Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Ke mall


__ADS_3

Malam ini Khanza sedang asyik bermain dengan simungil Rizqi. Wanita itu tampak begitu menyayangi sang bayi. Khanza selalu merusuhinya sehingga Putra kecilnya merasa tidak nyaman dan merengek.


"Hahaha... Anak Mama ngamuk dia. Habisnya Mama geram dengan tubuh embul kamu ini, Nak," celotah ibu sambung itu masih memeluk dan menggigit kecil tangan bayinya.


Yusuf masuk baru pulang ibadah magrib berjamaah di masjid. Pria itu melihat Khanza dan Rizqi tampak begitu saling menyayangi. Pria itu ikut bergabung dengan mereka. Ya, selama dua hari di kota Padang Rizqi bersama mereka, tentu saja Mama Niken tidak keberatan sama sekali.


"Kenapa anak Papa, kok nangis?" tanya Yusuf mengambil alih dari sang istri.


"Hehe... Mama gigit dia,Pa, habisnya Mama geram," sahut Khanza masih menggoda bayi itu.


"Iya, Sayang? Digigit Mama, nakal Mama ya. Biar saja nanti Papa bales gantian gigit Mama," ucap Pria itu pada anaknya.


"Hahaha... Nggak takut. Wek," balas Khanza ngeledek suaminya.


"Oh, nantangin ya. Awas saja nanti."


"Mas, kita bawa jalan Rizqi yuk," ajak Khanza.


"Jalan kemana, Dek? Nanti ada yang lihat kita. Kan pernikahan kita belum diresmikan."


"Kan kita bisa menggunakan masker. Ayolah, Mas, Adek juga suntuk nih," ucap Khanza merengek pada suaminya.


"Hmm, baiklah. Ayo siap-siap sekarang. Biar Rizqi Mas yang urusin." Akhirnya ayah dua orang anak itu tak bisa menolak ajakan istrinya.


"Oke, makasih suamiku yang baik Budi nan penuh pengertian," rayu Khanza kesenangan.


Pasangan itu turun kebawah bersamaan, Yusuf menggendong Rizqi, mereka berharap bayi yang akan lahir perempuan, jadilah paket lengkap keluarga kecil itu.


Setibanya dibawah mereka berpapasan dengan Khenzi dan Arumi. Pasangan itu juga ingin keluar. Karena Arumi sedang banjir bandang, maka Khen membawanya untuk jalan keluar.


"Eh, ada kak Arum dan Bang Khenzi. Mau kemana?" tanya Khanza.


"Mau keluar jalan, kalian mau kemana?" balas Khen.


"Sama kami juga mau jalan keluar. Oya, gimana kalau kita pergi bareng. Ajak juga Bang Yanju dan Kak Aisyah," ujar Khanza memberi memberi solusi.


"Ha, ide bagus tuh. Yaudah biar Aku panggil Bang Yanju dan Kakak ipar," seru Khen segera naik kelantai dua di kamar Yanju.


Sementara itu Yanju akan memulai ritualnya. Ia sudah mulai nempel dari tadi kemanapun Aisyah bergerak.


"Mas, sabar dulu. Nggak enak ini masih terlalu sore. Bagaimana nanti kita di panggil sama Bunda untuk makan malam, Ais malu, Mas," ucap wanita itu pada sang suami yang sedari tadi tak bisa tenang.

__ADS_1


"Itu nggak perlu dipikirkan, Sayang, kita bisa menolak makannya nanti saja," ujar Yanju masih memberi kecupan pada bibir Aisyah, Pria itu seperti mendapatkan permainan baru sehingga betah disana.


"Kamu yakin kita melakukannya sekarang, Mas?"


"Iya, yakin banget malah, Dek, apakah kamu tidak iba melihatku yang sudah tersiksa hampir satu tahun ini," ucap Yanju dengan nada sedih mendrama.


Aisyah menghela nafas dalam. "Baiklah, tapi kunci dulu pintunya, Mas," titah wanita itu.


"Siap Ndan!" seru Yanju kegirangan dan segera menuju pintu kamar untuk menguncinya agar aktivitas mereka tak terkendala.


Saat Yanju ingin memutar kunci kamar, terdengar suara ketukan dari pintu. Hati Pria itu mengumpat kesal.


"Mau ngapain kamu?" tanya Yanju pada Khen yang sudah berdiri dihadapannya.


"Wuiihh, santai dong my brother, aku kesini mau ngajakin kalian jalan keluar. Barengan Ama Khanza dan Yusuf. Gimana setuju nggak?" tanya Khen tersenyum penuh makna.


"Ah, nggak. Aku nggak ikut. Udah kalian aja yang pergi. lagian Aisyah sudah tidur," ucap Yanju jelas berbohong.


"Hah! Tidur? Masa sih Kakak ipar udah tidur jam segini?" tanya Khen tidak percaya.


"Iya, nggak percaya banget jadi orang!" sanggah Yanju. Kini giliran polisi itu yang mulai uring-uringan.


"Kenapa kamu, Bang? Kok sekarang kamu yang jadi sensitif. Ah, payah. Kak Aisyah! mau ikut kita jalan nggak?!" teriak Khen dari luar.


