
Hari ini adalah hari yang telah dinanti-nanti oleh kedua pasangan itu. Yang mana Putri satu-satunya dari pasangan Dokter dan guru itu akan melepas masa lajangnya. Perasaan Yandra dan Fatimah sangat terharu.
Meskipun berat, namun begitulah takdir. Anak-anak akan menemukan pasangan mereka masing-masing dan mereka akan hidup dengan keluarga mereka. Maka yang akan setia menemani adalah pasangan kita sendiri hingga nafas terpisah dari raga.
Semua keluarga dan sanak famili telah memenuhi kediaman Yandra Saputra. Begitu juga dengan keluarganya yang ada di kota Padang juga sudah hadir, kebetulan Papa Arman mempunyai waktu senggang Sehingga dapat menghadiri pernikahan Putri dari adik kandungnya.
Pagi ini Yanju baru pulang beribadah jamaah di masjid, ia melihat sang adik melamun di balkon di tengah pagi buta, apa yang sedang dipikirkan olehnya. Bukankah hari ini dia harus bersiap untuk pernikahannya. Pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk kamar, tetapi melangkah menghampiri Akhifa.
Pria itu duduk disamping adiknya yang selama ini sangat mandiri dan cuek. Berbeda halnya dengan Khanza yang teramat manja dan sangat perhatian. Tapi pagi ini ada sisi berbeda dengan sang adik.
Yanju melingkarkan tangannya di belakang sang adik, sontak membuat Akhifa terkejut.
"Abang! Ngagetin Adek aja," rutunya sedikit kesal.
"Lagi mikirin apa sih, sehingga Abang duduk tidak sadar?" tanya Yanju mengelus rambut Akhifa dengan lembut.
Hati gadis itu terasa entah saat mendapat perlakuan lembut dari sang Kakak. Selama ini sikapnya yang terlalu cuek seakan menghilangkan rasa manjanya sebagai seorang adik pada Abangnya.
Kenapa sekarang setelah dia akan menikah baru dapat merasakan belaian Abangnya sangat berarti, bahkan dapat menghilangkan kegundahan hatinya. Kenapa tidak dari dulu dia merasakan hal ini. Tetapi Akhifa sadar dirinya yang terlalu mandiri seakan tak membutuhkan perhatian itu.
"Kenapa, Dek? Cerita dong sekali-kali sama Abang. Abang tuh terkadang rindu dengan Akhifa yang dulu saat masih kecil. Apapun masalah akan selalu cerita, dan bahkan Abang masih ingat saat kamu mendukung cita-cita Abang sebagai seorang polisi, agar Abang bisa membela kamu saat ada masalah. Tapi nyatanya tidak seperti itu, bahkan kamu tidak pernah mengadu apapun sama Abang, meskipun kamu mempunyai masalah besar," ucap Yanju membuat gadis itu menatap sedih.
"Kamu tahu, Dek, dulu kita hanya berdua anak Ayah dan Ibu dirumah ini. Saat masa kecil, kita sangat bahagia, karena kita saling mengasihi dan saling membutuhkan. Tapi setelah kamu sudah dewasa dan pulang dari luar negeri, sikap kamu sudah tak seperti Akhifa Abang yang dulu. Terkadang Abang sedih tak ada lagi tempat Abang mengadu dan cerita."
"Abang, Hiks..." Akhifa segera menghambur dalam pelukan sang Abang dengan tangis pecah. "Maafkan Adek, Bang, Selama empat tahun diluar negeri membuat Adek terbiasa hidup mandiri dan kuat, sehingga Adek lupa bahwa sebenarnya aku adalah gadis kecil yang manja Abang dulu. Aku terlalu menerapkan komitmen yang menurutku Who are you who am, I, seakan aku sudah tak peduli dengan orang sekitarku."
__ADS_1
Gadis itu mencurahkan isi hatinya pada Abangnya. Yanju membalas pelukan sang adik, sedikit lega setelah sekian purnama memendam perasaan kekecewaannya terhadap gadis itu yang berubah sikapnya. Yang pada dasarnya tidak seperti itu.
