Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Menentukan hari akad


__ADS_3

Arumi benar-benar menikmati waktu istirahatnya. Perlahan gadis itu membuka mata dan mengamati ruangan yang terasa asing, Namun, ia berusaha mengembalikan kesadaran naik kepermukaan. Ah, ternyata ia masih berada di kamar hotel.


Arumi mencari sosok lelaki yang sudah membawanya ketempat itu. Berniat untuk merenggangkan persendian ototnya. Namun, kakinya merasa menghantam tubuh seseorang.


"Astaghfirullah! Maaf, Mas, Arum benar-benar tidak sengaja," ucap gadis itu segera duduk.


Arum menatap dengan rasa takut, tetapi Khen sama sekali tak terlihat marah, ia malah mengukir senyum lembut.


"Tidak pa-pa, Sayang, kok udah bangun aja?" tanya Khen meraih jemari gadis itu menggengamnya dengan lembut.


"Iya, Mas, Arum ingin pulang sekarang. Nanti kak Vera khawatir," sahut Arumi merasa cemas saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Jangan cemas, aku sudah menghubungi Kak Vera."


"Ha? Kamu serius?"


"Seriuslah. Ini aku kirim foto kamu sedang tidur." Khen memperlihatkan jejak kirimnya pada Vera.


"Ya Allah, kenapa Mas kasih tahu kak Vera, bagaimana jika dia berpikir yang bukan-bukan."


"Ya nggaklah. Mereka sangat percaya dengan calon imam kamu ini," kata Khen sangat percaya diri.


"Ihh, aku serius, Mas."


"Iya, Sayang, aku juga serius. Udah ayo kita pulang sekarang. Atau kita mesra-mesraan dulu sebelum pulang." lelaki itu mulai menggoda Arumi.


"Udah ah, lama-lama berduaan dengan kamu bisa semakin konslet tuh otak," tandas Arum begitu gemas melihat tingkah calon suaminya itu.


"Hehe... Ayo kita pulang sekarang. Eh, tapi, kamu nggak ingin cuci muka dulu?" tanya Khen serius.


"Nggak, nanti diruamah saja."


"Kenapa? Takut konslet lagi ya?"


"Aihh, udah ayo Mas!"


"Hahaha... Baiklah, Sayang." Khenzi segera menggandeng tangan Arum untuk keluar dari kamar hotel.


Setibanya di kediaman Vera, Arum terperangah saat masuk, ia melihat sudah ada Ibu, Bunda dan juga Papa Arman.

__ADS_1


"Kalian sudah pulang?" tanya Vera pada sang adik. Mereka tampak sedang ngobrol bersama.


Arumi tidak menjawab, tetapi segera menghampiri mereka dan menyalami tangan orangtua itu. Arum ingin menanyakan prihal untuk apa mereka datang secara mendadak, namun, ibu dan yang lainnya menyuruhnya untuk mandi terlebih dahulu.


Arum hanya mengangguk patuh segera masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan diri. Setelah itu ia kembali bergabung dengan mereka.


"Kebetulan sudah ngumpul semuanya, maka Abang ingin menyampaikan sesuatu niat dan tujuan kenapa Abang meminta Papa dan Bunda, juga Ibu untuk datang hari ini." Khenzi menatap kedua orangtuanya dan calon ibu mertua dan kakak ipar.


"Ibu, Kak Vera, maksud dan tujuan Abang ialah untuk melamar Arumi. Abang ingin secepatnya menikahinya. Jadi, Abang meminta agar Papa, Bunda, dan juga ibu bisa membantu untuk menentukan waktu dan tanggal yang tepat untuk kami melangsungkan pernikahan," jelas Khenzi pada mereka.


Pria itu memang menelpon orangtuanya untuk datang membawa Ibu Santi. Tetapi, Khen tidak mengatakan untuk apa mereka datang sehingga orangtuanya sedikit terkejut atas pinangan yang disampaikan oleh Pria itu.


Terlebih lagi Arumi yang tidak menyangka bahwa Khen akan bertindak secepat ini. Bahkan dia meminta kepada ibu dan kakaknya untuk menikahinya.


"Apakah kalian berdua sudah membicarakannya?" tanya Papa ingin memastikan bahwa hubungan Khen dan Arum sudah membaik.


"Sudah,Pa, kami sudah membicarakannya. Dan Abang tidak ingin menunda lagi," jawab Khen.


"Bagaimana, Mbak?" tanya Arman pada Mbak Santi.


"Mbak kembalikan lagi dengan Arumi, karena dia yang akan menjalani. Kamu bagaimana, Nak?" tanya Bu Santi pada putrinya.


"Arum bersedia, Bu," jawab wanita itu dengan jelas.


"Alhamdulillah..."


