Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Ingin pergi


__ADS_3

Arum masih terpaku menatap pemandangan yang menyesakkan dadanya, untuk apa Khen membawa Rayola ke RS ini. Apakah dia sengaja ingin membuat Arumi sakit?


Arumi turun ke lantai satu, entah kenapa hatinya masih saja ingin tahu tentang Pria itu. Arum mengamati kemana tujuan pasangan itu. Kembali dirinya terpaku saat melihat pasangan itu menuju poli kandungan.


Poli kandungan? Untuk apa mereka kesana, apakah Rayola sedang hamil?


Gadis itu bergumam dalam hati, batinnya terasa semakin perih. Arum beranjak dari tempat itu dan kembali naik kelantai dua tempat dirinya bertugas. Banyak pertanyaan menyeruak dalam hatinya. Apakah benar Khen sudah pernah meniduri Rayola? Mungkin saja yang dia katakan kemaren adalah bohong.


"Arumi, kamu kenapa?" tanya seseorang memutus lamunannya.


"Ah, Dokter Radit! Ti-tidak, Arum tidak kenapa-kenapa, Dok," jawab gadis itu segera menghapus air matanya.


Radit menatap Arum dengan dalam. Sudah beberapa hari ini ia memang sudah curiga melihat sikap Arum yang tiba-tiba berubah.


"Arum, apakah kamu ada masalah? Apakah karena waktu itu membuat hubungan kamu dan Khen memburuk?" tanya Dr Radit menebak dengan benar.


"Ah, ti-tidak, Dok. Semua baik-baik saja," jawab Arum masih menutupi.


Radit hanya mengangguk paham walaupun hatinya masih belum percaya. Tetapi, ia ingin memberi waktu untuk gadis cantik itu sendiri.


"Arum, jika kamu tidak mampu memendam masalahmu sendiri, maka aku siap menjadi teman bercerita untukmu suatu saat nanti. Pulanglah jika kamu sedang tidak baik-baik saja," ucap Pria itu penuh pengertian, Arum memang sedang tak bersemangat untuk meneruskan pekerjaannya.


"Ah, baiklah. Terimakasih, Dok. Apakah benar tidak apa-apa bila Arum pulang sekarang?" tanya wanita itu masih nada sedih.


"Iya, tidak apa-apa, pulanglah. Nanti aku yang akan mengurus izinnya."


"Baiklah, sekali lagi terimakasih ya, Dok." Arumi segera beranjak meninggalkan RS.

__ADS_1


Setibanya di lobby Arumi segera memesan taksi online. Saat ingin keluar menghampiri mobil yang telah menjemputnya. Kembali dia berpapasan dengan Khen dan Rayola.


Terlihat Rayola begitu mesra mengapit lengan Pria itu. Sesaat langkah mereka berhenti dan saling pandang. Namun Arumi segera memutus tatapannya segera meninggalkan mereka.


Diperjalanan pulang Arum kembali menangis. Kenapa Khen begitu tega dan jahat sekali hatinya? Padahal sedari kecil ia mengenal Pria itu. Walau sikapnya memang dingin dan kaku. Tetapi dia cukup penyayang. Tetapi, sekarang seakan dia sudah berubah menjadi seorang laki-laki yang benar-benar jahat tak mempunyai perasaan.


"Pak, ke pantai air manis ya," ucap Arum pada driver.


"Baik, Mbak."


Arumi mampir ke pantai untuk melepaskan segala sesak di dadanya. Sepertinya disanalah tempat ternyaman saat hati dan pikiran sedang tak sinkron.


Setibanya di pantai, gadis itu segera menuju Karolin yang biasa dia duduki dipinggir pantai. Tatapan gadis itu lurus kedepan mengamati laut lepas membentang. Kembali hatinya sakit saat mengingat bagaimana Pria itu menyakiti perasaannya. Dari mulai dia menawarkan untuk mencoba menjalani hubungan, memberinya cincin, mengatakan ingin menghalalkan secepatnya, hingga hal yang paling menyakitkan saat dia menyatakan sudah kembali lagi dengan sang mantan dan meninggalkan dirinya begitu saja dengan sejuta luka.


