
Tidak berselang lama Yandra sudah datang membawa peralatan medis yang dibutuhkan untuk perawatan Khanza. Dokter obgyn itu segera memasang jarum infus dan menyuntikkan obat penguat kandungan.
"Bedrest ya, Nak, jangan banyak bergerak, selain ke kamar mandi," ujar Yandra memberi peringatan.
"Baik, Yah, terimakasih ya, Yah," ujar Khanza sangat berterima kasih pada Oom kesayangannya itu.
Setelah selesai, Yandra berpesan pada Yusuf agar bisa menemani Khanza malam ini, lalu Pria baya itu segera keluar agar Khanza dan Yusuf bisa istirahat.
"Tidur, Sayang," ujar Yusuf yang melihat sang istri masih membuka matanya.
"Nggak bisa tidur, Mas, Adek lapar," sahut wanita hamil itu dengan rengek manja.
Yusuf segera menegakkan tubuhnya miring menghadap Khanza. Tangannya di tekuk menahan kepala, tangan kirinya mengusap rambut wanita itu, bibirnya mengecup dengan lembut.
"Kenapa tidak bilang dari tadi bahwa kamu lapar, Sayang," ujar Yusuf kembali menghujani wajah cantik itu dengan gemas, sebelum ia duduk ingin beranjak mengambilkan makanan untuk wanita manja itu.
Khanza tertawa geli mendapat perhatian dan kasih sayang dari Pria kesayangannya. Sungguh hati wanita itu sangat bahagia.
"Mas, mau kemana?" tanya Khanza menahan lengan Yusuf.
"Mau ngambil makanan buat kamu, Dek, lapar 'kan?"
"Iya, tapi kamu jangan pergi, Mas, kamu disini saja temani aku," ujar Khanza yang tidak rela ditinggal walau sesaat oleh sang suami.
Yusuf hanya tersenyum melihat tingkah manja istrinya itu. Padahal hanya ingin pergi sebentar untuk memenuhi keinginannya.
"Sayang, aku hanya sebentar."
"Minta tolong Bibi saja, Mas," ujarnya memberi solusi.
"Tidak, Sayang, biar aku saja. Nggak akan lama. Sekarang katakan, Adek mau makan apa?" Yusuf masih bersikukuh untuk melayani istrinya.
Khanza tersenyum melihat keteguhan hati Pria itu yang ingin mengurus dan melayani dirinya.
"Adek mau makan rujak, terus makan nasi dengan lauk udang saus Padang," jelas Khanza mengutarakan keinginannya.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar ya. Anak Papa sabar ya, Papa akan sediakan, tidak akan lama." Yusuf menyempatkan diri untuk mengecup perut Khanza meminta izin pada calon buah hatinya.
Dengan semangat Pria itu memenuhi keinginan istrinya. Yusuf menuju dapur, setibanya di dapur ia bingung harus memulai darimana.
"Kamu ngapain, Nak?" tanya seseorang yang membuat Yusuf terjingkat.
"Ah, Bunda! Ini, Bun, aku ingin buat udang saus Padang dan juga rujak," jelas Yusuf pada ibu mertuanya, Pria itu tampak kebingungan.
Lyra tersenyum, lalu mendekat dimana anak menantunya sedang kebingungan memilih bahan-bahan untuk membuat dua menu itu. Lyra tahu itu adalah menu yang cukup sulit untuk dikerjakan, maka wanita itu berniat ingin membantu.
"Ayo Bunda bantu," ujar Lyra membuka lemari pendingin, lalu mengambil bahan-bahannya.
"Bun, boleh nggak tolong ditunjukkan bumbu-bumbunya saja, tetapi biar aku yang eksekusi," ujar Yusuf tersenyum sungkan.
"Kamu yakin?"
"Insyaallah yakin, Bun, aku ingin memenuhi keinginan Istriku dengan tanganku sendiri."
Lyra tersenyum haru. Bersyukur sekali putrinya mendapatkan suami yang penuh perhatian dan juga sangat penyabar. Sifat Pria itu tak jauh dengan suaminya, yaitu sang jenderal. Semenjak menikah hingga sekarang, Lyra selalu saja merasa diratukan olehnya.
Lyra segera menyediakan semua bahan-bahan dan menunjukkan bumbu-bumbunya, setelah itu ia meninggalkan sang menantu untuk menyelesaikan tugasnya sendiri.
Hanya 40 menit, dua menu itu sudah tersaji diatas nampan dan siap dihidangkan pada sang putri manja dan cengeng itu. Dengan senyum bangga Yusuf membawa masakannya kehadapan istrinya.
Yusuf meletakkan nampan itu diatas nakas. Pria itu menatap istrinya yang sudah tertidur pulas, rasa tidak tega untuk membangunkan, tetapi tidak mau membiarkannya tidur dalam keadaan lapar. Akhirnya Yusuf memutuskan untuk membangunkan Khanza
"Sayang, bangun, ayo makan dulu."
