Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Pertikaian


__ADS_3

Setelah beberapa hari sejak pertemuan Arum dan Rafif, kini wanita itu kembali bertugas di pagi hari, yaitu seperti biasanya menjadi suster pendamping Dokter Radit Sp. Penyakit dalam.


Terlihat sikap Dokter Radit tak seperti biasanya. Pria dewasa itu banyak diam, dia akan bicara bila seperlunya saja. Entahlah, apakah dia kecewa saat mengetahui yang sebenarnya bahwa Arum sudah mempunyai tunangan.


Siang disaat Arum hendak pulang, langkahnya terhenti saat Dr Radit memanggilnya.


"Arum, bisa kita bicara sebentar?" tanya Dokter itu sembari mengikuti langkah Arumi.


"Bicara apa, Dok?" tanya Arum


"Ah, Arum, untuk kali ini saja aku mohon tolong temui Rafif sebentar saja. Tolong bujuk dia untuk makan, sungguh aku bingung harus berbuat apa. Sudah beberapa hari ini Rafif tak ingin makan apapun. Aku membawanya ke RS dan dirawat karena kondisinya menurun, aku mohon, Arum, Demi Rafif."


Dr Radit memohon dengan wajah sedih. Tak tahu harus berbuat apa dengan kondisi putranya sekarang.


"Se-sejak kapan Rafif dirawat, Dok? Kenapa Dokter baru bicara sekarang?" tanya Arum merasa begitu kaget dengan kondisi Rafif.


"Aku hanya tidak ingin membuat hubungan kamu dan tunanganmu memburuk. Aku juga tidak ingin Rafif masih berharap lebih padamu. Tapi saat ini aku sungguh tak bisa lagi berpikir selain meminta pertolonganmu," jelas Dokter Radit dengan wajah memelas.


Arum merasa sedih mendengar kabar dari Dokter itu. Dia menyanggupi permintaan sang dokter untuk menemui Putranya.


"Bagaimana keadaan Rafif, Sus?" tanya Radit pada sister yang dikhususkan untuk menangani bocah kecil itu.


"Masih sama, Dok. Dia masih tak ingin makan hanya ingin bertemu dengan suster Arum," ucap sang perawat pada Radit dan menyapa Arumi dengan ramah. Tentu saja mereka saling kenal.


Arum segera masuk kedalam kamar rawat, dia melihat Rafif tidur dengan gelisah. Arumi mendekati bocah kecil itu. Tubuh bocah itu tampak susut dan pucat. Mungkin karena sudah beberapa hari tidak makan.


"Tante Arumi, jangan pergi! jangan pergi tinggalkan Rafif, Tante...!" Jerit Rafif dalam tidurnya.


"Rafif, kamu kenapa Sayang? Hei, bangunlah. Ini Tante, Sayang." Arum membangunkan bocah itu dengan lembut.


"Tante! Apakah ini nyata? Tante Arumi disini?!" pekik Rafif dengan senyum berbinar melihat kehadiran Arumi.


"Iya, Sayang. Tante disini temui kamu. Rafif kenapa tidak mau makan?" tanya Arum sembari memperbaiki rambut bocah itu.


"Aku tidak mau makan, aku ingin Tante selalu ada disini temani aku. Tante, kenapa Tante harus menikah dengan Oom yang kemarin? Kenapa Tante tidak menikah saja dengan Papa? Aku ingin Tante jadi Mama aku," ucap Rafif dengan segala pertanyaan.


"Sayang, kamu ingin Tante ada disini 'kan?" tanya Arum dengan halus.

__ADS_1


Bocah itu hanya mengangguk pelan. Merasa sedih kenapa wanita yang diinginkan menjadi ibunya itu tidak menjawab pertanyaannya.


"Ayo makan, Sayang," Arum mengambil mangkok bubur yang ada di nakas. Lalu menyuapi bocah itu.


"Kenapa? Rafif tidak ingin makan? Kan, Ante jadi sedih, padahal Ante sengaja datang untuk bertemu dengan kamu tetapi malah tidak ingin makan," ucap Arum memasang wajah sedih didepan sang bocah.


"Baiklah, Tan, aku akan makan. Tante temani aku makan ya."


"Tentu, Sayang, Ante pasti akan menemani kamu. Ayo aaa, buka mulutnya." Arumi menyuapi bocah itu dengan sabar hingga bubur itu habis tak bersisa.


"Udah kenyang?" tanya Arum memperbaiki duduk Rafif ditopang bantal bersandar dengan nyaman.


"Rafif ingin makan buah?" tanya Arum, ia kembali mencoba membujuk bocah itu.


"Mau, Tan. Aku ingin buah jeruk," jawab Rafif merasa semangat dengan kehadiran Arumi.


"Hmm, baiklah." Arumi mengupas satu buah jeruk dengan sabar membersihkan, lalu menyerahkan pada sang bocah.


