Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Pesan Mama


__ADS_3

Selesai dikafankan, dan di sholatkan, kini jenazah sudah siap untuk dimakamkan. Semua keluarga besar ikut mengantarkan ketempat peristirahatan terakhir istri dari seorang polisi itu.


Dengan kedua tangannya, Yusuf memapah jenazah sang istri meletakkan di liang lahat. Pria itu berusaha untuk tetap tegar. Inilah saat yang paling menyedihkan saat tanah sudah mulai menutupi tubuh itu.


Yusuf menekankan perasaan sekuatnya, agar air matanya tak lagi jatuh. Ia sudah ikhlas melepaskan wanita yang amat dicintainya itu pergi menghadap sang khalik. Tetapi, sekuat dan setegar apapun dirinya, saat melihat timbunan tanah yang semakin menghilangkan jasad itu, maka cairan bening tetap lolos dari kelopak matanya. Yusuf sesegera mungkin menghapusnya.


Jangan ditanya bagaimana hancurnya perasaan sang Mama mertua saat melepaskan kepergian putri semata wayangnya. Air mata wanita itu tak berhenti menetes. Bunda Lyra dan Mama Lilis selalu berusaha untuk menghimbur wanita baya itu.


Memang mudah bagi orang yang belum mengalami bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang paling kita sayangi pergi untuk selamanya. Namun, sebagai seorang umat kita harus bisa mengendalikan diri agar tak begitu larut dalam kesedihan.


Kini pemakaman sudah selesai, satu persatu kerabat dan keluarga telah meninggalkan TPU karena hari sudah hampir magrib, sementara Yusuf masih berjongkok di samping gundukan tanah merah itu.


Khanza masih setia menemani sang suami, wanita itu hanya diam disamping Yusuf. Khanza tidak ingin banyak bicara, dia memberikan waktu untuk Yusuf. Merasa sudah cukup lama mereka disana, maka Khanza mencoba membawa Pria itu untuk pulang.


"Mas, sebentar lagi adzan, kita pulang sekarang ya." Khanza memegang bahu sang suami.


"Ah, ya, ayo kita pulang sekarang." Yusuf tersadar dari lamunannya, terlalu lama larut dalam kesedihan sehingga melupakan wanita yang sedari tadi dia acuhkan.


"Sayang, aku pulang ya, kamu jangan khawatir, aku akan selalu mengunjungimu kesini." Yusuf berpamitan, lalu mengecup batu nisan itu.


Yusuf dan Khanza meninggalkan pekarangan TPU. Diperjalanan pulang, pasangan itu masih diam. Khanza belum berani banyak bicara.


"Mas, antarkan aku pulang kerumah ya, aku ingin istirahat sebentar," ujar Khanza, ia ingin sekali istirahat sejenak, karena sedari tadi perutnya terasa sangat kram dan sakit, tetapi wanita itu mencoba menahannya. Khanza tak ingin menambah beban pikiran sang suami.


"Baiklah." Yusuf menatap wajah Khanza yang tampak sedang menahan rasa sakit. Keringat dingin keluar di dahinya.


"Dek, kamu kenapa? Apakah kamu sakit?" tanya Yusuf, sembari menepikan kendaraannya. Yusuf meraba kening Khanza.


"Ah, ti-tidak pa-pa Mas. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat saja, Mas."


"Benaran?" Tanya Yusuf menatap ragu dengan ucapan sang istri.


"Iya, Mas, aku tidak apa-apa."

__ADS_1


Setibanya dikediaman orangtuanya, Khanza segera naik kelantai dua. Setibanya dikamar Khanza segera mencari obat penghilang nyeri. Khanza seorang dokter kandungan, wanita itu masih menyimpan obat-obatan yang pernah ia bawa dari RS saat dirinya masih praktek.


Saat Khanza sedang meneguk obat itu, pintu kamar terbuka. Seketika Khanza terjingkat.


"Mas Yusuf! Kok masih disini? Bukankah sebentar lagi akan yasinan di rumah?" tanya Khanza menahan nyeri di perutnya.


"Dek, kamu kenapa? Apakah perut kamu sakit?" Tanya Yusuf mendekati Khanza.


"Agak kram sedikit, Mas. Tapi ini hal yang wajar, dan aku juga sudah minum obat. Kamu tidak perlu khawatir, sebentar lagi akan hilang."


"Kamu yakin, tidak apa-apa aku tinggalkan?" tanya Yusuf ragu.


"Iya, aku tidak pa-pa Mas, maaf ya, aku tidak bisa ikut yasinan. Insyaallah malam besok aku ikut ya, Mas," ujar Khanza, merasa tidak enak pada suaminya.


"Tidak apa-apa, Dek, ayo sekarang bawa mandi dulu, habis itu kamu istirahat. Jika kamu butuh sesuatu telpon aku ya." Yusuf membimbing Khanza untuk masuk ke kamar mandi.


"Wanita itu segera membersihkan diri sebentar, karena dia dari pemakaman maka tidak baik jika tidak mandi, selesai Khanza mandi, segera berganti dengan Yusuf. Setelah itu mereka melaksanakan sholat magrib berjamaah.


Setelah rapi Yusuf membantu Khanza untuk berbaring di ranjang, lalu mengecup kening dan bibir sang istri sebelum beranjak.


"Ah, Om," sapa Yusuf pada Oom istrinya itu.


"Kamu masih disini?"


"Iya, Om, aku mengantarkan Adek pulang, karena perutnya kram," jelas Yusuf.


"Khanza kenapa? Apakah ada masalah dengan kandungannya?" tanya Yandra tampak cemas.


