
Khenzi mengajarkan Arumi menggunakan mesin fotocopy mini yang berada dihadapannya. Tubuhnya agak sedikit Merapat pada gadis itu sehingga membuat jantung sang gadis berdegup tak menentu.
"Tekan tombol On dulu!" titah Khen.
Arumi segera mencari tombol yang bertuliskan on. Segera menekannya. "Terus?" tanya wanita itu sedikit mendongak kesamping, karena posisi sang guru berada di sisi belakang bahu kirinya.
"Letakkan kertas yang ingin kamu copy," ujar Khen. Sedikit merunduk sehingga nafas hangatnya menyapu wajah gadis itu dari samping.
Tangan Arum gemetaran sehingga posisi kertas terbalik. Ck, apaan sih dia harus sedekat ini? Bikin jantungku bermasalah aja! Rutu Arum dalam hati.
"Terbalik itu, Arum!" tandas Khenzi merasa gemas dengan kinerja wanita dihadapannya. Khenzi segera mengambil kertas itu untuk memperbaiki letaknya, tetapi bersamaan dengan Arumi sehingga tangan mereka menyatu memegang kertas putih itu.
Seketika tatapan mereka bertemu. Cukup lama mereka saling pandang. Khenzi memutus tatapan itu secepatnya.
"Lihat sini, Arum."
Suara Pria itu memutus lamunan Arumi, ia segera mengamati cara yang benar meletakkan kertas itu.
"Tekan tombol Paper select!" perintah Pria itu.
Arum segera mengikuti petunjuk dari Khenzi, dan berusaha fokus dengan pekerjaannya.
"Atur berapa lembar yang ingin kamu copy," ujar Khen kembali.
"Kok tanya Arum? Kan ini milik Mas Khen, ya Mas sendiri lah yang menentukan," sahut Arumi membuat Khenzi menatap dengan tak percaya.
"Kamu ini mau belajar atau mengajari aku?" tanya Khen menyorot tajam.
"Eh, i-iya. Mana tadi yang harus di pencet?" tanya gadis itu kikuk sendiri.
"Tekan angka tiga!"
"Ah, ya baiklah." Arum segera mengikuti perintah yang mulia kaku.
"Buat tiga lembar semuanya!" ujar Khen, dan kembali duduk di kursi kerjanya, membiarkan Arum mengerjakan sendiri. Pria itu kembali fokus dengan pekerjaannya di depan laptop yang masih menyala.
Saat Arum masih fokus, terdengar pintu ruangan itu terbuka. Arum dan Khenzi segera menoleh untuk melihat siapa yang masuk. Ternyata Papa Arman.
__ADS_1
"Kok kalian tidak keluar untuk makan malam bersama?" tanya Papa menghampiri mereka.
"Iya, Pa. Bentar lagi. Masih nunggu Arum mengcopy beberapa berkas penting yang harus Abang selesaikan sekarang," jelas Khenzi pada sang Papa.
"Kok tumben kamu suruh Arum mengcopy?" tanya Papa sedikit heran, biasanya Khenzi tidak pernah meminta bantuan siapapun dalam mengerjakan tugasnya. Apakah bertanda bahwa pria itu ingin selalu dekat dengan wanitanya?
"Ya, karena dia yang ngerusak ya harus tanggung jawab dong, Pa, tadi tu berkasnya sudah hampir selesai aku kerjakan, tetapi terkena tumpahan kopi oleh Arum, jadinya Abang harus lembur malam ini," jelas Pria itu kembali. Entah bentuk aduan atau kekesalan pada Arum.
Arum hanya menatap sekilas dua orang lelaki itu yang sedang bicara, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Sedikit jengkel mendengar ucapan Pria itu yang berasa mengadu pada sang jendral. Tetapi ada rasa kasihan juga karena Pria itu harus lembur.
"Yasudah, tidak apa-apa, namanya juga tidak sengaja. Calon suami itu harus ikhlas berkorban untuk calon istrinya. Setelah selesai Arumi mengcopy berkas, segera keluar. Papa tunggu kalian dimeja makan," ujar Papa Arman, dan segera beranjak keluar dari ruangan itu.