"Abang senang akhirnya adik Abang sudah kembali seperti dulu lagi. Jangan merubah karakter dirimu, Dek, tetaplah menjadi gadis kecil Abang yang manja. sejatinya kamu dan Khanza itu sama. Dulu kalian sangat manja. Sekarang katakan, kenapa kamu melamun di pagi buta ini, bukankah kamu harus bersiap untuk pernikahan kamu?" tanya Yanju masih memeluk sang adik.
"Adek sedih, Bang, sebentar lagi Adek akan menikah. Terus, Adek harus ikut Mas Akmal tinggal di kota Padang. Adek sedih harus tinggalkan Ayah dan Ibu," curhatnya sembari melerai pelukan.
"Tidak perlu sedih, Dek, kamu kan bisa kapan saja balik kesini bila kamu rindu, memang sudah sewajarnya bila seorang istri ikut kemanapun suaminya pergi." Yanju menasehati sang adik.
"Bang, apakah aku bisa menjadi istri yang baik dan seperti kakak-kakak iparku yang begitu lembut dan penuh perhatian pada pasangannya?" tanya gadis itu tidak yakin pada dirinya sendiri yang selama ini memang tak pandai bersikap manis.
"Abang yakin kamu pasti bisa. Percaya sama Abang. Ikuti saja alurnya. Kamu akan banyak belajar dari suamimu nanti," jawab Yanju memberi semangat.
"Makasih ya, Bang."
"Sama-sama Sayang. Udah jangan sedih lagi, ayo sekarang bersiap. Bentar lagi tukang rias akan datang," ujar Yanju menghapus sisa air mata adiknya.
***
Kini semua keluarga sudah bersiap untuk mengantarkan calon mempelai wanita menuju hotel yang telah di boking oleh Dokter senior itu untuk acara resepsi sekaligus acara ijab qobul disana.
Sementara Akmal dirias di hotel itu sendiri. Perasaan Akhifa begitu gugup saat mobil yang ditumpanginya dan rombongan keluarga yang lainnya telah memasuk pekarangan hotel berbintang itu.
Akhifa turun diapit kedua kakak iparnya, yaitu Arumi dan Aisyah. Khanza dan yang lainnya berada di belakang mengiringi calon pengantin itu. Akmal sudah duduk di tempat dimana ia akan mengucapkan kalimat sakral untuk
menghalalkan Putri dari seorang Dokter yang satu spesialis dengannya.
__ADS_1
Akhifa hanya tertunduk saat menduduki kursi bagiannya. Yandra duduk berhadapan dengan Akmal. Ini adalah momen yang paling berharga dalam hidupnya, menjadi wali untuk anak kandungnya.
Sebelum acara dimulai, Yandra memberikan nasehat untuk Pria yang sebentar lagi akan menjadi menantunya. Seperti nasehat ayah mertuanya dulu saat dia menikahi Fatimah.
Mendadak suasana menjadi haru, saat Pria baya itu memberi nasehat berharga. Akmal mendengarkan dengan seksama. Ia berjanji akan menyayangi Akhifa sepenuh hati.
"Bagaimana, sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Insya Allah siap, Pak!" jawab Akmal yakin.
"Mari kita mulai ijab qobul sekarang!"
Yandra mengulurkan tangannya dan disambut oleh Akmal dengan cepat, dan segera mengucapkan kalimat sakral itu dengan lancar.
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah..."
Pak penghulu membacakan Do'a untuk kedua mempelai, dan mempersilahkan kedua mempelai untuk menandatangani buku nikah dari kedua belah pihak. Setelah itu lanjut memberikan seserahan mahar dan menyematkan cincin kawin.
Akhifa menyalami tangan Akmal dengan takzim, dan dibalas dengan kecupan hangat di kening wanita itu. Seketika jantungnya berdegup kencang. Ini kali pertama ia mendapat sentuhan dari seorang lelaki.
__ADS_1
Selesai acara akad, dilangsungkan acara resepsi. Akhifa dan Akmal tampak selalu tersenyum diatas pelaminan. Semua keluarga tersenyum lega. Akhirnya gadis kaku itu menemui jodohnya. Semoga mereka selalu bahagia samawa till jannah.
Ekstra part 12