"Cuma kram saja, Om, mungkin karena kurang istirahat, tapi Adek sudah minum obat. Mudah-mudahan tidak pa-pa."


"Yasudah, ayo kita berangkat sekarang, karena yang lainnya masih disana." Yandra membawa Yusuf untuk pergi bareng. Sebelumnya Yandra menitip pesan pada Bibik agar segera menghubungi mereka jika terjadi sesuatu pada Khanza.


Hanya lima belas menit, kini mobil yang dikendarai oleh Yandra sudah sampai dikediaman Yusuf. Acara yasinan sudah hampir dimulai. Yusuf dan Yandra segera mengambil posisi duduk masing-masing.

__ADS_1


Acara yasinan hari pertama berjalan dengan lancar, sebelum acara di tutup, ustadz menyampaikan tausiyah singkat untuk memberi pencerahan bagi keluarga yang ditinggalkan agar tetap sabar dan ikhlas menerima takdir yang telah Allah tentukan.


Selesai acara yasinan, tetangga maupun teman dari persatuan anggota kepolisian yang ikut hadir, mereka berpamitan pada Yusuf dan juga ibu mertuanya. Do'a dan dukungan tercurah dari mereka yang peduli.


Yusuf hanya mengucapkan banyak terimakasih atas Do'a dan support dari mereka. Setelah mereka pulang. Kini tinggal Keluarga dekat ya g masih berada disana.


Papa Arman dan Bunda Lyra, kedua orangtua Yusuf, Yandra, Yanju, dan juga Khenzi. Yusuf menatap sedih pada Mama mertuanya yang berusaha untuk tetap tegar sembari memeluk dan mengecup Cucunya yang kini sudah menjadi piatu.


Yusuf mendekat pada wanita paruh baya itu, dia mengambil alih sang Putra untuk berada dalam pelukannya.


"Ma, maafkan aku, maaf jika aku sudah sangat mengecewakan Mama." Yusuf menjeda ucapannya. Suaranya sudah tercekat di tenggorokan. "Maaf, Ma, aku sudah gagal menjadi suami yang baik untuk anak Mama, aku tidak bisa membahagiakan Tiara hingga dia menutup mata. Hiks..." Kembali tangis Pria itu keluar.


Mama Niken menyusut air mata, tangannya terulur mengusap kepala anak menantunya itu. Wanita itu sangat yakin bahwa Yusuf begitu tulus dan sangat mencintai Putrinya, namun takdir Allah yang membuat dirinya ataupun sang Putri harus rela menerima. Dan Mama juga sudah tahu bahwa pernikahan itu terjadi karena kesalahan yang tak disengaja oleh Yusuf. Walaupun Pria itu sudah menikah lagi dengan wanita lain, tetapi tak pernah sedikitpun Yusuf mengabaikan putrinya.


Dan Mama Niken juga mengetahui bahwa wanita yang dinikahi oleh Yusuf adalah wanita yang berhati tulus. Walau dia mempunyai kedudukan tinggi, yaitu anak dari seorang jendral, dan juga seorang Dokter spesialis, tetapi tak terlihat sikap angkuh sedikitpun pada diri wanita itu. Khanza selalu mengalah dan tak banyak menuntut selama sang suami mengurus istri pertamanya.


Mama Niken menyadari bahwa wanita pengganti Tiara sudah cocok untuk menjadi ibu pengganti bagi Cucunya. Wanita baya itu hanya berharap, semoga Khanza bisa merawat dan membesarkan Rizqi dengan penuh kasih sayang.


"Jangan bicara seperti itu, Nak, kamu tidak gagal, nyatanya anak Mama pergi dalam keadaan tersenyum. Sebelum Tiara meninggal, dia juga menyampaikan pada Mama, bahwa selama menjadi istrimu, Tiara sangat bahagia. Kamu sangat pandai membahagiakannya dalam segi apapun, kamu adalah suami yang begitu penyabar dan penuh kasih sayang. Kamu juga suami yang sangat pandai menghormati istrimu. Sekarang jangan merasa menjadi lelaki yang gagal, sesungguhnya kamu sudah berhasil membuat anak Mama bahagia. Ingat, Nak! Hidup akan terus berjalan. Sekarang berbahagialah bersama keluarga barumu. Biarkan anak Mama selalu ada didalam sanubarimu. Dia pasti akan ikut bahagia bila kamu dan Alfarizqi bahagia."


Yusuf tak kuasa menahan haru saat mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh sang Mama mertua. Yusuf memeluk wanita baya itu penuh haru.


"Terimakasih banyak, Ma," ujar Yusuf, hanya kata-kata itu yang mampu ia ucapkan.


"Sama-sama, Nak. Walaupun sekarang anak Mama tidak bersamamu, tetapi anggaplah Mama seperti Mamamu sendiri. Jika kamu dan istrimu mempunyai waktu, maka mainlah kerumah Mama. Jangan putuskan hubungan dengan Mama, karena kamu tahu, Nak, Mama tidak mempunyai siapapun selain Tiara, kini dia juga telah pergi meninggalkan Mama."


Yusuf mengambil tangan wanita itu, dan meletakkan dikepalanya. "Ma, aku berjanji, sampai kapanpun Mama akan tetap menjadi bagian dalam hidupku. Mama akan tetap menjadi Mamaku."


"Terimakasih ya, Nak, terimakasih banyak."


Semua keluarga yang masih berada diruangan itu tak mampu menahan haru melihat mereka yang begitu berjiwa lapang dan saling mengasihi bagaikan ibu dan anak kandung.


Bersambung ..

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2