"Hmm, udah masak, Mas?" tanya Khanza menggeliat membuka matanya yang terasa masih sangat berat.
"Sudah, Sayang, ayo duduk dulu." Yusuf membantu Khanza untuk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, meletakkan bantal dipunggungnya agar nyaman.
Khanza mengamati menu yang berada diatas meja samping tempat tidurnya itu. Aromanya begitu menggiurkan, rasanya sudah tidak sabar ingin menyantap makanan itu.
"Mas, Adek pengen cobain rujaknya terlebih dahulu," pinta Khanza.
__ADS_1
"Tidak, Dek, makan nasi dulu baru makan rujak!" tegas Yusuf.
Khanza hanya mengangguk patuh, entah kenapa nyalinya selalu ciut saat mendengar suara tegas suaminya, entah jiwanya yang terlalu sensitif atau dirinya yang memang cengeng. Khanza hanya menunduk tidak berani menatap wajah tampan yang ada dihadapannya.
Yusuf mengisi piring berserta dengan lauknya. Tangannya mulai mengisi sendok akan menyuapi sang istri. Tetapi, Pria itu melihat Khanza sedang tertunduk sembari menghapus air mata. Seketika Yusuf meletakkan kembali piring itu.
"Sayang, kamu kenapa? Maaf, Dek, maaf jika aku sudah menyakiti perasaanmu." Yusuf mendekap tubuh Khanza dengan rasa bersalah.
Khanza tidak tahu menyikapi suasana ini. Ia benci sekali dengan jiwa baperan yang terkadang selalu membuat suaminya merasa bersalah, padahal hanya masalah kecil kerap kali membuat Yusuf menjadi serba salah.
"Mas, maafkan aku. Hiks," lirih Khanza dengan tangis tertahan.
"Tidak, Sayang, kamu tidak salah apapun. Aku yang salah, mungkin suaraku terlalu tinggi."
Khanza menggelengkan kepalanya, bagi wanita yang mempunyai emosi jiwa yang normal, maka hal seperti itu dianggap wajar dan sangat bahagia karena ketegasan suaminya bentuk kasih sayang untuk menjaga kesehatan sang istri.
"Mas, kamu pasti bosan melihat tingkahku yang seperti ini 'kan? Aku cengeng dan manja. Maaf jika aku selalu membuat kamu kesusahan. Seharusnya aku yang menjadi penguat bagimu saat jiwamu masih diliputi duka yang mendalam." Khanza melerai pelukannya, dan menatap mata teduh itu.
Yusuf hanya tersenyum, begitu sabar hatinya dalam menghadapi wanita hamil itu. Tak terlihat raut wajah kesal ataupun kecewa.
"Jangan bicara seperti itu Sayang. Aku tidak merasa kecewa ataupun kesal. Kamu itu istriku, bagaimanapun sikap kamu, aku ikhlas menerimamu. Aku sebagai seorang suami akan selalu memahami. Dengar, Sayang! prinsipku hanya satu. Selagi istriku masih menghormati dan menghargaiku sebagai seorang suami, maka secengeng dan semanja apapun dirimu, aku tidak peduli. Aku akan tetap sayang dan mencintai kamu. Bahkan sikap cengeng kamu itu yang selalu membuatku rindu saat jauh darimu."
Khanza tak kuasa menahan haru, ia kembali masuk kedalam pelukan Yusuf. Dalam hati bergumam Do'a dan ucapan rasa syukur karena Allah telah menitipkan suami bak seorang malaikat. Hatinya begitu lembut dan tulus.
Sehatkan selalu tubuh Suamiku ya Rabb. Lindungi setiap langkahnya, jaga dia dari segala keburukan saat tak bersamaku. Biarkan kami bahagia selamanya hingga maut yang memisahkan.
"Terimakasih banyak, Mas, aku tidak bisa berkata apapun. Kamu sangat sempurna bagiku. Sekali lagi terimakasih. Aku bahagia menjadi istrimu."
Yusuf hanya mengangguk tersenyum, dan kembali bibirnya meninggalkan jejak sayang di kening Khanza.
"Sekarang makan ya, habis itu kamu boleh makan rujaknya. Tapi, maaf jika masakanku tidak enak," ujar Yusuf mulai menyuapi istrinya.
Khanza hanya mengangguk dan tersenyum. Perlahan membuka mulut untuk menerima suapan dari Yusuf.
Bersambung....
__ADS_1
Nb. Maaf ya kemarin author tidak update. Lagi fokus pengobatan sikecil ke RS yang ada di luar kota. Jadi, benar-benar tidak sempat untuk update. Mohon dukungannya ya. Terimakasih sebelumnya ππ€π₯°
Happy reading π₯°