
"Ah, Sayang, maafkan aku ya. Aku benar-benar sedang lelah. Ayo duduklah. Sudah jangan menangis lagi." Khen menghapus air mata istrinya dan memberi kecupan di keningnya, lalu mendekap dengan sayang. "Jangan katakan untuk pergi lagi. Aku sungguh tidak ingin jauh darimu. Tolong maafkan aku," ucap Khen yang juga tiba-tiba menjadi melow. Pria itu menitikkan air mata.
Arumi terkejut melihat sang suami yang juga ikut menangis. Arum melerai pelukannya, tangannya merangkum kedua pipi Khen.
"Kenapa kamu ikutan nangis, Mas? Kenapa Pria kaku sepertimu mudah sekali menangis. Seharusnya kamu itu jangan menangis. Kamu hanya boleh merayu Arum dan membujuk," ucap Arum sembari menghapus air mata Pria itu.
Khen tersenyum gemas dan kembali meraih wanita itu masuk kedalam pelukannya. "Aku menangis karena kamu selalu mengancam untuk pergi meninggalkan aku. Jangan pergi, Dek, sebesar apapun masalah kita kelak, jangan pernah berniat untuk pergi dariku."
"Habisnya kamu sekarang pemarah, Mas. Kamu tidak sayang lagi sama Arum," rengek wanita itu begitu manja.
"Ssstt, jangan katakan aku tidak menyayangimu. Aku sangat sayang dan cinta. Aku hanya begitu mencemaskan dirimu. Aku takut kamu sakit, Dek. Bunda dan Ibu juga sangat khawatir," jelas Khen membelai rambut sang istri.
"Tapi sungguh aku tidak ingin makan bila tak bersama denganmu, Mas," ujar Arum dengan wajah sedih.
"Baiklah, Sayang, kalau begitu aku mandi sebentar ya, habis itu kita makan." Khen segera berdiri ingin membuka pakaiannya dan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Mas, jangan pergi. Disini saja buka bajunya," ucap Arum meraih tangan Khen agar duduk kembali.
"A-aku ingin mandi, Sayang, tubuh aku sudah lengket keringatan," ucap Khen menatap aneh pada Arum.
"Iya, Arum tahu, Mas. Sini Arum bantuin kamu buka kemejanya." Khen membiarkan saja apa mau wanita itu. Setelah atasannya terbuka. Arum segera memeluk tubuh Khen, dan menghirup aroma parfum dan keringat menjadi satu. Wanita itu begitu nyaman membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami dan sesekali wajahnya berpindah pada ketiak Pria itu.
Khen hanya diam terpaku melihat tingkah sang istri yang mendadak berubah menjadi begitu manja seperti anak kecil. Bertambah aneh lagi wanita itu glendotan tak ingin ditinggalkan.
"Sayang, kamu kenapa aneh begini sih? Perasaan kemaren-kemaren tidak seperti ini," tanya Pria itu masih memeluk Arum dengan bertelan jang dada.
Cukup lama Khen membuai Arumi dalam belaian dan dekapan. Sebenarnya ia ingin segera mandi, tetapi sang istri masih ingin dimanja. Tak ingin lagi membuat masalah dengannya.
"Sayang, kamu lagi datang bulan ya?" tanya Khen masih mengusap punggung Arum.
"Nggak. Eh, tapi perasaan aku sudah lama tidak datang bulan deh, Mas. Terakhir setelah kita menikah," ucap Arum mencoba mengingat tanggal haidnya.
__ADS_1
"Kamu serius?" tanya Khen penasaran.
"Serius, Mas."
"Jangan-jangan kamu hamil, Sayang?"
"Hamil? Masa sih, Mas?"
"Ck, kamu gimana sih, Sayang. Masa kamu tidak tahu. Apakah kamu tidak merasa aneh dengan tingkah kamu hari ini? Kamu itu manja banget, terus, ini kenapa coba, pakai mengendus-endus aroma tubuh aku yang berkeringat begini. Biasanya kamu akan memintaku untuk segera mandi setelah pulang kerja," jelas Khen menebak yang sebenarnya dia sendiri juga belum yakin.
Arumi terdiam mendengar pernyataan sang suami. Apakah benar dirinya sedang hamil?
Hai, raederku yang Budiman. Hari ini author rilis novel baru lagi ya. Yang mengisahkan seorang wanita malam mencintai seseorang duda tampan berprofesi sebagai seorang Dokter. yaitu Dokter Radit π€ mau tahu bagaimana ceritanya. yuk mampir klik profil author π
__ADS_1