
Yusuf segera naik dan membuka pintu kamar istrinya yang ternyata sudah tak dikunci lagi. Pria itu melongok kedalam mencari keberadaannya.
"Dek! Sayang!" Panggil Yusuf sembari nyelonong masuk.
Graapp!
Khanza memeluk Yusuf dari belakang. Ternyata wanita itu bersembunyi dibelakang pintu. Yusuf terkekeh memutar tubuhnya untuk saling berhadapan.
Dengan mesra Pria itu meraih pinggang Khanza hingga merapat padanya. Menatap wajah cantik sang istri. Dengan lembut memberikan kecupan seluruh wajahnya. Khanza tersenyum sembari meresapi segala Sentuhan dari bibir suaminya yang menempel pada permukaan kulit wajahnya.
"Kangen, nggak?" tanya Yusuf dengan lembut.
"Kangen banget..." Khanza memeluk begitu erat.
Yusuf mulai mencecap bibir Khanza dengan lembut penuh perasaan. Khanza menerima benda kenyal itu saat menyentuhnya. Kini lidah mereka saling membelit dan bertukar Saliva, sehingga membuat suasana menjadi panas.
Perlahan Yusuf menggiring sang istri untuk berbaring diatas ranjang dengan bibir yang masih bertaut. Kini posisi Khanza sudah berada dibawahnya.
"Mas... Mmhh...!" Khanza melenguh saat tangan suaminya menyentuh aset berharga miliknya, rasanya sungguh luar biasa menggoda jiwa.
Pria itu menghentikan aksi panasnya sesaat, menatap wajah cantik yang berada di bawah Kungkungannya. Kedua netra itu terpejam menikmati sentuhan lembut dari tangannya. Bibirnya melengkung membentuk lingkaran tipis saat melihat sang istri hanyut dalam buaian gelombang Amara yang dia ciptakan.
Tanpa kata tubuh mereka kembali merapat mengikis jarak, kembali pergumulan lidah terjadi, Tangan Pria itu tidak bisa diam menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya. Sentuhan demi sentuhan tak ada yang terlewati pada tubuh nan indah itu, sehingga membuat mereka tak sanggup menahan hasrat agar permainan segera diselesaikan.
Khanza mengeluarkan suara eksotis, raganya terasa terbang saat sesuatu yang sudah satu purnama tak bertandang pada tubuh intinya. Wanita itu menggeliat bak cacing kepanasan menahan gejolak cinta yang begitu melambungkan hasrat jiwa hingga menjadi nyata.
Semakin kuat suara nikmat itu keluar, maka Pria itu semakin menambah tempo guncangan pada tubuh sang istri, tetapi masih dalam batas yang wajar, keselamatan calon bayi mereka tetap diutamakan.
Sudah dua kali Khanza memekik mencapai sesuatu yang luar biasa. Maka Yusuf sudah tidak tahan untuk segera menuntaskan sesuatu yang sudah lama tertahankan dalam dirinya, Pria itu harus segera melegalkan syahwatnya yang juga sudah satu purnama bersemayam dalam raganya, terasa sudah hampir penuh dan meluap bila tak segera di tumpahkan, hingga akhirnya tubuh Pria itu jatuh merapat pada sang istri. Kedua tangannya masih menopang agar bobot tubuh itu tak seutuhnya menimpa kekasih halalnya.
__ADS_1
Perlahan Yusuf berpindah disamping wanita itu, tubuh mereka miring saling menghadap. Tangan Yusuf membelai wajah cantik yang tampak lelah setelah memberinya nafkah batin. Kecupan demi kecupan di tinggalkan diwajah itu.
"Capek, Sayang?" tanya Yusuf tersenyum nakal setelah berhasil membuat wanita hamil itu tak berdaya.
Khanza mengangguk sembari merapatkan wajahnya didada bidang sang suami. Aroma maskulin tubuh itu sungguh menenangkan jiwanya. Rasanya sudah rindu sekali dengan aroma ini.
Yusuf membalas pelukan istrinya, mengecup puncak kepalanya berulang kali. "Mau mandi sekarang? Atau Mas boleh nambah lagi?" tawar Pria itu yang membuat Khanza melonggarkan pelukannya.
"Jangan sekarang ya, Mas, nanti malam lagi ya. Kamu nggak capek, Mas?" tanya Khanza sedikit heran dengan kekuatan Pria dewasa yang pernah mempunyai dua istri itu.
"Nggak, Sayang, aku tahan sampai sore menggauli kamu," ujar Yusuf tersenyum menggoda.
