
Tak terasa waktu tiga bulan berjalan begitu cepat. Hari ini Khanza dan kedua anaknya sudah tiba di kota Medan bersama keluarganya yang ada di Padang. Yaitu Papa dan Bunda juga Khen dan Arumi, dan Ibu Santi.
Semua persiapan resepsi pernikahan mereka sudah 95 persen hampir rampung. Hanya tinggal beberapa hal kecil lagi yang perlu di selesaikan.
Pesta pernikahan ini terbilang cukup besar, karena akan di tempati tiga pasangan pengantin yang akan duduk berjejer di atas pelaminan yang sama.
Sore ini Yusuf pulang dengan wajah bahagia, karena tadi dia mendapat telpon bahwa sang istri dan keluarga sudah tiba dikediaman.
"Sayang, aku pulang!" seru Yusuf memasuki kamarnya. Sesaat Pria itu tertegun melihat kamar itu masih kosong tak ada penghuninya.
"Sayang! Dek!" panggil Yusuf sembari memeriksa ruangan itu dan membuka pintu kamar mandi, memang tak ada siapapun. Jikapun Khanza sudah datang tentu saja anak-anak ada disana.
"Bik, Khanza dan yang lainnya mana? Istri saya sudah datang 'kan?" tanya Yusuf pada Art
"Nyonya Anggi dan Tuan Malik beserta anak-anaknya pergi ke kediaman Den Yandra. Tetapi kalau Mbak Khanza..." Ucapan art terhenti.
"Kenapa dengan Khanza, Bik?" tanya Yusuf tak sabar.
"Ah, Mbak Khanza di jemput dengan temannya," jawab Bibik.
"Teman? Teman siapa? Perempuan atau laki-laki?" tanya Yusuf curiga.
"Laki-laki, Mas, katanya teman lama waktu di kota Padang. Kalau nggak salah Bibik, dia juga seorang Dokter."
Seketika wajah Yusuf berubah menjadi merah. Tak lain dan tak bukan yang dimaksud Bibik adalah Dokter Akmal. Untuk apa Dokter itu datang membawa istri dan anak-anaknya pergi.
Yusuf segera menghubungi sang istri dengan perasaan berkecamuk.
"Assalamualaikum, Mas..."
"Wa'alaikumsalam. Dek, kamu dimana sekarang?" tanya Yusuf sungguh tak sabar.
"Aku lagi di hotel, Mas, mau nenangkan pikiran."
"Khanza, apa yang kamu lakukan di hotel? Katakan di hotel mana?" tanya Yusuf penuh amarah. Setelah mendapatkan alamat yang diberikan oleh Khanza, Yusuf segera melajukan kendaraannya.
Tak berselang lama mobil itu sudah menepi di parkiran hotel. Yusuf segera turun dan mencari nomor kamar yang tertera.
Terlihat pintu kamar itu terbuka lebar. Yusuf segera masuk tetapi hanya menemukan kedua anaknya dan juga pengasuhnya.
"Mana Khanza?" tanya Yusuf menahan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Ibu Khanza sedang makan di restoran, Pak," jawab kedua pengasuh bayi itu.
__ADS_1
Yusuf menghampiri kedua anaknya, ada rasa sakit direlung hati saat menatap kedua wajah bayi tak berdosa itu. Kenapa Khanza setega ini pada mereka. Ini rasanya lebih sakit saat mengetahui sang istri mulai bermain api dibelakangnya.
Pria itu mengecup kedua anaknya. Menimang sebentar. Setelah itu ia kembali menitipkan Rizqi dan Yuza pada kedua pengasuh itu.
"Saya titip mereka sebentar ya, Mbak. Nanti akan saya ambil kembali. Katakan di restoran mana Khanza dinner?" tanya Yusuf berusaha tetap tenang.
"Kata Ibu Khanza cuma di restoran hotel ini, Pak."
Yusuf segera keluar dari kamar hotel, dengan langkah lebar, Pria itu mencari keberadaan sang istri yang dianggap telah berkhianat.
Yusuf melihat Khanza sedang duduk sendiri. Kemana lelaki itu? Yusuf segera menghampirinya.
"Khanza, apa yang kamu lakukan disini? Ayo kita pulang sekarang!" Yusuf menarik tangan Khanza untuk membawanya pergi.
"Nggak mau, Mas, aku mau makan dulu!" sentak wanita itu dengan sikap dingin.
"Dek, apa yang kamu lakukan padaku? Siapa laki-laki yang bersamamu tadi? Kenapa dia berani sekali membawamu pergi dan anak-anakku? Mana dia? Aku akan memberinya pelajaran!" Yusuf sudah tak bisa menahan emosinya.
"Siapa, Mas? Nggak ada siapa-siapa."
"Dek, apa maumu sekarang? Katakan!"
"Mauku? Ya, mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk suamiku tersayang dan terkasih. Barakallah fii umrik, Mas!" ucap Khanza tertawa konyol melihat raut wajah sang suami yang dari tadi sudah menyeramkan.
