Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Makan malam


__ADS_3

Khenzi segera merenggangkan tubuhnya dari gadis itu. Kembali suasana hening. Khen masih fokus mengemudi, sementara Arum hanya menatap lurus kedepan.


"Sudah makan?" tanya Khen mencoba mengalah melawan ego, maka dia memulai percakapan terlebih dahulu.


"Nggak lapar," jawab Arum datar.


"Temani aku makan ya."


"Nggak ah, lagi nggak minat."


"Kenapa? Kalau Dokter Radit yang ngajakin baru minat?" sindir Khen menatap Arum sehingga tatapan mereka bertemu.


"Kok bawa-bawa dr Radit sih, Mas?" tanya Arumi mulai terpancing.


"Loh, kan memang itu kenyataannya."


"Kenyataan apa? Kapan Arum minat bila diajak olehnya? Ish, apaan sih kamu, Mas. Udahlah, nggak usah memperpanjang masalah!" tutur wanita itu menatap keluar jendela mobil.


"Kalau tidak ingin memperpanjang masalah, tapi kenapa kamu menolak ajakanku. Sebenarnya kamu itu gimana sih sama aku? Apakah kamu tidak berminat untuk menikah denganku?"


Arum menatap Khen dengan rasa heran tak terduga. Kenapa Pria itu bicara ngalur ngidul sampai menyinggung pernikahan. Padahal dirinya hanya ingin Khen meminta maaf, maka masalah segera kelar. Dan mungkin Arumi juga lupa dengan sikap asli Pria itu yang sebenarnya.


"Mas, kenapa kamu bicara sampai kesana? Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya ingin kamu mengerti aku! Kenapa sih kamu tidak paham akan hal itu."


"Arum, dari semula aku sudah katakan bahwa aku tidak bisa seperti lelaki lain. Aku ini lelaki yang banyak kekurangan. Lihatlah sekarang kamu sudah mulai kecewa denganku!" ujar Pria itu menepikan mobilnya kembali.


Arumi memberanikan diri untuk menatap Pria itu. Dia baru menyadari bahwa Khenzi bukanlah lelaki yang peka, kenapa dirinya bisa melupakan hal itu.


"Mas, Arum minta maaf," ucap wanita itu dengan air mata yang sudah jatuh berderai.


Khenzi menatap gadis itu dengan iba. Tidak tahu harus bersikap apa, dirinya yang kaku tidak bisa memahami apa yang di inginkan wanitanya saat sedang berdebat seperti ini.


"Arum, apakah kamu marah padaku? Apakah sikapku ini sudah keterlaluan dan membuatmu tidak nyaman? Maafkan aku." Tangan Pria itu terulur mengusap air mata yang jatuh di pipi mulus wanita yang berstatus tunangannya.


"Tidak, Mas. Arum seharusnya memahami kamu. Maaf jika Arum melupakan hal itu," lirih Arum dengan tangis yang belum mereda.


"Arum, coba katakan padaku. Sebenarnya apa yang di inginkan wanita bila dia sedang merajuk?" tanya Khen, sepertinya dia ingin tahu dan ingin memahami hati wanita.

__ADS_1


"Wanita itu tidak butuh berdebat, Mas. Wanita hanya butuh lelakinya meminta maaf agar semua masalah selesai."


"Apakah tadi aku sudah menyakiti perasaanmu?"


Arum menatap wajah lelaki itu kembali. Ternyata Khen tidak menyadari dimana kesalahannya. Ah, dasar yang mulia kaku, ternyata masih ada lagi kekurangan selain masalah kaku dan dingin, yaitu dia juga Pria amnesia.


Ayo semangat Arum. Jangan mudah menyerah, kamu harus bisa membuat Pria ini jatuh cinta hingga segala penyakit yang ada bisa terobati oleh kebucinannya.


"Tentu saja kamu menyakiti perasaan Arum, Mas," jawab wanita itu dengan jujur, dan bernada manja. Sepertinya menghadapi Pria dingin dan kaku harus dengan kemanjaan dan lembut.


"Benarkah? Katakan, dimana kesalahanku?"


"Hiks... Kamu tadi bentak aku didepan orang, Mas." Wanita itu mulai mendrama untuk menarik perhatian Khen.


"Ya Allah, jadi tadi kamu tersinggung dengan ucapanku itu. Baiklah, aku minta maaf ya, kamu mau memaafkan aku 'kan? lagian kamu itu membuat aku kesal sih, pakai nyalahin aku segala," tutur Khen, merasa bersalah dan tak ingin disalahkan.


"Arum tidak menyalahkan kamu, Mas. Arum hanya minta Mas bisa menjaga perkataan dengan Rafif. Kita pasti akan memberitahunya, tetapi tidak harus terburu-buru, Mas. Padahal Arum hanya ingin menepati janji Arum padanya, dan setelah itu Arum sudah berjanji akan berusaha menjarak pada mereka," jelas Gadis itu, menunduk kebawah tak berani menatap meterannya.


