
Setibanya dirumah, Papa Arman segera menuju ruang keluarga. Pria baya itu masih diam tak sedikitpun mengeluarkan suara sehingga orang yang ada bersamanya tak berani untuk sekedar menyapa.
Semua anggota keluarga itu duduk menghadap pada sang jendral yang tampak sedang kecewa. Papa Arman menatap Khenzi dan Arumi secara bergantian. Sudah pasti Pria itu menunggu penjelasan dari mereka.
"Papa, Bunda, Bu Santi, Abang minta maaf, karena telah membuat kalian kecewa," ujar Khenzi sembari menunduk.
"Katakan kenapa kamu bisa berada di kost Arumi?" tanya Papa dengan nada datar.
"Maafkan Arum, Pak. Arum yang membawa Mas Khenzi kesana." Arumi mengakui pada keluarga itu.
Seketika ketiga orangtua itu menatap Arumi dengan tidak percaya. Terlebih lagi Ibu Santi begitu geram melihat kelakuan anak bungsunya itu.
"Arumi! Apa yang kamu lakukan? Apa yang ada dalam pikiran kamu?" tanya Bu Santi begitu kesal.
"Maafkan Arum,Bu, tapi Arum bingung harus membawa Mas Khenzi kemana, karena Mas Khenzi dalam keadaan..." Ucapan wanita itu menggantung.
"Keadaan apa, Arum?" tanya Papa Arman penuh selidik.
"Aku mabuk, Pa." Khenzi mengakui perbuatannya.
"Astaghfirullah... Apa yang kamu lakukan, Khen? Ada apa denganmu?" Papa Arman mengusap wajahnya dengan kasar. Pria baya itu tidak tahu kenapa masalah selalu datang pada anak-anaknya.
"Pak, tapi Arum berani bersumpah, kami tidak melakukan apapun. Arum memang membawa Mas Khenzi tidur disana, tetapi kami tidur terpisah. Tolong percaya, Pak." Arumi menangkup kedua telapak tangannya memohon kepada Bapak jendral yang berjiwa besar itu.
"Apakah kalian siap untuk menikah?" tanya Papa Arman yang membuat Khenzi dan Arumi terjingkat.
"Tapi, Pa, Abang dan Arumi tidak saling cinta. Kami tidak bisa menikah tanpa cinta," sanggah Khenzi.
"Kalau begitu kalian bisa melakukan pendekatan selama lima bulan ini. Saat Khanza melaksanakan resepsi pernikahannya, maka sekalian kamu dan Arumi menikah. Resepsi itu akan digelar bersamaan dengan pernikahan kalian!" Dengan tegas dan lugas sang Papa menyampaikannya. Entah itu perintah atau keinginan.
Khenzi dan Arumi hanya bisa saling pandang. Mereka sudah tidak berani lagi untuk membantah. Khenzi menatap sang Bunda yang sedari tadi hanya diam dan sesekali mengangguk seakan membenarkan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana hubungan kamu dengan Rayola, Bang?" tanya Bunda yang membuat ingatan Pria itu kembali pada malam dimana wanita itu didapatinya sedang bermesraan dengan lelaki lain.
Khenzi menghela nafas berat, rasanya malas sekali untuk membahas wanita itu. "Hubungan kami sudah berakhir, Bun."
"Apakah karena itu kamu frustasi dan lari kepada minuman berakohol itu? Jangan bodoh, Bang. Wanita seperti itu tidak pantas diperjuangkan. Dari awal Papa sudah bisa menilai bahwa dia bukanlah wanita yang baik." Papa Arman menimpali ucapan Khenzi.
"Sekarang berusahalah untuk saling mengenal lebih dekat lagi dengan Arumi, begitu juga sebaliknya. Bunda dan Papa berharap kalian berjodoh. Tetapi, jika selama lima bulan ini tidak ada kecocokan dengan kalian. Kami tidak akan memaksa," jelas Bunda yang membuat Khenzi dan Arumi sedikit lebih lega.
"Tapi bagaimana dengan Mbak Santi? Apakah Mbak setuju dengan kesepakatan ini?" tanya Papa Arman pada Art yang selama ini sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, karena Arman memperkerjakan wanita itu dirumahnya sebelum dia menikah. Mbak Santi sudah begitu lama bekerja dengannya.
"Mbak setuju bagaimana nanti kedepannya, kita sebagai orangtua hanya bisa mengikuti keinginan mereka. Sekali lagi Mbak minta maaf dengan kekacauan ini."
Lyra tersenyum lembut sembari memegang tangan wanita baya itu. "Mbak Santi, tidak perlu minta maaf, ini hanya salah paham. Arumi hanya berusaha untuk membantu Abang, tetapi mungkin dia tidak berani membawanya pulang, karena takut Mas Arman akan murka."