"Hhaaaahhh! Kenapa kamu jahat sekali, Mas? Arum salah apa? Kenapa begitu mudah kamu akhiri hubungan ini? Apakah kamu tahu, inilah hal yang paling aku takutkan saat kamu memintaku untuk mencoba menjalani hubungan denganmu. Aku takut pada akhirnya aku yang akan terluka sendiri! Kamu jahat sekali, Hiks... Jika kamu tidak bisa melupakan dia, kenapa kamu mempermainkan perasaanku yang sudah mulai nyaman bersamamu. Rasanya sakit sekali, Mas...."


"Sedang apa kamu disini? Ini sudah siang, ayo pulang!" suara itu membuat Arumi terjingkat dan segera menoleh. Seketika jantungnya berdegup kencang saat tatapan mereka bertemu.


Arumi segera membuang pandangannya. Dirinya yang sedang menangisi Pria itu, tetapi dengan santai tanpa dosa dia merasa tak melakukan kesalahan apapun.


"Apa peduli kamu, Mas, pergilah, jangan usik ketenanganku!" tekan gadis itu kembali memunggunginya.


"Ayo pulang, Arum!" tegas Khen sembari meraih tangan gadis itu.


"Lepas! Mulai sekarang kamu jangan pernah bersikap berpura-pura baik lagi padaku! Sudah cukup luka yang kamu berikan padaku, Mas! Apakah kamu menganggap aku hanya sebagai hiburan semata. Hati aku sakit, Mas. Sakit! Tolong jangan pernah memberiku harapan apapun lagi. Aku sadar sekarang aku tidak memiliki hak lagi atas dirimu. Hubungan singkat kita sudah berakhir, kita akan kembali menjadi dua manusia asing, biarkan kuralung sendiri rasa sakit ini. Kamu jangan pernah hadir lagi dalam kehidupanku. Berbahagialah dengan wanita yang kamu cintai," ucap gadis itu menumpahkan segala uneg-uneg yang beberapa hari ini ia tahan.


Arumi segera beranjak meninggalkan Khen yang masih terpaku saat mendengar curahan hati gadis itu. Perasaan lelaki itu entah.

__ADS_1


"Arumi, tunggu! Arum dengarkan aku dulu!" teriak Khen sembari mengejar langkah gadis itu. Namun, Arum tak menghiraukan lagi, ia segera keluar dari area pantai dan mencari taksi.


"Arum!" Pekik Khenzi yang tak dihiraukan oleh wanita cantik berlesung pipi itu, Arum segera masuk kedalam kendaraan yang telah dia pesan.


Setibanya diruamah, Arum segera masuk kedalam kamarnya. Tak tahu harus berbuat apa. Arum membuka histori yang ada di aplikasi pesan, ia melihat sang kakak memposting penerimaan lowongan di puskesmas tempatnya bertugas.


Sesaat Arum berpikir, akan lebih baik jika dirinya menjauh dari Pria itu agar ia bisa segera melupakannya. Arum segera menghubungi kakak perempuannya yang seorang Dokter umum bekerja di puskesmas yang ada di kota Jambi.


"Kamu kenapa tiba-tiba berminat untuk bekerja disini, Dek? Bukankah kamu sudah nyaman bekerja di RS, dan dekat dengan ibu?"


"Arum ingin mencoba suasana baru, Kak. Arum juga ingin mandiri. Lagipula Ibu masih nyaman tinggal disini. Kakak bantu Arum ya?" ucap gadis itu memohon.


"Baiklah, kamu bicarakan hal ini pada ibu terlebih dahulu. Nanti kakak bantu, kamu kirimkan semua berkas lamarannya."


"Baiklah, Kak, Arum akan bicarakan pada ibu. Nanti Arum kirim berkasnya ya, Kak. Terimakasih kakak cantik. Hehe..." Arum mencoba untuk bersikap biasa saja agar sang Kakak tidak curiga.


"Alah pinter banget kamu ngerayunya. Yaudah, nanti kabari Kakak lagi ya, atau nanti malam kita telponan lagi sekalian sama Ibu."


"Oke, siap Kak."


Sambungan berakhir. Arum segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah bersih dan berpakaian rumahan, gadis itu keluar untuk menemui sang Ibu.


Arum melihat Ibu dan Bunda sedang asyik ngobrol sembari membuat adonan kue di dapur. Mereka memang sudah tak seperti art dan majikan. Bunda sudah menganggap Bu Santi seperti kakak sendiri.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2