Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Nasehat Papa


__ADS_3

Papa Arman masih menyorot tajam pada putranya. Begitupun Khen, dia tidak akan menutupi segala kesalahannya pada Arumi. Dia tahu candaannya sudah keterlaluan.


Selesai makan, mereka hendak menuju kamar gadis itu untuk melihat kondisinya. Tetapi Papa Arman membawa mereka duduk sebentar di ruang keluarga.


"Katakan, Khenzi. Apa yang terjadi?" tanya Papa langsung pada pokok permasalahannya, karena penyidik itu sudah tahu bahwa putranya sudah melakukan kesalahan.


"Ah, itu, tadi Abang tarik Arum masuk kolam renang, Pa. Abang sungguh tidak tahu bahwa Arum tidak bisa berenang, jadinya dia sempat pingsan sebentar. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah tidak apa-apa, hanya masih pusing saja," jelas Pria itu pada keluarganya.


"Astaghfirullah... Kamu ini kenapa sih, Bang? Kamu punya masalah apa dengan wanita itu? Kamu sadar nggak, kamu bisa mencelakainya!" Tutur Bunda sedikit jengkel dengan ulah anaknya itu.


"Bun, Abang sudah katakan jika Abang tidak sengaja! Demi Allah, Abang tidak berniat menyakitinya sedikitpun!" tandas Khen. Merasa dirinya disudutkan, sengaja mencelakai gadis itu.


"Sudah, Bun. Abang sudah mengakui bahwa dia tidak sengaja," sambung Papa menengahi Ibu dan anak itu sudah tampak tegang. Lyra yang biasa tak pernah marah pada anak-anaknya, kini tampak begitu kesal.


Bunda beranjak dan menuju kamar gadis itu untuk melihat keadaannya.


"Arum, bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Bunda duduk di bibir ranjang, tangannya terulur mengusap rambut gadis itu.


"Ah, Bun. Arum sudah tidak apa-apa," jawabnya sembari berusaha duduk. Suaranya terdengar sengal, menandakan gadis itu sedang demam dan flu.


Lyra membantu untuk duduk. Wanita itu sangat menyayangi Arumi, sedari kecil gadis itu sangat terkenal baik Budi, tak pernah rewel dan banyak tingkah bila sedang dibawa Mbak Santi kekediamannya. Bahkan dia gadis yang sangat patuh.Tak pernah mengecewakan sang ibu, dalam sekolah Arum juga selalu membanggakan ibunya atas segala Prestasi yang dia raih.


Lyra merasa sedih karena putranya sudah menyakiti gadis itu. "Nak, Bunda minta maaf ya atas perilaku Khenzi padamu," ujar Bunda merasa bersalah.

__ADS_1


Arum tersenyum, dan meraih tangan wanita baya itu. "Bun, Mas Khen tidak sengaja melakukannya. Arum sudah memaafkan. Tapi Bunda tahu, nggak?" tanya Arum pada Ibu dari Pria kaku itu.


"Apa itu, Nak?" tanya Lyra kembali.


"Tadi Arum melihat Mas Khen bisa tertawa lepas, Bun, jarang-jarang pemandangan itu Arum temukan. Ya, hitung-hitung kejadian itu membuat Arum sedikit lega, karena mampu membuat orang seperti Mas Khenzi bisa tersenyum," ujar gadis itu tersenyum lembut.


"MasyaAllah, Nak. Kamu tuh ya, udah tahu diperlakukan seperti itu masih mengatakan lega." Bunda tak habis pikir dengan wanita itu.


"Tapi, benaran Arum sudah baikan, Bun, tadi sudah minum obat kok," kata Arum meyakinkan Bunda Lyra.


"Syukurlah. Yasudah, sekarang kamu istirahat ya. Kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan untuk beri tahu Bunda," ujar Lyra mengakhiri percakapan mereka. Dan kembali membantu Arum untuk berbaring.


Setelah Bunda keluar, Arum tersenyum, tanpa terasa air matanya mengalir. Dia begitu terharu karena kebaikan keluarga itu padanya. Dia yang hanya seorang anak dari pembantu tetapi mereka tidak pernah memandang rendah padanya dan juga keluarganya.