"Dek, maaf ya. Aku akan berusaha lagi untuk mengerti dan memahami kamu. Kalau soal Rafif, sudahlah tidak usah di perpanjang. Aku sengaja mengatakan hal itu lebih tepatnya untuk menyadarkan ayahnya. Aku tidak mau Dokter itu masih menaruh harapan padamu."


Arum hanya mengangguk, tak ingin lagi membahasnya. Mencoba untuk memahami keinginan Pria itu.


"Hmm, tentu saja."


"Mas Khen, cemburu dengan Dr Radit?" tanya Arum ingin tahu perasaan Pria itu.


"Tentu saja aku cemburu. Kamu itu tunangan aku, lebih tepatnya calon istriku. Dan aku tidak akan membiarkan ada orang lain menaruh harapan padamu," jawab Khen jujur adanya.


"Biasanya orang cemburu itu menandakan cinta. Apakah Mas Khenzi mencintai Arum?" akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk menanyakan hal itu. Dia juga penasaran selama ini Khen belum pernah mengungkapkan perasaannya.


"Tidak usah membahas tentang itu!" ujar Khen tegas, dan kembali menjalankan mobilnya.


Terasa sakit dihati Arum saat mendengar jawabannya. Berharap Khen akan mengungkapkan perasaannya, nyatanya Pria itu masih enggan. Apakah cintanya memang hanya untuk Rayola?


Dengan perasaan entah, Arum diam tak ingin lagi bertanya. Ia mencoba memejamkan mata berharap sekali malam ini mendapatkan jawaban dari Khen tentang perasaannya tetapi Pria itu tak mengatakan yang sebenarnya, sehingga muncullah berbagai macam dugaan dalam hati gadis itu.


Setibanya dirumah, Arum segera menuju kamarnya, ia mencoba menahan perasaan untuk memahami sikap Pria itu. Meskipun harus berperang melawan hatinya sendiri.

__ADS_1


"Jangan tidur dulu, Arum. Ayo kita makan, tadi kamu tidak mau aku ajak makan malam diluar," ucap Khen menahan langkah Arum yang hendak masuk kamar.


"Arum capek, Mas. Ingin langsung istirahat," balas wanita itu tak semangat.


"Iya, tapi makan dulu. Nanti kamu sakit karena sering melupakan makan."


Gadis itu menghela nafas dalam. Ingin membantah, tetapi tak ingin membuat Pria kaku itu salah mengartikan lagi. Maka dengan berat hati Arum mengangguk mengikuti.


Setelah membersihkan diri, dan menukar pakaiannya. Arum menuju kamar sang Ibu untuk melihat apakah ibunya sudah tidur.


Perlahan Gadis itu mendekati ranjang ibunya, mengambil tangan wanita baya itu dan mengecupnya. Sedih saat mengingat ada orang yang menghina pekerjaan ibunya, sedangkan dirinya sangat bangga dengan sang ibu. Walau hanya sebagai seorang pembantu ibu mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang yang tinggi.


Sebenarnya Arum dan kedua kakak-kakaknya sudah meminta Ibu untuk berhenti bekerja dan menetap di kampung, karena untuk membiayai kebutuhan beliau rasanya sudah lebih dari cukup. Tetapi entah kenapa Ibu begitu menyayangi keluarga Jendral itu sehingga beliau masih tetap ingin bekerja dirumah itu. Mungkin karena Ibu sudah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri, karena mereka memperlakukan ibu dan anak-anaknya sangat baik.


Cukup lama Arum duduk menatap wajah damai sang Ibu saat tertidur pulas, Arum memperbaiki selimutnya, dan kembali keluar untuk menuju meja makan.


Wanita itu segera memanasi makanan yang sudah dingin. Khenzi datang dan segera menduduki kursinya. Arum tetap fokus dengan pekerjaannya, tak menghiraukan Pria itu yang selalu memperhatikan.


Arum mengisi piringnya sendiri. Dan mengambil posisi duduk berhadapan dengan Pria itu. Tak ada percakapan yang keluar dari bibirnya.


Saat ingin menyuap, Arum melihat Pria itu masih diam tak beraksi untuk mengisi piringnya sendiri.


"Kok diam, Mas? Katanya lapar, kenapa piringnya tidak diisi?" tanya Arum pada Pria kaku yang hanya memperhatikannya.


"Nungguin kamu yang ambilkan," jawabnya santai.


Arum mengerutkan keningnya merasa tidak percaya. Kenapa Pria ini mendadak manja.


"Kenapa kamu menatapku begitu? Kamu keberatan?" tanya Khen menaikan sebelah alisnya.


"Ah, tidak. Tapi tadi kenapa kamu tidak bilang sekalian minta aku ambilkan," ucap Arum segera berdiri untuk mengisi piring Pria itu.


"Makan, Mas," ucap Arum sembari menyerahkan piring yang sudah terisi.


"Gitu dong. Kamu harus belajar untuk jadi istri yang pandai melayani suami dengan benar," tandasnya.


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2