"Ada apa, Mas?" tanya Aisyah nongol dibelakang Yanju.


"Hahaha... Tuh orangnya masih melek gitu dibilang udah tidur. Kenapa kamu? Udah nggak sabar ingin unboxing ya, oh, tidak bisa. Aku aja yang pengantin baru masih puasa," bisik Khen nyengir kuda.


"Ada apak, Khen?" tanya Aisyah.


"Ah, kebetulan ada kak Aisyah. Begini Kak, kami ingin ngajakin Kakak dan Abang untuk jalan bareng. Mumpung kalian masih disini mending kita gunakan waktu yang ada untuk happy family. Kakak dan Abang mau ikut 'kan? Khanza dan Yusuf juga ikut," jelas Khen pada Kakak iparnya.


"Ah, baiklah!" jawab Aisyah yang membuat Yanju ingin rasanya ngegetok kepala Khen.


"Eh, Dek, Mas lagi nggak pengen ikut," tukas Yanju pada istrinya.


"Udah ikut saja, Mas, mumpung kita disini. Nggak enak juga menolak," jawab Aisyah sembari mengambil baju ganti untuk bersiap.


"Ck, tapi ini gimana, Sayang?" rengek Pria itu pada sang istri.


"Ya Allah, Mas. Kenapa kamu seperti ini? Nanti pulang dari sana kan masih ada waktu," cicit Aisyah sedikit gemas dengan tingkah suaminya.

__ADS_1


"Yaelah kamu tega banget ngegantung aku, Dek. Nggak kasihan apa dengan penderitaanku.


"Mas, ayolah. Ais nggak enak sama adik-adik kamu. Ais janji nanti pulang dari sana kita akan teruskan perjuangan. Ais janji akan melayani kamu sampai pagi," bujuk wanita itu memberi iming-iming.


"Kamu serius, Janji?"


"Serius, janji."


"Oke, muuuaachh!" Yanju memberi kecupan pada kening istrinya. Kekecewaannya dapat terobati oleh janji yang diberikan oleh Aisyah.


Tak berselang lama pasangan itu sudah bergabung dengan adik-adiknya. Khen melihat wajah Yanju yang masih tampak ditekuk, ia tersenyum puas.


"Ayo kita jalan sekarang!" ajak Khanza pada Abang dan Kakak iparnya.


Sebelum berangkat mereka berpamitan pada orangtua mereka terlebih dahulu.


"Jaga adikmu Bang!" seru Papa pada kedua anak laki-lakinya. Pria itu masih trauma dengan kejadian yang hampir melenyapkan nyawa putri semata wayangnya.


"Baik,Pa, kami akan menjaga Adek."


"Kita kemana nih?" tanya Yusuf yang mengemudi.


"Cari tempat makan aja, Suf, habis itu langsung pulang," jawab Yanju.


"Eh, jangan Suf. Kita ke mall aja. Kan disana juga bisa makan, habis itu kita nemani para Nyonya-nyonya ini belanja, dan juga bawa simungil bermain. Gimana, setuju nggak?" tanya Yanju pada para wanita yang ada dimobil itu.


"Setuju dong!" jawab mereka serentak. Khenzi tersenyum kemenangan. Pria itu mendekatkan wajahnya pada Yanju sembari berbisik.


"Satu sama, Abangku. Hahaha..." tawa Khen pecah.


Yanju yang merasa dikerjain sang adik bergumam kesal dalam hati. Awas saja nanti akan kubalas.


Setibanya di mall, mereka cari tempat makan terlebih dahulu. Selesai makan, lanjut dengan rencana yang tadi, yaitu menunggui para wanita yang sedang shopping. Sementara Arumi membantu Aisyah untuk mematut pakaian yang cocok untuknya.


Para lelaki itu menunggu dengan sabar. Sebenarnya Khen tipe lelaki yang sangat tidak penyabar, tetapi demi mengerjai sang Kakak maka ia menikmati resahnya dalam menunggu para kau hawa yang sedang khilaf dalam memilih bermacam busana dan keperluannya yang lain.


"Gimana? Enak 'kan dalam menunggu?" tanya Yanju yang melihat sang adik sudah mulai gelisah. Sementara adik iparnya yang super penyabar itu memang menikmati, bahkan Yusuf ikut membantu Khanza memilih perlengkapan bayi mereka.


"Ah, iya dong. Jadi suami itu harus peka dan penyabar dalam menemani istri belanja," jawab Khen masih berusaha tetap happy.


"Puuiih! Makan tuh sabar. Sebentar lagi diare kamu nungguin kaum hawa dalam belanja. Hahahaha... Makanya jangan sok-sokan, sedangkan aku aja yang masih memiliki jiwa penyabar yang banyak, masih klenger nungguin istri belanja. Sana kamu belajar dulu sama adik iparmu. Hahaha..." Tawa Yanju tak berhenti melihat raut wajah Khen yang sebenarnya memang sudah eneg dalam menunggu.

__ADS_1


Bersambung...


Happy reading 🥰


__ADS_2