Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Berbohong


__ADS_3

Aku menerima segala kemarahan Jendral Arman, tak sedikitpun aku membalas atas segala pukulan yang beliau timpakan pada tubuh dan wajahku. Malam ini aku benar-benar pasrah, bahkan Pria itu mengeluarkan senjatanya sudah bersiap untuk menembakku.


Aku melihat Khanza begitu histeris dan takut dengan keadaan ini, aku merasa heran dengan wanita cantik itu. Bukankah dia menginginkan agar aku mendapat hukuman dari Papanya, tapi kenapa sekarang dia takut dan tidak rela?


Sedikit merasa lucu dengan gadis itu. Apakah dia hanya takut anaknya lahir tidak mempunyai ayah? Entahlah, yang jelas aku merasa berhutang Budi olehnya.


Di detik-detik timah panas itu akan menembus kepalaku, aku mencoba memejamkan mata, mungkin inilah hukuman yang pantas aku terima, aku sudah begitu berani dengan atasanku, tentu saja sang jenderal merasa harga dirinya terluka oleh perbuatanku. Aku yang hanya seorang ajudan berani sekali menghamili putri kesayangannya.


Saat aku sudah pasrah menerima hukuman, namun Ibuk Lyra meredam amarah Jendral, dengan perlahan senpi itu turun. Aku melihat Pria itu memeluk istrinya begitu erat dan mengucapkan istighfar berulangkali.


Aku begitu kagum melihat pasangan yang ada dihadapanku ini. Mereka masih selalu mesra meskipun tidak lagi muda, tetapi aku melihat mereka saling melengkapi dan ketergantungan. Sebenarnya sosok Jendral menjadi panutan bagiku. Beliau begitu menyayangi anak dan istrinya. Seorang jenderal yang tegas dalam bertugas, tetapi saat dirumah beliau begitu lembut dan penyayang pada keluarganya.


Aku menceritakan semuanya bahwa apa yang aku lakukan pada Khanza karena pengaruh obat perangsang yang belum bisa aku ungkap siapa pelakunya.


***


Sebagai bentuk pertanggungjawaban, malam ini aku sudah sah menikahi Khanza. Aku tahu ini adalah hal yang tidak mudah bagiku, karena aku harus menyakiti perasaan Tiara, tetapi aku juga tidak bisa membiarkan anak yang ada dirahim Khanza lahir tanpa seorang ayah.


Aku melihat raut wajah kekecewaan Mama dan Papa atas apa yang telah aku lakukan. Namun, semua telah terjadi. Aku hanya bisa meminta maaf kepada kedua orangtuaku.


Dikamar ini, rasanya begitu canggung bagiku. Dan sekelabat perbuatan nista yang pernah aku lakukan sehingga membuat hubunganku dan Khanza berakhir seperti ini.


Khanza memintaku menunggu di sofa, dia turun kebawah mengambil obat untuk mengobati luka pada wajahku. Aku merasa wajahku sudah tak berbentuk lagi, ternyata Pria baya itu begitu brutal menghajar wajahku habis-habisan.


Otakku terasa tumpul untuk memikirkan segala masalah yang kini sedang aku hadapi. Hal yang membuat aku begitu takut dan cemas ialah menghadapi istriku Tiara. Ya, wanita yang begitu aku cintai, bahkan wanita itu telah berjuang bertaruh nyawa melahirkan buah hati kami agar keluarga kecil kami lengkap.

__ADS_1


Meskipun dalam kondisi kesehatannya yang tidak stabil, dia tetap bersikukuh untuk mempertahankan kandungannya sehingga bayi kami dapat dilahirkan dengan selamat. Namun, Setelah melahirkan kondisi Tiara kini semakin memburuk.


Ya, istriku Tiara, dia mengidap penyakit kangker darah, yang biasa dikatakan leukemia. Aku mengetahui dia mengidap penyakit itu dua tahun pernikahan kami berjalan. Saat itu tubuhnya tiba-tiba lemah, dan Dokter mengatakan dia hanya mengalami anemia berat, namun setelah diperiksa secara intensif ternyata dia mengidap kanker darah.


Saat itu duniaku runtuh setelah mengetahui penyakit yang di derita oleh istriku. Namun, wanita itu selalu terlihat tegar dan memberiku semangat bahwa dia berjanji akan sembuh dan tidak akan pernah meninggalkan aku.


