
Saat aku sedang ngobrol, Khanza turun dari lantai dua dan menghampiri kami. Aku melihat dia sudah rapi, jam segini dia mau kemana? Aku selalu mengamati wajahnya sehingga netra kami bertemu saat dia meminta izin kepada Papa dan Bunda untuk ke RS.
Aku segera meminta izin kepada Papa dan Bunda untuk mengantarkan Khanza ke RS.
"Pa, Bun, biar saya saja yang mengantarkan Adek ke RS."
"Baiklah, kalian harus hati-hati."
Aku segera mengangguk patuh mendengarkan pesan dari kedua mertuaku. Aku melihat Khanza hanya diam dan selalu mengalihkan tatapannya dariku. Ya, aku tahu dia pasti sangat marah dan kecewa padaku.
Diperjalanan kami hanya diam, aku selalu melirik kesamping. Kulihat istri cengengku memejamkan matanya, sepertinya ini adalah hal kebiasaannya untuk menyembunyikan rasa kecewa, dia akan lebih memilih tidur daripada bicara, jika bicara aku sudah tahu dia pasti akan menangis.
"Dek, saya minta maaf karena telah membuat kamu kecewa." Aku mencoba untuk membuka percakapan.
Satu detik, dua detik, tak ada jawaban. Aku menoleh lagi kesamping, dia masih menutup mata, aku jadi gemas sendiri melihat tingkahnya itu.
"Dek, saya tahu kamu sangat kecewa dan marah, tapi..."
"Tidak, kok Mas, aku tidak kecewa."
Kata-kataku terhenti saat dia dengan cepat memotongnya, apa yang aku pikirkan memang benar, dia menjatuhkan air mata sembari menatap keluar jendela mobil. Aku menjadi serba salah.
"Maafkan saya, Dek." Tanganku terulur dan mengusap kepalanya dengan lembut. Tidak ada respon darinya, sepertinya dia benar-benar kecewa, karena sejatinya wanita lebih menyeramkan bila di titik kekecewaan.
Aku menghela nafas berat, kucoba untuk lebih tenang menghadapi wanita yang sedang mengandung benih dariku. Aku memberikan waktu untuk tidak menggangu dirinya.
"Mas, tunggu disini saja atau di kantin, soalnya aku agak lama," ujarnya yang hendak bergerak masuk kedalam RS menuju ruangan operasi.
"Tidak, Dek, aku akan menemani kamu." Mana mungkin aku membiarkan dia pergi tanpa pengawasanku.
__ADS_1
Aku duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan operasi. Aku memperhatikan raut wajah suami pasien yang kini sedang ditangani oleh isteriku. Terlihat sekali wajah cemas dan takutnya. Tiba-tiba aku kembali teringat akan Tiara. Perasaan lelaki akan sama bila istrinya dalam keadaan gawat, dia akan gelisah dan gundah, begitulah yang selalu aku rasakan saat Tiara sedang ngedrop.
Aku begitu takut kehilangannya, aku selalu berdo'a semoga Tiara segera sembuh dari penyakit berbahaya itu. Aku harus membawanya berobat keluar negeri. Apapun akan aku lakukan.
Setelah Tiara sembuh, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak peduli harus berhenti dari anggota kepolisian lantaran menyalahi aturan karena aku berpoligami. Aku tidak akan pernah melepaskan mereka berdua.
Ya, mungkin saat ini aku belum bisa mencintai Khanza, tetapi seiring berjalannya waktu aku pasti bisa memberikan hatiku untuknya, meskipun harus berbagi dengan Tiara. Aku berjanji akan membahagiakan mereka.
"Mas Yusuf, aku sudah selesai."
"Ah, ya, kita pulang sekarang?" tanyaku sedikit gugup
Empat puluh menit berlalu, aku dikagetkan oleh suara Khanza yang sudah berada dibelakangku, bertepatan saat aku selesai bertelponan dengan Tiara. Akhirnya Khanza sudah menyelesaikan tugasnya, Alhamdulillah bayi dan ibunya selamat. Aku ikut lega mendengarnya.