Semua keluarga mengucapkan syukur mendengar Arumi menerima lamaran Khenzi. Mereka cukup cemas Arum akan menolak dikarenakan hubungan pasangan itu yang sempat berakhir. Dan ternyata mereka memang berjodoh maka ada saja jalan Allah yang akan mempersatukan.


"Begini saja, minggu depan kalian melaksanakan akad nikah terlebih dahulu. Untuk resepsinya akan dilaksanakan bersamaan dengan Khanza empat puluh hari setelah dia melahirkan, bagaimana? Apakah kalian setuju?" tanya Papa Arman meminta pendapat mereka yang ada di sana.


"Bagaimana Khen, Arumi?" tanya Bunda pada anak-anaknya.


"Apakah kamu sudah siap Arum?" tanya Bu Santi pada putri bungsunya.


"Khen setuju," jawab Pria itu mantap


"Ya, Arum ikut saja," jawab gadis itu menurut keinginan Khen yang niatnya untuk ibadah.


Dan akhirnya kesepakatan itu dibuat, maka minggu depan mereka akan segera melaksanakan ijab qobul. Terlihat wajah Khen sumringah rona kebahagiaan terpampang jelas pada pasangan itu.

__ADS_1


Setelah perundingan selesai, mereka makan malam bersama. Dengan kesepakatan yang dibuat, maka pernikahan mereka akan di gelar di kediaman Jendral bintang dua itu di kota Padang.


Besok paginya Khen dan kedua orangtuanya balik ke kota Padang, sementara Arumi dan Bu Santi masih tetap di kota Jambi. Tentu saja Arum harus mengurus surat izin nikah di tempat kerjanya yang baru.


"Dek, setelah kita menikah, kita tidak akan berpisah lagi 'kan?" tanya Khen sebelum berangkat ke Bandara.


"Nanti Arum pikirkan lagi, Mas, sebab Arum tidak enak dengan kak Vera. Kalaupun kita pisah, kamu kan bisa balik bila kamu punya waktu, Mas," jawab Arumi sepertinya masih enggan melepaskan pekerjaannya yang baru.


"Baiklah nanti kita bicarakan kembali. Jangan lupa tiga hari lagi kamu sudah tiba di kota Padang ya, ini semua berkas kamu sudah lengkap 'kan?" tanya Pria itu memastikan berkas penting Arumi untuk pengurusan dokumen nikah.


"Sudah Mas, nanti kalau ada yang kurang kabari Arum, sekalian besok Arum bawa saat balik kesana."


"Oke, Mas pamit ya. Kamu baik-baik disini jaga diri." Pesan Khen sebelum berangkat meninggalkan calon istrinya.


Setelah Keluarga Arman Sanjaya berangkat. Arumi dan keluarganya berembuk kembali tentang pekerjaannya yang disini dan juga memberi tahu Kakak keduanya yang juga berada di kota lain.


Tak terasa waktu berjalan, persiapan untuk pernikahan sudah hampir rampung. Arumi dan keluarganya juga sudah kembali ke kota Padang. Begitu juga Khanza dan Yusuf beserta keluarga yang di Medan menyempatkan diri untuk datang.


Hari ini Khen dan Arumi menyambangi sebuah butik untuk mengambil couple pakaian akad nikah mereka yang akan dilaksanakan dua hari kedepan.


Setelah mematut dan sudah sesuai dengan yang mereka inginkan, Khen segera melakukan pembayaran. Usai dari butik Khen kembali membawa Arumi untuk mengunjungi pabrik, ada urusan penting yang harus ditanganinya.


"Sayang, kamu tunggu disini sebentar ya, aku ada urusan di lapangan," ucap Khen meminta calon istrinya untuk menunggu di tempat biasanya, yaitu ruang kerja Khen saat di pabrik. Sebenarnya Khen jarang menempati ruangan itu, karena ia banyak bertugas di perusahaan.


Ya, semenjak pabrik itu di kelola oleh Khenzi maka semakin berkembang pesat hingga Khen bisa membangun sebuah perusahaan sebagai badan usaha ekonomi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Sementara pabrik itu hanya untuk manufaktur perusahaan itu sendiri.


"Mas, Arum ikut ya, Arum suntuk disini sendirian," rengek wanita itu ingin ikut menyaksikan kegiatan calon suaminya saat di lapangan.


"Tapi panas, Dek."


"Ya ga pa-pa panas, Mas. Arum sudah terbiasa terkena panas kok," sahut gadis itu masih ngotot.


"Baiklah, gunakan ini sebelum ikut." Khen mengambil beberapa safety, seperti sepatu boot dan helm.


Arumi tersenyum sumringah karena diizinkan untuk ikut dengan Pria yang dicintainya. Arum segera mengenakannya sebelum ikut kelapangan tempat pembongkaran bahan dasar karet.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2