Tapi lihatlah sekarang! Aku akan menyakiti perasaannya, dia yang selalu berjuang melawan penyakitnya, dan telah berhasil memberiku seorang putra demi melengkapi kebahagiaan kami. Haruskah aku membunuhnya dengan cepat dengan mengatakan hal yang kini terjadi padaku bahwa aku sudah menikah lagi.


Sungguh aku tidak akan sanggup melakukan hal itu. Aku tidak sanggup harus kehilangan dia. Aku begitu mencintainya. Dia adalah wanita yang berjuang menemaniku dari awal, dialah wanita yang selalu ada dan membantu apapun kesusahanku, baik itu dari segi materi maupun dukungan.


Sebenarnya Tiara juga seorang Dokter, Namun, saat dia diagnosa penyakit berbahaya itu, aku memintanya untuk berhenti bekerja, aku hanya ingin dia fokus dengan kesembuhan dirinya. Tiara tipe wanita yang begitu patuh dan penurut, dia tak sedikitpun membantah ucapanku.


***


Lama aku berpikir langkah apa yang harus aku lakukan, hingga tanpa sadar aku ketiduran di sofa yang ada di kamar. Saat aku terbangun, aku merasa ada sesuatu yang bersandar di bahuku.


Aku menghela nafas panjang, lalu perlahan mengangkat tubuhnya keatas tempat tidur. Kuamati wajah cantik dan sayu itu terlihat hari ini dia begitu banyak menangis.


Aku tahu ini juga tidak mudah baginya, aku benar-benar merasa bersalah karena telah membuat dia harus berada dalam pernikahan seperti ini. Dengan kesalahanku, aku telah menyakiti dua orang wanita yang begitu baik.


Perlahan tanganku terulur membelai rambutnya yang sedikit berantakan, "Maafkan saya Mbak." Aku menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya agar dia tidur dengan nyaman, lalu aku kembali meneruskan tidur di atas sofa.


***


Pagi ini aku pulang kerumahku. Karena aku akan mengurus kembali surat tugas di kantor polres tempat aku bertugas semula, karena aku sudah di berhentikan menjadi ajudan di kediaman keluarga istri keduaku itu.

__ADS_1


Saat aku tiba diruamah aku melihat keadaan rumah sepi, biasanya saat aku pulang Tiara begitu antusias menyambutku. Ya, pernikahan kami begitu awet dan mesra, kami saling mencinta dan mengasihi. Ditambah sekarang sudah ada bayi mungil yang melengkapi kebahagiaan dalam rumah tangga yang telah kami bina selama lima tahun ini.


"Tiara dimana Bik?" tanyaku pada art yang sedang sibuk di dapur.


"Ibuk ada dikamar, Pak. Sepertinya Ibuk kurang sehat dari semalam."


"Oh, kenapa tidak mengabari saya?"


"Saya ingin mengabari, tetapi Ibuk melarang karena Bapak sedang bertugas."


Aku sedikit heran melihat sikap Tiara, biasanya dalam bentuk apapun dia akan memberiku kabar, tetapi kenapa semalam dia melarang? Ah, lebih baik aku tanya saja kebenarannya.


Aku segera masuk kedalam kamar. Kulihat Tiara dan bayiku masih tertidur. Seketika rasa bersalahku memenuhi dada, perlahan aku mendekati tubuh wanita yang sangat aku cintai. Aku telah menyakitinya, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya bila mengetahui hal ini. Tanpa terasa air mataku jatuh.


Ku genggam erat tangan lembut nan pucat itu, ku jatuhkan sebuah kecupan di keningnya. Entah kenapa aku sangat takut kehilangannya.


"Mas Yusuf! Kamu sudah pulang Mas? Itu wajah kamu kenapa Mas? Apa yang terjadi?" Dia hendak bangunan tetapi tanganku menahannya.


"Jangan bangun Sayang, istirahatlah, aku tidak apa-apa. Ini hanya insiden kecil, karena ada kesalahpahaman antara kami sesama ADC."


Aku sudah mulai berbohong demi menutupi kebohongan yang lain, aku terpaksa karena sekarang kondisi Tiara sedang memburuk.


Bersambung...


NB. Jadi begini aja ya, POV Yusuf aku potong-potong saja ya. Kalau terlalu di percepat nanti tidak terlalu paham tentang Yusuf dan Tiara. Dan lebih baik author tamatin sekalian episodenya πŸ˜€πŸ˜€ Terimakasih untuk sarannya dan terimakasih juga yang masih setia nungguin novel iniπŸ™πŸ₯°

__ADS_1


Happy reading πŸ₯°


__ADS_2