Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Ekstra part 4


__ADS_3

Setelah menyuapi Arum makan, dan memastikan bahwa wanita itu sudah kenyang. Maka Khen segera pamit sebentar untuk membeli tespeck untuk memastikan bahwa istri itu benar hamil atau tidak.


"Mana tespecknya?" tanya Bunda dan Bu Santi sudah berada dikamar anaknya.


"Ini aku beli ada tiga macam," ujar Khen menyerahkan benda penguji kehamilan itu.


"Ayo, Nak, kamu coba sekarang!" titah sang Bunda pada menantunya.


"Baiklah." Arum segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi dengan membawa benda yang baru saja dibeli oleh suaminya.


Cukup lama wanita itu berada di kamar mandi sehingga membuat semua orang yang ada disana sedikit gelisah.


"Sayang! Udah, belum? Kenapa lama sekali kamu didalam?" seru Khen mondar-mandir tak jelas.


Tak berapa lama pintu kamar mandi itu terbuka. Arum keluar dengan senyuman. Wanita itu masih menggengam benda pipih itu.


"Sayang, bagaimana hasilnya?" tanya Khen sangat penasaran.


"Hmm..."


"Ihh, kenapa suka sekali buat suamimu ini penasaran sih, Dek," ucap Khen yang segera mengambil benda keramat yang ada di genggaman sang istri, lalu menerawangnya dengan seksama.


"Garis dua tandanya apa, Bun?" tanya Khen pada sang Bunda.


"Alhamdulillah, serius garis dua?" tanya Bunda yang ikut mengamati alat penguji kehamilan itu.


"Iya, garis dua, Mbak!" pekik Bunda pada Kakak besannya.


"Alhamdulillah, selamat ya, Nak. Kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik, semoga sehat selalu hingga lahiran," ucap Bu Santi memeluk putri bungsunya itu.


"Aamiin, Terimakasih ya, Bu." Arum tersenyum bahagia memeluk sang ibu.


"Selamat ya, Nak, Bunda sangat bahagia. Kamu harus jaga kesehatan. Do'a kami selalu menyertaimu," ujar Bunda memeluk anak menantunya.b


"Terimakasih, Bun."


"Yaudah, sekarang kamu istirahat ya. Kamu mau apa? Biar Bunda dan Ibu buatin," tawar Bunda pada arumi.


"Lagi nggak pengen apa-apa, Bun," jawab Arum jujur.

__ADS_1


"Baiklah, nanti kalau kamu ingin sesuatu beri tahu kami ya," ucap Ibu.


"Iya, Bu."


Setelah kedua wanita baya itu keluar, kini tinggal Khen dan Arumi. Pria itu sedari tadi hanya diam. Masih bingung bagaimana cara menggambarkan rasa syukur dan bahagia dirinya atas kabar gembira ini.


Khen menghampiri sang istri yang masih mematung. Khen meraih tangan wanita kesayangannya, yaitu calon ibu dari anaknya.


"Dek, terimakasih sudah mewujudkan keinginan aku. Aku sangat bahagia akhirnya tidak lama lagi akan menjadi seorang Ayah. Sekali lagi terimakasih wanita hebatku, semoga kamu dan calon anak kita sehat selalu," ungkap Pria itu dengan mata berkaca-kaca.


"Arum juga sangat bahagia dengan semua ini, Mas, terimakasih sudah menyayangi Arum dan perhatian," balas wanita itu berhambur masuk dalam dekapan sang suami.


"Adek tidak keberatan dengan kehamilan ini 'kan?" tanya Khen, takut bila wanita itu belum siap dengan semua ini.


"Kenapa Arum keberatan, Mas? Kan Arum sudah pernah bilang, kalau Arum hamil, Arum akan menunda kuliah dulu. Arum hanya akan fokus dikamu dan calon anak kita," jelas wanita itu yang membuat hati Khen bertambah bahagia.


"Terimakasih Istriku Sayang. Sekarang katakan, kamu mau apa dariku? Cinta, Sayang, atau seluruh jiwa ragaku?" tanya Khen yang membuat Arum tertawa gemas.


"Hahaha... Lebay banget sih gombalan kamu itu, Mas."


"Eh, ini serius, Dek. Apapun akan aku berikan untukmu."