"Hehe... Nggak deh, Mas. Adek lapar. Mumpung ini hari libur kita jalan-jalan dan makan diluar yuk?"
"Okey, tapi nanti malam masih boleh lagi 'kan?" tanya Yusuf ingin meminta kepastian.
"Iya, Mas, aku janji nanti malam kamu boleh nambah dua kali," ujar Khanza menantang sehingga membuat Yusuf tersenyum sumringah dan semangat empat lima.
"Adek mandi duluan ya. Kalau berdua nggak yakin kamu bakalan aman," balas Khanza menolak mandi berdua. Takut Pria itu tak bisa menahan diri.
"Nggak pa-pa mandi berdua aja, Dek, biar cepat. Udah tenang aja, kamu nggak percaya dengan aku? Suamimu ini adalah Pria sejati yang tidak akan mungkin ingkar janji."
"Janji ya!" Tegas Khanza menyorot tajam
"Hahaha... Iya, janji Sayang, palingan pegang-pegang dikit." Tanpa aba-aba Yusuf segera membopong tubuh wanita itu untuk masuk ke kamar mandi.
Kini pasangan itu mandi berdua, sesuai dengan ucapan Pria itu, tak ada adegan panas yang terjadi. Mereka hanya membantu saling menyabuni dan segera menyudahi mandi wajib.
Dengan handuk yang masih melilit. Khanza mengambil pakaian ganti suaminya yang memang sengaja ditinggalkan di lemarinya.
__ADS_1
"Sayang, mana baju ganti aku?" tanya Yusuf mendekati istrinya.
"Bentar, Mas." Khanza masih memilihkan kemeja untuk suaminya. Kebetulan dua hari yang lalu dia belanja di mall dan menemukan sebuah kemeja yang menurutnya cocok untuk suaminya.
"Mas, cobain deh, aku beliin kamu kemeja waktu aku dan Oma ke mall beberapa hari yang lalu," ujar Khanza menyerahkan atasan yang berkancing didepan itu.
Yusuf mengambil dari tangan istrinya segera mengenakan, dan dibantu oleh Khanza memasang kancing kemeja yang berwarna hitam itu.
"Gimana cocok nggak?" tanya Yusuf mematut didepan istrinya.
"MasyaAllah, tampan sekali suami aku. Cocok banget sama kamu, Mas, aura ketampanan kamu semakin terpancar jika mengenakan kemeja warna hitam," puji Khanza membuat Pria berumur dua puluh sembilan tahun itu mesem-mesem.
"Mau pakai pakaian apapun aku tetap tampan,Dek, karena udah dari sononya," balas Yusuf mencuri kecupan di pipi Khanza.
"Ish, tahu kok kamu itu memang tampan, Mas, sesekali nyenengin hati istri apa salahnya sih? Jadinya kan aku bahagia bila suami aku seneng aku beliin sesuatu buat dia." Wanita hamil itu merengut karena tak mendapat respon dari sang suami.
"Ya Allah, iya, Mas minta maaf ya, Sayang, Mas benar-benar berterima kasih banget karena udah dibeliin kemeja sebagus ini. Jujur, Mas suka benget dengan warna dan modelnya. Kamu kok bisa tahu aku menyukai warna hitam?" tanya Yusuf mencoba memberi penghiburan. Takut mood istrinya berubah.
"Ya tahulah! Kan aku lihat semua benda yang kamu miliki banyak yang hitam warnanya. Makanya aku pilihin kamu warna hitam," jelas wanita itu sembari fokus mengenakan pakaiannya sendiri.
"Wih bener-bener wanita idamanku, sekali lagi terimakasih ya, Sayangku, ibu dari anak-anakku." Yusuf menangkup kedua pipi Khanza dan meninggalkan jejak sayang di keningnya cukup lama.
"Ayo duduk, Mas bantuin ngeringin rambut kamu." Yusuf menggiring sang istri duduk didepan cermin hias, dan membuka lilitan handuk dikepala Khanza. pelan ia menggusal mahkota itu dengan handuk hingga lumayan kering, sekalian Pria itu menyisir rambut hitam legam.
"Sudah semakin panjang, Sayang, Mas suka. Jangan di potong ya. Kamu semakin cantik dengan rambut panjang," ujar Pria itu sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Hmm, baiklah, aku akan mengikuti segala keinginan suamiku. Apapun asalkan aku bisa membahagiakan kamu," balas Khanza tersenyum menatap wajah tampan suaminya dari pantulan cermin.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