Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Pria dingin


__ADS_3

Khenzi yang melihat Arumi beranjak begitu saja, dia ikut berdiri dan meninggalkan ruang keluarga itu dan masuk kedalam kamarnya.


Khenzi menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, sekelabat peristiwa tadi malam masih berputar dalam ingatannya. Apa kurang dirinya pada wanita itu, sehingga dia tega berkhianat dibelakangnya.


Hanya karena dirinya yang tak pandai bersikap romantis dan mesra, sehingga Rayola lebih memilih lelaki lain.


"Ahh! Dasar wanita murahan!" Khenzi meremat rambutnya sendiri, kekesalan masih menyelimuti perasaan yang paling dalam. Jujur, Rayola adalah cinta pertama baginya, tetapi wanita itu tega sekali menyakiti perasaan yang sudah tumbuh begitu besar.


Khenzi bangkit dan menuju kamar mandi segera membersihkan diri, lalu bersiap untuk ke kantor. Sebenarnya malas ingin beraktivitas, tetapi ia berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan hanya karena putus cinta, dia meyakini bahwa Rayola bukanlah jodohnya.


Tapi bagaimana dengan Arumi? Apakah dia bisa membuka hati untuk wanita yang berprofesi sebagai perawat itu? Ah, entahlah, hanya waktu yang akan menjawab.


Pagi ini keluarga Arman Sanjaya sarapan bersama. Mbak Santi masih saja menolak saat diajak makan satu meja. Arman dan Lyra sudah lama sekali membujuk agar Mbak Santi mau bergabung dengan mereka.


"Mbak, ayo duduklah! Mulai sekarang tolong jangan merasa sungkan untuk makan bersama kami dengan satu meja. Seandainya mereka berjodoh, maka Mbak Santi sudah menjadi bagian dari keluarga ini," ujar Arman.


"Makan saja duluan, Mbak benar-benar masih kenyang," tolak wanita itu. Walau sebaik apapun pasangan itu, dia masih merasa sungkan. Bagi Mbak Santi kebaikan Arman dan Lyra selama ini sudah sangat cukup. Tak pernah berpikir untuk menjadi bagian dari keluarga Jendral bintang dua itu.


"Mbak, ayo duduk! Mulai sekarang Mbak harus membiasakan makan satu meja dengan kami. Jangan sungkan, walaupun anak kita tidak berjodoh, namun Mbak akan tetap menjadi saudara kami. Ayo duduk. Kita sarapan bersama." Lyra meraih tangan Mbak Santi membawanya duduk dan sarapan bersama.


Sementara itu Arumi hanya diam mematung di dapur. Wanita itu juga masih merasa sangat canggung. Tak ingin merasa besar kepala. Walaupun kedua orangtua Pria itu memberi restu Kepadanya, tetapi Arumi melihat sikap Khenzi yang tampak tak tertarik dengannya.


"Arumi mana, Mbak?" tanya Arman.


"Tadi ada di dapur. Biar Mbak panggil," ujar Mbak Santi yang ingin berdiri.


"Tidak usah, Mbak. Biar Khenzi saja yang panggil." Arman menahan.


"Bang, panggil Arumi ajak sarapan bersama." Perintah Papa Arman pada sang Putra.


Khenzi tak membantah dia segera menuju dapur untuk mencari wanita itu. Arumi masih sibuk dengan pekerjaannya yang sedang merapikan piring baru selesai ia cuci.


Lama Khenzi terdiam sembari mengamati wajah cantik yang ada dihadapannya. Pria itu bingung harus bicara apa. Sikapnya yang kaku sangat sulit untuk berinteraksi dengan wanita.


"Ekhemm!"

__ADS_1


"Astaghfirullah! Kaget Arum, Mas!" Seru wanita itu menatap Khenzi yang berdiri tak jauh darinya.


"Mas Khenzi butuh sesuatu?" tanya Arumi.


"Tidak!" Jawab Pria itu singkat.


"Terus, mau ngapain?" tanya Arumi bingung.


"Disuruh Papa sarapan bersama."


"Nanti saja, Arum belum lapar, Mas," tolak wanita itu sembari meneruskan pekerjaannya.


"Jangan menolak, ini perintah Papa!" Ujar Pria itu segera beranjak meninggalkan Arumi yang masih berdiri.


Arumi hanya menggelengkan kepala. "Dingin banget jadi orang. Pantas aja diputusin oleh pacarnya."


Gadis itu bergumam sendiri segera berjalan mengikuti langkah lelaki Es batu.


