
Yusuf masih terlihat sedih saat mengingat bayinya yang kini jauh darinya. Merasa sudah mengabaikan putranya itu. Tetapi, dia juga tidak sanggup melihat kesedihan Mama mertuanya yang mendapat hiburan dalam mengurus sang cucu.
"Jangan sedih ya, Mas. Aku juga selalu kepikiran dengan Rizqi, tetapi Mama Niken sangat menyayangi cucunya. Biarkan beliau mengasuh Rizqi sementara waktu," ujar Khanza masih menghibur suaminya.
"Ya, Sayang. Saat aku rindu, aku akan menemuinya," ucap Yusuf sembari menyandarkan kepalanya di dada sang istri.
Khanza memeluknya dari belakang. Pasangan itu diliputi kebahagiaan. Mereka tidur dengan nyaman dan saling memberi kehangatan.
Paginya keluarga Malik sarapan bersama. Pagi ini wajah Khen tampak muram, tak tahu apa sebabnya sehingga Pria itu semakin kaku seperti batu.
"Jadi pagi ini kalian ke panti asuhan?" tanya Papa Arman pada Khanza dan Yusuf.
"Insya Allah jadi, Pa. Sekalian aku mampir ke kantor sebentar, ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani lagi," jelas Yusuf.
"Abang, kamu mau kado apa dari Adek?" tanya Khanza pada Khenzi di sela sarapannya.
"Apa ajalah, Dek," jawab Khen acuh.
"Kok gitu jawabnya? Abang kenapa sih? Kok nggak seperti biasanya, lagi ada masalah?" tanya Khanza memberondong pada Abang kembarannya.
Sementara itu Papa dan Bunda hanya memperhatikan Putra keduanya itu yang memang tampak berbeda sikapnya. Biasanya Pria itu akan bersikap dingin dan kaku pada orang lain, tetapi No dengan keluarganya.
Selesai sarapan, Yusuf dan Khanza bersiap untuk menyambangi sebuah panti asuhan yang biasa dikunjungi oleh keluarga Malik Saputra untuk menyisihkan sebagian harta mereka.
"Bun, Pa, kami pergi dulu ya." Pamit pasangan itu pada kedua orangtuanya dan juga Oma dan Opa.
"Bang, Adek pergi dulu ya. Abang tidak ingin ikut? Kan ini hari ulang tahun kita," ucap Khanza pada Khen.
"Nggak, Dek, kamu saja yang pergi. Abang lagi malas kemana-mana," ujar Khen, segera berlalu
"Eh, tunggu!" Seru Khanza menahan lengan sang Abang.
"Apalagi, Dek?" tanya Khen sedang malas bercanda.
"No problem jika Abang tidak mau ikut. Tapi, ini kan hari spesial kita, terus, Abang tidak ingin menyisihkan sebagian rezeki Abang buat mereka?" tanya Khanza menaikkan sebelah alisnya.
"Ah, iya Abang lupa. Mana nomor rekening kamu." Khenzi meminta nomor rekening Khanza untuk mentransfer uang yang akan dibagikan pada anak-anak yatim dan anak kurang mampu yang ada di panti asuhan itu.
__ADS_1
"Nah, gitu dong. Jangan lupa sisihin juga sebagian buat adik bungsumu, biar semakin lancar rezeki Abang mengalir. Hehehe..." Khanza tertawa konyol melihat tatapan malas sang kakak.
"Alah itu hanya akal-akalan kamu saja, Dek," ujar Khen gemas melihat tingkah sang adik.
"Eh, bener lho, Abang nggak lihat kata-kata yang di sosmed yang berbunyi begini. "Wahai Abang-abangku, royalah pada adik bungsumu agar rezekimu melimpah" Bener 'kan, Bun, Pa?" tanya Khanza pada kedua orangtuanya yang masih memperhatikan kelakukan dua orang kakak adik itu.
"Nggak usah kebanyakan lihat yang begituan. Walaupun royal pada adiknya tapi malas bekerja, mau melimpah darimana tuh rezeki," balas Khenzi menoyor kening adiknya.
"Hahaha... Abang bisa aja. Mana? udah di transfer belum?" tanya Khanza kembali pada pokok pembahasannya.
"Nih udah Abang transfer. Sekalian buat Adek. Pintar banget merayu, padahal gaji Adek lebih dari cukup," ujar Pria menggusal rambut adiknya.