Khenzi dan Arumi hanya termenung mendengar pernyataan Papa. Rasanya masih kurang jelas ucapan Pria baya itu.
"Ekhemm! Kenapa bengong?" tanya Pria itu membuat Arum terjingkat.
"Apaan sih? Suka banget ngagetin orang!" Rutu gadis itu mengubah ekspresi wajahnya sedikit jengkel pada Pria itu.
"Habisnya ngelamun lagi! Kamu merasa kurang jelas dengan ucapan Papa? Ngarep banget ya?" tanya Khen mengulas senyum pada sang gadis.
"Ish, GR banget!" balas Arum, ia segera menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai, Arum mengemas kertas itu dengan baik. lalu meletakkan di meja kerja Pria itu.
***
Di kota Medan. Pagi ini Khanza masih enggan untuk bangun dari tempat tidur. Rasanya masih begitu nyaman dalam dekapan sang suami.
"Mas, kamu jadi berangkat nanti sore?" tanya Khanza, sembari membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Iya, Sayang, besok Mas dan rekan yang lainnya sudah harus balik ke pulau," jelas Yusuf sembari mengelus punggung sang istri.
"Mas, Adek ikut ya?" Khanza memeluk lebih erat, rasanya begitu berat harus berpisah kembali.
"Ikut kemana, Dek?" tanya Yusuf tak mengerti dengan maksud istrinya.
"Ikut kamu bertugas dong, Mas."
"Hehe... Jangan, Sayang. Nggak ada orang yang bawa istri, apalagi posisinya di pulau," jelas Yusuf.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus tugas diluar kota selalu, Mas?"
"Ini karena mendekati pemilu, Dek, jadi ya, kami akan sibuk dalam satu bulan kedepan. Setelah pemilu usai kami akan bertugas seperti semula di kantor. Sabar ya, Sayang." Yusuf mengecup kening istrinya.
"Adek jadi periksa kandungan 'kan? Mas juga ingin melihat perkembangan bayi kita," ujar Pria itu segera mengalihkan topik pembicaraan, ia tahu bahwa sang istri akan sedih bila membahas tentang perpisahan.
"Jadi, Mas. Nanti jam sepuluh," jelas Khanza.
"Yaudah, yuk kita sekarang mandi dan siap-siap." Yusuf membantu Khanza untuk duduk dan berdiri.
Wanita hamil itu hanya menurut patuh perintah suaminya. Ia segera masuk kamar mandi. Tak butuh lama untuk membersihkan diri. Kini bergantian dengan Yusuf.
Selesai bersiap. Pasangan halal itu turun kebawah, dan mereka sarapan bersama dengan kedua kakek dan neneknya.
"Mau kemana kalian sudah rapi?" tanya Oma.
"Mau ke RS, Oma, mau nganterin Adek periksa kandungan," jelas Yusuf.
"Oh, yaudah, ayo kita sarapan dulu," ajak Opa Malik pada kedua cucunya.
Selesai sarapan, mereka segera menuju RS Malik Saputra dengan diantarkan oleh driver. Diperjalanan Khanza tampak murung tak bersemangat seperti biasanya.
"Ada apa, Sayang? Kok nggak semangat?" Yusuf meraih tubuh Khanza dan membawa dalam dekapannya.
Khanza hanya menggelengkan kepalanya, netranya menatap sang suami begitu dalam. Entah kenapa hatinya begitu melow saat akan ditinggal tugas kembali.
"Ada apa, Sayang? Kenapa Adek sedih? Bicara dong!"
"Mas, emang tidak bisa ditunda berangkatnya satu hari lagi ya? Adek masih kangen sama kamu," jelas wanita itu.
"Tidak bisa, Dek. Udah, nggak usah mikir yang berat-berat ya, Adek harus bisa ngertiin pekerjaan aku sebagai seorang abdi negara. Jadi, stop! Jangan menjadi cengeng lagi!" tegas Yusuf membuat Khanza sedikit terjingkat mendengar suara tegas suaminya.
Khanza menatap Yusuf tidak percaya. Kenapa sikap Pria itu terkesan tegas dan sedikit garang. Apakah ini hanya perasaannya saja?
Khanza segera melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dan memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil. Cairan bening menetes disudut matanya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