
Lama mereka terdiam, Arum menatap keluar untuk merangkai kata-kata yang tepat, bagaimana memulai percakapan ini. Pria yang ada disampingnya sangat sulit untuk dimengerti.
"Apakah Mas Khenzi masih mencintai Mbak Rayola?" akhirnya ucapan itu yang keluar. Arumi harus tahu tentang perasaan Pria itu yang sebenarnya sebelum ia memberi jawaban.
"Ya, aku masih mencintainya!" jawab Khenzi begitu jujur. Pria itu sungguh tak bisa merangkai kata sedikit lebih halus untuk menjaga perasaan lawan bicaranya. Dia akan mengatakan sesuai apa yang dirasakan.
"Baiklah, Arum rasa kita tidak perlu melakukan pendekatan lebih lagi jika Mas Khenzi masih mencintai Mbak Rayola, maka silahkan perjuangkan cinta kalian."
"Tapi aku tidak bisa memaafkannya. Kenapa kita tidak mencobanya?"
"Arum tidak bisa, Mas!"
"Kenapa?"
"Karena perasaan kamu masih milik Mbak Rayola. Percuma berjuang sendiri."
"Kenapa kamu menyerah sebelum memulai? Aku ingin kehadiranmu bisa membuat aku melupakan Rayola."
"Apakah Mas Khenzi yakin dengan itu? Bagaimana jika nanti kamu tidak bisa move on?"
"Mari kita coba, bantu aku agar bisa melupakannya, dan tolong pahami sikapku yang memang seperti ini. Tetapi jika kamu tidak bisa, katakan dari sekarang."
Arumi bingung harus bagaimana. Bukan dikarenakan sikap Khenzi yang kaku dan dingin, tetapi ia takut tidak bisa membantu Pria itu untuk melupakan mantan kekasihnya, dan wanita itu juga takut bila nanti perasaannya sendiri yang akan terluka.
"Baiklah, tidak ada salahnya jika kita saling mencoba," jawab wanita itu menunduk.
Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, sedikit lega dihatinya. Khenzi kembali menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Sebelum pulang Pria itu membawa Arumi duduk di lesehan pinggir pantai.
Kendaraan roda empat itu menepi di depan pondok penjual kelapa muda. Arumi menilik lelaki yang ada disampingnya. Benar-benar orang yang sulit di tebak. Tanpa meminta persetujuan lelaki itu membawa sesuka hatinya.
"Kok bengong? Ayo turun!" titah Khenzi dengan datar, tak ada manis-manisnya.
Arumi hanya ikut tanpa berani membantah. Ikuti saja apa mau Pria dingin itu, syukur-syukur dirinya mampu membuat balok es mencair. Ah, mimpi kali bisa semudah itu melelehkan hatinya.
Sore, matahari sudah mulai beranjak dari peraduannya. Deru ombak mulai membesar bertanda pasang mulai naik. Khenzi hanya menatap lurus kedepan.
Arumi mencuri-curi pandang pada Pria yang ada disampingnya. "Apa sih maunya? Hanya untuk ini aku dibawa duduk disini menjadi patung? Ya Allah, berikan rasa sabar dalam jiwaku." Batin wanita itu,
"Diminum, Arum, jangan dilihat saja minumannya," ujar Pria itu menatap sekilas.
Arumi hanya mengangguk. Segera menyesap air kelapa muda yang lengkap dengan sedotannya. Arumi yang sikapnya kalem dihadapkan dengan Pria kaku, maka wanita itu menjadi semakin mati gaya.
"Arum?"
__ADS_1
"Ya?"
"Kamu suka wisata apa?" tanya Khenzi mencoba memecah suasana.
"Arum suka wisata alam," jawab wanita itu jujur.
"Apakah kamu menyukai laut?" tanya Pria itu kembali.
"Ya."
"Tapi kenapa kamu tidak nyaman duduk disini?" tanya Khenzi yang juga memperhatikan wanita itu tidak menikmati pemandangan laut lepas.
"Hah? Nggak, Arum menikmati kok." Tandasnya mengubah ekspresi wajahnya dan tersenyum menatap hamparan laut luas yang ada dihadapannya.
Khenzi hanya tersenyum senjang melihat tingkah gadis cantik itu. Sangat lucu dengan caranya membawa pendekatan.
"Mas Khen, suka laut ya?" tanya Arumi mencoba ikut memulai.
"Hmm, aku sangat pecinta wisata laut. Jiwaku sedikit lebih nyaman bila menatap hamparan laut lepas," gumam Pria itu sembari menyesap minumannya. Ternyata hobinya itu menurun Bunda Lyra.