"Hehe... Bodo amad. Aku kan juga pengen ngerasain uang dari Abang. Kira-kira uangnya bau karet nggak ya? Hahaha..." Khanza mengapit lengan Yusuf dan beranjak meninggalkan sang Abang yang menatap malas.
Sementara Bunda dan Papa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak perempuan mereka satu-satunya. Yusuf juga gemas sendiri dengan sang istri yang ternyata tidak sekalem yang dia pikirkan saat memalak Abangnya.
"Arum, kamu ikut sama Bunda ke rumah Om Yandra?" tanya Bunda Lyra dan Papa Arman yang hendak kerumah adiknya.
"Ah, Arum dirumah saja, Bun," jawab wanita itu yang memang tidak ingin kemana-mana, dirinya juga masih sangat sungkan untuk berbaur dengan keluarga terpandang itu. Kalau tidak Bunda yang paksa mungkin dia lebih memilih tinggal bersama ibunya di kota Padang.
"Iya, Bun. Arum dirumah saja."
"Yasudah kami pergi dulu ya." Bunda Lyra dan kedua mertuanya berangkat mengunjungi kediaman Dokter kandungan itu.
Setelah mereka pergi, kini tinggal Arumi dan para Art yang ada dirumah itu. Untuk menghilangkan kegabutan Arum berjalan ke taman yang ada dibelakang.
Tak sengaja netranya melihat Khenzi sedang berbicara di telepon. Ternyata Pria itu sedang melakukan panggilan video dengan seseorang yang sudah Arumi ketahui siapa wanita itu.
"Mas Khen, please... Aku mohon beri aku kesempatan, Mas," ujar Rayola memohon pada Khenzi.
"Kesempatan apa yang harus aku berikan?" tanya Khen begitu fokus menatap layar tipisnya.
"Mas, aku ingin kita balikan lagi. Aku janji tidak akan pernah mengkhianati kamu."
"Mas! Kamu dengar aku 'kan? Kamu lihat apa sih?"
"Lihat aku. Mas Khenzi sedang fokus lihat aku," ujar Arumi segera duduk di pinggir kolam renang disamping Khenzi, dan menghadap pada ponsel Khenzi. Sepertinya wanita itu membalas apa yang dilakukan Khen semalam.
__ADS_1
Seketika Rayola menatap tajam pada Arumi, dan segera mematikan sambungan ponselnya.
Khenzi menyorot Arumi dengan rasa tak percaya, seorang wanita kalem tetapi sekarang berani sekali berbicara seperti itu.
"Kamu ingin membalas aku?" tanya Khen menatap tajam.
"Ya, apa bedanya. Katanya ingin ngelupain mantan, tapi apa? Kamu masih menerima telpon darinya. Bagaimana ingin melupakan dia, coba?" Arum segera beranjak meninggalkan Pria itu.
"Arum, tunggu dulu!" Khenzi meraih tangan wanita itu.
"Apa, Mas?"
"Kamu sendiri yang memulainya."
"Aku?" tanya Arum sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kamu!"
"Kenapa aku?" tanya Arum masih tidak mengerti.
"Ahh! Sudahlah!" Khenzi segera berlalu meninggalkan Arumi yang masih terpaku tak mendapatkan jawaban darinya.
"Ck, apa sih lelaki itu maunya? Kenapa dia sulit sekali dimengerti?" Gadis itu bertanya-tanya sendiri.
Arum tak ambil pusing, dia duduk santai di pinggir kolam renang, sembari mengulurkan kakinya menyentuh air kolam yang terasa begitu sejuk sembari mengemil makanan ringan yang tadi dia bawa dari dapur, matanya fokus menatap ponselnya melihat salah satu aplikasi yang cukup menghibur sehingga tanpa sadar dirinya tertawa cekikikan saat melihat salah satu konten disana.
"Awas! Aku mau berenang!" Seru seseorang yang mengganggu kesenangannya.
Arum menoleh, mencari asal suara itu. Seketika wanita itu menutup wajahnya.
"Aahhh! Mas Khen apaan sih? Nggak malu banget!" Kesal wanita itu melihat Khen hanya menggunakan bokser dan bertela njang dada.
"Makanya kamu awas! Aku mau berenang. Atau sekalian ikut aku berenang!" Seru Pria itu yang segera melompat kedalam genangan air yang tampak bersih bening itu.
Bersambung...
Happy reading 🥰
__ADS_1