"Masya Allah, Dek. Kamu benar-benar membuat aku spot jantung." Yusuf tak kuasa menahan haru. Pria itu segera mengusap air di kelopak matanya yang tergenang. Ini kejutan benar-benar memancing emosi jiwa.
Mereka semua mengucapkan selamat hari lahir dan memberikan Do'a untuknya. Yusuf benar-benar tak bisa bicara sepatah katapun. Pria itu hanya terduduk di bangku dengan mengusap wajahnya.
"Uuu, kok sedih Mas? Maaf ya jika kejutannya menguras emosi jiwa. Hehe... Senyum dong suamiku." Khanza membawa Pria itu untuk kembali berdiri.
"Selamat ulang tahun imamku, ayah dari anak-anakku. Semoga sisa umurnya berkah, makin sayang pada kami. Dan selalu dalam lindungan Allah SWT." Khanza memeluk Yusuf.
"Aamiin ya Rabb. Terimakasih Sayang, terimakasih atas kejutan yang hampir meluluhlantakkan hatiku." Yusuf mengecup kening Khanza dengan sayang dan gemas.
"Eh, tunggu dulu! tadi Bibik bilang kamu dijemput oleh teman kamu yang di Padang, seorang Dokter juga. siapa dia?" tanya Yusuf masih curiga.
"Dokter Akmal."
"Dokter Akmal? Untuk apa dia menjemputmu? dan ngapain dia datang kesini?" tanya Yusuf masih memberondong.
"Ish, jangan buruk sangka dulu. Dia datang kesini bukan untuk aku. Tetapi di datang menemui seseorang."
"Seseorang? Siapa?"
__ADS_1
"Tuh lihat dimeja sana!" Khanza menunjuk meja yang ada dipojokkan.
Yusuf sedikit terpana. Melihat pasangan itu. "Akhifa! Ini apa maksudnya, Dek?" tanya Yusuf belum mengerti.
"Iya, Mas. Dr Akmal dan keluarganya datang kesini untuk mengadakan pertunangan Akhifa dan dan Dr Akmal," jelas Khanza.
Yusuf baru menyadari bahwa Dr Akmal dan Akhifa sudah bertunangan. Pasangan itu mendekati mereka.
"Selamat ulang tahun. Maaf sudah membuat kamu was-was. Habisnya Khanza yang memintaku untuk membantunya," ucap Akmal menyalami Yusuf.
"Ah, terimakasih. Dan selamat juga atas pertunangan kalian. Semoga lancar hingga halal," balas Yusuf menjabat dan memeluk Pria yang pernah membuatnya cemburu.
"Selamat ulang tahun, Mas Yusuf, semoga sisa umurnya berkah dan semakin sayang pada kakakku dan juga kedua keponakanku," ucap Akhifa pada Abang iparnya. Ya, Akhifa yang dikenal sikapnya selama ini sangat pendiam dan cuek, akhirnya wanita yang berprofesi sebagai desainer fashion itu menemukan pasangannya juga. Tentu saja berkat bantuan Khanza.
"Aamiin... Selamat juga atas pertunangan kamu ya, Dek. Mas Do'ain semoga lancar hingga ke pelaminan."
"Aamiin... Terimakasih."
Akhirnya keluarga itu mengakhirinya dengan makan malam bersama di restoran hotel yang telah mereka boking. Mereka makan dengan kekeluargaan.
Hari ini adalah hari spesial yang mereka nantikan. Dimana tiga pasangan halal itu duduk bersanding di pelaminan yang sama. Tamu dan para undangan yang datang begitu memadati gedung resepsi itu.
Tentu saja bermacam dari kalangan tamu yang hadir, karena mereka memiliki profesi masing-masing. Dari mulai rekan-rekan polri, Dokter dan perawat, hingga pengusaha.
Kebahagiaan sedang meliputi keluarga besar Malik Saputra dan juga para besannya. Senyum terukir dari tiga pasang saudara itu. Dan tampak Akhifa adik yang paling bungsu duduk diantara mereka, tak lama lagi wanita cuek super dingin itu akan melangsungkan pernikahannya bersama Dokter tampan yang terkenal sangat penyabar dan penuh perhatian.
Siapapun berhak bahagia. Namun saja terkadang kesulitan harus mereka rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepada mereka semua.
TAMAT
Nb. Terimakasih untuk semua raederku yang telah mengikuti kisah ini dari awal. Semoga kalian masih mau mampir di karya baruku yang berjudul (Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan) besok pagi sudah liris yaππ€ Oya, yang kemaren minta visual mereka ini sudah author sediakan. Mohon maaf bila tak sesuai dengan kehaluan kalian semua π Salam sayang dari author untuk kalian semua ππ€
Yusuf & Khanza.
Yanju& Aisyah
Khenzi& Arumi
__ADS_1
Akmal& Akhifa