Dia hanya mengangguk, tetapi aku melihat raut wajahnya tampak murung dan segera berjalan mendahului aku. Aku hanya bisa pasrah menerima sikap dinginnya. Aku tahu bahwa aku salah.
Saat kami menyusuri lorong RS, kami berpapasan dengan Dr Akmal, yang aku tahu dokter itu adalah teman dekat Istriku, aku melihat dia begitu senang saat bertemu dengan istriku. Dan yang paling membuat aku jengah, dia berani sekali membawa Khanza untuk ngobrol dan nongkrong di kantin.
Apa ini? Kenapa aku begitu kesal dan jengkel seperti ini? Lagian istri cengengku ini kenapa mengikutiku permintaan dokter itu.
Aku ingin membuka mulut untuk mencegah, tetapi aku menyadari posisiku saat ini. Aku tidak mempunyai hak untuk melarang karena semua orang tahu bahwa aku adalah seorang ajudan bagi istriku.
Ya ampun Khanza, kenapa kamu mengikuti. Haaah!
Aku berteriak dalam hati. Andai saja semua orang tahu tentang hubungan kami yang sebenarnya, maka tidak akan kubiarkan istriku untuk duduk dengan lelaki lain.
Hatiku masih kesal, aku tidak tahu dengan pikiran Khanza, tetapi aku mencoba untuk tetap tenang. Aku tidak boleh memperlihatkan rasa ketidaksukaan pada mereka.
Aku hanya bisa mengamati mereka dari meja yang lain, aku masih mencoba menekan rasa sabar agar amarahku tidak meledak. Namun, saat aku melihat Pria itu menggengam tangan Khanza, maka aku tak bisa menahan diri. Aku segera menghampiri mereka dan membawa Khanza untuk pulang.
__ADS_1
Lagi-lagi Khanza memberi angin pada Dokter seniornya itu. Sumpah demi apa, aku begitu emosi, tetapi sekali lagi aku menekan amarah jiwa agar tetap terkendali. Aku tidak mau merusak harga diriku dan tidak ingin membuat Khanza malu.
Aku menghindar dari mereka. Aku memilih memantaunya dari luar. Kembali aku melihat pemandangan yang membuat mataku terasa sakit saat Dokter itu begitu lancang menjamah telapak tangan istriku.
Kucoba menghirup udara sepenuh dada, untuk menetralisir emosi yang terasa sudah di ubun-ubun. Tapi, tunggu dulu? Kenapa aku bisa Semarah dan emosi seperti ini? Ada apa denganku?
Ah, tidak, aku hanya merasa tidak dihargai sebagai seorang suami, karena istriku berpegangan tangan dengan Pria lain, aku hanya merasa harga diriku direndahkan. Ya, hanya itu, tak lebih.
"Sudah selesai?" tanyaku dengan nada dingin. Entah kenapa aku masih merasa kesal padanya.
"Ah, I-iya." Dia tampak gugup yang membuat aku gemas.
"Ayo pulang!" Dengan refleks aku meraih tangannya dan membimbing masuk kedalam mobil.
Saat aku ingin menjalankan mobil, aku melihat Khanza tidak mengenakan seatbelt. Aku belum mau menjalankan kendaraan roda empat itu.
"Kenakan safety belt nya Dek," ujarku
"Nggak mau, gerah," ujarnya yang membuat aku menatap dengan dalam.
Ya ampun wanita satu ini benar-benar membuat aku gemas.
Aku tak bicara lagi, dan segera kuraih tali sabuk pengaman itu dan ku lingkarkan di tubuhnya, seketika wajah kami begitu dekat, aku mencium aroma parfumnya yang begitu menggoda, sehingga membuat bagian tubuhku beraksi.
"Ehem, jadi istri itu harus patuh! Kalau terjadi sesuatu padamu siapa yang akan rugi." Aku masih menggerutu sembari memasangkan benda itu. Entah kenapa aku masih kesal bila mengingat dokter itu menggengam tangan istriku.
"Nggak ada yang rugi. Dan mungkin saja ada orang yang bahagia bila aku cepat mati!"
"Astaghfirullah, istighfar Dek!"
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