Bahkan keluarga itu sangat banyak membantu disaat sang ayah meninggal dunia. Ibunya hanya mengandalkan gaji dari bekerja di kediaman Jendral itu. Gaji yang mereka berikan pada sang ibu cukup membiayai dirinya dan kedua kakak-kakaknya dalam membiayai sekolah mereka hingga mereka menjadi sarjana.


Setelah bicara sedikit meninggi pada sang Bunda, Khen beranjak menuju kamarnya. Perasaannya entahlah. Kenapa dia tidak bisa mengendalikan diri saat bicara pada wanita yang telah melahirkannya. Kenapa hatinya mendadak jadi sensitif saat membahas tentang Arumi.


Pria itu termenung, dan segera beranjak keluar mencari sang Bunda untuk meminta maaf. Khenzi mengetuk kamar orangtuanya.


Tok! Tok!


Bunda membukakan pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Terlihat Putranya berdiri dihadapannya. Hati wanita itu juga sedih karena sudah memarahi Putranya yang sudah mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Bunda..." Khenzi segera memeluk wanita kesayangannya itu dengan erat. "Maaf, Abang sudah bicara dengan nada tinggi pada Bunda," lirih Pria itu pada Bundanya.


"Bunda sudah memaafkan sebelum kamu mengucapkannya, Nak. Bunda juga minta maaf ya, karena sudah marah pada Abang." Lyra melerai pelukannya dan menangkup kedua pipi Putranya.


"Terimakasih , Bun, Abang mengakui bahwa Abang memang salah. Mungkin candaan Abang sudah keterlaluan. Tapi, Abang sudah meminta maaf, Bun. Abang benar-benar tidak berniat sedikitpun mecelakai Arum, Abang sangat menyesal karena sudah membuatnya sakit."


"Sudah, Arum bilang sama Bunda dia sudah memaafkan kamu. Dan kamu tahu dia bilang apa dengan Bunda. Dia bilang bahwa dia merasa lega bisa melihat kamu tertawa lepas, dengan insiden itu dia berhasil membuatmu tertawa. Gadis itu begitu ingin melihatmu tersenyum padanya."


Khenzi hanya terdiam mendengar ucapan Bundanya. Apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Kenapa dia bicara seperti itu dengan Bunda.


"Bang, berusahalah untuk merubah sikapmu itu, Nak. Bunda percaya kamu pasti bisa bersikap lebih manis lagi dengannya," pesan Bunda pada Khenzi.


"Apa yang dikatakan oleh Bundamu memang benar, Bang. Papa heran melihat sikap kamu itu. Siapa sih yang kamu ikuti? Pasti Om kamu, dan yang jelas sumbernya dari Opa Malik," ujar Papa ikut nimbrung.


"Iya, bener. Tapi, Bunda yakin kok, Pa. Kalau putramu sudah mendapatkan wanita yang benar-benar dia cintai, pasti sikapnya yang kaku akan lumer dan manis mengalahi madu," balas Bunda.


"Ih, Bunda dan Papa kenapa jadi ngeledek Abang sih." Khen tak terima menjadi bahan omongan kedua orangtuanya atas sikapnya terkenal cuek dan kaku itu.


"Nak, Bunda dan Papa tidak ngeledek kamu. Tetapi, kami ingin memberimu nasehat agar kamu bisa pelan-pelan merubah sikap kamu yang membuat wanita tidak akan nyaman bila menjalin hubungan denganmu. Bersikaplah sedikit manis dan lentur. Dan berusaha untuk mengalah, dan menjadi untuk teman yang bisa mendengarkan segala keluh kesahnya. Karena sejatinya wanita itu ingin dimengerti dan di dengarkan. Wanita itu tidak selalu membutuhkan materi, tetapi yang utamakan adalah cinta dan perhatian, juga kasih sayang yang tulus. Lihatlah adik iparmu bagaimana dia memperlakukan Khanza begitu baik dan Mesra, kamu tahu bagaimana Khanza dulu sangat membencinya. Tetapi Yusuf begitu pandai bersikap manis dan membuat hati Khanza terbuka."


Papa Arman memberi wejangan panjang lebar untuk putranya yang sangat sulit melenturkan hatinya.


Khenzi termenung mendengar nasehat sang Papa. Apa yang dikatakan oleh Papa memang benar adanya. Dia harus belajar dari yang sudah tampak di depannya. Tidak perlu jauh-jauh melihat contoh, yaitu Papanya sendiri yang selama ini memperlakukan Bunda begitu penuh kasih sayang.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2