Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Berpamitan


__ADS_3

Yusuf menghampiri Tiara yang masih berbaring lemah diatas bad pasien. Pria itu menarik kursi besi yang ada di samping bad, dan menghempaskan bokongnya disana.


Tangan Yusuf bergerak, perlahan menggapai telapak tangan Tiara yang terasa sangat dingin. Dia menatap wajah sang istri begitu dalam, rasa iba mendera dalam hatinya. Andai saja bisa digantikan rasa sakit itu, maka dia rela mengambil penyakit dari tubuh lemah tak berdaya ini.


"Kamu kenapa belum tidur, Sayang?" tanya Yusuf, mengecup punggung tangan Tiara.


"Nggak bisa tidur, Mas, temani aku dong tidur disini," pinta wanita itu dengan suara manja.


Yusuf tersenyum, sembari mengecup kening dan bibir sang istri. "Baiklah, Sayang." Pria itu naik keatas bad pasien dan merebahkan diri di ruang kosong yang ada disamping Tiara.


"Tidur ya, Sayang," ujarnya sembari memeluk tubuh lemah itu, dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Terimakasih ya, Mas." Tiara memejamkan mata, wajahnya disembunyikan di dada bidang Yusuf, tangannya yang terpasang jarum infus dipegang hati-hati oleh Yusuf.


Tidak berselang lama, sudah terdengar dengkuran halus yang menandakan bahwa istrinya sudah menemui mimpinya.


***


Pagi Khanza sudah rapi, ia sudah siap meninggalkan kota tempat dirinya dibesarkan. Khanza hendak turun dan menggeret koper. Langkahnya terhenti saat mendengar ada notif di ponselnya.


Wanita itu merogoh benda pipih itu didalam tas, senyumnya tersungging saat melihat pesan dari sang suami.


Assalamualaikum, jam berapa berangkat ke bandara, Dek?


" Wa'alaikumsalam, ini mau berangkat, Adek pamit ya, Mas. Semoga Mbak Tiara cepat sembuh. Aku tunggu kedatanganmu disana."


Khanza membalas pesan Yusuf begitu semangat. Walau ada sedikit perih disudut hati untuk berpisah dari Pria yang telah menempati hatinya.


"Yaudah, Mas tunggu kamu dibawah."


Seketika wajah wanita itu berbinar saat membaca pesan, bahwa Pria itu sudah menunggunya, berarti Yusuf yang akan mengantarkan dirinya ke Bandara.


Dengan senyum bahagia Khanza menggeret koper bawaannya, dengan perlahan ia menuruni anak tangga.Yusuf yang telah menunggu dibawah tangga, segera menyongsong istrinya untuk membawakan benda besar yang sedang digeret olehnya.


"Kenapa tidak minta Bibik yang bantuin untuk nurunin koper ini, Dek?" tanya Pria itu begitu khawatir, takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Nggak pa-pa, Mas, aku sudah biasa bawain hal yang beginian," jawab Khanza sembari berpegang pada lengan suaminya.

__ADS_1


"Iya, tapi sekarang kamu sedang hamil. Lain kali jangan bawa barang berat begini," pesan Yusuf tegas.


"Iya, Mas, aku ngerti."


Setibanya dibawah, Khanza tidak melihat Bunda dan Papa. "Bunda dan Papa mana, Mas?" tanya Khanza pada Yusuf.


"Tidak tahu, Dek, aku juga baru sampai."


"Bibi Santi, Bunda dan Papa belum turun?" tanya Khanza pada Bibi Santi, art yang sudah dia anggap sebagai ibu sendiri.


"Belum, Dek, mungkin sebentar lagi Bunda dan Papamu turun. Ayo Adek sarapan dulu, bawa Mas Yusuf sarapan sekalian," ujar Bibi Santi.


"Ayo Mas, kita sarapan dulu ya," ajak Khanza pada sang suami."


"Nanti, Sayang, tunggu Bunda dan Papa dulu, biar kita sarapan bersama."


"Iya, ayo kita duduk dulu. Oya, Mas, bagaimana keadaan Mbak Tiara?" tanya Khanza yang menduduki kursi yang ditarik oleh Yusuf.


"Masih lemah, Dek, RS masih mencari pendonor buat Tiara." Wajah Pria itu tampak sendu saat membahas tentang Tiara.