"Kamu lapar?" tanya Khenzi menatap gadis cantik berlangsung pipi itu.
"Tidak, Arum masih kenyang."
Panggil salah seorang, membuat kedua insan itu menoleh secara bersamaan untuk mencari sumber suara itu. Terlihat seorang lelaki jangkung masih mengenakan Snelli dokternya dan membimbing seorang bocah kecil. Sedikit tergesa Pria itu menghampiri mereka.
"Ah, Dokter Radit!" Sahut Arumi mengulas senyum pada lelaki itu.
"Kamu masih disini? Belum pulang kamu?" tanya Dr Radit yang hanya membawa sang perawat bicara, sekilas dia menatap Pria tampan yang ada di samping Arumi.
"Iya, Dok. Oya, kenalin dia Mas Khenzi," ujar Arumi mengenalkan Dokter itu pada Pria kaku yang sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka.
"Kenalkan, Saya Raditya. Dokter Arumi di RS." Dokter itu mengulurkan tangannya pada Khenzi.
"Ah, ya. Saya Khenzi temannya Arumi." Balas Pria itu dengan ramah.
"Tante Arumi, kita jalan kesana yuk, Tan?" ajak bocah kecil yang diperkirakan berumur empat tahun. Ya, anak kecil itu sudah sangat mengenal Arum, karena dia sering dibawa ke RS oleh sang Papa jadi sudah sangat mengenali suster pendamping Papanya di RS.
"Hmm, baiklah.Tapi Tante tidak bisa lama-lama ya, Sayang," ujar gadis itu mengikuti keinginan sang bocah.
"Oke, Tan." Bocah itu tersenyum girang sembari mengambil telapak tangan halus gadis itu.
Arumi dan anak kecil itu berjalan meninggalkan kedua lelaki dewasa itu di pondok pantai. Arumi sebenarnya dari tadi juga ingin mendekati lautan itu, ingin sekali menjejakkan kakinya merasakan siraman ombak kecil.
__ADS_1
Sementara dua orang Pria yang duduk di pondok saling pandang. Ada yang ingin mereka pertanyakan, tetapi tidak tahu cara memulai.
"Sudah lama mengenal Arumi?" tanya Dr Radit, akhirnya Pria dua puluh delapan tahun itu membuka percakapan.
"Sudah, dari kecil lagi," balas Khenzi datar.
"Oh, kamu teman lamanya?"
"Ya, dia sudah seperti adikku sendiri."
"Ah, maaf, kamu tinggal dimana?" tanya Radit yang ingin mencari informasi tentang lelaki yang membersamai wanita pujaannya itu.
"Di kompleks xx."
"Apakah kamu juga seorang Dokter?" tanya Dokter itu kembali.
"Tidak. Apakah wajahku terlihat seperti Dokter?" tanya Khen, sedikit tertarik dengan ucapan lawan bicaranya.
"Hahaha... tidak, karena kamu seseorang yang irit bicara." Dokter Radit tertawa mendengar pertanyaan Khenzi.
"Kamu sendiri, sudah lama mengenal Arumi?" tiba-tiba Khenzi mendadak minat untuk menanyai tentang kedekatan dua orang itu.
"Baru beberapa bulan ini. Arum adalah perawat pendampingku di RS," jelas Radit.
Jika dua orang Pria itu sedang terlibat obrolan tentang pembahasan seorang perawat cantik. Lain halnya dengan perawat itu sendiri dan bocah kecil yang bernama Rafif.
Arumi dan Rafif memilih duduk di Karolin yang ada dipinggir laut. Kaki mereka dimanjakan ombak kecil menerjang dengan lembut.
"Tante, kenapa Tante tidak mau pergi bermain bersama Rafif dan Papa? Seperti nonton bareng gitu," oceh bocah kecil itu menanyakan kenapa Arum selalu menolak permintaannya.
"Ah, bukan Tante tidak mau, Sayang, tapi kan, Tante dan Papa sama-sama sibuk, mungkin waktunya yang belum tepat," jelas Arumi pada Rafif.
"Apakah jika Tante mempunyai waktu, Tante mau?" tanya Rafif dengan tatapan berharap.
Arumi tersenyum menangkup kedua pipi halus bocah itu. "Hmm, Tante mau."
"Yeeeii... Terimakasih Tante Arumi yang cantik!"
Arumi hanya terkekeh mendengar ucapan bocah kecil itu. "Kamu pinter banget sih gombalnya." Arumi mengacak rambut Rafif dengan gemas. "Ayo kita pulang, bentar lagi magrib. Kita harus cepat sampai di rumah."
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1