Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Diterima


__ADS_3

"Arum, ada apa, Nak?" tanya Bunda yang mendapati gadis itu berdiri disana.


"Ah, tidak apa-apa. Bunda dan Ibu lagi ngapain?" tanya Arum berjalan mendekat.


"Ini Ibu dan Bunda lagi nyobain resep baru," jawab Ibu. "Kamu sudah makan, Nak?" tanya Ibu kembali.


"Nanti saja, Bu, belum lapar."


"Jangan suka menunda makan, Arum, nanti kamu sakit," ujar Bunda memperingati.


"Baiklah, Bun." Arumi beranjak menuju meja makan. Sebenarnya tak berselera makan, tetapi ia tak ingin membuat kedua wanita penyayang itu mencemaskan keadaannya. Arum harus terlihat baik-baik saja didepan mereka.


Arumi duduk sendiri menikmati makanannya. Porsi yang ia ambil sedikit, tetapi rasanya lama sekali habisnya.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Terdengar suara Khen mengucapkan salam menghampiri di dapur. Khen menyalami kedua wanita itu.


Arumi yang menyadari kehadiran Pria itu, ia segera fokus dengan makanannya. Tak ingin menoleh walau sedikit saja, rasanya malas sekali untuk menatapnya.


"Tumben kamu pulang siang, Bang?" tanya Bunda merasa heran pada putranya yang pulang disiang hari.


"Iya, Bun. Pengen makan siang dirumah," jawab Khen segera menuju meja makan.


Bunda dan Bu Santi hanya saling pandang. Bunda menaikkan kedua bahunya merasa tidak mengerti.


Khenzi duduk dihadapan Arumi yang sedang fokus dengan makanannya. Sadar sekali Pria itu sedang memperhatikannya sehingga membuatnya tak nyaman.


"Bisa bantu ambilkan nasi untukku?" tanya Pria itu menyodorkan piring kosong pada Arum.


Seketika gadis itu menghentikan suapannya, dan menatap Khenzi dengan tak percaya. Gemas sekali melihat kelakuan lelaki ini. Berasa tak mempunyai salah dan dosa sehingga dengan enteng meminta bantuannya.

__ADS_1


"Kenapa menatapku begitu? Kamu keberatan?" tanyanya menggunakan jurus andalan untuk membuat gadis itu merasa sungkan. Tapi tidak untuk kali ini.


"Iya, Arum keberatan. Sana telpon Rayola untuk mengambilkan Mas Khen makan," sahut gadis itu dengan tenang.


Dengan tatapan tak bisa diartikan Khenzi meletakkan kembali piringnya dan beranjak meninggalkan meja makan, ia segera masuk kedalam kamarnya. Sementara Arum hanya cuek tak menghiraukan, ia segera menyudahi makannya dan kembali masuk kamar.


Malam hari Arumi menemui sang ibu untuk membicarakan tentang dirinya yang ingin pindah kerja di luar kota tempat sang kakak bertugas.


"Ada apa, Nak?" tanya Ibu mengusap rambut putrinya yang tampak sedang mode manja malam ini.


"Bu, Arum ingin kerja diluar kota," ucap Arum yang membuat Ibu sedikit terkejut.


"Kerja diluar kota? Emang kenapa dengan pekerjaan kamu yang disini, Nak?" tanya ibu tak mengerti.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Arum hanya ingin coba tukar suasana. Lagipula Arum kerja di puskesmas tempat Kak Vera, Bu."


"Kamu yakin ingin bekerja disana? Kenapa mendadak sekali?" tanya Ibu menatap wajah Arum dengan penuh selidik. "Apakah kamu sengaja ingin menghindari Khen?" tanya sang Ibu tepat sasaran.


Arumi hanya dim menunduk, ia tak ingin berbohong pada sang ibu. Memang itulah alasan utamanya pergi untuk menepi dari perasaannya agar bisa segera terlepas dari belenggu cinta Pria kaku itu.


"Tak apa, Nak, jika memang itu keputusan yang terbaik untukmu yang penting hati kamu tenang," sahut Ibu memahami perasaan putrinya.


"Jadi Ibu izinkan Arum untuk pergi?" tanya Arum tersenyum.