"Yasudah, sekarang Arumi tinggal disini. Nanti biar supir yang mengantarkan saat kamu bekerja. Dan kamu, Bang, jika nanti kalian merasa cocok. Beri pengikat untuk Arumi," jelas Papa sembari berdiri ingin beranjak untuk naik kelantai tiga.
"Pengikat? Maksud Papa?" tanya Khenzi segera berdiri menghadap pada Papanya.
"Ck, apaan sih Papa. Pelit banget berbagi ilmu. Mana aku tahu. Emang di internet ada yang bisa menerjemahkan maksud kata-kata Papa." Rungut Pria itu kembali duduk. Bunda dan Bu Santi hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Biar Bunda yang kasih tahu apa maksud Papa," sahut Bunda.
"Apa, Bun?"
"Jika seandainya kalian ada kecocokan, maka beri Arumi tanda pengikat, yaitu seperti cincin tunangan agar semua orang tahu bahwa Arumi akan menjadi milikmu," jelas Bunda yang membuat Khenzi maupun Arumi bersemu.
"Yasudah, Bunda mau bantu Papa untuk bersiap ke kantor. Mbak, aku keatas dulu ya." Pamit Bunda pada Bu Santi.
"Iya, Mbak juga mau berberes."
Kini tinggal Arumi dan Khenzi yang masih duduk disana. Lama mereka berdiam, maka Arumi memilih beranjak membantu sang Ibu untuk menyediakan sarapan pagi. Memang sulit untuk berkomunikasi dengan cowok kaku bin dingin. Duduk berdua seperti tak berteman.
__ADS_1
Sementara itu Bunda Lyra sedang menyediakan pakaian dinas suaminya yang sedang mandi. Arman keluar segera menghadap pada sang istri.
Lyra yang sudah tahu kebiasaan suaminya. Dia segera membantu Jendral manja itu untuk menggunakan seragam dinasnya.
"Mas, apakah kamu menyukai Arumi untuk menjadi menantu kita?" tanya Lyra di sela aktivitasnya yang sedang memasangkan kancing baju suaminya.
"Ya, aku lebih memilih Arumi daripada Rayola," jawab Arman.
"Kenapa, Mas?"
"Karena aku melihat sikap wanita itu tidak jauh darimu. Baik dan penuh kelembutan. Sepertinya cocok untuk anakmu yang berwatak kaku seperti kanebo kering," jelas Arman tersenyum.
"Ish, apaan sih kamu ngatain anak sendiri seperti itu." Lyra memukul dada Arman dan disambut oleh Pria itu cepat, lalu mengecupnya dengan lembut.
Lyra menatap mata teduh itu dengan dalam. Sisa-sisa ketampanannya masih terpampang jelas.
"Kenapa kamu menatapku begitu? Apakah aku masih terlihat tampan?" tanya Arman yang membuat Lyra kembali salah tingkah.
"Mas, awas. Jangan ganggu aku nanti tidak siap pekerjaanku, kamu kenapa sih? Aku bicara serius, Mas." ujar Lyra menahan wajah suaminya yang selalu memberinya kecupan.
Arman menangkup kedua pipi istrinya. "Sayang, dengarkan aku. Seperti yang sudah kukatakan kenapa aku lebih memilih Arumi menjadi menantu kita daripada Rayola. Sebagai seorang Ayah, aku dapat melihat bahwa Arumi jauh lebih baik dan sopan. Karakternya juga lembut. Kita tidak perlu harus mencari orang yang sepadan. Karena kita sudah memiliki segalanya. Asalkan wanita itu sesuai dengan karakter yang kita inginkan untuk jadi menantu, maka tak peduli dia dari keluarga miskin ataupun kaya. Karena dengan apa yang kita miliki sekarang, kita bisa mengangkat derajat calon besan kita. Kita tidak mencari kesenangan dunia lagi, Sayang, aku hanya ingin hidup bahagia bersama anak-anak kita semuanya."
Lyra tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Suaminya begitu bijaksana. Kembali ia mengingat masalalu dimana dirinya seorang wanita yang sedang hamil tanpa suami diselamatkan olehnya, dan bahkan dia juga menutupi segala aibnya.
Lyra segera memeluk suaminya dengan erat. "Mas, kenapa kamu baik sekali? Aku benar-benar bersyukur mempunyai suami seperti dirimu. Terimakasih sudah selalu memperlakukan aku sebagai ratumu. Terimakasih juga atas kasih sayangmu dan perhatian yang begitu tulus untuk aku dan anak-anak."
Arman membalas pelukan sang istri tak kalah mesranya. "Aku akan mencurahkan kasih sayangku padamu dan juga anak-anak hingga nafasku berhenti. Kalian semua adalah prioritasku."
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1