
Setelah mendapatkan pemeriksaan dari Ayah, Yanju dan Aisyah sudah tak terlalu khawatir apa yang sedang mereka alami. Yanju yang sudah mengetahui akan hal itu, dia sudah tak ambil pusing bila rasa mualnya tiba, maka ia akan mencoba mencari kenyamanan dengan istirahat yang cukup dan minum vitamin yang diberikan sang ayah.
Pagi ini Pria dua puluh sembilan tahun itu sudah bersiap akan berangkat apel pagi ke kantor Polda Medan. Sudah beberapa hari Yanju izin sakit, rasanya sudah terlalu lama meninggalkan tugas negara yang harus ia emban dengan baik.
"Kamu yakin ingin tugas hari ini, Mas?" tanya Aisyah sembari membawakan secangkir teh jahe hangat yang biasa dapat membantu mengurangi rasa mual sang suami.
"Iya Sayang, enggak enak terlalu lama izin, Alhamdulillah pagi ini aku tidak terlalu mual," jelas Yanju menerima minuman yang disuguhkan oleh wanita kesayangannya.
"Sini duduk, Sayang." Yanju meminta Aisyah duduk disampingnya.
Ais segera duduk bersandar di tangan Yanju yang direntangkan di belakangnya. Tatapan mereka bertemu sembari mengulas senyum lembut dari keduanya. Rasa bahagia masih menyelimuti perasaan mereka.
"Yanju mengecup bibir Ais dengan lembut, membawanya dalam dekapan. "Terimakasih sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku," ucap Pria itu penuh haru.
"Terimakasih juga kamu sudah mau menjadi ayah dan suami yang begitu penuh kasih sayang," balas Ais semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami tercinta.
Mereka saling berpelukan menumpahkan rasa bahagia dalam hati masing-masing. Berharap kebahagiaan akan terus mengiringi rumah tangga mereka hingga akhir hayat.
"Sayang, aku berangkat ya. Kamu diruamah istirahat saja. Tadi kata ibu ada Art yang akan datang siang ini. Pokoknya mulai sekarang kamu tidak boleh kerja yang berat-berat, kamu cuma perlu fokus dengan kahamilan kamu saja."
"Baiklah, Mas." Ais tidak membantah ucapan sang suami.
"Sayang, Papa berangkat tugas dulu ya, kamu dan Mama baik-baik dirumah. Nanti sore kita jumpa lagi." Yanju pamit pada calon anaknya dan tak lupa meninggalkan jejak sayang di perut datar sang istri.
Jika Yanju dan Khenzi sedang bahagia dengan kehamilan sang istri, berbeda dengan Akhifa dan Dr Akmal. Gadis cuek bin dingin itu masih sibuk dengan dunianya, yaitu sebagai desainer fashion yang sudah beberapa tahun ini ia geluti.
Akhifa banyak menghabiskan waktu di Butik miliknya. Terkadang wanita itu lupa pulang bila sedang merancang sebuah busana yang lagi trend. Akhifa yang sudah bertunangan tidak ambil pusing akan hal itu.
__ADS_1
Beruntung Akmal adalah seorang pemuda yang penyabar dan penuh kelembutan. Pria itu selalu mengalah bila Akhifa tak berminat untuk ia ganggu waktunya.
Siang ini Akmal sudah mendarat di kota Medan, Pria itu hanya ingin bertemu dengan calon istrinya yang beberapa hari ini sangat sulit untuk ia hubungi. Akmal menuju kediaman Dokter Obgyn itu.
"Hai, Mal, kok datang tidak mengabari ibu dan ayah terlebih dahulu?" tanya ayah dan ibu menghampiri calon menantunya yang sudah duduk diruang tamu.
"Maaf, Yah, Bu. Soalnya datangnya mendadak, karena tadi memang tak ada rencana. Tetapi aku merasa khawatir tak ada kabar dari Dek Ifa," jelas Akmal.
"Loh, bukankah kalian saling berkirim kabar? Kata Akhifa komunikasi kalian lancar," jelas ibu merasa terkejut.
