Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Bahagia


__ADS_3

Lama mereka terdiam, sepertinya mereka merasa tidak enak untuk mengatakan yang sebenarnya, tetapi bagaimanapun Aisyah adalah bagian dari keluarga mereka, dan tentu saja dia berhak tahu.


"Yanju mempunyai dua Ayah, tetapi ayah biologisnya adalah Ayah Yandra," jawab Papa yang tak ingin menutupi.


Aisyah melihat wajah mereka kurang berkenan dengan pertanyaannya, maka wanita itu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan bersikap biasa saja. Ais tahu mungkin ada cerita yang tak ingin di buka kembali, maka dari itu dia akan mencari tahu nanti pada sang suami.


"Oh, iya, Ais sudah tahu. Hmm, Arum mana? apakah dia tidak ikut?" tanya Aisyah.


"Tidak bisa ikut, Nak, dia menemani Khanza," jawab Bunda.


"Oh iya, Ais lupa."


Setelah mengurus segala adminitrasi RS, dan Aisyah sudah di izinkan untuk pulang. Tak ada yang patut di cemaskan, semua baik-baik saja. Hanya perlu kontrol, dan itu bisa dilakukan di RS keluarga mereka saja.


Kini mereka sudah kembali di kota Medan. Bunda dan Papa tidak bisa lama disana begitu juga Khen, karena yang dirumah hanya Khanza dan Arumi. Keluarga yang di Padang itu bertolak hari itu juga.


Yanju dan Aisyah menemui Oma dan Opa. Tentu saja pasangan lansia itu sangat bahagia karena cucu menantu mereka sudah dapat melihat kembali.


"Oma, dan Opa sangat bahagia, Nak," ucap wanita tua itu memeluk Aisyah.


"Terimakasih, Oma, Opa." Aisyah membalas pelukan sang Oma, dan menyalami Opa.


"Ya, kami harap kalian akan selalu bahagia," sambung Opa.


"Aamiin..." ucap merek bersamaan.


Setelah bertamu kerumah keluarga Malik. Kini pasangan itu segera pulang menuju kediaman yang selama ini mereka tempati.


Aisyah mengamati seluruh ruangan rumah mereka. Wanita itu masih beradaptasi dengan suasana yang selama ini ia lalui dalam kegelapan.


"Sayang, ayo istirahatlah. Kata Dokter kamu jangan terlalu banyak beraktivitas diluar ruangan, karena mata kamu masih rentan, tidak boleh terkena debu.


Asiyah hanya mengangguk patuh mengikuti perintah sang suami. Yanju ikut berbaring disampingnya. Kini tatapan mereka saling bertemu. Bibir mereka saling mengukir senyum.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Yanju, tangannya terulur mengusap wajah Aisyah dengan lembut.


"Ais sangat bahagia, Mas. Terimakasih ya, karena kamu sudah menjadi suami yang sangat penyayang dan penuh perhatian," ucap Aisyah meraih tangan Yanju, lalu memeluknya.


"Tidak perlu berterima kasih, Dek, sudah kewajibanku untuk menyayangi kamu sepenuh hati dan melakukan apapun demi kebahagiaanmu."

__ADS_1


Aisyah tak dapat berucap lagi, yang jelas dihatinya seperti sedang di hinggapi puluhan kupu-kupu. Sangat bahagia.


"Apakah kamu lapar, Sayang?" tanya Yanju saat melihat istrinya yang ingin terlelap.


"Tidak, Mas. Ais, sangat lelah. Ais tidur sebentar ya," izinnya.


"Yasudah, tidurlah." Yanju membiarkan sang istri untuk melepaskan penat. Ia tak ingin mengusiknya.


Jika Yanju dan Aisyah sedang bahagia berbeda dengan Yusuf dan Khanza.


Sore ini Yusuf sudah tiba di kota Padang setelah menyelesaikan tugasnya diluar kota, ia mendapat waktu cuti tiga hari. Maka waktu itu ia pergunakan untuk menemui istri dan anak-anaknya.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam, Mas! Kamu pulang? Ya Allah, kenapa tidak memberiku kabar?" tanya Khanza sangat terkejut dengan kehadiran sang suami, dan segera menyongsongnya.


"Sengaja ingin memberimu kejutan," jawab Pria itu sembari membalas pelukan sang istri. "Bagaimana keadaan kamu dan Putri kita, Sayang?" tanya Yusuf menghujani wajah Khanza dengan kecupan.