"Iya, Arum percaya dengan segala ucapan kamu. Sekarang Arum pengen makan masakan dari kamu, Mas, kamu mau kan buatin untuk Arum?"


"Masakin sesuatu buat Arum, Mas."


"Aku yang masakin?" tanya Khen bingung.


"Iya, kenapa? Kamu keberatan? tadi aja bilangnya rela memberikan jiwa dan raganya, minta masakin sesuatu aja bingung. Hah, dasar mulut lelaki," rutu wanita itu ingin beranjak keluar kamar.


"Eh, eh. Jangan ngambek dong Sayang. Oke, akan aku lakukan semua untukmu. Apakah ini permintaan anak Papa?" tanya Pria itu berjongkok dihadapan Arum sembari mengusap perut datar istrinya.


"Iya Papa, aku pengen makan masakan dari Papa," jawab Arum menirukan suara anak kecil, sehingga membuat Khen gemas dan kembali berdiri mengecup seluruh wajah sang istri.


"Ayo sekarang kamu duduk manis disini. Aku akan masak sesuatu buat kamu."


Arumi mengangguk patuh duduk cantik menunggu request nya tiba. Khen segera keluar kamar menuju dapur untuk memasak sesuatu sesuai keinginan sang istri.


***

__ADS_1


Malam ini Yanju pulang terlambat, karena banyak kasus yang sedang ditanganinya di kantor. Setibanya dirumah Pria itu segera menghampiri sang istri yang tampak sudah tidur.


Yanju memberi kecupan hangat di kening Aisyah. Wanita itu bergeming. Sebenarnya sedari tadi dia tidak tidur karena hatinya sedikit kesal karena suaminya sudah melupakan janji mereka untuk dinner malam ini.


Yanju segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Pria itu selesai mandi, dia melihat Ais sedang menyediakan pakaian ganti untuknya.


"Hei, udah bangun, Sayang, maaf tadi tidak bangunin kamu, terlihat tidur kamu begitu lelap," ucap Pria itu sembari menerima pakaian yang diberikan oleh Ais.


"Ya, tidak apa-apa," jawab Ais datar membuat telinga Yanju tidak nyaman mendengarnya.


"Dek, bantuin dong." Pria itu meminta Ais membantu mengancingkan kemeja yang ia kenakan.


Ais hanya mengangguk membantu mengancingkan kemeja itu. Wajahnya masih ditekuk. Yanju semakin bingung, ada angin apa wanita cantik ini. Kenapa sikapnya mendadak berubah.


Cup


Yanju mengecup bibir Ais yang sedari tadi susah menemui senyum. Wanita itu menatap sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangan.


"Sayang, kamu kenapa sih? Lagi PMS ya?" tanya Yanju.


"Nggak, lagi kesal sama seseorang yang PHP," jawab Ais masih fokus dengan aktivitas tangannya.


"PHP? Siapa?" tanya Yanju mendadak amnesia.


"Ck, udah ah nggak usah dibahas."


"Eh, nggak boleh gitu dong ngomongnya. Kalau ngejelasin itu harus tuntas biar jelas duduk perkaranya."


Ais hanya menatap malas pada suaminya itu. Setelah membantu suaminya mengenakan pakaian, Ais segera beranjak keluar menuju dapur. Yanju mengekor dibelakang. Masih bingung dengan sikap sensi wanita itu yang tak jelas.


"Masak apa hari ini, Sayang?" tanya Yanju.


"Nggak masak," jawab Ais bertambah kesal. Padahal tadi pagi Pria itu sendiri yang melarangnya untuk masak karena mereka sudah janjian untuk makan diluar malam ini.


"Kenapa tidak masak, Sayang? Kamu lagi nggak enak badan ya? Yaudah, kita delivery saja ya," tawar Pria itu.


"Nggak usah, Mas, Ais nggak sakit apa-apa sehat banget malah. Kenapa Ais tidak masak, itu karena ada seseorang yang yang ngelarang, dan berjanji untuk bawa Ais makan malam diluar," jelas wanita itu dengan jutek.


"Astaghfirullah, aku benar-benar lupa, Dek. Lagian kamu kenapa tidak mengingatkan aku," ucap Pria itu yang baru ingat janjinya pada sang istri. Baru sadar kenapa wanita itu menjadi jutek.

__ADS_1


Ekstra part 4


Happy reading 🥰


__ADS_2