"Sudah beberapa hari belakangan ini, Adek susah sekali dihubungi, Bu."
"Subhanallah, anak itu benar-benar meresahkan sekali. Aduh, Ibu minta maaf atas kelakuan Ifa ya, Nak," ujar Ibu merasa tak enak hati.
"Hehe... Iya tidak apa-apa, Bu, aku paham bagaimana Adek." Akmal tak menampakkan rasa terkejut maupun kecewa.
"Iya, Yah, aku paham akan hal itu. Sebelumnya Ayah dan Ibu kan sudah pernah cerita tentang karakter Adek gimana. Jadi aku sudah tak terkejut lagi," ujar Akmal sangat memahami.
"Syukurlah, Nak, Ibu merasa lega atas pengertian kamu."
"Yah, boleh aku minta tolong pada Ayah?" tanya Akmal pada calon Ayah mertuanya.
"Apa itu, katakan!"
"Aku ingin minta tolong untuk bekerja sementara waktu di RS Ayah, aku hanya ingin dekat dengan Adek, agar aku bisa memperbaiki hubungan kami yang sudah mulai renggang. Mungkin salah satu penyebabnya karena jarak kami yang berjauhan. Karakter Adek memang sulit untuk dimengerti, tetapi aku akan berusaha untuk meluluhkan hatinya," jelas Akmal, tentu saja sangat disetujui oleh Ayah dan Ibu.
"Tentu saja, Nak, Ayah senang bila kamu mempunyai niat seperti itu. Bahkan jika kamu mau, kamu bisa praktek selamanya di RS Ayah," ucap Yandra menyetujui.
__ADS_1
Akmal hanya tersenyum menanggapi ucapan calon Ayah mertuanya. Belum terpikir olehnya akan hal itu, yang jelas sekarang ia ingin mendapatkan hati gadis itu.
Setelah mendapatkan izin dari kedua calon mertuanya. Akmal segera menyambangi Butik dimana tempat gadis dingin itu menghabiskan waktunya. Akmal mendapatkan pinjaman mobil dari Ayah mertua untuk melancarkan rencana calon menantunya yang ingin meluluhkan hati gadis kecilnya yang mendominan sifatnya itu.
"Mbak, ini tolong di kerjakan sekarang ya, soalnya hari ini yang punya akan mengambil pesanannya," ujar Akhifa pada pegawainya.
"Baik, Dek," jawab pegawai yang sudah dianggapnya kakak sendiri.
Sesampainya di Butik, Akmal segera masuk untuk mencari keberadaan calon istrinya yang nakal. Bisa-bisanya gadis itu membohongi Ibu dan ayahnya mengatakan bahwa hubungan mereka baik-baik saja.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang penjaga Butik.
"Saya ingin bertemu dengan Akhifa," ucap Akmal sembari matanya menyapu seluruh ruangan yang cukup luas itu.
"Oh, Dek Akhifa ada di ruangannya diatas lantai dua, kalau begitu tunggu sebentar biar saya panggilkan," jelas pegawai itu.
"Ah, tidak perlu. Biar saya saja yang keatas menemuinya." Akmal segera naik tanpa menghiraukan rasa cemas para pegawai itu yang takut terkena marah oleh sang majikan karena membiarkan orang naik menemuinya tanpa izin.
Tok! Tok!
Akmal mengetuk pintu ruangan khusus desainer fashion itu. Cukup lama Pria itu berdiri didepan pintu, namun belum jua ada tanda-tanda pintu dibuka, maka Akmal segera membuka tanpa izin lagi.
Akmal masuk dan melihat meja kerja wanita itu yang di penuhi kertas, pensil, pewarna masih utuh disana. Akmal mengamati peralatan untuk mendesain itu.
Sementara itu Akhifa baru saja keluar dari kamar mandi, ia di kejutkan dengan kehadiran Pria yang beberapa hari ini menurutnya sudah mengganggu konsentrasinya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