"Alhamdulillah, kami sangat baik, Mas. Kamu sendiri bagaimana tugasnya, Lancar?"


"Alhamdulillah lancar, dan sudah selesai."


"Uuu, anak Papa nyenyak banget boboknya. Yuza tidak menyambut kedatangan Papa ya. Padahal Papa kangen, banget, Nak."


"Dek, aku gendong ya, habisnya kangen banget," ucap Pria itu tak tahan ingin membuai bayinya.


"Yasudah, gendong saja, Mas, Yuza sudah dari tadi tidurnya, nggak pa-pa dibangunin sekarang, biar nggak begadang tengah malam."


"Jadi dia sering begadang, Dek?"


"Iya, Mas, kalau tidur siangnya terlalu lama, maka malam alamat begadang,deh. Kadang kasihan juga sama Bunda dan Mama Lilis yang selalu menemani aku begadang," jelas Khanza mengadukan perangai sang putri kecil mereka.


"Hehe... Kok anak Papa suka begadang, Sayang? Nanti malam begadang sama Papa ya." Yusuf membawa bayi mungil itu bercakap-cakap dan membuainya dalam pelukan.


"Mas, Aku buatin kopi untuk kamu ya," pamit Khanza pada sang suami.


"Jangan, Sayang. Kamu masih belum kuat. Biarkan nanti aku sendiri yang bikin. Atau minta Mbak Ana yang membuatkan," larang Yusuf tak mengizinkan.


"Nggak, Mas, aku sudah baik-baik saja. Lagian sudah dua minggu. Sudah aman kok. Udah, kamu tidak perlu cemas." Khanza masih ngotot sehingga Pria itu tak bisa menahan.

__ADS_1


Tak berselang lama, Khanza sudah membawakan secangkir kopi hitam dan cemilan untuk suami tercintanya.


"Kopinya, Mas," ujar Khanza meletakkan nampan itu diatas meja.


"Iya, makasih, Sayang. Aku masih belum puas untuk menimang bayi mungil kesayangan Papa ini." Yusuf masih sibuk menimang bayinya.


"Ish, putrinya saja yang disayang dari tadi. Kayaknya sekarang sudah mulai terbagi kasih sayangnya. Benar kan, Nak, kamu nakal sudah mencuri perhatian Papamu dari Mama," ucap Khanza berpura-pura protes pada putrinya.


"Hahaha... Ceritanya cemburu nih? Lihatlah, Sayang, Mama kamu cemburu," adu Yusuf pada bayi merah itu.


"Baiklah, anak Papa main disini dulu ya. Kini giliran Mama yang minta disayang." Yusuf Kembali memasukkan bayinya dalam boks.


Yusuf menatap wajah sang istri dengan senyum. Wanita itu juga tersenyum malu. Tanpa bicara Yusuf segera melu mat bibir seksi Khanza sehingga mereka sama-sama kehabisan nafas dan segera melepaskan pagutan.


"Kangen, Sayang," ucap Yusuf merangkum kedua pipi sang istri dan memberi kecupan seluruh wajahnya.


"Puasa dulu Mas, masih lama dua Minggu lagi."


"Oke, insya Allah masih kuat menahan."


"Ayo minum kopinya, Mas. Oya, tadi kamu udah ketemu Rizqi?" tanya Khanza ikut duduk disamping Yusuf.


"Belum, Sayang, nanti sore saja aku kesana. Mama Niken tidak ada datang membawa Rizqi kesini?"


"Ada, Mas. Dua hari yang lalu beliau kesini."


"Ah, syukurlah. Dek, apakah besok kamu akan ikut bersamaku sekalian balik ke Medan?" tanya Yusuf berharap.


"Bagaimana caranya, Mas? Umur Yuza saja belum genap satu bulan. Belum bisa naik pesawat."


"Iya, juga. Terus gimana dong? Dan rencana resepsi gimana?" tanya Yusuf kepikiran. Karena ekspektasi mereka tak sesuai, seharusnya Khanza melahirkan di kota Medan. Tetapi malah di kota Padang.


"Ya itulah, kemaren kami membahasnya dengan Bunda dan Papa. Terpaksa kita harus mengulur waktu dulu hingga Yuza berumur tiga bulan, baru acara dilangsungkan."


"Baiklah, tidak masalah. Aku hanya ikut saja."


Bersambung...


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2