorang bayi yang sangat membutuhkan perhatian darinya.
"Yusuf, Ayah minta maaf ya, karena tidak bisa mengikuti yasinan untuk berikutnya. Soalnya ada urusan yang tidak bisa Ayah tinggalkan. Tetapi, Do'a selalu Ayah panjatkan untuk ALMH, semoga Allah memberikan tempat terbaik," ujar Yandra pada anak menantunya.
"Aamiin, terimakasih untuk do'anya, Yah. Hati-hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan." Yusuf menyalami Pria itu dan berpelukan sebentar.
"Yusuf, Abang juga minta maaf, semoga kamu selalu diberikan kesabaran." Yanju juga meminta maaf pad adik iparnya karena merasa tidak enak.
"Iya tidak apa-apa, Bang, aku memahami. Semoga selamat sampai tujuan."
Setelah semua keluarga beranjak. Papa Arman juga bergerak untuk ke kantor. Hari ini adalah putusan sidang kasus percobaan pembunuhan terhadap putrinya, yaitu pelakunya anak seorang jendral juga yang tak lain adalah rekan sejawat Papa Arman di Polda.
Papa Arman yang notabenenya adalah seorang penyidik handal, maka sangat mudah mengumpulkan informasi dan barang bukti tentang kasus itu.
Sebelum menghadiri sidang, Papa Arman terlebih dahulu mengadakan rapat di kantor. Dan setelah itu sang jenderal menempati diri diruangannya untuk menyelesaikan beberapa berkas perkara akan di bawa ke pengadilan.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" Perintah Papa Arman.
Seseorang masuk kedalam ruangan itu, lengkap dengan pakaian dinasnya. Papa Arman menoleh pada tamu yang sudah berada dihadapannya. Sedikit rasa curiga dalam hatinya. Untuk apa Jendral Agung datang menemui dirinya.
"Jendral Agung, Ayo duduklah!" Papa Arman masih menyambut dengan hangat, sedikit senyum ia ukirkan. Memang semenjak kejadian itu hubungan mereka tampak renggang. Papa Arman sudah menyelidiki bahwa Jendral Agung tidak terlibat dalam kasus itu, namun sebagai orangtua, tentu saja dia akan tetap memberi pembelaan pada Putranya.
Pria yang diperkirakan seumuran dengan Papa Arman itu segera duduk dihadapannya. Air mukanya tampak datar dan sikapnya dingin.
__ADS_1
"Arman, aku datang sebagai seorang teman, aku minta padamu agar kita berdamai dengan kasus ini. Dan diriku yang akan menjadi jaminannya. Tolong cabut perkara tuntutanmu. Akan aku pastikan Putraku tidak akan pernah menyakiti putrimu lagi walau sedikitpun," jelas Agung pada Arman.
Arman sedikit terkejut mendengar ucapan dari Agung. Mana mungkin dia bisa memaafkan orang yang telah berani mencelakai putrinya.
"Maaf, Jendral Agung, aku tidak bisa! Seorang penjahat tetaplah dihukum. Karena kamu tahu sendiri bahwa ini bukan kasus kecil, rasanya tidak bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Putramu sudah begitu berani ingin melenyapkan putriku, dan bahkan ajudanku terkena sasaran dan untung saja dia selamat," jelas Papa Arman.
"Ajudan? Benarkah dia ajudamu? Atau menantumu?"
Kata-kata Agung membuat Arman mulai tersulut emosi. Sepertinya Pria itu sudah mengetahui bahwa Yusuf telah menjadi menantunya.
"Apa maksud kamu?" tanya Arman berlagak tidak tahu.
"Hahaha... Jangan berlagak bodoh Jendral. Aku sudah tahu yang sebenarnya. Maka dari itu aku datang kesini untuk bernegosiasi denganmu, atau menantumu itu akan dicopot sebagai seorang anggota kepolisian. Karena telah melanggar aturan. Dia sudah berpoligami sebelum istrinya meninggal dunia."
Arman tersenyum miring mendengar ucapan Agung yang mengandung sebuah ancaman untuk dirinya dan juga jabatan sang menantu yang menjadi kartu as untuk mengeluarkan putranya.
"Jendral Agung, lihatlah seragam yang kamu gunakan dan juga segamku, bukankah seragam kita sama? Dan kita juga sama-sama sedang bertugas untuk menjaga Marwah instansi. Apakah kamu kira aku akan menerima tawaranmu itu? Tidak, aku akan tetap dengan pendirianku. Silahkan lakukan jika menurutmu benar untuk menjatuhkan menantuku. Dan perlu kamu ketahui lagi Jendral, apa penyebab sehingga ajudanku menikahi putriku, yaitu juga tak terlepas dari ulah putramu. Dan aku tidak akan tinggal diam. Aku pastikan putramu mendapatkan kasus berlapis! Aku akan tantang ancaman itu!"