"Anak pintar. Mulai sekarang Rafif tidak boleh mogok makan lagi ya. Anak Sholeh harus makan yang banyak," ucap Arum menyemangati.


"Baiklah, Tante, tapi aku masih boleh ketemu dengan Tante 'kan?" tanya Rafif berharap.


Kini Rafif sudah kembali ceria, Arumi dengan sabar menjawab pertanyaan bocah kecil itu. Dan dengan perlahan gadis itu memberi pengertian tentang hubungannya dan Khen. Rafif sepertinya sudah mulai mengerti, namun dia berharap Arum tidak akan melupakannya meskipun tak menjadi ibu sambungnya.


Tentu saja Arumi menyanggupi, dan wanita itu juga merasa lega, akhirnya Rafif bisa mengerti. Arum rasa Khen tidak akan keberatan bila mengetahuinya, yang penting mereka saling menjaga, Dr Radit juga sudah tahu tentang hubungan mereka, dan dia juga berusaha untuk menjaga jarak. Ini semua murni hanya karena Rafif.


Bocah itu sudah tertidur pulas, setelah makan dan minum obat. Arumi mengusap kepala Rafif dengan lembut, Arum memang menyayanginya seperti keponakan sendiri.


"Arum, terimakasih banyak atas bantuan kamu ya. Maaf jika aku merepotkan kamu," ucap Dr Radit sembari berjalan keluar ruangan mengantarkan Arumi.


"Sama-sama, Dok. Semoga setelah ini kondisi Rafif membaik," balas Arum.


"Aamiin... Sekali lagi terimakasih ya," ucap Pria itu mengulas senyum lembut.


"Arumi!"


Panggil seseorang dengan nada tinggi yang membuat gadis itu maupun Dr Radit terjingkat. Ternyata Khenzi sudah menyorot dengan tajam.

__ADS_1


"Mas Khen!" Arumi segera menghampiri pemuda itu. Tetapi Khenzi mengacuhkannya dan menghampiri Dr Radit.


"Apakah ucapanku kemaren tidak menyadarkan kamu? Apakah tidak ada wanita lain untuk kamu dekati selain tunangan orang?!" Hardik Khen pada Dr Radit.


"Khen, aku minta maaf, sepertinya kamu hanya salah paham," ucap Dr Radit tetap tenang.


"Tutup mulutmu itu!" Khen menolak dada Dr Radit, untuk mencari perlawanan.


"Mas Khen, jangan seperti ini, Mas! Kamu hanya salah paham!" seru Arumi merasa malu karena ulah Pria itu untuk yang kedua kalinya.


"Apa? Kamu membela dia, iya?!" bentak Pria itu pada Arum.


"Oke, Arum, jika kamu lebih nyaman dengan dia silahkan kamu bersamanya!" seru Khen dan beranjak pergi meninggalkan Arum dan Dr Radit.


"Mas, tunggu!" Arumi mengejar, tetapi Pria itu sudah tak peduli.


Khen masuk kedalam kendaraannya dengan amarah yang memuncak. Arumi juga ikut masuk.


"Keluar!" bentak Khen membuat Arumi kaget.


"Mas, kamu usir Arum?" tanya Arum tidak percaya.


"Iya, aku usir kamu! Bahkan aku akan mengusirmu dari hatiku!" seru Pria itu masih mode nada tinggi.


"Mas, jangan seperti ini. Arum bisa jelasin semuanya."


"Apa yang ingin kamu jelaskan? Kamu tahu, aku sudah satu jam lebih menunggu, dengan perasaan kalut dan cemas. Bahkan aku mencarimu ke ruang praktek Dokter itu. Dan berapa kali aku mencoba menghubungimu tetapi kamu sama sekali tidak menjawab! Hng! Ternyata kamu sedang asyiknya dengan dokter itu!" ucap Khen dengan senyum sinisnya.


"Mas, Arum benar-benar minta maaf, tadi ponsel Arum masih mode silent karena Arum..."


"Iya, karena kamu tidak ingin aku mengganggu kebersamaanmu dengan Dokter itu 'kan? Aku benar-benar kecewa dengan kamu Arum. Mana yang katanya kamu ingin berusaha untuk membuat aku melupakan Rayola? Mana? Bahkan sikapmu ini membuatku semakin ingin kembali lagi dengannya!"


Seketika air mata wanita itu jatuh berderai saat mendengar kalimat menyakitkan itu. Kenapa Pria itu tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Bahkan dia begitu tega mengatakan hal itu.


"Baiklah, jika itu mau kamu, Mas. Mungkin aku memang tidak bisa membuatmu untuk move on dari mantanmu. Jika itu keputusanmu aku terima. Sepertinya usahaku beberapa bulan ini tak pengaruh apapun bagimu." Arumi membuka cincin tunangan itu dan memberikan pada Khen. Wanita itu segera keluar dari mobilnya.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2