Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Pesan Tiara


__ADS_3

Diperjalanan pulang kami hanya diam, aku juga enggan untuk bicara. Rasa kesalku masih menangkup rongga hati. Aku tidak mengerti kenapa Khanza memberi kesempatan untuk Dr Akmal mengungkapkan perasaannya, apakah Khanza juga berharap cinta dari Pria itu?


Ah, tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku harus membuat Khanza mencintaiku, aku tidak ingin dia mencintai orang lain. Khanza hanya milikku.


Hei, ada apa ini? Apakah kamu lelaki serakah Yusuf? Bukankah kamu tidak mencintai wanita ini?


Benarkah aku ini lelaki serakah dan egois? Tapi, sungguh aku tidak rela untuk melepaskan Khanza. Apa salahnya jika aku mempertahankan pernikahan ini, dia istriku.


Di sepanjang jalan aku hanya larut dengan perasaanku sendiri. Aku belum bisa menyimpulkan perasaan yang sedang aku rasakan saat ini. Apakah saat ini aku sedang cemburu? Entahlah aku tidak tahu.


Setibanya dirumah, Khanza langsung naik keatas tanpa bicara apapun padaku, aku hanya menghela nafas dalam, dan sedikit menggelengkan kepala. Seharusnya aku yang marah, tapi kenapa dia yang ngambek?


Setelah memasukkan mobil kedalam garasi, aku segera ingin naik ke lantai dua, tetapi aku berpapasan dengan Mas Khenzi.


"Eh, Mas Yusuf! Baru pulang?" tanyanya berhenti dihadapanku.


"Ah iya, Mas. Baru pulang nganterin Adek dari RS. Kok ADC yang lainnya sepi, Mas? Pada kemana?" tanyaku yang sedikit penasaran karena tidak ada ajudan yang lain, karena tadi sebelum pergi aku melihat ada dua orang yang jaga.


"Oh, sengaja disuruh Papa pulang ke rumah dinas. Mas Yusuf nginap di sini 'kan?"


"Ah iya, Mas."


"Yasudah, saya mau ke dapur dulu." Pamitnya segera berlalu dari hadapanku. Aku hanya mengangguk dan segera naik kelantai dua.


Saat aku masuk terlihat kamar itu kosong, namun televisi menyala. kusapu seluruh ruangan dengan pandangan. Kemana istri cengengku itu?


Tak sengaja aku melihat pintu balkon terbuka setengah. Aku segera menuju kesana. Benar saja, wanita itu sedang melamun duduk seorang diri, apa yang sedang ia pikirkan? Apakah sedang memikirkan Dr Akmal?


Aku menghampirinya dan berusaha untuk tetap tenang, walaupun otakku menyisakan banyak pertanyaan yang ingin aku kemukakan.


Kalian tahu apa yang membuat hatiku semakin kacau? Dia menolakku saat aku mengatakan ingin mempertahankan pernikahan ini.


Bahkan dia mengatakan bahwa dia dan bayinya bisa bahagia hidup tanpaku. Apa ini?Benar-benar jawaban yang menyakitkan. Apakah dia memang menginginkan untuk berpisah denganku? Dan mungkin setelah berpisah dia akan menerima Dokter itu.

__ADS_1


Aku kesal, kecewa, dan marah. Aku memilih untuk meninggalkannya sendiri di balkon, niatku yang ingin ngobrol banyak, semua jadi ambyiar. Aku memilih merebahkan diri untuk meredam emosi.


Tidak berapa lama aku rasakan dia juga naik keatas tempat tidur, dan menyelimuti tubuhku. Ada perasaan tak menentu. Ternyata dia tidak menolak untuk tidur dibawah selimut yang sama. Terlintas di benakku untuk memiliki dirinya seutuhnya, aku tidak rela melepaskannya.


Dengan perasaan tak menentu, aku peluk Khanza dari belakang. Tanganku mengelus perut datarnya dengan lembut. Ku kecup puncak kepalanya berulang kali. Dia hanya diam, namun, tubuhnya terasa kaku.


Perlahan kuraih tubuhnya agar menghadap kepadaku, sekali lagi Khanza hanya diam tetapi tidak menolak. Kini wajah kami sudah berhadapan, aku menatap wajahnya dengan dalam, nafasku semakin tak beraturan. Kuberanikan diri untuk mengecup bibir ranumnya.