Khanza ingin membantu kakak madunya itu. Dia berharap Tiara segera sembuh, agar mereka saling jujur. Ya, meskipun itu tidak akan mudah bagi Tiara, karena dirinyalah yang telah masuk dalam hubungan mereka, tetapi itu bukan disengaja bagi Khanza untuk menjadi orang ketiga.


"Dek, sekali lagi terimakasih banyak atas segalanya, aku tidak tahu harus bicara apa, aku hanya berharap semoga ujian ini segera berlalu."


"Iya, Mas, aku hanya bisa membantu semampuku. Semoga usaha kita ini tidak akan sia-sia."


"Aamiin..."


"Loh, kamu sudah datang, Suf?" tanya Bunda dan Papa yang baru turun dari lantai tiga.


"Iya, Bun, aku ingin mengantarkan Adek ke bandara."


"Ayo kita sarapan dulu," ajak Papa Arman membawa anggota keluarganya.


"Bun, Abang kok sekarang tidak pernah lagi sarapan dirumah?" tanya Khanza, karena beberapa minggu ini sang kakak jarang sekali dia temui dirumah itu.


"Iya, hari ini Abang keluar kota, karena sekarang Abang sedang membuka cabang perusahaan yang ada di kota J, dia hanya titip salam sama kamu, dan berpesan agar baik-baik disana," jelas Bunda, menyampaikan pesan dari anak keduanya itu untuk adik kembarannya.

__ADS_1


"Oh, iya insyaallah aku akan selalu jaga diri baik-baik," balas Khanza, sembari mengisi piring makan untuk Yusuf.


Pagi ini mereka sarapan bersama dengan tenang, hanya suara gesekan sendok dan piring yang terdengar. Selesai sarapan, mereka duduk ngobrol bersama.


Bunda dan Papa kembali menanyakan kabar Tiara, dan Yusuf menjelaskan bagaimana kondisi Tiara yang belum ada kemajuan.


"Sabar ya, Nak, Khanza sudah cerita pada kami, dan Papa juga sudah menghubungi keluarganya yang ada di Medan, agar bisa membantu untuk mencarikan donor untuk Tiara. Dan maaf, Bunda dan Papa belum sempat menjenguk Tiara, tapi insyaAllah nanti sore atau malam kami ke RS," ujar Bunda meminta maaf belum sempat menjenguk semenjak Tiara pulang dari luar negeri hingga sekarang wanita itu dirawat kembali.


"Iya, tidak apa-apa, Bund, terimakasih atas segala bantuan yang telah Papa dan Bunda berikan untuk Tiara."


"Jangan selalu merasa sungkan, itu sudah kewajiban kami, karena sekarang kamu dan Tiara sudah menjadi bagian dari keluarga ini," sambung Papa.


Setelah cukup ngobrol, Khanza segera berpamitan pada kedua orangtuanya.


"Bunda, Papa, Adek pergi dulu ya, nanti kalau ada waktu luang, Papa dan Bunda kesana ya," ujar Khanza menyalami tangan kedua orangtuanya, dan memeluknya.


"Tentu, Sayang, nanti kalau cuti, Papa dan Bunda kesana," ujar Papa memeluk putri semata wayangnya.


"Iya, atau nanti kehamilan kamu tujuh bulan, kita akan buat acaranya di Medan," balas Bunda.


"Kelamaan, Bun, sekarang kehamilan Adek baru jalan empat bulan. Pokoknya nanti kalau Papa ada waktu, Bunda dan Papa harus kesana," rengek Khanza pada kedua orangtuanya.


"Hehe... Iya iya, Sayang, nanti Bunda dan Papa akan kesana." Bunda Lyra memeluk putri kesayangannya itu.


Yusuf juga ikut menyalami kedua mertuanya, dan berpamitan pada mereka untuk mengantarkan Khanza ke bandara.


"Yusuf, pegang ini, untuk jaga-jaga." Papa memberikan senpinya pada Yusuf. Karena Yusuf tidak sedang berdinas maka dia tidak mempunyai pegangan senjata.


"Tapi, Pa?" tanya Yusuf ragu untuk mengambil senjata ayah mertuanya itu.


"Pegang saja, ini hanya Papa pinjamkan. Nanti setelah pulang dari sana, kamu bisa kembalikan lagi pada Papa."


"Baik, Pa." Yusuf menerima senpi itu dan menyelipkan di pinggangnya.


Bersambung..


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2