Papa Arman bicara dengan tenang tetapi mampu membuat lawannya tak berkutik.
"Arman, aku hanya minta kamu untuk memberi kesempatan kepada Putraku. Kenapa kamu tidak bisa memikirkan perasaanku? Kita sama-sama seorang Ayah, mana mungkin aku tega membiarkan Putraku mendekam di penjara untuk waktu yang lama!"
"Agung, jangan membela seorang penjahat. Walaupun dia Putramu sendiri, apa yang telah dilakukannya patut untuk di pertanggungjawabkan."
Pria itu tertunduk lemah dihadapan Arman. Ada rasa iba dihati sang jendral saat menyaksikan hal itu. Tetapi, Arman harus tetap berpegang teguh dengan pendiriannya, agar hal serupa tak lagi terjadi.
"Arman, aku tahu bahwa Putraku sudah melakukan hal yang tercela, dan aku juga ingin memberinya pembelajaran, tetapi aku tidak mampu harus melihat kesedihan pada istriku. Tetapi sebagai seorang anggota kepolisian dan berpegang teguh dengan janji dan sumpah jabatanku. Aku akan berusaha untuk menerima kenyataan ini. Terimakasih kamu sudah mengingatkan aku dan sudah menyadarkanku. Bahwa hukum harus ditegakkan, tak peduli tersangka berasal dari kalangan apa dan siapa orangtuanya. Hukum memang tak harus tebang pilih. Terimakasih kawan! Selamat menjalankan tugas!"
Agung menjabat tangan Arman. Akhirnya duo Jendral itu sudah berdamai. Semoga saja apa yang dilakukan Leo dapat menyadarkan dirinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Jendral, dalam hal ini aku benar-benar tidak bisa mentolerir apa yang telah diperbuat oleh putramu. Semoga apapun keputusan hakim akan menjadi pelajaran besar bagi Leo."
"Ya, semoga saja. Dan hal ini juga akan menjadi pelajaran bagi diriku sendiri. Seharusnya aku lebih cermat dalam memantau kegiatan putraku. Aku sudah lalai sehingga tidak menyadari bahwa Putraku menggunakan pangkat dan jabatanku mengancam seseorang untuk melakukan pembunuhan."
"Ambil hikmah dari kejadian ini. Ini juga berlaku bagiku dan anggota keluargaku," ujar Arman.
Dua orang Pria setengah abad itu saling berpelukan, dan terlihat jiwa kesatria pada mereka, karena saling meminta maaf dan memaafkan.
Setelah Agung meninggalkan ruangannya, Arman segera bersiap untuk menghadiri persidangan. Dalam hal ini Yusuf sudah tak perlu hadir, karena dia sudah selesai menjadi saksi saat itu.
***
Malam hari setelah selesai mengadakan yasinan hari kedua. Yusuf meminta izin pada kedua orangtuanya dan juga Mama mertua untuk membawa Rizqi tidur bersamanya dikediaman Khanza.
Tentu saja mereka tidak bisa melarang. Yusuf segera membawa bayi mungil itu kerumah Ibu penggantinya. Setibanya dirumah, Bunda Lyra segera membawa bayi mungil itu dalam gendongannya.
"Ya Allah, lucu sekali kamu, Nak, main sama Oma dulu ya. Suf, biar Rizqi sama Bunda dulu. Nanti Bunda antar ke atas ya," pinta Bunda pada anak menantunya.
"Baiklah, Bun. Oya, Bun, Papa belum pulang?" tanya Yusuf yang sudah penasaran dengan hasil putusan hari ini.
"Belum, tadi telpon Bunda masih di kantor, bentar lagi pulang."
"Yaudah, aku keatas dulu ya, Bun. Rizqi sama Oma dulu ya, Sayang." Yusuf mengecup pipi gembul bayi yang berumur enam bulan itu.
Bersambung....
Nb. Sedikit pesan dari author untuk raeder, tolong yang sudah subscribe, jangan dibatalkan lagi, karena itu dapat merusak retensi novel ini. Lebih baik tidak usah subscribe bila novel ini tidak menarik. Mohon hargai kerja keras author ππ₯Ί Tidak mudah bagiku menulis sembari mengurus seorang anak yang berkelainan khusus π€§ Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak kepada raeder setiaku yang telah memberiku dukungan selalu π Semoga kalian sehat selalu π€²
Happy reading π₯°
__ADS_1