Khanza masih diam membatu, sehingga membuat adrenalinku terpacu. Kucoba untuk memberi luma tan semakin dalam. Perlahan tanganku mulai tak tenang, namun saat aku ingin menjamah tubuh sensitifnya lebih dalam, dia melepaskan pagutan segera menahan tanganku.


"Mas Yusuf hentikan!"


Aku terkesiap, menjadi serba salah, ada rasa bersalah, malu, kecewa, semua berbaur menjadi satu.


"Ada apa, Dek? Bukankah kita sudah menikah, dan kamu halal untukku sentuh!"


"Tapi aku tidak bisa Mas, karena kamu tidak mencintaiku!"


Aku hanya menghela nafas berat, aku kembali menekan rasa sabar dan mencoba untuk mengerti dengan perasaannya, ya mungkin saat ini aku memang belum bisa mencintainya, tetapi dengan melakukan hal ini aku lebih mudah mencintainya.


"Tidurlah!"


Aku beralih ke atas Sofa, aku bukan marah, hanya sedikit kecewa dan menjaga jarak agar aku tak kembali tergoda untuk melakukan kontak fisik.


***


Setelah satu minggu pasca Tiara dirawat, kini kondisinya kembali menurun, aku dan keluarga berusaha membujuk untuk membawanya berobat keluar negeri. Akhirnya Tiara mengikuti keinginanku.


"Mas, bagaimana jika nanti aku tidak bisa sembuh? Apakah kamu akan mencari pengganti diriku bila aku meninggal?"


Aku terkesiap mendengar pertanyaannya saat kami sedang tiduran bermain bersama Putra kesayangan kami.


"Kamu bicara apa, Sayang? Kamu pasti sembuh!"

__ADS_1


"Jawab dulu pertanyaan aku Mas?"


"Tidak! Aku tidak mau menjawabnya!"


"Tapi aku ingin jawaban darimu Mas."


Aku menatap wajah Tiara dan menangkup kedua pipinya. "Sekarang aku ingin bertanya keinginanmu,Sayang, apa yang harus aku lakukan?"


"Aku ingin kamu mencari penggantiku, carilah wanita yang bisa menyayangi alfarizqi sepenuhnya," jawabannya membuat hatiku terasa pilu, aku sudah mengkhianatinya sebelum dia menginginkan.


"Jangan bicara seperti itu Dek. Kamu pasti akan sembuh, kita akan membesarkan riszqi bersama."


Aku memeluk tubuhnya yang terasa semakin ringkih, aku selalu berdo'a untuk kesembuhan dirinya. Tak terasa air mataku menetes, aku mendekapnya begitu lama, aku sangat takut kehilangannya.


"Jangan sedih, Mas. Meskipun waktuku berhenti, aku akan tetap menantimu di surga Allah."


"Tidak, Sayang! Jangan katakan itu!" Aku menangis tetapi dia begitu tegar tak ada air mata yang jatuh dari sudut matanya. Tetapi, tatapannya tampak kosong. Hatiku semakin perih.


***


Hari ini aku sengaja meluangkan waktu untuk Khanza, karena besok sore aku akan membawa Tiara ke Singapore untuk menjalani pengobatan.


Pagi-pagi sekali aku sudah tiba dikediaman istri keduaku, saat aku masuk kamar, dia masih tertidur pulas. Tiba-tiba hatiku merasa bersalah karena selama menikah belum bisa membahagiakannya. Ditambah lagi aku harus pergi meninggalkannya dengan waktu yang cukup lama.


Perlahan aku duduk di bibir ranjang sembari mengamati wajah cantiknya yang begitu damai saat tertidur. Entah kenapa sekarang aku begitu menyayanginya, dengan hati-hati aku mengecup keningnya.


Lama aku duduk menantinya bangun, tetapi sepertinya Khanza begitu lelap. Sembari menunggu aku memainkan ponselku, iseng-iseng aku mencoba memanggil nomor Khanza dan kulihat namaku di ponselnya.


Calling My Heart


Aku tertegun melihat namaku dikontaknya. Sebenarnya bagaimana hatinya denganku? Kenapa dia memberi namaku spesial di kontaknya. Apakah dia ada perasaan denganku? Ah, entahlah aku tidak tahu akan hal itu.


Bersambung....

__ADS_1


NB. Nikmati saja dulu ya. Tidak berapa bab lagi POV Yusuf end, akan diganti dengan POV author. Jangan lupa dukungannya ya πŸ™πŸ€—πŸ₯°


Happy reading πŸ₯°


__ADS_2