"Ayo duduklah, Nak." Bunda Lyra menyuruh Arumi duduk untuk sarapan bersama.


"Pagi ini kamu ke RS, Arum?" tanya Papa Arman.


"Nanti masuk siang, Pak." Jawab Arum.


"Yasudah, nanti pergi biar diantar oleh ADC yang piket hari ini. Nanti save nomor mereka ya. Untuk sementara waktu tidak apa-apa kamu diantar oleh ADC, nanti Bapak carikan Sopir dirumah ini untuk kamu," jelas Arman. Karena Arum tidak termasuk anggota keluarga Jendral bintang dua itu, jadi Papa Arman takut menyalahi aturan, maka dari itu ia mencarikan supir pribadi khusus antar jemput untuk Arumi.


"Tapi, Pak, Arum biar cari kost dekat RS saja," tolak Arum.


"Kenapa? Apakah kamu tidak suka tinggal disini bersama ibu kamu?" tanya Papa .


"Bu-bukan begitu, Pak. Arum tidak enak selalu merepotkan."


"Arum, kami tidak merasa direpotkan. Sudah, kamu ikuti saja perintah Papa ya," potong Bunda.


"Baiklah, Terimakasih untuk sebelumnya, Bu, Pak."

__ADS_1


Papa Arman dan Bunda Lyra hanya mengangguk. Sementara itu Khenzi hanya diam sembari fokus dengan makanannya, entahlah, ingin ikut bicara tetapi tidak tahu harus memulai darimana.


Waktu begitu cepat berlalu, hari-hari yang dilalui oleh Arumi dan Khenzi terasa biasa saja. Sikap Khenzi yang dingin belum mampu di cairkan oleh Arumi. Jarang sekali ada percakapan diantara mereka.


Pagi ini dikota Medan. Khanza baru saja bangun, karena hari libur maka wanita hamil itu sengaja bangun lebih siang. Khanza terbangun karena suara ponselnya yang memekakkan.


Seketika senyum wanita itu mengembang saat melihat siapa yang telpon. Khanza segera menggeser gambar Camera.


"Assalamualaikum... Pagi, cantik. Ya Allah, baru bangun kamu, Sayang? Pantesan dari tadi diketuk pintunya nggak dibukain."


"Hehe... Ngantuk banget, Adek, Mas. Habisnya tadi malam diajakin begadang ama kamu telponan," ujar Khanza tersenyum manja menghadap pada camera ponselnya.


"Abisnya kangen banget sama kamu, Dek. Kamu kangen nggak ama aku?"


"Kangen banget, Mas. Emang masih lama ya kamu tugas disana?" tanya Khanza sedikit cemberut, karena menahan rindu pada lelaki kesayangannya itu.


"Gimana ya, sebenarnya masih lama, tapi aku sempatin untuk ketemu dengan kekasih halalku. Coba tebak Mas ada dimana sekarang?"


Yusuf memutar camera ponselnya untuk memperlihatkan lokasi dimana dia berada sekarang. Khanza mengamati dengan teliti tempat itu. Rasa sudah tak asing lagi, tetapi dimana? Ah, otaknya masih tumpul untuk menebak tempat itu, mungkin efek bangun tidur.


"Kamu dimana sih, Mas? Kok rasanya tidak asing lagi?"


"Hehe... Sana mandi dulu, Dek, biar seger pikirannya. Mas tunggu kamu disini."


"Eh, tunggu! Bukankah itu kolam renang di belakang?" Mata Khanza membelalak. "Mas, kamu sudah disini? Haaa... Jahat banget sih kamu! Naik, Mas! Adek kangen." Wanita itu tertawa manja dengan mencak-mencak bak anak kecil dengan segala rasa bahagianya.


"Hehe... Kamu tuh, ya. Gemesin banget. Ayo turun. Mas tunggu kamu disini." Yusuf masih menggoda istrinya.


"Nggak mau... Kamu naik, Mas. Adek kangen. Adek belum mandi. Pokoknya Adek nggak mau mandi sebelum dipeluk sama kamu," rengek wanita itu begitu manja.


"Haha... Baiklah, baiklah. Tapi kalau Mas naik, nanti kita mandi bareng ya?" Goda Pria itu sembari mengedipkan matanya.


"Iya, Mas. Ayo dong naik Adek udah siap nih." Ternyata wanita itu tak kalah menggoda suaminya, sehingga membuat semangat Pria itu berkobar untuk menyongsong sang istri.


Bersambung...

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2