"Ya, pergilah, Nak. Kalau jodoh tak akan kemana. Yang penting kamu disana harus pandai jaga diri, jangan merepotkan Kakakmu," nasehat Ibu pada anaknya.


"Alhamdulillah, terimakasih, Bu. Arum janji akan jaga diri dan tidak akan merepotkan Kak Vera," ucap gadis itu berjanji pada ibunya.


"Yasudah, kapan kamu akan pindah kesana?"


"Secepatnya, Bu, tadi Kak Vera sudah mengajukan surat lamaran untuk Arum."


"Yasudah, pastikan terlebih dahulu bahwa kamu memang diterima disana."

__ADS_1


"Baik, Bu." Arumi pamit pada sang Ibu untuk kembali ke kamarnya.


Beberapa hari menunggu kabar dari sang kakak, akhirnya siang ini Vera menghubungi Arumi bahwa dirinya sudah pasti di terima di puskesmas tempat Vera bertugas, tentu saja membuat Arum senang mendengar kabar itu.


Arumi segera mengatakan pada Dr Radit prihal dirinya yang ingin pindah kerja, dan Dr Radit merasa tak percaya dengan keputusan Arumi yang terkesan mendadak.


"Kenapa kamu harus mendadak seperti ini, Arum? Apa yang membuat kamu harus pindah kerja keluar kota? Apakah karena Rafif yang selalu membuat hubungan kamu dan Khen renggang? Kalau soal itu aku berjanji akan memastikan Rafif tidak akan menggangu kamu lagi, Arum," ucap Dr Radit merasa tidak enak.


"Tidak, Dok. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Rafif. Ini memang sudah keinginan Arum untuk pindah kerja. Arum juga minta maaf karena tak bisa lagi menemui Rafif. Semoga nanti suster pengganti Arum bisa membuat Rafif lebih bahagia lagi."


"Baiklah kalau begitu, Arum, aku juga tidak bisa menahanmu. Semoga ditempat baru bisa membuat hatimu nyaman dan bahagia," ucap Dr Radit mendo'akan yang terbaik.


"Aamiin, terimakasih untuk do'anya, Dok, kalau begitu Arum pamit pulang dulu."


"Ya, hati-hati."


Arumi segera pulang untuk menyampaikan kepada ibu bahwa dirinya sudah diterima bekerja di puskesmas tempat sang kakak bertugas.


Disebuah ruangan dua insan sedang berseteru untuk mencari pembenaran dan meyakinkan. Rayola menuntut Khenzi untuk kembali menjalin hubungan dengannya.


"Sudahlah, Yola, hubungan diantara kita sudah berakhir. Aku tak bisa memaksakan perasaan yang sudah hilang untukmu," ujar Khen memberi pengertian kepada Yola.


"Semudah itukah kamu mengatakan hal itu, Mas? Setelah apa yang sudah aku lakukan demi meyakinkan dirimu! Jadi untuk apa kamu datang padaku dan menantang untuk mengetahui kesucianku! Kamu anggap aku ini apa, Mas?!" pekik wanita itu murka.


"Tentu saja aku meragukan dirimu, karena kamu pernah mengkhianatiku. Ya, waktu itu aku memang tertantang untuk mengetahui senakal mana dirimu. Tetapi, aku bersyukur setidaknya kamu masih bisa menjaga kehormatanmu. Awalnya aku memang ingin mencoba untuk menjalin hubungan lagi denganmu, tetapi beberapa hari ini aku sudah tak merasakan apapun saat dekat denganmu. Bahkan hatiku sudah tak bergetar lagi. Aku baru menyadari bahwa cintaku hanya untuk Arumi!" tegas Khen pada Rayola.


"Dasar stress! Aku benci dengan kamu! Aku berharap tidak akan ada wanita yang mau menerima lelaki plin-plan sepertimu!" Yola memukulkan tasnya berulang kali pada Khen sebelum ia meninggalkan ruangan direktur utama perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan bahan dasar karet itu.


Khen hanya menghela nafas berat sembari memijat pelipisnya. Khen terduduk lesu berusaha menenangkan perasaannya yang sedang kalut. Merasa sudah cukup tenang, Pria itu segera bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan kantor.


Khen ingin bicara dengan Arum, ia harus meluruskan segalanya dan meminta maaf pada gadis itu yang telah ia lukai perasaannya.


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2